NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Queen's Game

​Ibu kota sedang berada di ambang histeria. Di setiap sudut jalan, layar digital raksasa yang biasanya menampilkan iklan barang mewah kini dipenuhi dengan grafik bursa saham yang terjun bebas berwarna merah darah. Indeks harga saham sektor energi, tulang punggung ekonomi negara menguap sebanyak lima belas persen hanya dalam hitungan jam.

​Kael Arden duduk di kursi belakang mobil perdana menterinya yang melaju menembus barisan demonstran yang meneriakkan namanya dengan penuh kemarahan. Ia mengabaikan teriakan itu. Matanya terpaku pada layar tablet, mengamati bagaimana Aurelia Vane sedang memainkan dunia dalam genggamannya.

​Aurelia tidak hanya membocorkan dokumen; ia melakukan short selling besar-besaran terhadap mata uang nasional.

​"Dia tidak hanya menghancurkan reputasiku," gumam Kael, suaranya parau, "dia sedang meruntuhkan nilai negaraku agar dia bisa membelinya kembali dengan harga murah."

​Kael merapikan dasi peraknya yang sebenarnya tidak bergeser satu milimeter pun. Ada rasa sesak yang merayap di dadanya, rasa sesak yang bukan berasal dari kegagalan politik, melainkan dari kenyataan bahwa setiap langkah yang ia ambil seolah sudah diprediksi oleh wanita itu. Hasrat untuk menyeret Aurelia ke ruangan kedap suara, melucuti gaun hitamnya, dan membungkam tawa sinisnya dengan cara yang paling kasar semakin membara. Kael ingin melihat Aurelia memohon, bukan karena rasa sakit, tapi karena ia akhirnya menyadari bahwa Kael adalah satu-satunya tuan yang tidak bisa ia manipulasi.

​Tapi Kael tahu, hari ini adalah giliran Aurelia yang memegang bidak putih.

​Di lantai teratas Vane Center, Aurelia Vane berdiri di depan dinding monitor yang menampilkan data real time perdagangan global. Ia mengenakan gaun sutra tipis berwarna hitam yang memeluk tubuhnya seperti kulit kedua. Di tangannya, segelas vintage champagne berkilau terkena cahaya lampu neon.

​"Kael sedang dalam perjalanan menuju gedung parlemen," ujar Lucian, kepala keamanannya, yang berdiri di kegelapan sudut ruangan. "Dia membawa map hitam yang Anda berikan."

​Aurelia menyesap minumannya, bibir merahnya menyunggingkan senyum kemenangan yang mematikan. "Tentu saja dia membawanya. Kael adalah pria yang memuja efisiensi. Dia akan menggunakan daftar itu untuk memenggal kepala musuh-musuhnya di kabinet, berpikir bahwa dia sedang membersihkan rumahnya."

​"Bukankah itu yang Anda inginkan?"

​"Bukan hanya itu, Lucian," bisik Aurelia, matanya berkilat liar. "Aku ingin dia menyadari bahwa untuk tetap berkuasa, dia harus menjadi monster yang sama denganku. Aku ingin melucuti nuraninya sampai yang tersisa hanyalah insting predatornya. Dan saat dia menyadari bahwa dia sudah tidak punya tempat kembali ke dunia 'orang baik', dia hanya akan punya aku."

​Aurelia meletakkan gelasnya dan berjalan menuju meja kerjanya. Ia menekan sebuah tombol, dan sebuah siaran langsung dari ruang sidang darurat parlemen muncul.

​Di sana, di tengah kepungan kilat kamera, Kael Arden berdiri. Ia terlihat seperti dewa hukum yang dingin. Rambutnya disisir ke belakang dengan presisi militer, jasnya tanpa cela, dan wajahnya adalah topeng pualam yang tidak menunjukkan emosi sedikit pun.

​"Saya berdiri di sini hari ini," suara Kael menggelegar melalui pengeras suara, "bukan untuk membela diri, tetapi untuk mengekspos pengkhianatan yang sesungguhnya di dalam jantung pemerintahan ini."

​Kael mulai membuka map hitam itu. Satu per satu, ia menyebutkan nama-nama menteri senior dan petinggi militer, lengkap dengan bukti transaksi gelap mereka. Ruangan sidang itu meledak dalam kekacauan.

​Aurelia tertawa rendah, sebuah suara beludru yang memenuhi ruangan penthouse nya yang sunyi. "Lihat dia... lihat betapa indahnya dia saat dia sedang menghancurkan dunianya sendiri demi satu nama, Aurelia."

​Tiga jam kemudian.

