Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Firasat Buruk
Belum juga kembali mood yang kemarin hilang, pagi ini sudah diberikan firasat yang tak mengenakan. Pintu mobil segera dibuka dan ditutup dengan cukup keras hingga membuat enumpang yang belum turun terlonjak. Dan kini dirinya sudah ada di depan pernumoang tersebut.
"Ng-ngapa--"
"Nika!!" Yuhan memanggil dengan penuh semangat dan berlari menuju ke arahnya.
Hembusan napas kasar keluar dari bibir Nika. Aura yang mencekam dapat dia rasakan. Perihal yang kemarin saja si manekin hidup masih marah. Dan ditambah lagi yang sekarang. Nika semakin pusing bagaimana cara membuat manekin hidup itu kembali seperti sedia kala. Walaupun tak ada bedanya.
Tak disangka lelaki yang berdiri di depannya mengulurkan tangan. Di tengah keterkejutan, Nika menerima uluran tangan tersebut dengan bibir yang sedikit terangkat. Sedangkan langkah Yihan mulai terhenti.
"Saya antar sampai dalam."
Ada rasa bingung, tapi juga bahagia. Terlebih tangannya tak dilepaskan oleh manekin hidup yang kini berjalan di sampingnya. Banyak mata yang tertuju pada mereka. Bukannya risih, Nika malah nampak nyaman. Senyumnya sedikit melengkung ketika menatap Ezra dari samping.
"Inikah yang dimaksud memberikan jarak antara aku dan Yuhan?"
Genggaman tangan itu mulai terlepas ketika sudah tiba di depan kelas. Untuk beberapa detik mereka saling pandang dengan raut yang sulit diartikan. Kepala Ezra mengangguk pelan menandakan tugasnya sudah selesai. Dan hati kecil Nika berteriak kegirangan.
"Beginikah rasanya menyukai manekin hidup yang bebawa kulkas?" Kembali hati Nika berteriak.
Selama lebih dari sebulan ini tak ada interaksi yang berlebihan di antara Nika dan Ezra. Wajar, jika kali ini Nika begitu bahagia karena pada pertemuan pertama mereka Nika sudah sedikit mengagumi sosok Ezra Naradipta. Dan sekarang perlakuan Ezra terhadapnya seperti bukan pengawal. Melainkan lelaki yang tulus menjaganya. Sambil belajar pun senyumnya terus melengkung.
Baru saja duduk di kantin, ada yang memberikan teh susu hangat. Senyum yang sudah melengkung tetiba menghilang. Ternyata Yuhan-lah yang memberikannya. Kedua teman Nika yang lain mulai menggoda.
"Nika, kayaknya Yuhan punya rasa deh sama kamu."
Nika meresponnya hanya dengan cengiran terpaksa. Dia akui lelaki itu memang tampan dan juga memiliki banyak kesamaan dengannya. Sayangnya, dia hanya menganggap Yuhan seperti teman pada umumnya.
"Dia juga anak orang kaya loh. Hanya saja dia membumi tak menunjukkan," terang Lucy.
"Banyak yang pengen deket sama dia loh. Tapi, cuma kamu yang beruntung karena Yuhan sendiri yang deketin kamu." Lagi, Nika hanya tersenyum kecil.
Nika tak tertarik pada fakta yang kedua temannya beberkan. Sudah biasa dia didekati anak orang kaya. Bahkan banyak kolega dari papinya untuk menjodohkan dia dengan anak-anaknya. Sayangnya, Nika sama sekali tidak tertarik.
Teh susu hangat pemberian Yuhan mulai diminum. Dia terdiam sejenak karena rasanya beda tidak seperti yang dibelikan oleh Ezra. Padahal di kedai yang sama.
"Enak kan?" tanya Yuhan sambil membawakan makan siang untuk Nika dan dua temannya..
Tak mungkin Nika berkata tidak enak. Sama saja dia tak menghargai pemberian Yuhan. Lelaki itu mengeluarkan effort untuk membeli teh susu hangat yang cukup jauh dari kampus.
Makanan yang dibeli Yuhan nampak lezat. Apalagi melihat Meilan dan Lucy yang sudah mengeluarkan air liur melihat makanan yang berbentuk seperti bakso goreng. Dan ternyata memang enak.
"Bener kan enak," ucap Meilan yang tak henti mengunyah.
