"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Bianca tertawa, sebuah tawa yang kering dan tajam, terdengar sangat kontras dengan keheningan ruang tamu yang megah itu.
Ia meletakkan cangkir porselennya dengan dentingan pelan yang disengaja. Matanya yang tajam beralih dari Dewa ke tangan Dewa yang masih melingkar protektif di pinggang Aira.
"Pemilik rumah ini? Dewa, kamu pasti sedang demam," ejek Bianca sambil melangkah mendekat. Aroma parfum mewahnya yang menyengat seolah mencoba mendominasi aroma sabun bayi yang lembut dari tubuh Aira. "Mama kamu sudah menceritakan semuanya. Wanita ini... dia hanya gadis dari gang becek yang kebetulan lewat saat kamu sedang bermain miskin, bukan? Berapa harga yang dia minta? Atau mungkin dia lebih cerdik, dia mengincar saham Pradipta melalui jalur rahim?"
Wajah Aira memucat mendengar hinaan yang begitu vulgar. Namun, sebelum Dewa sempat meledak, Aira merasakan dorongan keberanian yang aneh di dalam dadanya.
Ia teringat bagaimana ia bertahan di kontrakan sempit menghadapi tetangga julit dan mulut tajam Siska. Jika ia bisa menghadapi mereka dengan tangan kosong, kenapa ia harus takut pada wanita bergaun merah ini?
Aira melepaskan diri sedikit dari rangkulan Dewa, melangkah satu tindak ke depan. Ia menatap Bianca langsung di matanya, tatapan yang tulus namun tak gentar.
"Mbak Bianca, ya?" tanya Aira dengan suara lembut namun stabil. "Maaf, saya tidak tahu harga saya berapa, karena Mas Dewa tidak pernah membeli saya. Dia memenangkan saya dengan kejujurannya, walaupun sedikit terlambat. Dan soal gang becek... memang benar saya dari sana. Di sana, kami diajarkan kalau tamu yang baik itu tidak merendahkan tuan rumahnya. Jadi, apakah Mbak ingin saya ambilkan teh lagi, atau Mbak ingin saya tunjukkan jalan keluar?"
Nyonya Widya, yang sejak tadi duduk diam, tampak sedikit tersentak. Ada kilatan kekaguman di matanya melihat menantunya tidak lembek seperti yang ia duga.
Dewa hampir saja bersorak di dalam hati. Ia menahan senyum bangganya dan kembali menarik Aira ke sisinya.
"Kamu dengar itu, Bianca? Istriku baru saja memberikanmu pilihan. Dan aku sarankan kamu ambil pilihan kedua sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeret mobil sport merahmu itu keluar dari halaman rumahku."
Bianca menggeram, wajahnya yang cantik berubah merah padam karena malu. "Kamu akan menyesal, Dewa! Wanita ini tidak akan pernah pantas mengenakan nama Pradipta!"
Dengan hentakan kaki yang keras, Bianca menyambar tas bermereknya dan melenggang pergi, meninggalkan aroma parfum yang menyesakkan dan ketegangan yang perlahan mencair.
~~
Malam harinya, suasana di kediaman Pradipta kembali tenang. Namun, di dalam kamar luas mereka, Aira tampak sibuk.
Ia tidak sedang merapikan baju, melainkan sedang duduk di tepi ranjang sambil melipat tangannya di dada. Matanya menatap lurus ke arah Dewa yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana kain panjang dan handuk yang tersampir di bahunya.
"Mas," panggil Aira pendek.
Dewa menoleh, rambutnya yang basah berantakan membuat auranya terlihat sangat maskulin. "Ya, Sayang? Kenapa belum tidur?"
"Bianca itu... cantik ya, Mas? Rambutnya pirang, hidungnya mancung, dan dia sepertinya tahu betul jenis teh apa yang mahal," ucap Aira sambil mengerucutkan bibirnya.
Dewa menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut. Ia merasakan ada nada bahaya di suara istrinya. Pelan-pelan, ia mendekat dan duduk di samping Aira.
"Dia memang cantik secara fisik, Ai. Tapi hatinya tidak secantik kamu," jawab Dewa mencoba merayu.
"Halah, gombal," Aira memalingkan wajah. "Tadi dia bilang dia pilihan Mama. Berarti kalian dulu sering jalan bareng ya? Mas sering ajak dia makan di restoran mahal yang lampunya kristal semua itu? Mas juga pernah cium tangannya seperti Mas cium tanganku?"
Dewa terkekeh pelan. Ternyata istrinya yang polos ini bisa cemburu juga. Ia merangkak mendekat, mengurung tubuh Aira dengan kedua tangannya di atas kasur.
"Dengar ya, Nyonya Muda. Hubunganku dengan Bianca itu murni karena urusan bisnis orang tua. Aku tidak pernah mengajak dia makan tumis kangkung buatanmu, aku tidak pernah mencuci motor bebek tuaku bersamanya, dan yang paling penting..." Dewa mendekatkan wajahnya ke telinga Aira, "...aku tidak pernah memberikan kunci hatiku padanya. Kunci itu sudah dicuri oleh wanita yang hobinya mengucek baju suami tampannya ini."
Pipi Aira memerah. "Benar?"
"Dua ratus persen benar. Lagipula, mana ada Bianca mau diajak makan tahu goreng di pinggir jalan sampai tersedak cabai?" Dewa menarik hidung Aira gemas.
Aira akhirnya tertawa, rasa sesak di dadanya menguap seketika. "Habisnya, dia terlihat sangat... berkelas. Sedangkan aku? Pakai gamis ini saja aku masih merasa seperti memakai daster."
"Bagi aku, kamu pakai karung goni pun tetap jadi bidadari yang paling aku cari kalau aku pulang kerja," bisik Dewa, kini suaranya berubah berat dan penuh kasih.
Ia mengecup kening Aira lama, menyalurkan rasa syukur karena wanita ini tetap ada di sisinya meski badai mulai berdatangan.
...----------------...
To Be Continue ....