Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 ambang gerbang emas dan peninggalan sang kaisar
Keheningan yang menyelimuti Puncak Pedang Terkutuk terasa begitu berat hingga suara jatuhnya sehelai daun pun mungkin terdengar seperti dentuman keras. Matahari yang tertutup awan mendung seolah menahan napasnya, menyaksikan Lin Chen berdiri tegak di tengah reruntuhan altar pualam. Di kejauhan, mayat Zhao Tian tergeletak kaku, simbol dari hancurnya sebuah tirani yang telah mengakar selama bertahun-tahun di Pelataran Luar.
Lin Chen merasakan panas yang memudar dari buku-buku jarinya. Energi api bumi yang ia serap di Kawah Vulkanik kini mulai mengendap ke dalam sumsum tulangnya, memberikan kepadatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap tarikan napasnya membawa aroma belerang yang samar, bukti fisik dari transformasi brutal yang ia jalani.
"Duel telah berakhir," suara Tetua Agung Mo memecah keheningan. Ia melangkah maju, jubah putihnya tidak tersentuh debu sedikit pun. Tatapannya tertuju pada Lin Chen, bukan dengan kecurigaan, melainkan dengan ketertarikan yang mendalam. "Lin Chen, kau telah membuktikan bahwa takdir bukanlah sesuatu yang tertulis di atas batu, melainkan sesuatu yang ditempa dengan darah dan api."
Lin Chen menangkupkan tangannya, memberikan penghormatan yang layak tanpa sedikit pun sikap tunduk. "Terima kasih, Tetua Agung. Murid ini hanya menjalankan apa yang menjadi tanggung jawabnya."
Tetua Agung Mo mengangguk. Ia melirik ke arah tribun yang masih membeku. "Fraksi Pedang Darah telah kehilangan pemimpinnya. Mulai hari ini, hierarki Pelataran Luar akan berubah. Namun, Lin Chen, seekor naga tidak akan selamanya tinggal di kolam dangkal. Dengan kekuatanmu saat ini, Pelataran Luar tidak lagi memiliki tantangan bagimu."
Layar cahaya biru transparan berpendar pelan di retinanya, mengonfirmasi kata-kata sang Tetua.
**[Distribusi Hadiah Rahasia Dimulai.]**
**[Objek: Esensi Spiritual Murni (Peninggalan Kaisar Langit yang Hilang).]**
**[Informasi: Peta Dunia Tengah telah terintegrasi dengan lautan spiritual Anda. Lokasi Gerbang Ascensi teridentifikasi.]**
Lin Chen merasakan sebuah kehangatan meledak di pusat dahinya. Sebuah peta yang sangat kompleks, melintasi pegunungan yang menembus awan dan samudra energi, kini terukir jelas dalam ingatannya. Ia bisa merasakan tarikan magnetis dari sebuah tempat di kejauhan—Dunia Tengah, tempat di mana para Immortal sejati berkumpul.
"Ikuti aku," perintah Tetua Agung Mo. "Ada sesuatu yang menjadi hakmu setelah memenangkan duel ini."
Lin Chen mengikuti Tetua Agung Mo menuju bagian paling dalam dari kompleks sekte, sebuah area yang bahkan belum pernah ia impikan untuk dikunjungi: Paviliun Meditasi Langit. Bangunan ini dibangun di atas titik pertemuan urat nadi roh yang paling murni di seluruh pegunungan sekte.
Di dalam paviliun, Su Mei sudah menunggu. Wajahnya yang biasanya dingin kini menunjukkan sedikit kerutan rasa ingin tahu. Ia menatap Lin Chen, mencoba memahami bagaimana pemuda ini bisa mencapai tingkat kekuatan yang begitu mengerikan dalam waktu singkat.
"Kau menghancurkan rencana banyak orang hari ini, Lin Chen," ucap Su Mei tenang. "Zhao Tian bukan hanya seorang murid; ia adalah perwakilan dari pengaruh keluarga besar di Dunia Tengah. Kematiannya akan memicu gelombang yang lebih besar."
Lin Chen duduk di atas alas meditasi yang terbuat dari kayu gaharu kuno. "Gelombang akan tetap datang, apakah aku diam atau bergerak. Aku lebih memilih menjadi orang yang menciptakan gelombang tersebut."
Tetua Agung Mo mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam kecil dengan segel emas. "Ini adalah 'Pilar Kunci Pelataran Dalam'. Di setiap generasi, hanya satu murid yang diizinkan melompati ujian formal dan langsung masuk ke Pelataran Dalam jika ia mampu mengalahkan lawan dua tingkat di atasnya dalam duel hidup mati. Kau telah melakukannya."
Lin Chen menatap kotak tersebut, namun pikirannya tidak tertuju pada Pelataran Dalam. Ingatan tentang Peta Dunia Tengah yang diberikan Sistem terus berdenyut. Dunia Tengah bukan sekadar tempat latihan yang lebih baik; itu adalah alam yang berbeda secara dimensi, di mana Qi yang mengalir bukan lagi Qi fana, melainkan energi abadi.