Baru saja kembali ke kelas. Ada yang aneh pada tubuh Nika. Sekujur tubuhnya terasa panas. Segera dia menuju kamar mandi. Ketika terkena air rasa panas itu semakin menjadi dan ruam di kulit putihnya muncul. Bukan hanya panas, rasa gatal pun kini menyerang.
Di lain tempat, seorang lelaki terus mendengarkan laporan dari anak buahnya mengenai teh susu hangat. Wajah tak bersahabatnya perlahan memudar menandakan hatinya perlahan
Sudah duduk manis mendengarkan serta memeriksa beberapa laporan si ruangan rapat. Ponsel yang diletakkan di atas meja bergetar. Dahinya mengkerut dan segera menjawab panggilan tersebut.
"Paman! Tolong! Panas!"
Berdirinya Ezra dengan wajah penuh kecemasan membuat semua orang yang berada di ruang rapat terkejut. Apalagi lelaki itu pergi begitu saja tanpa memberi alasan.
"Ada apa?" Chandra hanya menggeleng. Sepertinya ada yang aneh dengan bosnya itu.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Berlari menuju tempat di mana orang suruhannya katakan. Toilet perempuan, di sanalah Ezra berada sekarang. Hanya ada satu bilik kamar mandi yang tertutup. Dia meyakini di dalamnya ada Nika. Tanpa ragu pintu bilik kamar mandi itu ditendang, dan Nika sudah duduk di atas wastafel dengan tubuh penuh ruam dan merah. Tubuh gadis itu digendong dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Baru beberapa langkah meninggalkan kamar mandi, Yuhan sudah berdiri di hadapannya.
"Nika kenapa?"
"MINGGIR!!" Garang dan penuh amarah. Tak mengindahkan Yuhan yang terus berteriak.
Ezra membawa tubuh Nika menuju rumah sakit terdekat. Rintihan panas dan gatal membuatnya tak tega. Lelaki itu terus setia berada di samping Nika yang tengah diperiksa.
"Terlambat sedikit saja sudah lain cerita," papar dokter yang menangani.
Semua laporan yang diminta Ezra sudah masuk ke ponsel. Sambil menunggu Nika sadar dibacanya laporan itu secara seksama. Tetiba tangannya mengepal dengan cukup keras. Nika memakan bakso kepiting goreng. Di mana gadis itu memiliki alergi sangat parah akan yang namanya kepiting.
Selama sebulan ini dia benar-benar menjaga Nika dengan sangat hati-hati. Dari segi minuman, makanan selalu diperhatikan. Tapi, sekarang malah diracuni dan membuat gadis yang dia jaga terbaring lemah.
"Pa-man!"
Suara lemah Nika membuat atensi Ezra berubah. Tangan yang biasanya tak ramah, kini mengusap lembut ujung kepala Nika.
"Jangan laporan ke Papi dan Uncle."
Ezra sudah menduga Nika akan berkata seperti itu. Dia pun mengangguk dengan patuh karena pasti akan terjadi kehebohan nantinya.
Lelaki yang dipanggil manekin hidup oleh Nika begitu telaten merawatnya. Mengoleskan salep di beberapa bagian tangan yang digaruk oleh Nika saking tak tahannya. Muncullah sebuah kehangatan yang membuat Nika tak melepaskan pandang pada sosok lelaki yang ditugaskan menjaganya.
"Nika!!"
Suara beberapa orang membuat atensi keduanya berpaling. Lucy, Meilan dan seorang lelaki yang nampak panik sudah ada di ruang perawatan. Mereka berlari ke arah Nika yang mencoba mengubah posisi dengan dibantu oleh Ezra.
"Nika, kamu enggak apa-apa kan?" Pertanyaan penuh kekhawatiran mendapat jawaban yang begitu mematikan.
"Masuk rumah sakit begini dibilang enggak apa-apa? Otaknya masih berjalan kah?"
Kedua teman perempuan Nika nampak terkejut mendengar ucapan lelaki yang ada di samping Nika. Mereka juga semakin penasaran siapa lelaki yang menemani Nika? Berwajah garang, tapi tampan.
"Paman--"
Ezra menatap kesal ke arah Nika yang seakan membela Yuhan. Tanpa kata dia pun pergi meninggalkan Nika dan ketiga temannya. Nika hanya mampu melihat punggung Ezra dengan tatapan sedih.
"Paman, jangan pergi!"
...**** BERSAMBUNG ****...
Boleh kan minta komennya??
wes angel klo udh dalam pengawasan elang kaga bakal bisa nemuin dah ntar si paman🤭
dan .... kira-kira Nika pergi ke mana ya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