NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Masa Lalu

Cahaya matahari pagi yang terang dan hangat menyelinap masuk melewati celah tirai jendela besar, jatuh tepat di atas wajah Naura yang masih terpejam lelap. Namun, kehangatan itu sama sekali tidak mampu menghapus rasa dingin yang masih merayap di sekujur tubuhnya sejak malam tadi. Semalam, Naura tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Ia hanya duduk diam di tepi ranjang besar yang empuk namun terasa asing itu, memandangi keheningan kamar yang luas dan mewah itu. Setiap suara samar yang terdengar dari luar pintu membuatnya menegang, berharap sekaligus takut jika Dewa tiba-tiba muncul di ambang pintu. Tapi malam itu berlalu tanpa gangguan apa pun, meninggalkan dirinya bergulat dengan rasa takut, rasa sakit, dan rasa benci yang bercampur aduk menjadi satu.

Naura bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju cermin besar yang menempel di dinding. Ia menatap bayangan dirinya sendiri. Wajahnya terlihat pucat, lingkaran hitam di bawah matanya mulai terlihat samar, dan bekas cengkeraman jari Dewa di rahangnya masih terlihat jelas berwarna kemerahan. Naura mengusap bekas itu perlahan, rasa sakit fisiknya memang sudah berkurang, namun rasa sakit di hatinya justru terasa semakin tajam. Pria itu benar-benar tidak menganggapnya manusia. Baginya, Naura hanyalah benda penebus dosa, sasaran pelampiasan dendam yang telah ia simpan selama sepuluh tahun lamanya.

"Sepuluh tahun..." gumam Naura pelan, suaranya bergetar. Apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu? Apa kesalahan besar yang telah dilakukan ayahnya hingga membuat Dewa Angkasa Buwana memiliki kebencian sedalam itu, hingga rela menghancurkan masa depan anak orang lain demi membalas rasa sakitnya? Selama ini, ayahnya tidak pernah bercerita banyak soal masa lalu, hanya sesekali terlihat termenung dan penuh penyesalan. Namun, Naura tak pernah menyangka bahwa penyesalan itu akan berujung pada dirinya yang harus dikorbankan seperti ini.

Tiba-tiba, ketukan pintu terdengar dua kali, tegas dan berirama. Belum sempat Naura menjawab, pintu itu terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi, mengenakan seragam pelayan yang bersih dan sopan, masuk membawa nampan berisi air bersih, handuk, dan satu set pakaian rumah yang sederhana namun terbuat dari bahan mahal. Wanita itu menundukkan kepalanya saat berjalan mendekat, wajahnya terlihat ramah namun tetap menjaga jarak hormat yang sangat jauh.

"Selamat pagi, Nyonya Buwana," ucap wanita itu lembut namun rendah suaranya. "Perkenalkan, saya Bi Inah. Saya yang bertugas mengurus keperluan Nyonya di kamar ini. Tuan Dewa berpesan... Nyonya harus sudah siap dan menunggunya di ruang makan dalam waktu lima belas menit lagi. Beliau ingin berbicara sebelum berangkat ke kantor pusat."

Jantung Naura seakan berhenti berdetak sesaat. Dewa ingin bertemu lagi? Pagi-pagi sekali? Naura mengangguk pelan, berusaha menutupi kegugupannya.

"Terima kasih, Bi Inah," jawab Naura sehalus mungkin. Ia merasa lega setidaknya ada satu wajah yang tidak terlihat mengerikan di rumah ini, meski ia tahu pasti bahwa Bi Inah juga berada di bawah kendali mutlak Dewa.

Bi Inah meletakkan nampan di meja samping, lalu melirik sekilas ke arah rahang Naura yang memerah. Ada kilatan rasa iba yang samar terlihat di mata tua wanita itu, namun ia buru-buru membuang muka seolah takut ketahuan.

"Mohon segera bersiap, Nyonya. Tuan Dewa tidak suka menunggu," bisik Bi Inah pelan sebelum berbalik badan dan keluar dari kamar, menutup pintu kembali dengan hati-hati.

Lima belas menit kemudian, Naura sudah berdiri di depan pintu ruang makan yang terletak di lantai dasar. Ia mengenakan pakaian rumah berwarna krem yang sopan dan tertutup, rambutnya disisir rapi terurai, dan wajahnya ia usap dengan air dingin agar terlihat lebih segar dan berani. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki, lalu mendorong pintu ruang makan itu terbuka.

Ruangan itu sangat luas, dihiasi lampu gantung yang berkilauan dan meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati besar yang mampu menampung belasan orang, namun saat ini hanya ada satu orang yang duduk di ujung meja, dengan nyaman dan berkuasa.

Dewa Angkasa Buwana.

Pria itu duduk bersandar santai di kursinya, satu tangan memegang koran pagi, tangan lainnya memegang cangkir kopi yang mengepulkan asap tipis. Ia mengenakan kemeja putih polos dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kekar dan kulitnya yang berwarna sawo matang. Penampilannya sederhana namun memancarkan wibawa yang tidak tertandingi. Saat Naura melangkah masuk, Dewa meletakkan korannya perlahan, lalu mengangkat wajah menatap istrinya. Tatapan mata hitamnya sama dingin dan tajamnya seperti kemarin malam, tidak ada perubahan sedikit pun.

