Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
“Pak, perusahaan yang Anda coba investasikan ini masih tergolong baru. Pagi ini saja, harga saham mereka turun sekitar Rp160.000 per lot. Sebagai analis senior, saya sarankan Anda jangan dulu menaruh uang di perusahaan e-commerce seperti ini,” ucap wanita muda di balik meja pelayanan sekuritas itu dengan nada ramah namun hati-hati. Ia benar-benar tidak ingin pemuda di depannya kehilangan uang dalam jumlah besar karena keputusan terburu-buru.
Dimas hanya tersenyum tenang. “Tidak apa-apa, Bu. Tolong tetap proses saja investasinya. Saya yakin perusahaan ini punya masa depan.”
Perusahaan yang dimaksud adalah Tokopedia, salah satu raksasa teknologi dalam negeri yang tengah berkembang pesat di pasar digital. Dimas yakin, dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan ini akan jadi tulang punggung perdagangan daring di Indonesia.
Setelah urusan selesai, petugas itu menyerahkan salinan cetak transaksinya. Dimas menerimanya dengan sopan, mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan kantor sekuritas. Ia kemudian naik shuttle bus kampus menuju Universitas Indonesia, tempat kuliahnya.
Hari itu, ia masih punya kelas siang setelah jam makan. Seperti biasa, ia mampir ke kantin UI di dekat Balairung untuk makan siang sederhana nasi ayam dan es teh manis sebelum lanjut ke kelas berikutnya.
Sebagai penerima beasiswa unggulan, Dimas cukup sibuk. Ia baru mendapatkan kartu identitas mahasiswa tetap minggu lalu, tapi tidak keberatan karena sementara ini masih diperbolehkan menggunakan akses sementara kampus.
Selesai kuliah sore, Dimas berniat langsung kembali ke asrama untuk beristirahat. Namun sebelum sempat menutup pintu kamar, sebuah jendela holografik virtual muncul di hadapannya.
[Ding!! Misi: Berikan uji coba di klub tenis. Hadiah minimum: Rp5.000.000]
“Cuma lima juta?” gumam Dimas, setengah tidak tertarik. Tapi setelah berpikir sejenak, ia tersenyum kecil. Siapa tahu kali ini aku punya bakat terpendam lagi.
Ia mengganti pakaian, menggantung tasnya, lalu berjalan ke lapangan tenis dekat Pusat Kegiatan Mahasiswa UI. Seperti biasa, lapangan itu ramai beberapa mahasiswa sibuk latihan, sebagian lain duduk di tribun sambil memotret dan merekam. Saat Dimas masuk, beberapa orang langsung mengenalinya sebagai “mahasiswa jenius” yang sempat viral karena kecepatan Smashnya.
Dimas tak menggubris perhatian itu. Ia langsung mendaftarkan diri ke panitia, lalu memegang raket untuk uji coba. Sayangnya, baru beberapa menit bermain, bola sering melenceng dan ayunannya tak seimbang.
“Mas, keluar dulu ya dari lapangan. Lain kali latihan dasar dulu,” ujar pelatih tenis kampus dengan nada sopan namun tegas.
Dimas menarik napas panjang. Setelah kembali ke kamar, ia duduk di tepi ranjang dan menatap langit-langit. Ia merenung, mencoba memahami maksud sistem misterius itu. Apa sistem ini menilai usaha atau hasil? pikirnya.
Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi baru muncul lagi.
[Ding!! Misi: Belajar selama satu jam. Hadiah minimum: Rp10.000.000]
Kali ini Dimas tersenyum lega. bahkan terlalu bahagia karena permainan tenis yang terhina itu membuat suasana hatinya buruk, jadi dia belajar dengan giat.
Empat jam kemudian, layar kembali bersinar.
[Misi Selesai!! Nilai: S. Durasi belajar: 4 jam 25 menit. Hadiah: Rp60.000.000]
Dimas hampir tak percaya. Ia menghitung cepat: tabungannya di bank sekitar Rp4.000.000, ditambah uang tunai dan hadiah baru ini berarti totalnya kini lebih dari Rp64.000.000 jumlah besar bagi mahasiswa.
Sore itu ia makan di kantin asrama. Banyak mahasiswa lain berbisik dan menatapnya, tapi Dimas hanya tersenyum kecil dan menikmati makan malamnya seorang diri di pojokan. Setelah itu, ia kembali ke kamar dan tertidur dengan perasaan tenang.
Keesokan paginya, ia bangun pukul lima. Ia jogging keliling kampus, lalu melakukan beberapa kali squat dan push-up ringan di taman belakang asrama. Namun belum juga ada notifikasi. Begitu ia menutup pintu kamarnya, suara sistem itu kembali terdengar.
[Ding!! Misi: Lakukan 10 push-up. Hadiah minimum: Rp10.000.000]
Dimas terkekeh kecil. “Baiklah, sepertinya pagi ini bakal menyenangkan.”
