NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Tes Kejiwaan

​​"Ini Adrian. Teman kuliahku dulu. Dia kebetulan lewat di sekitar sini, jadi aku ajak makan malam."

​Kairo mengucapkan kalimat itu dengan nada datar, sedikit terlalu kaku untuk seseorang yang sedang memperkenalkan teman lama. Dia berdiri di ambang pintu ruang makan, di sampingnya berdiri seorang pria berkacamata dengan senyum ramah yang terukur rapi.

​Elena, yang sedang duduk di ujung meja sambil membaca berita ekonomi di tablet, tidak segera mendongak. 

Dia membiarkan dua pria itu berdiri canggung selama beberapa detik. Itu adalah taktik negosiasi dasar: biarkan lawan bicara menunggu untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali situasi.

​Perlahan, Elena meletakkan tabletnya. Dia menatap pria bernama Adrian itu.

​Kemeja linen warna beige, jam tangan analog klasik yang tidak terlalu mencolok tapi mahal, dan kuku jari tangan yang dipotong sangat rapi—terlalu rapi untuk pria biasa. Tapi yang paling menarik perhatian Elena adalah tatapan matanya.

​Mata Adrian tidak menatapnya seperti pria menatap wanita cantik. Mata itu memindai. Menganalisis. Menilai mikro-ekspresi di wajah Elena.

​"Teman kuliah," ulang Elena pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Jurusan apa? Bisnis? Atau... Psikologi?"

​Senyum Adrian menegang sesaat, sangat tipis, nyaris tak terlihat, tapi Elena menangkapnya.

​"Manajemen, Nyonya Sora. Sama seperti Kairo," jawab Adrian cepat. Dia melangkah maju, mengulurkan tangan. "Senang akhirnya bisa bertemu. Kairo sering cerita soal kamu."

​Elena menyambut uluran tangan itu sekilas, tanpa tenaga, lalu melepaskannya begitu saja seolah tangan Adrian berdebu.

​"Silakan duduk. Maaf makanannya sederhana. Koki di rumah ini baru saja dipecat karena korupsi daging wagyu, jadi kita pesan katering sehat," kata Elena santai, menunjuk piring-piring berisi salmon panggang dan salad yang baru saja diantar kurir.

​Kairo menarik kursi di hadapan Adrian, sementara Elena tetap di ujung meja, menjaga jarak.

​Suasana makan malam itu aneh. Hening, tapi penuh ketegangan. Denting garpu dan pisau terdengar seperti suara pedang yang beradu.

​"Jadi..." Adrian membuka percakapan setelah menelan potongan salmonnya. Suaranya lembut, menenangkan, jenis suara yang biasa dipakai hipnoterapis. "Kairo cerita kamu baru saja mengalami... insiden kecil di kamar mandi. Bagaimana perasaanmu sekarang? Masih sering merasa cemas?"

​Elena memotong cherry tomato di piringnya dengan presisi bedah.

​"Insiden itu namanya 'percobaan bunuh diri yang gagal karena kurang riset', Adrian. Sebut saja namanya, jangan diperhalus," jawab Elena tanpa menatap lawan bicaranya. "Dan soal perasaan? Aku merasa lapar. Cemas itu untuk orang yang tidak punya rencana. Aku punya rencana."

​Kairo yang sedang minum air tersedak pelan. Dia melirik Adrian, memberi kode mata.

​Adrian berdehem, memperbaiki posisi duduknya. Dia mulai masuk ke mode profesionalnya, meski masih mencoba bersembunyi di balik topeng "teman".

​"Rencana apa? Belanja tas baru? Kairo bilang dulu kamu pernah menangis seharian karena tas Hermia kesayanganmu lecet sedikit kena pintu mobil. Kamu ingat kejadian itu?"

​Elena berhenti makan. Dia meletakkan alat makannya.

​Ini dia. Tes ingatan. Mereka ingin tahu apakah dia amnesia, gila, atau berkepribadian ganda.

​"Tas itu benda mati, Adrian," kata Elena, menatap mata pria itu lurus-lurus. "Kulit hewan yang dijahit, diberi merek, lalu dijual dengan harga markup seribu persen untuk memuaskan ego manusia. Menangisi benda mati adalah inefisiensi emosi. Sora yang dulu mungkin bodoh, tapi manusia berevolusi. Apa salahnya kalau aku memutuskan untuk berhenti jadi bodoh?"

​"Bukan salah," Adrian buru-buru menyela, tangannya tanpa sadar mulai mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu. "Cuma... perubahan drastis dalam waktu singkat biasanya dipicu oleh trauma hebat. Atau disosiasi. Kamu merasa... seperti orang lain? Atau kamu merasa ada suara di kepalamu?"

