NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:645
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MUTASI LEVEL BARU

*BRAKK!*

Hantaman keras berdentang memekakkan telinga, menggetarkan daun pintu baja ruang kontrol untuk kesekian kalinya. Tekanan dari luar begitu masif hingga serpihan semen dan debu tebal rontok dari sela-sela langit-langit beton, mengotori lantai yang sudah berantakan.

Rania langsung meringkuk, menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan telapak tangan sambil menangis sesenggukan dalam dekapan erat Pak Rangga. Di sudut lain, Alya berdiri mematung dengan dada kembang kempis, mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal akibat serangan panik. Sementara Rudi, dengan wajah pias tanpa darah, pelan-pelan memundurkan langkahnya menjauhi meja konsol komputer, seolah layar di depannya baru saja menampilkan monster nyata.

Kapten Rendra mengacungkan moncong senapan serbunya lurus ke arah pintu. Tatapannya tertuju tajam pada titik benturan.

Namun, Damar yang berdiri tak jauh di sampingnya bisa menangkap sesuatu yang tidak biasa pada raut wajah sang perwira. Ada gurat ketakutan di sana. Bukan sekadar panik karena terkepung, bukan pula kegugupan seorang amatir. Ini adalah ketakutan murni dari seorang prajurit berpengalaman yang mendadak sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan sejenis ancaman yang belum pernah tertulis dalam manual taktis militer mana pun.

"Berapa sisa peluru kita?" tanya Rendra tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari pintu, suaranya terdengar sangat rendah dan dalam.

"Gak banyak, Kapten," sahut Damar cepat sembari memeriksa magasin cadangan di rompinya dengan jemari yang kaku. "Paling cuma cukup buat nahan mereka beberapa menit. Kalau berondongan penuh, kita tekor."

Rendra mengumpat pelan di balik giginya yang merapat.

*BRAKK!*

Satu hantaman gila kembali menghantam pintu baja, membuat bagian tengahnya mulai melengkung samar ke arah dalam. Dan kali ini, keriuhan di luar berubah. Suara geraman yang menguar tidak lagi berasal dari satu kerongkongan. Itu adalah paduan suara dari gesekan pita suara yang rusak, terdengar berlapis-lapis dan datang dari berbagai sudut koridor luar.

Bukan cuma satu monster. Di luar sana ada satu kawanan.

"Ada... ada berapa banyak dari mereka di luar?" bisik Alya, suaranya parau, hampir tenggelam oleh deru sirine ruangan.

Tidak ada yang mengajukan jawaban. Logika mereka menolak untuk menghitung, karena volume suara cakar yang menggores pintu baja itu terlalu padat untuk dibayangkan.

Di tengah situasi yang kritis itu, Rudi mendadak memekik sambil menunjuk ke arah layar monitor yang layarnya masih berkedip-kedip menampilkan denah digital. "Kapten! Lihat ini!"

"Apa lagi, Rud? Cepat!" gertak Rendra.

"Ada jalur evakuasi sekunder dari ruangan ini. Jalur logistik!" Rudi mengetuk permukaan layar dengan tergesa-gesa, memunculkan cetak biru fasilitas bawah tanah yang sempat tersembunyi.

Sebuah garis koridor sempit berwarna kuning muncul di peta, memotong jalur laboratorium utama. "Kalau kita jebol panel manual di sudut kanan ruangan ini, kita bisa masuk ke lorong servis. Jalur ini tembus langsung ke sub-level distrik utara."

"Seberapa jauh?" Damar menyela, memastikan opsi mereka.

"Sekitar dua kilometer di bawah tanah. Tapi jalurnya lurus."

Kapten Rendra mengangguk sekali, keputusan cepat harus diambil sebelum pintu baja di depan mereka berubah jadi rongsokan. "Bergerak ke sana. Lebih baik mati kelelahan sambil jalan daripada konyol jadi umpan di sini."

