NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Gelas yang Retak

​Suasana di kamar utama itu seketika menjadi vakum. Kehadiran Sarah di ambang pintu, lengkap dengan dua moncong senjata yang mengarah tepat ke dada Baskara, mengubah kemenangan kecil mereka menjadi jebakan maut. Sarah melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator yang baru saja menjebak mangsanya di sudut sempit.

​"Letakkan senjatamu, Baskara. Perlahan," perintah Sarah. Suaranya tidak melengking, namun setiap silabunya mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Atau pengawal-pengawalku akan memastikan Alea melihat otakmu berceceran di atas karpet Persia favoritku ini."

​Baskara menatap Sarah dengan mata menyipit. Otaknya berputar cepat, mencari celah, namun posisi Alea yang bersimpuh di lantai terlalu dekat dengan jangkauan tembak. Dengan gerakan yang sangat lambat, Baskara mengangkat tangan, lalu menggunakan dua jari untuk mengeluarkan glock dari balik jaketnya. Ia menjatuhkannya ke lantai. Bunyi thud logam yang menghantam karpet terdengar seperti lonceng kematian.

​"Bagus," Sarah tersenyum, lalu menoleh pada Alea. "Bangun, Alea. Jangan bersimpuh di sana seperti pengemis. Aku membesarkanmu untuk menjadi seorang Mahardika, bukan pecundang yang merangkak di lantai mencari sampah."

​Alea berdiri dengan kaki gemetar. Ia menatap kunci perak di tangan Sarah—kunci yang menyimpan seluruh kebenaran tentang hidupnya. "Kenapa, Ma? Kenapa harus membunuh mereka?"

​Sarah tertawa kecil, suara tawa yang kering dan hampa. "Karena dunia ini tidak memberikan ruang bagi mereka yang lemah, Alea. Orang tuamu adalah orang baik, tapi mereka adalah penghalang bagi kemajuan. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan agar Mahardika Group tidak runtuh karena idealisme bodoh ayahmu."

​"Dan ibuku?" potong Baskara, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Apakah dia juga 'penghalang' bagimu?"

​Sarah menatap Baskara dengan pandangan merendahkan. "Ibumu adalah wanita yang malang. Dia mencintai pria yang tidak pernah benar-benar memilikinya. Hendra butuh wanita yang bisa membangun kerajaan, bukan wanita yang hanya bisa merangkai bunga dan berdoa. Aku hanya membantunya membuat pilihan yang tepat."

​Tiba-tiba, dari earpiece yang masih terpasang di telinga Baskara, suara Reno terdengar sangat pelan, hampir tertutup statis. "Bas... aku sudah di depan gerbang utama. Aku menabrakkan mobil cadangan ke trafo listrik kompleks. Hitung mundur... tiga, dua..."

​PETTT!

​Seketika seluruh rumah mewah itu jatuh ke dalam kegelapan total. Sistem keamanan cerdas Sarah memerlukan waktu lima detik untuk mengaktifkan generator cadangan—lima detik yang sangat berharga.

​"Alea, tiarap!" teriak Baskara.

​Baskara tidak mengambil senjatanya yang terjatuh. Ia menerjang ke arah Sarah dalam kegelapan. Ia mendengar suara tembakan yang membabi buta dari pengawal Sarah, namun peluru itu hanya menghantam cermin besar di belakangnya. Dalam kekacauan itu, Baskara berhasil mencengkeram tangan Sarah dan dengan satu sentakan kuat, ia merenggut kalung perak itu dari lehernya.

​"Sialan kau!" teriak Sarah.

​Baskara menyambar lengan Alea, menariknya berdiri. "Lari ke balkon! Sekarang!"

​Mereka berlari menembus kegelapan kamar yang luas. Baskara menendang pintu kaca balkon hingga hancur, lalu mereka melompat ke arah dahan pohon beringin besar yang menjulang di dekat balkon lantai dua. Itu adalah pelarian yang nekat dan menyakitkan. Kulit tangan Alea tergores dahan, namun ia tidak peduli.

