Zian Arsya, seorang laki-laki mandiri dan sukses di usia 29 tahun, telah menjadi tulang punggung keluarga setelah di percaya ayah dan ibunya untuk mengelola usaha Hotel dan Restoran. Namun, di balik kesuksesannya, Zian menyembunyikan masa lalu pahit yang membuatnya menjadi pendiam dan jarang bicara. Dia pernah dikhianati kekasihnya semasa kuliah, yang memilih laki-laki lain, membuatnya kehilangan kepercayaan pada cinta.
Suatu hari, Zian dijodohkan dengan Raya, seorang gadis cantik, ramah, dan pintar yang sangat perhatian. Zian setuju dengan perjodohan itu, tapi dia tidak berani mengungkapkan masa lalunya kepada Raya dan keluarganya. Dia takut kehilangan kesempatan untuk memiliki keluarga dan cinta yang sebenarnya.
Namun, kehadiran Raya membuat Zian perlahan-lahan membuka diri dan menghadapi masa lalunya. Apakah Zian akan mampu mengungkapkan kebenaran kepada Raya dan keluarganya? Atau akankah rahasia itu menjadi beban yang menghancurkan kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan orang tua
Malam yang Sama, Sebuah Rumah Lama di Pinggir Kota, Hujan turun rintik malam itu.
Di sebuah ruang tamu sederhana namun hangat, empat orang duduk mengelilingi meja marmer. Waktu telah mengubah wajah mereka, tapi tidak untuk ingatan masa itu.
Ayah Zian duduk tegak, rambutnya kini lebih banyak putih. Di sampingnya, sang ibu' Mamah Zian tersenyum lemah namun penuh arti.
Di seberang mereka, Ayah Raya menunduk sebentar, sedang Ibu Raya menggenggam tas kecil di pangkuannya.
Hening panjang… sebelum akhirnya Mamah Zian membuka suara.
“Tidak terasa…” katanya lirih, “Zian sudah dua puluh sembilan tahun.”
Ayah Raya mengangguk pelan. “Waktu memang kejam kalau sedang berjalan.”
Ibu Raya tersenyum samar, matanya berkabut. “Raya juga sudah dewasa.”
Nama itu menggantung di udara.
Ayah Zian menghela napas berat. “Aku rasa … sudah waktunya kita membicarakan hal yang dulu.”
Jantung Ibu Raya berdegup lebih cepat.
Ia tahu apa maksudnya.
Kilas Balik 29 Tahun yang Lalu.
Rumah Sakit yang Sama. Lorong yang Sama.
Malam itu bau disinfektan terasa lebih menyengat dari biasanya.
Mamah Zian duduk sendirian di bangku lorong rumah sakit, menggenggam perutnya dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat. Matanya sembab karena menahan takut.
Ayah Zian tidak ada.
Ia harus bekerja di luar kota.
belum bisa datang.
Tidak tahu istrinya akan melahirkan lebih cepat.
“Tidak apa-apa… aku kuat,” gumamnya pada diri sendiri, meski suaranya bergetar.
Saat itulah seseorang menghampirinya.
Seorang pria muda Ayah Raya membawa dua gelas air.
“Ibu sendirian?” tanyanya sopan.
Mamah Zian mengangguk pelan. “Suami saya… belum bisa datang.”
Tanpa banyak tanya, Ayah Raya duduk di sampingnya.
“Kebetulan istri saya juga mau melahirkan. Saya temani Ibu saja dulu. Rumah sakit begini… terlalu dingin kalau sendirian.”
Malam itu, mereka berbagi diam.
Berbagi teh hangat.
Berbagi ketakutan yang sama.
Keesokan harinya mamah Zian melahirkan seorang bayi laki-laki.
Sehari setelahnya mamah Raya melahirkan bayi perempuan.
Dua tangis.
Dua kehidupan.
Dua keluarga yang waktu itu sama-sama sedang terpuruk.
Ayah Raya-lah yang membantu segala urusan administrasi.
Mengurus dokter.
Menguatkan saat ayah Zian masih terikat kewajiban.
Dan di lorong rumah sakit itu, “Kalau suatu hari…” ucap Mamah Zian dengan mata berkaca-kaca,
“anak kita berjodoh… aku tidak akan menolak.”