*BRAKKKK!*

Satu benturan yang jauh lebih kuat menghantam pintu. Salah satu baut pengikat hidrolik berukuran besar di bagian atas terlepas, melesat dan menghantam meja besi dengan bunyi berdenting keras. Rania kembali menjerit, menyembunyikan wajahnya di ketiak ayahnya.

"GERAK SEKARANG! JANGAN ADA YANG TINGGAL!" bentak Kapten Rendra.

Rombongan kecil itu langsung berhamburan menuju pintu servis kecil yang letaknya agak tersembunyi di balik lemari dokumen. Damar menyusupkan lengan Alya ke bahunya, membantu gadis itu berjalan lebih cepat karena pergelangan kaki kanannya yang tanpa sepatu tampak kian membengkak dan pincang akibat hantaman pipa sebelumnya.

Lorong servis itu ternyata jauh lebih buruk ketimbang area laboratorium utama. Ukurannya sangat sempit, hanya muat untuk dua orang dewasa berjalan bersisian. Bau karat yang menyengat bercampur dengan hawa pengap dari air yang menggenang di lantai semen memenuhi rongga hidung. Satu-satunya pencahayaan hanyalah bentukan lampu darurat kuning-merah yang berkedip dengan ritme yang lambat dan suram di sepanjang dinding.

Baru beberapa puluh meter mereka melangkah masuk—

*BRAAAKKKK!!*

Gema suara hantaman keras yang diiringi runtuhnya material besi terdengar dari arah belakang. Pintu baja ruang kontrol akhirnya menyerah, jebol total. Seketika itu juga, gelombang suara geraman yang pekat dan menggelegar langsung membanjiri lorong servis, memantul di dinding-dinding sempit dan menciptakan gaung yang menyiksa telinga.

"Lari! Terus jalan!" teriak Damar, mendorong Alya agar tetap berada di depan.

Mereka semua memacu langkah kaki sekencang-kencangnya, mengabaikan rasa perih di telapak kaki atau sendi yang mulai mati rasa. Namun, belum lama mereka bergerak, suara derap langkah kaki lain mulai terdengar membuntuti dari arah belakang koridor bawah tanah itu.

Suara itu terdengar sangat cepat, berpola padat, namun anehnya tidak serampangan. Itu adalah langkah kaki yang mantap.

Kapten Rendra menoleh sekilas ke belakang sambil tetap berlari mundur, dan seketika itu pula otot wajahnya mengeras. "Sialan... mereka sudah masuk lorong!"

Damar tidak tahan untuk tidak ikut menoleh. Dan begitu matanya menangkap siluet yang datang dari balik keremangan lampu merah, darahnya seolah-olah berhenti mengalir.

Beberapa entitas *infected* tampak sedang melesat di sepanjang lorong dengan postur yang sama sekali berbeda dari apa yang mereka ketahui selama ini. Makhluk-makhluk itu tidak lagi berjalan dengan langkah gontai, kepala miring, atau tubuh limbung layaknya mayat hidup purba. Mereka berlari dengan posisi tubuh yang sedikit merunduk—aerodinamis, cepat, dan luar biasa lincah.

"Anjing... mereka cepat banget!" pekik Rudi, suaranya sudah pecah karena histeria.

Salah satu *infected* yang berada di barisan terdepan mendadak melompat ke arah dinding lorong, mencakar permukaan semen untuk meluncur maju sebelum akhirnya melesat ke depan seperti seekor macan tutul yang menerkam mangsa.

Kapten Rendra yang sudah bersiap langsung menarik picu senapannya.

*DUAR!*

Satu dentuman keras memecah kesunyian lorong. Peluru kaliber besar menghantam telak bagian wajah makhluk itu di udara, menghancurkan batok kepalanya hingga menyemburkan cairan gelap ke dinding. Makhluk itu tumbang, terseret di lantai semen.