"Duduk," perintahnya singkat, sambil menunjuk kursi yang berada tepat di hadapannya, di ujung meja yang berjarak cukup jauh.

Naura berjalan mendekat, duduk dengan hati-hati di ujung kursi, tidak berani bersandar sepenuhnya. Ia menundukkan pandangannya, menatap makanan yang tersaji di piringnya namun sama sekali tidak memiliki selera untuk memakannya.

"Kau terlihat buruk," ucap Dewa tiba-tiba, suaranya terdengar datar namun penuh penilaian. "Apakah kasur di kamarku terlalu keras? Atau mungkin kau terlalu sibuk berpikir tentang nasib malangmu hingga tidak bisa tidur?"

Naura mengangkat wajahnya sedikit, menatap lurus ke arah manik mata pria itu. Rasa sakit di rahangnya masih terasa, mengingatkannya pada perlakuan kasar Dewa kemarin.

"Saya tidak bisa tidur bukan karena kasurnya, Tuan Buwana," jawab Naura tenang, berusaha menjaga nada bicaranya agar tidak terdengar menantang namun tetap bermartabat. "Tapi karena suasana di tempat ini... terlalu menekan. Dan karena pemilik rumah ini terlalu pandai menanam rasa takut di hati orang lain."

Sudut bibir Dewa terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang sinis. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan ke atas meja, menimbulkan bunyi 'klik' yang terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.

"Bagus," ucap Dewa pelan. "Kalau kau sudah paham posisimu dan sudah merasakan rasa takut, berarti pelajaran pertamamu sudah berjalan lancar. Ingat, Naura... rasa takut itu akan menjadi teman setiamu di sini. Selama kau ada di bawah atap ini, rasa takutlah yang akan menjagamu agar tidak melakukan kesalahan bodoh."

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap tajam ke arah wajah Naura, tepat ke arah bekas cengkeramannya kemarin.

"Kau lihat bekas ini?" tanya Dewa, menunjuk ke arah rahang Naura dengan dagunya. "Ini baru permulaan. Luka di kulit bisa sembuh dalam beberapa hari. Tapi luka di hati, luka yang akan kuberikan padamu sebagai ganti rasa sakit yang aku terima sepuluh tahun lalu... itu yang akan kau rasakan seumur hidupmu. Kau ingin tahu apa yang dilakukan ayahmu padaku dulu? Kau ingin tahu mengapa aku membencimu dan seluruh keluargamu sampai mati?"

Jantung Naura berdegup kencang. Ini pertanyaan yang selama ini ia ingin tanyakan, namun juga pertanyaan yang paling ia takuti jawabannya. Ia mengangguk pelan, menelan ludah dengan susah payah.

"Katakanlah... saya ingin tahu," jawab Naura bergetar. "Apa dosa ayah saya sampai harus dibayar dengan cara yang kejam ini?"

Dewa tertawa kecil, tawa yang penuh kepahitan dan kemarahan yang tertahan. Ia kembali duduk tegak, memandang keluar jendela besar yang menghadap ke taman, matanya menatap kosong seolah melihat bayangan masa lalu yang kelam dan menyakitkan.

"Dulu... sepuluh tahun yang lalu, ayahmu dan ayahku adalah mitra bisnis terbaik," mulainya Dewa perlahan, suaranya berubah menjadi rendah dan berat, penuh dengan emosi yang meluap namun ditahan sekuat tenaga. "Kami sama-sama membangun kerajaan bisnis dari nol, saling percaya seperti saudara kandung. Aku masih muda waktu itu, baru saja mulai belajar memegang kendali perusahaan bersama ayahku. Kami kaya, kami dihormati, dan kami bahagia. Sampai suatu hari... ayahmu, Hadi Zafira, tergoda oleh ambisi dan keserakahan."

Dewa berhenti sejenak, menggenggam cangkir kopinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Dia mencuri semua aset perusahaan, menggelapkan uang, dan memalsukan tanda tangan ayahku untuk menjual seluruh hak milik kami ke pihak lain. Dia melakukan itu diam-diam, di belakang punggung kami. Dan saat semuanya terbongkar... dia sudah lari membawa semua harta itu, meninggalkan kami dalam kehancuran total. Ayahku jatuh sakit berat karena kaget dan malu, lalu meninggal dunia dalam keadaan miskin dan putus asa. Ibuku... dia tidak kuat menanggung hinaan dan kemiskinan yang tiba-tiba itu, dia ikut menyusul ayahku setahun kemudian. Dan aku... aku yang masih muda, sendirian, tanpa uang, tanpa kekuasaan, dan tanpa siapa pun... aku harus bertahan hidup di jalanan, makan sisa makanan, tidur di kolong jembatan, dan menelan segala hinaan orang-orang yang dulu takut pada nama keluarga kami."

Dewa berbalik kembali menatap Naura, matanya kini memancarkan api kebencian yang membara hebat.