​Elena tidak menjawab. Dia justru memiringkan kepalanya sedikit, mengamati gerakan tangan Adrian.

​Ketuk. Ketuk. Ketuk.

​Jari telunjuk Adrian mengetuk meja dengan ritme konstan.

​Mata Elena turun ke tangan kiri Adrian. Ada bekas garis putih melingkar di jari manisnya. Bekas cincin yang baru saja dilepas. Kulit di sekitarnya sedikit merah, tanda sering digaruk atau digosok.

​"Dokter Adrian," panggil Elena tiba-tiba. Dia menghilangkan panggilan "teman" itu sepenuhnya.

​Adrian tersentak. "Ya?"

​"Anda sering mengetuk meja seperti itu kalau sedang gugup menghadapi pasien yang sulit?" tembak Elena langsung.

​Wajah Adrian memucat. Topeng ramahnya retak. "Sa... saya bukan dokter. Saya kan bilang tadi jurusan Manajemen..."

​"Jangan menghina kecerdasanku," potong Elena dingin. Dia mengambil serbet, membersihkan sudut bibirnya dengan gerakan anggun. 

"Bahasa tubuhmu berteriak 'psikiater klinis'. Cara kamu bertanya, intonasi suaramu yang sengaja direndahkan untuk membangun rapport, dan caramu menatap mataku untuk mencari tanda pupil membesar. Itu teknik dasar wawancara psikiatri."

​Elena mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Adrian dengan tatapan yang jauh lebih mengintimidasi daripada yang bisa dilakukan dokter itu.

​"Dan bicara soal kecemasan... Dokter sendiri sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Bekas cincin di jari manismu itu masih baru. Kulitnya merah. Anda baru bercerai? Atau sedang pisah ranjang karena ketahuan selingkuh? Ketukan jari itu tanda anxiety yang tidak terkontrol. Mungkin Dokter yang butuh terapi, bukan saya."

​Prang.

​Garpu di tangan Adrian jatuh ke piring. Dia menatap Elena dengan mulut terbuka, kehilangan kata-kata. Analisis itu telak. Akurat. Menusuk tepat di ulu hati. Memang benar, Adrian baru saja digugat cerai istrinya minggu lalu dan dia menyembunyikannya dari semua orang, termasuk Kairo.

​Kairo menatap temannya dengan kening berkerut. "Adrian? Benar kata Sora?"

​Adrian tidak menjawab Kairo. Dia menatap Elena dengan pandangan horor bercampur kagum. Dia menghela napas panjang, bahunya merosot. Dia menyerah bersandiwara.

​Adrian menoleh pada Kairo, berbisik setengah mendesis, namun di ruangan yang sunyi itu, Elena bisa mendengarnya dengan jelas.

​"Kairo, istrimu tidak gila. Dia juga tidak hilang ingatan atau gegar otak," bisik Adrian cepat. "Wanita ini... dia jenius. Kemampuan observasi dan deduksinya di atas rata-rata. Atau mungkin..." Adrian menelan ludah, melirik Elena takut-takut. "Mungkin selama ini dia cuma pura-pura bodoh untuk memanipulasimu. Hati-hati, Kawan. Kau sedang tidur dengan musuh yang pintar."

​Kairo terdiam.

​Dia menoleh perlahan ke arah Elena.

​Elena sudah tidak mempedulikan mereka. Dia mengambil sebuah apel merah dari keranjang buah di tengah meja. Tangan kanannya meraih pisau buah kecil yang tajam.

​Dengan gerakan tenang dan stabil, Elena mulai mengupas kulit apel itu.

​Sreeet...

​Kulit apel terkelupas tipis, panjang, dan tidak putus. Gerakan tangannya begitu luwes, begitu terkontrol.

​Kairo ingat betul, Sora yang dulu tidak pernah memegang pisau. Sora selalu minta pelayan mengupaskan buah. Kalaupun memaksa mengupas sendiri, hasilnya pasti berantakan dan jarinya akan teriris lalu dia menangis minta diplester Kairo.

​Tapi wanita ini... lihatlah caranya memegang pisau itu. Mantap. Kuat. Berbahaya.

​Tatapan Kairo berubah. Rasa jijik yang biasanya ada setiap melihat Sora kini lenyap tanpa bekas. Digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih intens. Lebih gelap.

​Rasa penasaran yang membakar. Rasa terancam. Dan anehnya... rasa tertarik.

​Kairo merasa seperti sedang melihat teka-teki rumit yang menantang untuk dipecahkan. Dia bukan lagi melihat "istri pajangan". Dia melihat lawan yang sepadan.