Namun, belum sempat Rendra menurunkan laras senapannya, dua *infected* lainnya langsung melompati bangkai temannya tanpa kehilangan momentum kecepatan sedikit pun.

"Jangan berhenti tembak, Kapten! Terus jalan!" teriak Damar, menarik Alya melewati sebuah tikungan sempit.

Mereka terus memacu sisa energi melewati lorong servis yang rasanya seperti membentang tanpa ujung itu. Namun, semakin jauh mereka masuk ke dalam sistem bawah tanah, Damar mulai menangkap adanya kejanggalan yang teramat sangat dari perilaku kawanan pemburu di belakang mereka.

Makhluk-makhluk itu tidak lagi sekadar berlari lurus menyerbu ke depan demi memuaskan rasa lapar yang buta. Mereka mulai menunjukkan taktik.

"Kapten... lo ngerasa ada yang aneh gak?" bisik Damar di sela-sela napasnya yang memburu berat.

"Gue tahu, Mar! Tetap fokus ke depan!" balas Rendra dengan nada tegang.

*Infected* di belakang mereka mulai memecah formasi. Beberapa di antaranya memilih untuk melompat naik, memanfaatkan pipa-pipa penyalur gas berukuran besar di bagian atas dan celah-celah ventilasi darurat untuk merangkak naik, mencoba memotong jalur dari arah atas kepala rombongan. Mereka tidak sedang mengejar mangsa; mereka sedang membangun perimeter kepungan. Dan fakta bahwa mayat-mayat hidup itu bisa memikirkan jalur alternatif adalah hal yang paling mengerikan yang harus mereka terima hari ini.

Tiba-tiba—

*GRRAAAKKK!!*

Sebuah jeruji besi ventilasi di langit-langit lorong jebol terlempar ke bawah. Bersamaan dengan itu, sesosok *infected* bertubuh kurus melesat turun, mendarat tepat di atas pundak seorang pria tua terluka yang sejak tadi dipapah di barisan belakang.

"AAARRRGHHH!! TOLONG!! KAPTEN!!"

Pria tua itu menjerit histeris saat bobot tubuh monster itu merubuhkannya ke lantai. Damar refleks menghentikan langkah dan memutar tubuhnya, bermaksud mengayunkan kapaknya. Namun, gerakan monster itu jauh lebih efisien. Tanpa ragu atau jeda, rahangnya yang menjuntai langsung mengatup keras di sekitar leher sang korban, merobek arteri karotis dalam satu kali sentakan kuat.

Darah segar menyembur deras, mengotori dinding semen dan wajah Damar yang berada dalam jarak dekat. Pria tua itu kejang sesaat sebelum akhirnya matanya mendelik kosong.

"TINGGALKAN! DIA SUDAH HABIS!" bentak Kapten Rendra, merenggut kerah jaket Damar agar tidak nekat mendekat.

Kematian pria tua itu alih-alih memuaskan kawanan monster di belakang, justru bertindak seperti stimulan. Jeritan kematian dan aroma darah segar yang menguar di lorong sempit membuat *infected* lainnya semakin menjadi-jadi. Mereka bergerak semakin agresif, melompat dari dinding ke dinding dengan pola koordinasi yang kian matif.

Pak Rangga menarik lengan Rania sekencang mungkin, setengah menggendong bocah itu sambil melangkah tertatih-tatih dengan napas yang sudah berbunyi mengorok karena kelelahan.

"Ayah... takut... suaranya dekat banget..." tangis Rania, matanya terpejam erat-erat.

"Jangan lihat ke belakang, Ran... pegang leher Ayah yang kuat!" sahut Pak Rangga dengan suara yang bergetar hebat.

Beberapa menit yang terasa seperti siksaan abadi itu berlanjut hingga lorong servis akhirnya berujung pada sebuah persimpangan berbentuk huruf T. Rudi yang berlari paling depan langsung menunjuk ke arah celah di sisi kanan yang memiliki tangga besi menuju ke atas.

