Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Pernikahan Paksa
Brak.
Xavier mendorong pintu kayu ek tebal ruang kerjanya dan menarik Eli masuk ke dalam, sebelum menguncinya rapat-rapat. Ruangan itu sangat luas, didominasi warna hitam dan abu-abu gelap dengan aroma maskulin yang pekat. Sebuah meja kerja marmer berukuran raksasa terletak di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke halaman belakang mansion.
Xavier melepaskan cengkeramannya, membuat Eli terhuyung sedikit sebelum berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Wanita itu memeluk tubuhnya sendiri, menatap waspada pada Xavier yang kini berjalan santai ke balik meja kerjanya. Pria itu mengambil sebuah map kulit berwarna hitam, lalu melemparkannya ke atas meja hingga menimbulkan suara debukan yang berat.
"Buka dan tanda tangani," perintah Xavier pendek sambil mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Dia bersandar angkuh, menautkan sepuluh jemarinya di depan dada sambil menatap Eli dengan pandangan menilai.
Dengan tangan yang masih gemetar, Eli melangkah mendekati meja. Dia membuka map tersebut dan membaca judul yang tertera di lembar pertama dengan mata membelalak: KONTRAK PERNIKAHAN DAN HAK ASUH ANAK.
"Pernikahan?" Eli mendongak, menatap Xavier tidak percaya. "Kamu gila? Kita bahkan tidak saling kenal! Kenapa aku harus menikah dengan pria kejam sepertimu?"
Xavier mendengus sinis, matanya berkilat dingin. "Kita tidak perlu saling kenal untuk menikah, Eli. Kamu sudah melahirkan darah daging keluarga Arisatya. Apakah kamu pikir aku akan membiarkan anak-anakku tumbuh sebagai anak tidak sah di luar sana? Arisatya Group membutuhkan pewaris resmi, dan Kenji serta Kiana adalah pemilik sah dari nama itu."
Eli meremas pinggiran meja marmer itu hingga buku-buku jarinya memutih. "Kalau kamu hanya menginginkan anak-anak, kenapa tidak ambil saja mereka? Kenapa harus melibatkanku?!" tanyanya dengan suara serak menahan tangis. Mengatakan hal itu sebenarnya merobek hatinya sendiri, tapi dia ingin tahu apa isi kepala monster di hadapannya ini.
Xavier berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang lambat dan berwibawa terasa seperti detak lonceng kematian bagi Eli. Pria itu berjalan mengitari meja, lalu berhenti tepat di hadapan Eli, mengikis jarak hingga Eli bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu. Xavier menunduk, mengunci tatapan Eli dengan sepasang mata elangnya yang posesif.
"Karena anak-anakku membutuhkannya. Kenji dan Kiana tidak akan bisa tumbuh dengan baik jika aku memisahkan mereka dari ibu kandungnya secara paksa. Aku adalah pengusaha, Eli. Aku selalu menginginkan paket yang sempurna," bisik Xavier, suaranya yang berat terdengar begitu mengintimidasi di dekat telinga Eli. "Dan ada satu alasan lagi..."
Xavier mengangkat tangannya, menyelipkan seuntai rambut Eli yang berantakan ke belakang telinga wanita itu. Sentuhan kulit jarinya yang dingin membuat Eli merinding. "Enam tahun lalu, kamu masuk ke kamarku, menyerahkan dirimu, lalu kabur seperti pencuri. Aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku. Tubuhmu, hidupmu, dan anak-anakmu... semuanya sudah menjadi hak milik Xavier Arisatya sejak malam itu."
Eli memalingkan wajahnya, menghindari sentuhan posesif pria itu. "Aku tidak mau! Ini bukan pernikahan, ini penjara!"
"Lalu apa pilihanmu?" Xavier mundur satu langkah, melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyuman meremehkan. "Jika kamu menolak menandatangani kontrak ini, besok pagi tim pengacara terbaikku akan mengajukan gugatan hak asuh ke pengadilan. Dengan kekuasaan dan uang yang aku miliki, aku bisa membuatmu dicap sebagai ibu yang tidak kompeten karena membiarkan anak-anak hidup di lingkungan kumuh. Aku akan mengambil mereka secara hukum, dan kamu tidak akan pernah bisa melihat wajah Kenji dan Kiana lagi seumur hidupmu."
"Kamu... kamu keterlaluan!" air mata Eli akhirnya runtuh. Dia menatap Xavier dengan rasa benci yang mendalam. Pria ini benar-benar tidak punya hati. Xavier tahu persis bahwa Kenji dan Kiana adalah seluruh hidupnya, dan pria itu menggunakan mereka sebagai senjata untuk mengikatnya.
"Aku hanya mengambil apa yang menjadi hakku," sahut Xavier datar tanpa penyesalan sedikit pun. Dia mengambil sebuah pulpen mahal berlapis emas dari atas meja dan menyodorkannya ke arah Eli. "Tanda tangani sekarang, atau kehilangan anak-anakmu selamanya. Pilihan ada di tanganmu, Eli."
Eli menatap pulpen di tangan Xavier, lalu beralih menatap dokumen di atas meja. Dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Dia tidak punya pilihan. Di hadapan raksasa bisnis seperti Xavier, dia hanyalah sebutir debu yang tidak punya kekuatan untuk melawan. Demi tetap berada di sisi kedua buah hatinya, Eli terpaksa menyerahkan kebebasannya.
Dengan air mata yang terus membasahi dokumen, Eli menyambar pulpen itu dan menggoreskan tanda tangannya di atas materai.
Sret. Sret.
Begitu selesai, Eli melemparkan pulpen itu ke atas meja dan mundur menjauh. "Sudah. Sekarang biarkan aku menemui anak-anakku!"
Xavier mengambil dokumen itu, memeriksa tanda tangan Eli dengan tatapan puas. Sebuah senyuman kemenangan terukir di wajah tampannya. Dia berjalan mendekati Eli, lalu tiba-tiba mencengkeram pinggang mungil wanita itu, menariknya mendekat hingga tubuh mereka kembali merapat tanpa jarak.
"Bagus, Istriku," bisik Xavier posesif, menikmati tatapan marah dan rapuh dari wanita di pelukannya. "Mulai malam ini, kamu resmi menjadi Nyonya Arisatya. Jangan pernah berpikir untuk lari lagi, karena sangkarmu kali ini tidak akan pernah bisa kamu bobol."