"Semua itu karena ayahmu. Semua penderitaan, rasa sakit, dan kehancuran itu... semua berasal dari tangan ayahmu. Dia mengambil segalanya dariku. Dia merampas kebahagiaanku, keluargaku, masa depanku, dan harga diriku. Dia hidup mewah, dia terhormat, dia punya segalanya... sementara aku harus berjuang mati-matian bertahan hidup, membangun kembali apa yang telah dia hancurkan, tetes demi tetes darah dan keringatku sendiri."

Naura terdiam mematung, darahnya terasa berhenti mengalir. Ia tidak pernah tahu kisah ini. Ayahnya tidak pernah bercerita bahwa dulu ia pernah melakukan kesalahan sebesar itu, kesalahan yang menghancurkan hidup orang lain hingga ke akar-akarnya. Rasa bersalah mulai merayap masuk ke dalam hatinya, namun rasa itu segera ia tepis.

"Tapi... tapi itu terjadi antara ayahmu dan ayahku," bantah Naura pelan namun tegas, matanya berkaca-kaca. "Saya saat itu masih kecil, saya tidak tahu apa-apa. Saya tidak ikut mengambil harta itu. Mengapa saya yang harus membayarnya? Mengapa kau harus menyiksa orang yang tidak bersalah?"

"Karena kau darah dagingnya! Kau bagian dari dia! Kau adalah miliknya!" bentak Dewa tiba-tiba, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat Naura tersentak mundur di kursinya. Wajah Dewa merah padam menahan amarah yang meluap. "Apa yang dia miliki, apa yang dia cintai, apa yang dia banggakan... semuanya harus menjadi milikku sebagai ganti rugi. Dan kau, Naura... kau adalah harta paling berharga yang dimiliki Hadi Zafira. Maka dari itu, kaulah yang harus aku ambil. Kaulah yang harus aku hancurkan, sama persis seperti dia menghancurkan hidupku dulu."

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti mereka berdua. Hanya suara napas berat Dewa yang terdengar, dan isak tangis tertahan Naura yang mulai jatuh perlahan di pipinya. Cerita itu mengubah segalanya. Kebenaran yang pahit itu kini terungkap, membuat dinding kebencian di antara mereka menjadi semakin tebal dan tinggi, seolah tak akan pernah bisa diruntuhkan selamanya.

Dewa bangkit berdiri, merapikan jasnya yang rapi. Ia menatap Naura dengan pandangan yang dingin dan tak tergoyahkan lagi.

"Pikirkan baik-baik cerita ini. Ingatlah alasan mengapa kau ada di sini. Dan ingatlah, selama kau berada di rumah ini, aku akan pastikan kau merasakan sedikit demi sedikit rasa sakit yang aku rasakan selama sepuluh tahun ini," ucap Dewa tajam. "Aku akan pergi ke kantor. Jangan berani keluar dari pagar rumah ini. Jangan berani berhubungan dengan siapa pun. Kau akan tetap di sini, mengurung diri, dan merenungi dosa ayahmu. Bi Inah akan mengawasimu. Satu kesalahan kecil... kau tahu konsekuensinya."

Dewa berbalik badan, berjalan menjauh menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Namun, sebelum ia melangkah melewati ambang pintu, seorang wanita cantik dengan penampilan modis, berjalan sangat anggun dan percaya diri, tiba-tiba muncul di sana, berpapasan tepat di depan Dewa. Wanita itu tersenyum manis, menatap Dewa dengan pandangan yang sangat akrab dan penuh makna.

"Angkasa... sayang, kau sudah mau berangkat?" sapa wanita itu dengan suara lembut namun menusuk, matanya yang indah namun tajam langsung melirik ke arah Naura yang masih duduk kaku di meja makan.

Dewa berhenti sejenak, wajahnya yang dingin seketika berubah sedikit lebih lunak saat melihat wanita itu. Ia mengangguk pelan.

"Ya, Sera. Aku baru saja mau pergi," jawab Dewa, nada bicaranya berbeda, jauh lebih santai dan... akrab.

Naura menatap mereka berdua dengan kening berkerut. Sera? Siapa wanita ini? Dan mengapa sikap Dewa padanya sangat berbeda?

Wanita yang bernama Sera itu melangkah masuk, melewati Dewa sambil tersenyum penuh kemenangan, lalu berjalan mendekati meja makan, berhenti tepat di hadapan Naura. Ia menatap Naura dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang merendahkan, seolah sedang menilai benda rongsokan.

"Jadi, ini dia gadis malang yang dikorbankan ayahnya demi hutang piutang," bisik Sera pelan, cukup terdengar hanya oleh Naura, dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Selamat datang di neraka, Nyonya Buwana. Dan ingatlah satu hal... Dewa Angkasa Buwana itu milikku. Dan kau hanya boneka sementara yang akan segera dibuang saat tujuannya tercapai."

Dewa memanggil Sera dari ambang pintu, dan wanita itu segera berbalik pergi sambil melambaikan tangan manja, meninggalkan Naura yang terpaku di tempatnya, hati dan pikirannya semakin kacau balau.

 

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!