"Keluar lewat jalur sini! Ini tangga servis ke permukaan!" teriak Rudi.

Mereka membelok tajam, berebut menaiki anak tangga besi yang berkarat. Di ujung atas tangga, sebuah siluet pintu keluar darurat mulai memancarkan secercah cahaya sore yang suram.

"Cepat, semuanya naik!" seru Alya, mendorong Rudi agar memanjat lebih dulu.

Namun, tepat di saat kaki Damar baru saja hendak menapak di anak tangga pertama, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari balik kegelapan di ambang pintu keluar atas, menghalangi jalur pelarian mereka.

Langkah semua orang seketika mengunci.

Wujud *infected* yang satu ini benar-benar berada di level yang berbeda. Postur tubuhnya jauh lebih kurus, jangkung, dengan kulit yang melekat ketat pada struktur tulang tengkoraknya hingga menyerupai mumi yang membusuk. Yang paling membuat bulu kuduk Damar berdiri adalah sepasang matanya. Mata itu tidak berwarna putih keruh seperti yang lain; ada warna kuning pucat di sekeliling pupilnya, dan mata itu bergerak dengan fokus yang sangat sadar, bergantian menatap satu per satu anggota rombongan di bawahnya.

Makhluk itu tidak langsung melompat atau meraung lapar. Dia hanya berdiri tegak di ambang pintu, diam, mengamati mereka layaknya seorang jenderal yang sedang memeriksa barisan tawanan.

Damar menurunkan posisi tubuhnya, memperlambat ritme napas. "Aneh... dia gak nyerang."

Makhluk jangkung di atas tangga itu perlahan membuka mulutnya yang kering. Alih-alih raungan keras, sebuah suara parau dan pendek keluar dari tenggorokannya, terdengar seperti kombinasi batuk dan gesekan tulang.

"Khh... khh... sss..."

Dan seketika itu juga, fenomena gila terjadi. Seluruh keriuhan geraman dan suara cakar dari puluhan *infected* yang tadinya mengejar mereka di dalam lorong bawah tanah mendadak senyap seketika. Tidak ada lagi suara desisan, tidak ada lagi langkah kaki liar. Semua mahluk di bawah sana seolah-olah membeku, patuh pada satu kode suara pendek yang baru saja dikeluarkan oleh makhluk jangkung di atas tangga.

Mata Kapten Rendra terbelalak sempurna, jemarinya bergetar di atas picu senapan. "Jangan-jangan... makhluk ini..."

Belum sempat Rendra menyelesaikan spekulasi gila di kepalanya, makhluk jangkung itu kembali mengeluarkan suara desisan pendek. Dan detik berikutnya, seolah-olah mendapat komando perang yang jelas, puluhan *infected* dari arah belakang lorong bawah tanah langsung merangsek maju secara bersamaan dengan formasi yang jauh lebih brutal dan rapat.

"TEMBAK! LARI JALUR ATAS!!" raung Rendra.

Kapten Rendra melepaskan sisa peluru di magasinnya dalam satu rentetan beruntun ke arah atas tangga. *DUAR! DUAR! DUAR!*

Beberapa peluru menghantam telak bahu dan dada makhluk jangkung itu hingga mengikis dagingnya. Namun, makhluk itu tidak tumbang atau menunjukkan rasa sakit. Sebaliknya, dia justru melangkah mundur perlahan ke arah luar pintu dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah sengaja membuka jalan agar rombongan Damar bisa keluar ke permukaan atas.

Damar yang melihat hal itu langsung menyadari taktik yang sedang berjalan. "Dia sengaja ngarahin kita keluar... kita digiring!"

Alya membeku di undakan tangga, memandang Damar dengan tatapan tak mengerti. "Maksud kamu apa, Mar?"

"Dia bukan cuma *infected* yang lapar, Al! Dia punya kesadaran! Dia pemimpinnya!"

