Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 9
BRAKKK!
Yuhan menggebrak meja giok di depannya dengan sangat keras hingga cangkir teh di atasnya melompat. Ia berdiri, tangannya menyambar bak tinta batu dan melemparkannya tepat ke arah kaki Han Tan.
PRANGGG!
Bak tinta itu hancur, mencipratkan tinta hitam ke jubah sutra mahal sang Perdana Menteri.
"LANCANG!" teriakan Yuhan menggelegar, membuat beberapa menteri tingkat rendah langsung tersungkur ketakutan.
"Lalu apa gunanya Anda sebagai Perdana Menteri?" tanya Yuhan, suaranya bergetar oleh amarah yang dingin. "Jika setiap permasalahan negeri hanya bisa diselesaikan oleh seorang Maharani, maka untuk apa aku menggaji ratusan pejabat seperti kalian? Jika kalian hanya bisa mengeluh tentang kemarahan Dewa, silakan kalian semua mengundurkan diri hari ini juga, lepaskan jabatan kalian, dan pergi hidup sejahtera di desa sebagai rakyat jelata!"
Seluruh aula mendadak sunyi senyap. Tak ada yang menyangka Maharani "bodoh" itu bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu tajam.
Yuhan melangkah turun dari singgasana, setiap langkahnya diiringi bunyi gemerincing perhiasannya yang terdengar seperti lonceng kematian. Ia mengambil seikat gulungan laporan yang ada di atas meja dan melemparkannya satu per satu ke wajah para menteri.
PLAK! PLAK!
"Menteri Xuan Zhiang! Kau bilang kas kosong? Lalu bagaimana dengan tunggakan pajak dari para bangsawan di wilayah Timur yang kau hapus secara sepihak setelah mereka memberimu 'hadiah' berupa tiga ratus batang emas?"
Xuan Zhiang memucat, "I-itu... Yang Mulia..."
"Dan kau, Menteri Perdagangan! Monopoli garam oleh keluargamu sendiri telah membuat harga garam naik sepuluh kali lipat! Rakyat kecil tidak mampu membelinya, sementara kau menjual beras dan biji-bijian kerajaan ke luar daerah dengan harga gelap!"
"Pembelian benih yang gagal tahun lalu? Itu karena bupati dan gubernur pilihan kalian lebih sibuk menjual jabatan dan kursi sarjana daripada memeriksa kualitas tanah!"
Yuhan berdiri tepat di depan Han Tan, menatapnya dengan mata yang menyala. "Apa-apaan kalian semua? Kalian pikir aku masih wanita bodoh yang hanya tahu cara bersolek sementara kalian merampok negeriku?"
DUK DUK DUK!
Para menteri dan pejabat yang tadinya berdiri tegak kini serempak menjatuhkan diri ke lantai, bersujud memohon ampun. Bunyi dahi mereka yang menghantam lantai marmer terdengar beruntun.
"Mohon ampun, Yang Mulia! Hamba salah! Mohon ampun!"
Namun, Han Tan tetap tidak bergeming. Ia hanya membungkuk sedikit, matanya masih menatap Yuhan dengan kelicikan yang tak kunjung padam.
"Yang Mulia Maharani sangat bijaksana dalam mengkritik kami," ucap Han Tan dengan suara stabil. "Namun, kritik tidak akan mengisi perut rakyat yang lapar. Tanggung jawab utama atas nasib bangsa tetap berada di tangan Maharani sebagai titisan langit. Kami, para menteri rendahan, tidak sanggup memikul kemarahan Dewa dan kesengsaraan rakyat sendirian. Jika Yang Mulia memang telah bangkit, maka buktikanlah dengan memberikan solusi nyata. Bagaimana Anda akan memberi makan jutaan rakyat yang kelaparan dalam waktu tiga bulan? Jika tidak, maka rakyat akan percaya bahwa Anda memang benar-benar pembawa sial bagi Dinasti ini."
Itu adalah sebuah tantangan terbuka. Sebuah jebakan maut. Han Tan tahu bahwa secara logistik, mustahil untuk mendatangkan pangan dalam waktu singkat di tengah kemarau.
Yuhan tersenyum di balik cadarnya. "Tiga bulan? Terlalu lama, Han Tan."
BRAKK!
Tepat saat itu, pintu Balai Besar terbuka dengan bunyi yang menghentak.
"PANGERAN KELIMA, MU LIAN, TIBA!"
Semua orang menoleh. Mu Lian masuk dengan kursi rodanya yang didorong oleh Wu Sheng. Namun, kali ini Mu Lian tidak tampak seperti pria lumpuh yang lemah. Aura tenaga dalamnya yang setingkat Tian Di menekan ruangan, membuat udara terasa bergetar. Meskipun wajahnya masih tertutup topeng setengah, kewibawaannya membuat para menteri gemetar.
"Maharani tidak perlu memberikan solusi pada pengkhianat seperti kalian," suara Mu Lian terdengar dalam dan berwibawa, menggema ke seluruh penjuru aula.
Yuhan melirik suaminya, ada sedikit rasa bangga di matanya. "Mu Lian, kau sudah bangun?"
Mu Lian menghentikan kursi rodanya di samping Yuhan, lalu menatap Han Tan dengan tatapan mematikan. "Perdana Menteri Han, Anda bicara tentang solusi? Solusinya sederhana. Buka gudang pribadi Anda di pinggiran kota Utara, dan gudang Menteri Xuan di wilayah Barat. Aku sudah mengirim pasukan untuk menyitanya pagi ini."
Wajah Han Tan berubah menjadi sangat pucat. "Pangeran! Anda tidak punya hak—"
"Aku punya hak penuh untuk mengamankan aset negara dari pencuri!" potong Mu Lian tajam.
Yuhan terkekeh, suaranya terdengar merdu namun dingin. "Dengar itu, Perdana Menteri Han Tan? Itu adalah makanan untuk rakyat. Dan untuk masalah kekeringan..."
Yuhan menatap langit-langit balai, lalu kembali menatap para menteri. Di dalam kepalanya, ia sedang menghitung luas lahan yang bisa ia sulap menggunakan Air Dewa dan benih unggul dari dimensinya.
"Dalam tiga minggu, aku akan menunjukkan pada kalian bahwa Dewa tidak sedang marah padaku. Justru, Dewa sedang mempersiapkan tempat tidur yang sangat nyaman di neraka untuk kalian semua."
Yuhan kembali ke singgasananya, duduk dengan kaki menyilang yang sangat tidak sopan bagi seorang Maharani, namun sangat mendominasi.
"Rapat belum selesai. Jenderal Shue Wang, majulah. Mari kita bicara tentang bagaimana cara menghancurkan bangsa Tibet sebelum mereka sempat menyentuh gerbang perbatasan kita."
Suasana di Aula Keharmonisan berubah total. Dari sebuah tempat penindasan bagi Maharani, kini berubah menjadi meja eksekusi bagi para pengkhianat. Mu Lian tetap berada di sisi Yuhan, menjadi pedang yang siap menebas siapa saja yang berani mendekat.
GLAARRRR!
Di luar, langit yang tadinya cerah mendadak diselimuti awan hitam yang tebal. Guntur menggelegar di kejauhan seolah alam pun mengakui bahwa sang Maharani yang sebenarnya telah kembali untuk menuntut balas.