Ayah Raya terdiam lama.
Lalu tersenyum pelan. “Kalau itu takdir mereka… saya akan menjaga janji ini.”
Dua tangan berjabat.
Tanpa saksi.
Tanpa surat.
Hanya janji.
Kembali ke Masa Kini
Hujan masih jatuh di luar.
“Perjodohan itu bukan karena harta,” ujar Ayah Zian berat.
“Bukan karena nama. Tapi karena utang nyawa… dan janji.”
Ibu Raya menunduk. “Kami tidak pernah bermimpi sejauh ini. Tapi Raya … gadis baik.”
Mamah Zian tersenyum lelah. “Justru itu sebabnya. Aku ingin Zian bersama perempuan yang benar.”
Ayah Raya menghela napas panjang. “Tapi mereka… belum tahu.”
“Belum,” sahut Ayah Zian tegas.
“Dan belum boleh.”
Mamah Zian meremas jemarinya sendiri. “Zian keras. Traumanya terlalu banyak. Ia tidak akan menerima perjodohan tanpa perlawanan.”
Ibu Raya tersenyum pahit. “Dan Raya… terlalu lembut. Ia akan menurut meski takut.”
Sunyi kembali.
“Namun,” Ayah Zian menunduk, suaranya mengeras oleh keputusan,
“segala sesuatu sudah bergerak. Jalan hidup mereka sudah bertemu.”
“Dan kalau takdir memilih cara kejam untuk menyatukan mereka…”
ia mengepalkan tangan,
“kita hanya bisa memastikan… mereka tetap hidup.”
Empat orang dewasa itu terdiam. Memutuskan perjodohan tanpa sepengetahuan Zian dan Raya.
***
Keesokan paginya.
Raya terbangun gugup ketika ia tiba-tiba mendengar dering ponsel, ia segera meraih ponsel di atas nakas yang sudah sedari tadi berdenting.
Di sana nampak jam sudah menunjukan hampir pukul tujuh, di ujung layar ponselnya, Raya melotot , ada terpampang jelas nama Pak Zian, atasan Muda tempatnya bekerja, sang pemilik Hotel dan resto yang terkenal diam dan sedikit dingin namun anehnya seperti ada perhatian, menurutnya. Zian menelpon sudah empat kali Raya segera berlari ke kamar mandi untuk bersiap berangkat bekerja.
Kocar kacir. Gugup. Dan tak karuan.
Raya bangun kesiangan.
"mati gueh...!" ucapnya pada diri sendiri, sembari berlari ke kamarandi.
...
Sementara di Hotel, Zian mendengus kesal sebab Raya belum juga datang. Zian menelpon Derry yang ia perintahkan untuk menjemput Raya. Ia menatap layar ponselnya untuk kesekian kali. Empat kali teleponnya ke Raya tidak diangkat. Tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme pendek tanda bahwa ia mulai kehilangan kesabaran.
“Kenapa dua manusia itu belum kelihatan juga…” desisnya lirih.
Ia langsung menekan nama Derry.
Sambungan langsung terangkat.
“Bosss… pagi duniaaa...”
“Derry,” potong Zian tajam.
Suara ceria Derry langsung ciut. “I-iyah, Bos?”
“Kau sudah jemput Raya?”
“Belum.”
“Belum?” suara Zian meninggi sedikit. “Kau seharusnya berangkat sepuluh menit lalu.”
“Bos… saya… lagi pake celana.”
Zian memejam mata, memijat pangkal hidung. “Derry.”
“Serius, Bos! Tadi saya kira Bos masih sarapan! Saya pikir Bos butuh me time pagi-pagi supaya nggak galak!”
“Derry.” Nada Zian merendah, tanda bahaya.
“Oke oke, saya on the way sekarang! Jemput Raya dulu, baru balik ke hotel!”
“Lima belas menit. Tidak lebih.”
“Siaaap, Tuan Zian yang super ganteng namun penuh tekanan batin!”
Telepon ditutup sebelum Zian sempat memarahinya.
Ia bersandar di kursinya, menghela napas—panjang.
