Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab kebangkitan di bawah titik nol
Darah merah pekat menetes dari ujung pedang yang menembus dada. Rasa dingin yang menusuk tulang menjalar, merenggut setiap sisa kehangatan dari tubuh agung yang pernah membuat triliunan makhluk berlutut. Cang Yue, Sang Kaisar Pedang Langit, menatap nanar wajah yang terpantul di matanya yang mulai meredup. Wajah itu bukan milik iblis dari jurang maut, melainkan milik Feng Jiantian—saudara seperguruannya, sosok yang punggungnya selalu ia lindungi selama ribuan tahun.
"Mengapa..." Suara Cang Yue serak, bercampur dengan darah yang menyumbat tenggorokannya.
Feng Jiantian hanya tersenyum tipis. Tidak ada penyesalan di matanya, hanya ada ambisi dingin yang membeku. Pedang itu dicabut dengan satu tarikan kasar. Tubuh Cang Yue kehilangan pijakan, jatuh bebas dari Puncak Nirwana, menembus awan-awan surgawi, menuju kegelapan tak berujung. Kesadarannya hancur berkeping-keping, ditelan oleh pusaran kehampaan ruang dan waktu.
Bau tanah basah dan aroma karat darah menyengat indra penciuman.
Kesadaran itu perlahan terkumpul kembali, bagai serpihan kaca yang menyatu dengan susah payah. Rasa sakit yang pertama kali menyambutnya bukanlah luka tusukan pedang ilahi, melainkan ngilu yang meremukkan setiap inci persendian.
Mata itu terbuka perlahan. Pandangannya kabur, terhalang oleh lapisan kotoran dan darah kering. Langit kelabu dengan awan mendung menggantung rendah menjadi pemandangan pertama. Rintik hujan mulai turun, membasahi wajah pucat seorang pemuda yang tergeletak di tengah genangan lumpur di belakang sebuah gubuk kayu reyot.
Pemuda itu menggerakkan jemarinya. Sensasi kaku dan lemas menjalar seketika. Cang Yue mencoba memanggil energi spiritual murni yang biasa mengalir deras bagai samudra di dalam tubuhnya.
Kosong.
Tidak ada samudra energi. Tidak ada aura kaisar. Bahkan, setitik energi kehidupan pun nyaris padam. Keterkejutan menghantam pikirannya. Ia memaksakan diri untuk duduk. Tulang rusuknya berderak protes, mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuat napasnya tertahan.
Ingatan asing tiba-tiba membanjiri benaknya secara paksa. Yan Xinghe. Usia lima belas tahun. Anggota keluarga cabang dari Klan Yan di Desa Kabut Berbisik, sebuah pemukiman terpencil di ujung paling selatan Benua Tanah Spiritual. Pemuda ini dilahirkan dengan meridian yang menyempit. Impiannya menjadi seorang kultivator hancur tiga hari lalu saat sekelompok berandal yang dipimpin oleh Gongsun Ye—putra kepala desa—menyerangnya habis-habisan karena Xinghe berani menolak menyerahkan ramuan obat penyembuh milik ibunya yang sedang sakit.
Pukulan bertubi-tubi itu tidak hanya menghancurkan tulang rusuk Xinghe, melainkan memutus sembilan meridian utamanya secara permanen. Tubuh fana ini telah mati suri, dan di saat itulah, jiwa Cang Yue yang tersesat di aliran reinkarnasi masuk mengambil alih.
Kaisar Pedang Langit menghela napas panjang, membiarkan air hujan mencuci kotoran dari wajah barunya. Matanya yang sebelumnya dipenuhi kebingungan perlahan berubah menjadi setajam ujung tombak.
"Feng Jiantian, kau pasti berpikir aku telah musnah menjadi debu kosmik. Kau salah besar. Langit masih memberiku satu hela napas."
Xinghe—kini ia harus menerima nama ini—memindai kondisi internal tubuhnya. Hatinya mencelos. Keadaannya jauh lebih buruk dari sekadar tubuh fana biasa. Sembilan meridian putus berarti tubuh ini seperti cawan bocor; tidak ada energi spiritual alam semesta yang bisa disimpan. Udara dingin dari luar merembes masuk, menggerogoti organ dalamnya yang rentan. Di dunia kultivasi yang luas ini, di mana Benua Tanah Spiritual hanyalah satu debu dari Tiga Ribu Dunia yang tak terbatas, tubuh seperti ini bahkan tidak layak disebut sebagai sampah. Ini adalah kutukan.
Orang biasa mungkin akan memilih untuk mengakhiri hidup daripada hidup menanggung penderitaan dan penghinaan sebagai orang cacat. Kekecewaan memang sempat melintas di benak Xinghe. Ia pernah menginjak langit, membelah lautan bintang dengan satu ayunan pedang. Sekarang, berdiri saja ia harus mengandalkan sebatang kayu lapuk di dekatnya.
Jalan kembali ke puncak terlalu jauh. Mungkin butuh seratus tahun, mungkin seribu tahun, atau bahkan puluhan ribu tahun untuk melewati ribuan dunia, menantang para penguasa dimensi, demi berdiri kembali di hadapan Feng Jiantian.
"Langkah ribuan mil dimulai dari pijakan pertama yang berdarah," gumam Xinghe perlahan. Suaranya serak dan pelan, tertelan oleh suara hujan.
Ia memejamkan mata, menggali ingatan terdalam dari jiwanya. Berbagai teknik kultivasi tingkat dewa melintas di pikirannya. *Seni Pernapasan Naga Emas*, *Kitab Suci Teratai Salju*, *Metode Melahap Bintang*. Semua teknik itu membutuhkan fondasi meridian yang kokoh. Memaksakan diri menggunakan teknik tersebut pada tubuh yang hancur ini sama dengan bunuh diri seketika. Tubuhnya akan meledak menjadi kabut darah.