Makhluk jangkung itu memberikan satu tatapan dingin terakhir ke arah Damar sebelum akhirnya siluet tubuhnya menghilang di balik dinding pintu keluar atas. Dan pada detik yang sama, gelombang *infected* dari bawah sudah mulai menggapai kaki tangga besi.

"BUKA PINTUNYA! SEKARANG!" teriakan Rendra membuyarkan kepanikan mereka.

Rudi dengan sisa tenaga yang ada langsung memutar roda besi pengunci pintu darurat atas dengan gerakan panik. *CEKLEK!* Mekanisme pengunci terbuka, dan pintu baja itu terdorong ke arah luar.

Satu per satu mereka melompat keluar dari lubang tangga bawah tanah, bergulingan di atas tanah yang keras. Cahaya matahari sore yang berwarna oranye kemerahan yang redup menyambut kedatangan mereka di permukaan.

Mereka akhirnya berhasil mencapai sub-level distrik utara kota. Namun, alih-alih merasakan kelegaan karena berhasil keluar dari kegelapan bawah tanah, pemandangan yang terhampar di depan mata membuat seluruh anggota rombongan langsung mematung dengan lidah kelu.

Jalanan aspal di distrik utara dipenuhi oleh ribuan bangkai manusia yang sudah mengering; sebagian besar tampak mengenakan seragam sipil dan beberapa lainnya pakaian pelindung medis yang robek-robek. Gedung-gedung bertingkat di sekeliling mereka runtuh saling menopang, menyisakan puing-puing beton yang hitam akibat bekas kebakaran besar. Beberapa kendaraan taktis militer tampak terguling dan terbakar berserakan di tengah jalan raya.

Namun, yang paling mengerikan berada di kejauhan, sekitar beberapa ratus meter dari posisi mereka berdiri.

Ratusan, atau mungkin ribuan *infected* tampak sedang bergerak bersama-sama menyusuri jalan protokol kota. Pergerakan mereka tidak lagi acak atau berhamburan layaknya kerumunan yang panik. Mereka berjalan dalam barisan kelompok yang rapat, mengalir satu arah yang sama dengan ritme langkah yang konstan. Seolah-olah mereka sedang berbaris mengikuti sebuah instruksi tak kasat mata dari barisan paling depan.

Kapten Rendra menatap pemandangan makro itu dengan seluruh tubuh yang menegang ngeri. "Ini... ini sudah bukan lagi kekacauan wabah... ini sebuah pergerakan."

*BUUMM!*

Sebuah getaran keras dari bawah tanah kembali mengejutkan mereka. Pintu besi lorong servis yang baru saja mereka lewati bergetar hebat karena dihantam dari arah dalam oleh kawanan yang tertinggal.

Tanpa perlu bicara, Damar dan Kapten Rendra langsung berbalik, menendang pintu itu hingga menutup rapat kembali lalu mengganjal roda besinya menggunakan sebatang palang besi tebal yang mereka temukan di dekat reruntuhan mobil. Suara geraman dan benturan keras masih terdengar meredam dari balik baja, namun setidaknya untuk sementara waktu, pembatas itu berhasil menahan laju mereka.

Semua orang jatuh terduduk di atas aspal yang berdebu, terengah-engah mengumpulkan sisa napas yang tersisa. Alya bersandar pada ban sebuah mobil jip yang terbakar, memegangi lututnya yang gemetar hebat.

"Kita... kita hampir mati di bawah sana..." bisik Alya dengan pandangan kosong menatap langit sore yang suram.

"Perjuangan kita belum selesai, Al," sahut Kapten Rendra dingin, matanya sama sekali tidak beralih dari pemandangan kawanan besar *infected* di ujung jalan raya.

Semua orang perlahan menoleh, menatap ke arah Rendra.

"Mereka sudah berubah sepenuhnya. Mutasi ini sudah mencapai level baru yang konseptual," lanjut Rendra, suaranya terdengar sangat berat.

