Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerbuan di Markas Tua
Elara berdiri di kegelapan hutan yang menghadap ke kompleks tersebut. Dia mengenakan baju zirah taktis lengkap dengan kamuflase malam. Di sampingnya, Zian dan empat anggota inti Phoenix yang tersisa—termasuk Kael—memeriksa senjata mereka dalam keheningan yang mencekam.
"Dua jam hampir habis," bisik Elara. Suaranya tidak lagi gemetar; suaranya datar, tanpa emosi, ciri khas seorang pembunuh yang sudah mengunci targetnya. "Tristan mengharapkan aku datang menyerahkan diri melalui gerbang depan. Dia tidak tahu kita membawa 'hadiah' untuknya."
Zian meletakkan tangannya di bahu Elara. "Kael akan memicu pengalihan di sisi barat dengan muatan termit. Saat perhatian mereka terbagi, kau dan aku akan masuk melalui jalur ventilasi bawah tanah yang terhubung ke ruang interogasi. Elara, ingat... tujuan utama adalah ayahmu. Jangan biarkan dendammu pada Tristan membutakanmu."
Elara hanya mengangguk singkat, matanya terpaku pada jendela berlampu redup di gedung utama.
BOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang sisi barat kompleks. Api termit yang berwarna putih terang membubung tinggi, melahap gudang logistik dan memicu alarm peringatan yang memekakkan telinga. Para penjaga Black-Ops segera berlarian menuju sumber ledakan, meninggalkan pos-pos penjagaan mereka di bagian tengah.
"Sekarang!" perintah Zian.
Mereka bergerak secepat bayangan. Elara meluncur ke dalam lubang ventilasi baja, diikuti oleh Zian. Di dalam lorong yang sempit dan pengap, mereka merayap dengan senapan serbu siap di tangan. Suara langkah kaki sepatu bot militer bergema di atas kepala mereka.
Setelah merayap sejauh lima puluh meter, mereka sampai di sebuah jeruji besi yang menghadap langsung ke koridor ruang tahanan. Elara melihat dua penjaga berdiri di depan pintu baja berat. Tanpa suara, dia mengeluarkan pistol dengan peredam suara.
Phut! Phut!
Dua peluru tepat mengenai dahi para penjaga sebelum mereka sempat menyentuh radio mereka. Zian menendang jeruji hingga lepas dan melompat turun dengan lincah.
Elara segera berlari menuju pintu sel. Jantungnya berdegup kencang saat dia melihat melalui celah kaca kecil. Di dalam, ayahnya, seorang pria tua dengan rambut putih yang kini tampak sangat rapuh, duduk terikat di kursi kayu. Wajahnya memar, tetapi dia masih bernapas.
"Ayah!" bisik Elara sambil membobol kunci elektronik pintu menggunakan perangkat peretas portabel.
Pintu terbuka. Ayah Elara mendongak, matanya yang lelah membelalak saat melihat putrinya mengenakan seragam tempur lengkap dengan wajah yang dicat hitam-hijau.
"Elara? Nak... kau benar-benar datang," suara ayahnya serak.
Elara memotong ikatan tali dengan pisaunya dan memeluk ayahnya erat. "Maafkan aku, Ayah. Aku menyeretmu ke dalam kekacauan ini."
"Kita harus pergi, Elara! Sekarang!" Zian memperingatkan sambil menjaga pintu koridor.
Namun, sebelum mereka bisa melangkah keluar, suara tepuk tangan yang lambat terdengar dari interkom di dinding sel.
"Sangat menyentuh, Mayor Vanya. Reuni keluarga di tengah medan perang," suara Tristan bergema, penuh dengan kemenangan yang memuakkan. "Kau pikir ledakan di sisi barat tidak terbaca olehku? Aku tahu persis jalur ventilasi mana yang akan kau ambil. Selamat datang di jebakanku yang sebenarnya."
Tiba-tiba, gerendel baja otomatis menutup pintu sel dengan dentuman keras. Mereka terjebak. Gas berwarna kuning mulai menyembur dari lubang udara di langit-langit.
"Gas syaraf!" teriak Zian. "Tahan napas!"
Zian segera mengambil masker gas dari tas taktisnya dan memberikannya kepada ayah Elara. Dia sendiri hanya menggunakan selembar kain basah. Elara dengan cepat memasang maskernya sendiri dan mencoba menembak engsel pintu baja, namun peluru-peluru itu hanya memantul sia-sia.
"Tristan! Keluar kau, pengecut!" teriak Elara melalui masker.
Tembok di sisi sel tiba-tiba bergeser, memperlihatkan sebuah ruangan kaca antipeluru di mana Tristan berdiri dengan senyum lebar. Di tangannya, dia memegang detonator.
"Aku tidak butuh kehormatan, Elara. Aku butuh hasil. Gedeon sudah menjanjikan pangkat Jenderal jika aku bisa membawakan kepala kalian berdua. Dan bonusnya, aku bisa melihatmu menderita melihat ayahmu mati," kata Tristan dingin.