Hanya ada satu metode. Sebuah metode kuno, brutal, dan sangat menyiksa yang pernah ia temukan di reruntuhan Era Primordial. *Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan*. Teknik ini tidak membutuhkan meridian utuh untuk memulai, karena teknik ini menggunakan rasa sakit dan kehancuran tubuh sebagai bahan bakar untuk membentuk ulang struktur tulang dan otot secara paksa.
Metode ini sangat menyiksa sehingga para kultivator iblis pun enggan menyentuhnya. Kegagalan berarti kelumpuhan abadi atau kematian akibat syok rasa sakit.
Xinghe menyeret tubuhnya yang menggigil ke bawah kanopi gubuk yang rapuh. Ia menyilangkan kaki, memaksakan posisi meditasi meskipun setiap pergerakan seolah merobek dagingnya dari dalam. Hujan turun semakin deras, menyamarkan suara gemeretak giginya.
Ia mulai mengatur pola pernapasan. Tiga tarikan napas pendek, satu hembusan panjang. Ini bukan menyerap energi spiritual, melainkan memicu energi vital yang tersisa di dalam darahnya sendiri.
Dalam sepuluh tarikan napas, sensasi panas mulai muncul di perut bagian bawahnya. Bukan panas yang menghangatkan, melainkan sensasi seperti bara api yang ditempelkan langsung ke kulit. Bara itu merayap naik melalui pembuluh darahnya. Xinghe mencengkeram lututnya kuat-kuat. Kuku jarinya menancap hingga berdarah, mengalihkan sedikit rasa sakit dari dalam.
*Krak.*
Suara patahan kecil terdengar dari lengan kirinya. *Seni Penempaan Tulang* mulai bekerja, secara brutal mematahkan serat tulang yang lemah untuk membangun ruang bagi serat yang lebih kuat. Keringat dingin bercucuran, bercampur dengan air hujan di dahi Xinghe. Urat-urat di lehernya menonjol keluar seperti cacing hijau.
Rasa sakit itu bagai ribuan jarum berkarat yang ditusukkan ke sumsum tulang, lalu diputar perlahan. Ia tidak bisa berteriak. Mengeluarkan suara berarti melepaskan konsentrasi, dan kehilangan konsentrasi saat menggunakan teknik ini akan membuat aliran darahnya berbalik menyerang jantung.
Malam semakin larut. Badai mengamuk di luar, menyembunyikan pergolakan mengerikan yang terjadi di dalam tubuh rapuh seorang pemuda di Desa Kabut Berbisik. Setiap tulang di tubuh Xinghe dihancurkan dan disambung kembali oleh sisa energi vitalnya sendiri. Darah merembes dari pori-pori kulitnya, menodai pakaian lusuhnya menjadi merah kehitaman.
Waktu terasa berhenti berdetak. Ribuan tahun di Puncak Nirwana tidak sebanding dengan siksaan satu malam ini. Berkali-kali kesadarannya berada di ambang batas, hampir pingsan. Setiap kali kegelapan mencoba merenggut pikirannya, bayangan senyum dingin Feng Jiantian dan pedang menembus dada menariknya kembali pada kenyataan yang brutal. Kemarahan murni menjadi jangkar yang menahannya tetap sadar.
Cahaya fajar yang pucat akhirnya menembus celah awan badai. Hujan telah reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk.
Xinghe membuka matanya. Sepasang mata itu memancarkan kilau ketajaman yang tidak wajar untuk seorang anak berusia lima belas tahun, lalu dengan cepat meredup, menyembunyikan esensinya. Ia memuntahkan seteguk darah hitam pekat—darah kotor yang menyumbat dadanya sejak pemukulan oleh Gongsun Ye.
Napasnya terengah-engah, tubuhnya bergetar hebat karena kelelahan yang ekstrem. Ia melihat ke tangannya. Kulitnya masih pucat dan kurus, penuh dengan memar. Meridiannya masih terputus. Kekuatannya bahkan belum mencapai tingkat pertama dari Alam Penyempurnaan Tubuh—tingkat paling dasar dari jalur kultivasi.
Penderitaan semalaman hanya memberikannya satu hal: tubuhnya tidak lagi berada di ambang kematian. Tulang rusuknya telah menyatu kembali, meskipun masih rentan. Otot-ototnya sedikit lebih padat. Ia bisa berdiri tegak tanpa membutuhkan tongkat penyangga.
Sebuah kemajuan yang sangat remeh, sangat lambat. Di masa lalu, sekadar jentikan jarinya bisa menciptakan badai energi jutaan kali lipat lebih kuat dari ini.
Xinghe bangkit berdiri dengan susah payah. Kakinya masih gemetar, seolah memikul beban ribuan kati. Ia menatap ke arah pintu gubuk kayunya yang tertutup. Di dalam sana, terbaring sosok ibu dari tubuh ini—seorang wanita rentan yang merawat Yan Xinghe dengan penuh kasih sayang, yang kini sekarat karena kekurangan obat.
Xinghe mengepalkan tinjunya perlahan, merasakan setiap serat ototnya bekerja. Perjalanan ini akan sangat panjang, penuh lumpur, darah, dan penghinaan. Ia tidak bisa terbang membelah awan. Ia harus berjalan kaki, selangkah demi selangkah. Hari ini, ia harus mencari cara untuk mendapatkan ramuan penawar nyawa, di tengah desa yang memandangnya sebagai sampah yang tak berharga.
Langkah pertamanya di dunia fana baru saja dimulai, sangat rapuh, sangat berat, menapaki jalan berbatu menuju takhta keabadian.