​Elena meletakkan pisau itu kembali ke meja setelah selesai mengupas. Kulit apel yang panjang itu melingkar rapi di piring. Dia memotong apel itu menjadi empat bagian, lalu memakan satu potong dengan bunyi krak yang renyah.

​Dia mengunyah pelan, menelan, lalu menatap kedua pria yang masih mematung menatapnya.

​"Kenapa diam? Analisisnya sudah selesai?" tanya Elena santai. "Kesimpulannya apa, Dokter? Saya psikopat? Narsistik? Atau cuma wanita waras yang terjebak di pernikahan sirkus?"

​Adrian buru-buru membereskan tas kerjanya yang diletakkan di bawah meja. Dia sudah tidak betah. Dia merasa ditelanjangi oleh pasiennya sendiri.

​"Saya... saya rasa kunjungan ini cukup, Kairo. Aku harus... ada urusan lain. Istriku... maksudku pengacaraku menelepon," Adrian berdiri gugup, menghindari tatapan Elena.

​"Tunggu, Adrian," panggil Kairo, tapi Adrian sudah berjalan cepat menuju pintu keluar, seolah dikejar setan.

​"Semoga sukses sidang cerainya, Dokter!" seru Elena riang dari meja makan.

​Pintu depan tertutup. Hening kembali melanda ruang makan.

​Kairo menatap Elena. Elena menatap Kairo.

​"Kau sengaja melakukannya," kata Kairo rendah.

​"Melakukan apa? Menebak masalah rumah tangga temanmu?" Elena mengangkat bahu. "Itu terlihat jelas di wajahnya. Orang yang tidak bahagia biasanya pintar mengenali sesamanya."

​Kairo berdiri, berjalan mendekati Elena. Dia berhenti di samping kursi istrinya, menumpukan satu tangan di meja, mengurung Elena dalam bayangannya.

​"Kau menakutkan, Sora. Kau tahu itu?" bisik Kairo.

​"Aku anggap itu pujian," jawab Elena tanpa berkedip. Dia mendongak, menantang tatapan Kairo. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Kairo bisa mencium aroma sabun mandi yang segar dari kulit Elena, bukan parfum menyengat yang biasa dipakai Sora.

​"Dulu kau bodoh. Manja. Cengeng," lanjut Kairo, matanya menelusuri wajah Elena, mencari jejak kebohongan. "Sekarang kau bicara soal corporate restructuring dan menganalisis psikiater. Siapa kau sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan?"

​Elena tersenyum miring. Dia mengambil sepotong apel lagi, lalu menempelkannya ke bibir Kairo. Gerakan yang menggoda, tapi matanya dingin.

​"Makanlah, Kairo. Buah bagus untuk menurunkan tekanan darah tinggi akibat terlalu banyak curiga," kata Elena.

​Kairo tidak membuka mulutnya. Dia menepis tangan Elena. Potongan apel itu jatuh menggelinding ke lantai.

​"Jawab aku!" sentak Kairo.

​Elena menghela napas bosan. Dia mendorong kursi ke belakang, membuat suara berdecit yang ngilu. Dia berdiri, menepuk-nepuk tangannya seolah membersihkan debu.

​"Aku sudah jawab berkali-kali, tapi otakmu terlalu keras untuk menerima fakta," kata Elena. Dia melangkah menjauh dari meja makan, menuju ruang tengah.

​"Mau kemana kau?" tanya Kairo, suaranya mengandung frustrasi karena diabaikan.

​Elena berhenti di ambang pintu, menoleh ke belakang dengan tatapan malas.

​"Sudah selesai tes IQ-nya, kan? Hasilnya aku lulus, temanmu gagal," jawab Elena sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang bahu. "Kalau sudah, aku mau ke kamar. Lanjut nonton Netflix. Drama kalian membosankan, aku butuh hiburan yang lebih berkualitas."

​Dan dengan itu, dia menghilang ke balik tangga, meninggalkan Kairo sendirian dengan detak jantung yang berpacu kencang dan sebuah pertanyaan besar yang menghantuinya: Bagaimana cara menaklukkan wanita ini?

1
Warni
Astaga
Warni
🤭🤣🤣🤣😁
Warni
😱
Warni
🤣
Warni
Langsung,50%:50%
Warni
Oh
Warni
Padahal sering bikin drama.
Warni
Hahahahahhahah
Warni
Tumben kerja sama?
Warni
🤭
Warni
😁
Warni
Auu
Warni
/Kiss/
Warni
Wah habis ini.
Warni
Bella TDK ada artinya.
Warni
🤣🤣🤣🤣
Warni
😂
Warni
Hooooo🤭
Warni
Kayaknya Reza lebih takut sama Bu bos dari pada pak bos.
Savana Liora: iya wkwk
total 1 replies
Warni
Hahahhaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!