Ruangannya yang tenang tiba-tiba terasa sempit karena pikirannya sendiri. Bersama-hari dengan Raya… entah bagaimana gadis itu selalu membuat pikirannya tidak stabil. Kadang tenang, kadang kacau. Ada sisi dalam dirinya yang ingin memastikan gadis itu selalu aman.
Tapi ia menepis pikiran itu.
Dia atasan. Raya karyawan. Itu saja.
Ia harus tetap profesional.
Itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.
Berulang-ulang.
...
Di Rumah Raya Kekacauan Level Tinggi, Raya mengelap rambutnya yang masih basah dengan tergesa. “Aduh, kenapa sih harus kesiangan di hari kerja!” Ia hampir menjatuhkan bedak, mascara, dan bahkan hampir menginjak tasnya sendiri.
Saat ia berusaha menepuk bedak ke pipi…
TING TONG!
Bel pintu berbunyi.
Raya beku.
“D-derry?!”
Ia langsung lari ke pintu sambil setengah berdandan, kemeja kerja belum dimasukkan, dan sepatu bahkan belum dipakai.
Ia membuka pintu.
Benar saja.
Derry berdiri di depan rumah, hujan rintik membuat helai rambutnya basah. Ia menatap Raya dari atas sampai bawah… lalu mendengus geli.
“Kalau Bos Zian lihat kamu begini, bisa pingsan di tempat.”
Raya menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Derry… aku telat. Gawat banget ini.”
“Itu makanya ayo! Bos udah mendidih!”
Raya panik mengambil tas, sepatu, dan jas kerjanya sambil berlari-lari kecil ke mobil.
Derry hanya geleng-geleng kepala.
“Kalau kamu beneran jadi calon istrinya Bos nanti, tiap pagi begini juga apa nggak kasihan laki-laki itu?”
Raya tersedak napas. “Hah?! Calon… apa?!”
“Bercanda! Bercanda!” Derry tertawa lebar. “Tapi siapa tahu kan? Dunia tak ada yang...”
“DER-RY!”
“Ya, ya, masuk dulu. Bos udah mau berubah jadi naga.”
...
Di Kantor Zian Ketegangan Meningkat, Zian sedang berdiri di balik meja ketika pintu ruangannya terdengar diketuk cepat.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Derry masuk duluan… dengan senyum minta ampun.
Dan Raya muncul di belakangnya bernapas cepat, rambut sedikit berantakan, wajah cantiknya masih menunjukkan tanda-tanda baru saja kabur dari kebakaran.
Zian hanya menatap.
Tak bicara.
Tak bergerak.
Hening membuat Raya makin gugup.
“P-pagi Pak Zian…” suaranya kecil, hampir tidak terdengar.
Derry menyikut Raya pelan, berbisik, “Tegas dikit, dia itu manusia bukan patung.”
Zian melihat mereka berdua seolah menahan tawa sekaligus emosi.
“Raya,” ucap Zian akhirnya. Suaranya datar, tapi ada nada halus yang samar.
“Kamu terlambat.”
Raya menunduk dalam. “Maafkan saya, Pak. Saya… bangun kesiangan.”
Zian hendak menegur, tapi ia melihat wajah Raya yang benar-benar ketakutan. Bukan cuma soal telat. Gadis itu terlihat… rapuh pagi itu.
Zian menahan napas sejenak.
“Lain kali jangan buat saya menunggu,” katanya lebih pelan. “Itu saja.”
Raya mengangguk cepat. “Iya, Pak. Terima kasih… maaf sekali lagi…”
Zian mengalihkan pandang.
Derry mencubit pipinya sendiri pelan, menahan komentar. Dua manusia keras kepala tapi perhatian yang saling pura-pura dingin… kapan sadar, woy?
---
Di Balik Pintu Ruangan, Saat Raya Pergi
Begitu pintu tertutup, Derry berdehem.
Zian mengerjap. “Apa?”
Derry menyilangkan tangan, menatap Zian penuh makna. “Bos, cara Bos ngomel ke Raya itu… aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Lembut,” jelas Derry. “Terlalu lembut untuk ukuran Bos.”
Zian menghela napas panjang. “Derry…”
“TAPI AKU TIDAK BILANG ITU HAL BURUK!” Derry cepat menambahkan sambil mengangkat tangan. “Siapa tahu kan… jodoh?”