**[Situasi Pilihan Terdeteksi: Masa Depan Sang Penguasa Pelataran Luar.]**
**[Kondisi: Anda memegang kunci menuju Pelataran Dalam Sekte Pedang Awan.]**
**[Pilihan 1: Terima 'Pilar Kunci Pelataran Dalam'. Menjadi murid inti di Pelataran Dalam.
Hadiah: Akses ke perpustakaan tingkat tinggi sekte. Keamanan dari ancaman keluarga Zhao untuk sementara waktu. Pengembangan kultivasi yang stabil dan aman.]**
**[Pilihan 2: Tolak kunci tersebut. Gunakan otoritas 'Penguasa Pelataran Luar' untuk membangun faksi sendiri.
Hadiah: Anda menjadi penguasa absolut di Pelataran Luar. Pasokan sumber daya dari ribuan murid. Anda kehilangan momentum untuk naik ke Dunia Tengah tepat waktu.]**
**[Pilihan 3: Gunakan energi dari 'Pilar Kunci' tersebut untuk mengaktifkan Fragmen Peta Dunia Tengah di dalam lautan spiritual Anda. Tinggalkan sekte malam ini juga menuju Gerbang Ascensi yang tersembunyi.
Hadiah: Anda melewati masa transisi Pelataran Dalam sepenuhnya. Memasuki Dunia Tengah sebagai Kultivator Liar. Membuka peluang mendapatkan 'Warisan Kaisar Pedang'.]**
Lin Chen menatap Tetua Agung Mo dan Su Mei. Menjadi murid Pelataran Dalam adalah mimpi jutaan orang. Di sana ada kenyamanan, status, dan sumber daya yang melimpah. Namun, bagi Lin Chen, kenyamanan adalah racun yang menumpulkan ketajaman pedang jiwanya. Ia tahu keluarga Zhao akan segera mengirimkan pembunuh yang lebih kuat ke Pelataran Dalam. Tinggal di sana sama dengan menunggu untuk dikepung.
"Tetua Agung," Lin Chen bersuara, nadanya tetap hormat namun mengandung ketegasan yang tak tergoyahkan. "Murid ini menghargai kehormatan yang diberikan. Namun, jalan pedangku tidak terletak pada perlindungan sebuah sekte. Aku merasakan panggilan dari tempat yang lebih jauh... dari balik awan-awan ini."
Tetua Agung Mo terdiam. Su Mei membelalakkan matanya. "Kau berniat pergi ke Dunia Tengah sekarang? Tanpa perlindungan status murid sekte? Itu adalah tempat di mana praktisi Tahap Inti Emas pun bisa jatuh dalam sekejap!"
"Jika aku takut jatuh, aku tidak akan pernah belajar untuk mendaki," jawab Lin Chen. Ia mengambil kotak kayu hitam itu, namun bukan untuk menyimpannya.
Ia mengalirkan Qi api buminya ke dalam kotak tersebut. Cahaya keemasan meledak dari segel pilar, namun alih-alih menyerap status murid, Lin Chen menarik energi murni dari pilar tersebut dan mengarahkannya langsung ke dalam lautan spiritualnya, tempat Fragmen Peta Dunia Tengah berada.
*ZING!*
Peta di pikirannya menyala terang. Koordinat Gerbang Ascensi yang tersembunyi di Lembah Awan Putih kini terlihat jelas. Jalan pintas menuju Dunia Tengah telah terbuka.
"Kau gila," bisik Su Mei, namun ada kilatan kekaguman yang tak bisa disembunyikan di matanya.
"Terima kasih atas segalanya," Lin Chen berdiri. Tubuhnya terasa ringan, beban gravitasi seolah tidak lagi memengaruhinya setelah ia melepaskan Baja Hitam tempo hari.
Malam itu, saat seluruh sekte sedang merayakan jatuhnya Fraksi Pedang Darah, Lin Chen melangkah keluar dari gerbang belakang pegunungan. Ia tidak membawa harta apa pun selain kepalan tangannya dan peta di pikirannya.
Ia menoleh ke arah puncak gunung yang diselimuti kabut. Di sana, perjalanannya dimulai sebagai murid pemulung sampah. Sekarang, ia meninggalkan tempat itu sebagai legenda yang akan dibicarakan selama beberapa generasi.
"Dunia Tengah," Lin Chen menatap langit malam di mana bintang-bintang tampak lebih dekat. "Aku datang bukan untuk mencari tempat tinggal, tapi untuk menaklukkan setiap inci langitmu."
Dengan satu sentakan kaki, tubuhnya melesat menembus kegelapan, meninggalkan Pelataran Luar menuju awal dari perang yang sesungguhnya di alam para Immortal. Langkah progressifnya baru saja mencapai tahap krusial; dari yang terkuat di antara manusia, menuju yang terendah di antara dewa. Dan di sanalah, ia akan kembali merangkak naik, selangkah demi selangkah, dengan penderitaan yang lebih besar dan kekuatan yang lebih agung.