Dimas tersenyum lebar. Sistem misterius itu kini membuat rutinitas latihannya semakin teratur setiap hari. Ia mulai terbiasa berolahraga pagi, bukan hanya karena hadiah yang dijanjikan, tapi karena tubuhnya benar-benar terasa lebih bugar dari sebelumnya. Namun kali ini, sistem tetap memberinya bonus.
[Misi Selesai!! Nilai: A. Kamu telah melakukan 25 push-up. Hadiah: Rp30.000.000]
Dimas terengah-engah, keringat membasahi dahinya. Ia berbaring sejenak di lantai kamar asrama, lalu tertawa kecil. “Tiga puluh juta cuma dari push-up? Gila sih ini.”
Setelah mandi air hangat, rasa lelahnya hilang total. Ia lalu belajar beberapa jam sebelum berangkat kuliah pagi. Dalam perjalanan ke kelas, ia mampir ke kantin depan untuk sarapan bubur ayam dan segelas kopi hitam.
Selesai kuliah siang, Dimas berencana kembali ke kamar untuk istirahat. Namun sebelum ia melangkah keluar dari gedung kuliah, suara khas notifikasi sistem kembali terdengar di kepalanya.
[Ding!! Misi: Ikuti seleksi tim sepak bola UI. Hadiah minimum: Rp2.000.000]
Dimas mengerutkan kening. “Dua juta doang? Lebih kecil dari biasanya.” Ia sempat ingin mengabaikannya, tapi akhirnya memutuskan untuk mencoba. Siapa tahu menarik, pikirnya.
Sesampainya di lapangan sepak bola kampus, udara terasa panas dan banyak mahasiswa sedang berlatih. Dimas mengenakan sepatu pinjaman dari teman satu asramanya dan bergabung dalam seleksi.
Hasilnya... kacau total. Ia salah umpan, terjatuh beberapa kali, bahkan nyaris tertabrak bola keras yang meluncur ke arahnya. Pelatih hanya bisa menggeleng sambil tersenyum maklum.
Akhirnya, Dimas tersenyum kikuk dan mundur pelan-pelan dari lapangan, lalu berlari kecil menjauh, menahan malu. Tapi tak lama kemudian, sistem kembali berbunyi.
[Misi Selesai!! Hadiah: Rp2.000.000]
“Ya ampun,” gumamnya sambil tertawa sendiri di pinggir jalan kampus. “Setidaknya nggak sia-sia dikejar bola tadi.”
Malamnya, Dimas merenung di kamar. Ia mulai sadar kalau kemampuan fisiknya memang tidak sebaik kemampuan akademiknya. “Mungkin bukan bidangku,” pikirnya dengan nada rendah hati. Ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak gegabah lagi mencoba hal-hal yang hanya membuatnya jadi bahan tontonan orang.
Setelah mandi sore, ia duduk di meja belajar, membuka laptop, dan mulai membaca jurnal ilmiah tentang sistem energi terbarukan. Tak lama kemudian..
[Ding!! Misi: Belajar selama satu jam. Hadiah minimum: Rp10.000.000]
Mata Dimas berbinar. Ia langsung menegakkan punggung dan mulai mencatat serius di buku catatan kuningnya. Waktu berjalan tanpa terasa.
Enam jam kemudian, notifikasi baru muncul:
[Misi Selesai!! Nilai: SS. Waktu belajar: 6 jam 18 menit. Hadiah: Rp120.000.000]
“Nilai SS?” Dimas mengangguk puas. Rupanya, sistem menggandakan hadiahnya untuk performa luar biasa. Terakhir kali ia hanya mendapat Rp60.000.000 untuk nilai S, tapi kini jumlahnya dua kali lipat.
Dimas, meskipun tadi kelewatan waktu makan malam, tetap aja dia senang banget sama penghasilannya. Dia pengin terus kayak gini ke depannya. Toh, tinggal pesan makanan dari luar dan pakai sedikit uangnya buat makan, beres. Lumayan juga, pikirnya.
Beberapa hari berlalu dengan pola yang sama. Ia bangun pagi, jogging keliling danau UI, lalu latihan ringan di taman asrama. Kadang sistem muncul, kadang tidak, tapi Dimas tidak pernah kehilangan semangat. Ia sudah tak lagi semata-mata mengejar uang, melainkan menikmati prosesnya.
Suatu pagi, setelah selesai berolahraga, ia bersandar di kursi kamar sambil memandang ke luar jendela. Jalan kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang bersiap kuliah. Ia bergumam pelan, “Kalau aku punya mobil kecil, mungkin bisa lebih mudah ke fakultas. Kemarin aja hujan, jalan kaki basah kuyup semua.”
Dimas menarik napas panjang dan tersenyum. “Sudah waktunya beli mobil, sepertinya.”