Tristan menekan tombol di detonatornya. Bukan ledakan di dalam sel, melainkan dinding sel yang perlahan mulai bergerak maju, menyempitkan ruangan seperti alat pemadat sampah raksasa.
"Zian! Dindingnya bergerak!" Elara mencoba menahan dinding itu dengan bahunya, tetapi tekanan hidroliknya terlalu kuat.
Zian melihat ke sekeliling dengan cepat. Dia melihat kabel hidrolik yang tersembunyi di balik panel kontrol kecil di pojok sel yang mulai terbuka karena pergeseran dinding.
"Elara! Beri aku penutup! Aku akan mencoba memutus sistemnya!"
Zian menghantamkan popor senjatanya ke panel tersebut, memperlihatkan untaian kabel rumit. Di saat yang sama, tim Black-Ops mulai menembaki kaca antipeluru dari sisi Tristan, mencoba mengalihkan perhatian mereka.
Peluru-peluru menghantam dinding besi di sekitar Elara. Dia memposisikan ayahnya di sudut yang paling aman dan membalas tembakan ke arah Tristan. Meskipun kaca itu antipeluru, guncangan dari tembakan kaliber tinggi Elara membuat Tristan sedikit mundur.
"Sedikit lagi..." Zian menarik kabel berwarna merah dan menyatukannya dengan kabel tembaga. Percikan api menyambar, dan suara mesin hidrolik yang menderu tiba-tiba terhenti. Dinding berhenti bergerak hanya beberapa inci dari tubuh mereka.
"Sialan kau, Arkana!" teriak Tristan dari balik kaca.
Zian tidak berhenti di situ. Dia mengambil granat C4 kecil dan menempelkannya pada sambungan kaca antipeluru dan bingkai baja. "Merunduk!"
BOOOM!
Ledakan itu menghancurkan kaca dan melemparkan Tristan ke belakang. Elara melompat melewati reruntuhan kaca, senjatanya mengarah tepat ke kepala Tristan sebelum pria itu sempat meraih pistolnya.
Tristan tergeletak di lantai, wajahnya berdarah, menatap Elara dengan tatapan penuh kebencian. "Tembak aku, Elara. Tembak aku dan buktikan bahwa kau memang monster yang mereka katakan di berita."
Tangan Elara gemetar di pelatuk. Bayangan masa lalu saat mereka masih menjadi rekan satu akademi melintas. Tapi kemudian dia ingat memar di wajah ayahnya dan penghianatan Tristan terhadap negara.
"Kau bukan rekan, Tristan. Kau adalah penyakit," bisik Elara.
Dia tidak menembak kepalanya. Sebaliknya, Elara menembak kedua kaki Tristan, membuatnya lumpuh di tempat. "Kau akan hidup untuk melihat kejatuhan Gedeon. Itu adalah hukuman yang lebih pantas untukmu."
Zian keluar dari sel sambil membopong ayah Elara. "Kael sudah menyiapkan kendaraan di perimeter luar! Kita harus bergerak sebelum bala bantuan datang!"
Mereka berlari menembus api dan asap. Di belakang mereka, kompleks Sektor 9 mulai runtuh akibat ledakan berantai yang dipasang Kael. Saat mereka mencapai truk lapis baja Phoenix, hujan masih mengguyur deras, seolah mencoba mencuci noda darah dari malam yang panjang itu.
Elara membantu ayahnya masuk ke dalam truk. Ayahnya memegang tangan Elara erat-alumni. "Nak... kau bukan tentara biasa, bukan?"
Elara menatap Zian yang sedang memberikan instruksi terakhir pada timnya. Zian menoleh dan memberikan anggukan kecil yang penuh arti pada Elara.
"Aku seorang pejuang, Ayah," jawab Elara pelan. "Dan perjalananku baru saja dimulai."
Truk itu melaju kencang meninggalkan markas tua yang terbakar. Di tangan Elara, alat penyalin data dari PIN masih tersimpan aman. Sekarang, mereka memiliki segalanya untuk menjatuhkan Gedeon. Satu-satunya masalah adalah, Gedeon kini tahu mereka memiliki ayahnya sebagai beban.
"Zian," kata Elara saat mereka duduk di bagian belakang truk yang gelap. "Tristan bilang Gedeon punya rencana cadangan. Sesuatu yang disebut 'Protokol Lazarus'."
Wajah Zian seketika berubah pucat. "Protokol Lazarus? Itu adalah perintah pembersihan total. Jika Gedeon mengaktifkannya, dia akan melepaskan senjata kimia di ibu kota untuk menyalahkan pemberontak dan mengumumkan darurat militer absolut."
Elara mengepalkan tangannya. "Maka kita tidak punya pilihan lain. Kita harus menyerang Gedeon di kediaman pribadinya malam ini juga."