​Kael Arden kembali ke kantor pribadinya. Ruangan itu kini terasa seperti medan perang. Dua menteri telah ditahan, dan tiga lainnya sedang dalam pengejaran. Ia telah menyelamatkan kariernya dengan cara mengorbankan separuh kabinetnya, sebuah langkah yang secara matematis benar, namun secara moral mematikan.

​Ia duduk di kursinya, memejamkan mata sejenak. Pikirannya kembali ke momen di The Gilded Cage. Ia bisa merasakan tekstur kulit Aurelia di bawah jemarinya, bau keringat dan parfum yang bercampur, dan bagaimana wanita itu menatapnya seolah ia adalah satu-satunya mangsa yang layak.

​Kael merasa telanjang. Ia merasa bahwa setiap tindakan 'pembersihan' yang baru saja ia lakukan adalah perintah terselubung dari Aurelia. Wanita itu sedang menelanjanginya secara psikologis, melepaskan lapisan-lapisan martabatnya hingga ia tidak berbeda dengan para pengorbit di sekitar Aurelia.

​ Kael membuka laci mejanya dan mengambil sebuah foto polaroid yang ia temukan di map Aurelia, foto masa kecil Aurelia di depan gedung terbakar.

​"Apa yang sebenarnya kau cari, Aurelia?" desisnya. "Apakah ini hanya tentang kekuasaan, atau kau ingin melihat seluruh dunia terbakar bersamamu?"

​Tiba-tiba, lampu di ruang kerjanya meredup secara otomatis. Sistem keamanan pintunya mengeluarkan bunyi klik terkunci. Di layar komputernya yang besar, sebuah gambar muncul: Pemandangan penthouse Aurelia yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya bulan.

​Kael berdiri, jantungnya berdegup kencang melawan logika. "Aurelia? Aku tahu kau sedang menonton."

​"Kau melakukan pekerjaan yang bagus hari ini, Kael," suara Aurelia terdengar dari sistem audio ruangan, seolah ia berada di mana-mana. "Kau telah membuang sampah-sampah itu. Sekarang, kau jauh lebih bersih... dan jauh lebih berbahaya."

​"Kau sedang mempermainkan ekonomi negara ini, Aurelia. Kau tahu aku bisa memerintahkan penangkapanmu detik ini juga," ancam Kael, meski ia tahu ancaman itu kosong.

​"Kau tidak akan melakukannya, Kael. Karena kau haus akan langkahku selanjutnya," goda Aurelia. "Kau benci bagaimana aku membuatmu merasa sesak, tapi kau lebih benci jika aku berhenti. Akui saja... kau menyukai rasa sakit yang aku berikan padamu."

​Kael mencengkeram tepi mejanya, otot lengannya menegang di balik kemeja mahalnya. Bayangan untuk mendatangi wanita itu sekarang juga, merobek sutra hitamnya, dan menunjukkan padanya siapa yang sebenarnya memegang kendali kepemilikan mutlak hampir membuatnya gila. Obsesinya sudah mencapai titik di mana ia ingin "menguliti" semua rahasia Aurelia, secara fisik dan mental.

​"Apa permainanmu selanjutnya?" tanya Kael, suaranya parau oleh hasrat yang tertahan.

​"Sebuah pesta," jawab Aurelia ringan. "Pesta di atas laut. Di mana hukum negara tidak berlaku, dan hanya nafsu yang menjadi mata uangnya. Datanglah ke pelabuhan pribadi Vane Group lusa malam. Pakai jas terbaikmu, Kael. Karena di sana, aku tidak akan hanya mengambil hartamu... aku akan mengambil jiwamu."

​Layar itu menjadi hitam. Lampu ruangan kembali menyala normal.

​Kael Arden berdiri diam di tengah ruangannya. Ia tahu ini adalah undangan menuju kehancuran total. Ia tahu ia seharusnya berhenti. Namun, ia justru berjalan ke arah cermin, merapikan rambutnya yang sempurna, dan menyunggingkan senyum yang sama gelapnya dengan senyum Aurelia.

​"Kau ingin jiwaku, Aurelia?" gumamnya pada pantulan dirinya sendiri. "Maka bersiaplah, karena saat aku memberikannya padamu, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa bernapas lagi tanpa izin dariku."

​Kael mengambil ponselnya dan memanggil kepala logistiknya. "Siapkan unit penyamaran tingkat tinggi. Dan... carikan aku setelan jas hitam paling mahal yang pernah dibuat. Kita akan pergi ke laut."

​Permainan ratu mungkin sedang berjalan, namun sang Perdana Menteri baru saja memutuskan untuk menjadi monster yang paling ditakuti di papan catur tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!