Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Dansa di Ambang Batas
"Kamu... kamu teleportasi?" Kiandra bertanya dengan suara yang nyaris hilang.
Enzo menurunkan bukunya perlahan, menatap Kiandra dari balik lensa kacamata bacanya. Tatapannya tenang, namun ada kilatan jahil yang menari-nari di mata hazel-nya.
"Teleportasi? Aku tidak tahu kamu suka fiksi ilmiah, Piccola," suara baritonnya berpadu sempurna dengan irama jazz yang malas.
Kiandra berjalan mendekat, meletakkan tas kecilnya di meja kaca dengan sedikit hentakan. "Tidak perlu akting. Kamu tadi melihatku di pesta itu. Kamu bahkan mengangkat gelas ke arahku dan bikin aku hampir jantungan di depan teman-temanku!"
Enzo terkekeh rendah, sebuah suara yang bergetar di udara dan entah kenapa membuat perut Kiandra berkedut aneh. Ia menutup bukunya dengan satu ketukan pelan, lalu melepaskan kacamata bacanya.
"Akting apanya? Aku cuma menyelesaikan bacaanku di sini," ucap Enzo datar, namun seringai tipis di bibirnya mengkhianati ucapannya.
Kiandra bersedekap dada, berusaha keras untuk tetap fokus pada wajah Enzo dan bukan pada otot-otot perutnya yang berkilau pelan tertimpa cahaya lampu. "Kenapa tidak bilang kalau mau ke sana juga? Kamu bikin aku kayak orang bodoh karena tadi sore pamit secara resmi."
Enzo bangkit berdiri perlahan. Postur tingginya yang mencapai 188 cm seketika mendominasi ruang tengah yang terasa mendadak sempit. Ia melangkah menghampiri Kiandra dengan gerakan predator yang tenang, seolah setiap langkahnya adalah bagian dari strategi untuk mengunci mangsa.
"Apa perlu aku bilang?" Enzo berhenti tepat di depan Kiandra, jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. "Memang kalau tahu aku mau ke sana, kamu mau berangkat bersama? Menjadi teman kencanku di depan seluruh mahasiswa Le Cordon Bleu?"
Kiandra terdiam seketika. Wajahnya memanas hebat membayangkan dirinya turun dari mobil yang sama dengan Enzo, berjalan berdampingan masuk ke pesta. Itu bukan sekadar skandal; itu adalah bunuh diri karier.
"Tidak... tidak mungkin. Tapi setidaknya aku tidak perlu merasa diawasi seperti tadi," cicit Kiandra.
Enzo meletakkan kacamatanya di meja, lalu kembali menatap Kiandra dengan intensitas yang lebih dalam. "Aku tidak mengawasimu. Aku hanya memperhatikan bagaimana mahasiswi terbaikku bergerak di lantai dansa."
Enzo melangkah maju satu inci lagi, membuat Kiandra terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak pinggiran meja makan marmer yang dingin. Sebelum Kiandra sempat protes, tangan besar Enzo sudah meraih pinggulnya dengan cengkeraman yang mantap dan posesif.
"Ah!" Kiandra tersentak kaget. Napasnya tercekat saat tubuhnya ditarik rapat hingga menabrak dada keras Enzo yang telanjang.
Aroma sandalwood yang panas, sisa wine yang elegan, dan aroma kulit pria yang maskulin menginvasi seluruh indra penciuman Kiandra. Ia bisa merasakan panas yang memancar dari kulit Enzo menembus gaun satin hijaunya yang tipis.
"Biar aku ajari caranya berdansa yang benar," bisik Enzo tepat di depan bibir Kiandra. "Kamu tadi terlihat memalukan, menginjak sepatu pria pirang itu berkali-kali."
Kiandra meronta kecil, tangannya menahan dada telanjang Enzo yang terasa kokoh dan berotot. "Tidak perlu, aku sudah capek. Aku mau tidur—"
"Kaki kiri dulu, Piccola," Enzo mengabaikan protesnya. Ia menggenggam jemari kanan Kiandra, menguncinya dengan erat, sementara tangan kirinya menekan pinggang Kiandra agar tetap menempel pada tubuhnya. "Tiga... dua..."
"Enzo, tunggu—"
"Satu."
Enzo mulai melangkah, memandu tubuh Kiandra mengikuti irama jazz yang mengalun dari speaker. Kiandra refleks bergerak mundur saat Enzo melangkah maju, tubuhnya seolah secara otomatis mengikuti kendali pria itu.
Enzo memutar tubuh Kiandra dengan keanggunan yang luar biasa. Kain satin hijau zamrud itu bergesekan dengan kulit paha Kiandra, menciptakan sensasi elektrik yang membuat lututnya lemas. Dalam satu gerakan cepat, Enzo menariknya kembali ke dalam pelukannya, membuat dada mereka bertabrakan lagi.
"Nah, begitu. Jauh lebih baik daripada saat kamu bersama si Harrington itu," bisik Enzo, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Kiandra, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri tegak.
Kiandra akhirnya menyerah. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus di dekat ceruk leher Enzo. Ia bisa merasakan detak jantung Enzo yang stabil dan kuat di balik telapak tangan yang masih menempel di dada pria itu.
"Satu... satu lagu saja," cicit Kiandra pelan, suaranya nyaris hilang ditelan musik.
Enzo tersenyum miring, mempererat pelukannya di pinggang Kiandra, membiarkan jemarinya mengusap permukaan satin gaun itu dengan gerakan yang sangat provokatif. "Tentu, cantik. Nikmati saja ritmenya."
Kiandra memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut sepenuhnya dalam pelukan hangat Enzo di bawah temaram lampu Rue de Rivoli.
Untuk sejenak, ia melupakan status dosen dan mahasiswi yang menjadi tembok besar di antara mereka. Ia melupakan risiko, melupakan teman-temannya, dan melupakan Paris yang dingin di luar sana.
Dalam satu hari, ia diajak berdansa oleh dua pria paling diincar. Blake sang pangeran kampus yang sempurna, dan Enzo sang dosen misterius yang kini memeluknya dengan cara yang sangat tidak profesional.
Kiandra tersenyum tipis tanpa sadar dalam dekapan Enzo. "Rezeki... tidak boleh ditolak," batinnya absurd sebelum ia benar-benar tenggelam dalam wangi sandalwood yang memabukkan itu.