Damar bangkit berdiri secara perlahan, melangkah ke samping Rendra dan ikut melemparkan pandangan ke arah kawanan monster yang bergerak teratur di kejauhan sana. Dan untuk pertama kalinya sejak hari pertama dunia ini runtuh, Damar merasakan sejenis ketakutan yang mendalam mengenai masa depan ras manusia.

Sebab, jika mahluk-mahluk yang mereka anggap sebagai mayat hidup itu kini sudah mulai bisa berpikir, berburu dengan taktik kepungan, bekerja sama dalam kelompok besar, dan mematuhi perintah dari satu pemimpin... maka cepat atau lambat, sisa-sisa manusia yang bersembunyi di balik puing-puing dunia ini hanya tinggal menunggu waktu untuk punah sepenuhnya. Mereka bukan lagi mangsa yang sakit; mereka adalah ras baru yang sedang mengambil alih bumi.

Tiba-tiba—

Dari arah ujung jalan utama yang tertutup oleh kabut asap hitam tebal, sebuah suara raungan sirine bernada panjang memecah keheningan sore itu.

Seluruh anggota rombongan langsung membeku di posisinya masing-masing.

Itu bukan jenis suara jeritan dari *infected*, juga bukan bunyi alarm otomatis dari bangunan kota yang rusak. Itu adalah suara sirine mekanis dari pemancar klakson kendaraan berat militer.

Kapten Rendra langsung merendahkan posisi tubuhnya di balik reruntuhan beton jembatan, tangannya bergerak cepat memberi isyarat darurat. "Tiarap! Semuanya berlindung di balik pembatas jalan, sekarang!" gumamnya dengan intonasi yang sangat mendesak.

Di ujung jalan raya yang dipenuhi oleh sisa-sisa kabut asap, siluet iring-iringan kendaraan taktis militer—beberapa truk angkut personel dan dua buah tank medium—perlahan-lahan muncul, bergerak membelah kabut sore.

Namun, ada sesuatu yang terasa sangat keliru dari iring-iringan tersebut.

Kendaraan-kendaraan lapis baja itu berjalan dengan kecepatan yang teramat sangat lambat, mesinnya menderu pincang dengan asap hitam yang keluar dari kap mesin. Tidak ada suara komunikasi radio yang berdengung dari pemancar antena mereka, dan formasinya tampak berantakan, saling senggol hingga menyenggol pembatas jalan tanpa ada koreksi kemudi.

Dan ketika kendaraan lapis baja paling depan akhirnya keluar dari batas kabut dan terpapar cahaya matahari sore secara penuh, seluruh isi dada Damar terasa runtuh seketika.

Seluruh badan truk baja itu dipenuhi oleh cipratan darah hitam yang sudah mengering dan noda bekas cakaran dalam yang merusak lapisan cat komuflasenya. Dan di atas turret salah satu tank yang berjalan paling depan, berdiri sesosok prajurit tentara dalam posisi tegak lurus, diam tanpa gerakan.

Seragam militernya sudah robek-robek parah, memperlihatkan kulit tubuhnya yang dipenuhi oleh luka robekan dalam dan jaringan urat-urat hitam yang menonjol keluar. Sepasang matanya berwarna putih pucat tanpa pupil, menatap lurus ke depan dengan pandangan mati yang kosong. Namun, kedua tangannya yang kaku masih mencengkeram erat sebuah senapan mesin berat yang terpasang di atas dudukan tank, mengarahkannya ke depan layaknya seorang penjaga yang setia pada posisinya.

Kapten Rendra membelalakkan matanya dengan sempurna, seluruh tubuhnya gemetar hebat hingga senapannya terlepas dari genggaman dan jatuh ke aspal.

"...Tidak mungkin... mereka... mereka bahkan bisa mengendalikan insting sisa dari kita..." bisik Rendra dengan suara yang hancur total.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!