​Di bawah, Reno sudah menunggu dengan mobil lain—sebuah mobil box katering yang ia curi dari area servis. Mereka melompat masuk ke pintu belakang tepat saat pengawal Sarah muncul di balkon dan melepaskan tembakan beruntun.

​"Jalan, Reno! Jalan!"

​Mobil box itu melesat pergi, meninggalkan kediaman Mahardika yang kini diterangi lampu darurat yang pucat. Di dalam kegelapan ruang box yang pengap dan berbau sayuran segar, Baskara dan Alea terengah-engah. Oksigen seolah menjadi barang langka.

​Alea menyandarkan punggungnya ke dinding besi mobil yang dingin. Tubuhnya bergetar hebat. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Ia membenamkan wajah di lututnya, menangisi setiap detik hidupnya yang ternyata adalah sebuah kebohongan besar.

​Baskara duduk di seberangnya. Ia masih memegang kunci perak itu di tangannya. Ia melihat Alea—gadis yang seharusnya ia benci, gadis yang seharusnya ia gunakan sebagai alat—kini tampak begitu hancur. Untuk pertama kalinya, Baskara merasa dendamnya terasa hambar jika dibandingkan dengan kehancuran jiwa Alea.

​Baskara bergeser mendekat. Ia tidak pandai dalam menghibur orang. Selama lima tahun, ia hanya belajar cara menghancurkan. Namun, ia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas bahu Alea yang terguncang.

​"Kau aman sekarang," bisik Baskara. Suaranya bukan lagi suara predator yang dingin, melainkan suara seseorang yang juga memiliki lubang besar di hatinya.

​Alea mendongak, matanya sembab. Di keremangan, ia melihat Baskara. "Dia bilang aku musuh, Bas. Dia bilang jika aku melawan, mereka boleh membunuhku. Orang yang menyuapiku selama dua puluh tahun... ingin aku mati."

​Baskara menarik Alea ke dalam pelukannya. Awalnya kaku, namun Alea segera membenamkan wajahnya di dada Baskara, mencari perlindungan dari kenyataan yang terlalu berat untuk dipikul. "Itulah alasan kenapa kita harus bertahan, Alea. Karena jika kita mati, mereka menang. Dan aku tidak akan membiarkan Sarah Mahardika menang sekali lagi."

​Baskara membelai rambut Alea dengan canggung. Di dalam mobil box yang berguncang hebat itu, sebuah janji tanpa kata terbentuk. Baskara menyadari bahwa fokusnya telah bergeser. Ia masih ingin menghancurkan Sarah, tapi kini ia memiliki misi lain yang jauh lebih sulit: menjaga agar sisa-sisa jiwa Alea tidak ikut hancur bersamanya.

​"Bas," panggil Reno dari jendela kecil yang menghubungkan kabin depan. "Kita tidak bisa kembali ke Bogor. Polisi akan menyisir semua properti lama ibumu. Aku punya ide gila. Kita masuk ke kawasan pelabuhan Sunda Kelapa. Aku punya kenalan pemilik kapal kargo. Kita bisa sembunyi di sana sementara aku meretas isi kunci perak ini."

​"Lakukan," jawab Baskara singkat.

​Baskara kemudian menatap kunci perak di telapak tangannya. Benda kecil ini adalah kunci ke neraka bagi Sarah, tapi juga kunci kebenaran bagi Alea. Ia menatap Alea yang mulai tenang dalam dekapannya. Ada keraguan yang mulai tumbuh di hati Baskara.

​Jika kunci ini dibuka, dan kebenaran di dalamnya lebih buruk dari yang kita bayangkan... apakah aku sanggup melihatnya hancur lagi?

​Baskara mengetatkan pelukannya. Fase infiltrasi telah berakhir. Kini, mereka berada di fase yang jauh lebih berbahaya: fase di mana hati mulai ikut bermain dalam peperangan yang seharusnya hanya tentang angka dan nyawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!