“Keluar sebelum saya lempar.”
“Oke, Bos!”
Derry melipir keluar sambil ngikik sendiri.
Setelah ia pergi, Zian berdiri lama menatap pintu.
Ada sesuatu di dadanya.
Sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Sesuatu yang sejak awal sudah mulai tumbuh…
…dan ia takut.
Takut jika rasa itu kelak membuatnya hancur lagi.
duhh Derry jahil mulu suka godain Zian 😄😄
di tunggu updatenya ya Sayyy quuu Author kesayangan🥰🤗 semangat terus Sayyy🤗
duhh Derry godain Raya dan Zian mulu bikin ngakak 😆😆😆
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
jangan² Raya juga jatuh cinta sama Zian 😄😄
bener kata Zian ada seseorang yang harus dia jaga yaitu Raya..
perhatian nya ma Raya,
Zian sepertinya emang jatuh cinta sama Raya 😅😅
duhh Zian minta Derry antar Raya plg gk tuh 😅😅
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu 🥰 semangat terus Sayyy 🤗💪
tapi bnr kok Zian emng sepertinya jatuh cinta sama Raya 😅😅😅
tapi Zian gk mengakuinya 😅😅😅
ledekin terus Zian ya Derry lucu soalnya 😅😅😅
untungnya Zian baik baik Saja...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy makin seru cerita nya🥰🤗
Derry ada² saja blg nnt juga bakal tau
tau apa yaa kira² apakah Zian dan Raya akan menikah? 😄😄
bener banget Raya hrs mengenal Zian lagi...
tinggal di tunggu kapan nikah nya😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
jgn dong Zian harus menjauh dari Raya 🥲..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhh gmn yaa klo Raya dan Zian tau soal perjodohan 😌😌
Ya ampuun Derry usil banget suka jailin Raya sampai malu malu dong 😆😆😆
. penasaran dg lanjutannya, di tunggu kekocakan Derry Sayyy quuu Author kesayangan tetap semangat ya Sayyy 🤗quuu🤗 🥰💪
Zain minta Derry antar Raya plg buat mastiin Raya aman gk tuh 😄😄
ciieee Raya dahh nyaman tuh dg Zain 😄😄
namun gmn dg perasaan Zain? mungkin Zain juga sama😄😄
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat ya Sayyy quu🤗🥰💪
siapa tuhhh yg menghubungi Raya?? jgn² masa lalu Zian duhh Raya dalam bahaya dong 😌😌
yg menghubungi Raya cowok yaa, ada hubungan apa Raya dg cowok itu?
l
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🤗🥰💪
Duhh Raya merasa ada yg mengikutinya... 😄😄
Derry blg ke Zian lapor polisi dong... 😁😁
Siapa yaa yg mengikuti Raya 🤔🤔
Derry menggaruk kepala gk tuh 😆😆
Derry bingung dong menatap bos nya 😄😄
Zian blg Raya harus mendapatkan pengawasan khusus gk tuh 😆😆
Bener tuh Derry sejak kapan Raya sepenting itu buat bos 😄😄
Duhhh siapa sihh pria bertato leher itu... 😌😌
Waduhh Derry ngomong Bos yang dulu belain cewek waktu itu, berani nyaa Derry 😆😆
Derry di suruh diam gk tuh 😆😆
Derry nanya mulu 😆😆
Penasaran dg lanjut nya.
Di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat Sayyy 🥰🤗💪
Zian pasti nya akan cari tau siapa mereka 🥲🥲
duhhh Zian blg ke Raya klo ada apa-apa ksh tau dong 😄😄
mengapa tuh Raya berdebar debar jgn² Raya bnran suka sama Zain 😄😄
duhh siapa yaa Pria yg mengintai Raya??
penasaran dg lanjut nyaa...
Di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu
Tetap semangat ya Sayyy 🤗🥰
duhhh Zian tiba ingat masaalu nya 🥲
ada seseorang yg mengancam Zian dongg...
kasihan Zian🥲🥲
penasaran dg lanjut nyaa
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy 🤗🥰💪
duhhh seperti nya Zian bakal suka sama Raya😄😄