Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut Fajar di Ambang Pintu
Pukul empat pagi di pinggiran kota yang merayap bangun, udara selalu membawa aroma yang sama: perpaduan antara tanah basah sisa embun semalam, asap knalpot dari bus antarkota yang mulai beroperasi, dan wangi pekat kopi hitam yang diseduh tergesa-gesa. Di kediaman keluarga Handoko Widarto, pagi tidak pernah dimulai dengan ketukan lembut atau alarm seluler yang melodius. Pagi di rumah ini dimulai dengan derit pintu besi pagar yang aus, disusul suara deham berat Bapak Handoko yang bersiap memanaskan mesin mobil MPV putihnya untuk mengejar setoran taksi daring pertamanya.
Di ruang tengah yang merangkap sebagai ruang tamu, pencahayaan masih temaram. Lampu neon tunggal berdaya rendah memantulkan bayangan siluet akuarium-akuarium mini yang berjejer rapi di sudut teras, tempat ikan-ikan guppy dan cupang hias milik Bapak bergerak lambat dalam air yang jernih. Di balik keterbatasan ruang, rumah ini bernapas melalui rutinitas yang presisi namun penuh tekanan yang tak kasat mata.
Davika Ovwua Mwohan terbangun bukan karena alarm, melainkan karena aroma tumisan bawang putih dan terasi yang mulai menguar dari arah dapur. Gadis berusia tujuh belas tahun itu menggeliat di atas kasur tipisnya. Postur tubuhnya yang mungil sering kali membuat orang salah sangka bahwa ia masih duduk di bangku sekolah dasar, namun proporsi fisiknya yang kontras—lekuk tubuh yang tegas dan padat yang kerap membuatnya risih jika harus memakai seragam sekolah yang terlalu ketat—menandakan ia telah bertumbuh melampaui usianya. Dengan rambut hitam bergelombang yang acak-acakan dan poni see-through yang mencuat ke segala arah, ia menyeret langkahnya menuju dapur. Matanya yang berwarna green-gray—sebuah anomali genetik langka yang diturunkan dari nenek buyutnya—masih mengerjap setengah sadar.
"Ibu masak apa? Baunya sampai kamar Davika," gumam Davika dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Bibir ombrenya yang merah alami tanpa sentuhan kosmetik sedikit mengerucut saat ia bersandar pada kosen pintu dapur yang catnya mulai mengelupas.
Ibu Rahayu Margaretha membalikkan tubuh, tersenyum tipis sembari tangan kanannya cekatan mengayunkan sudit di atas wajan baja. "Nasi goreng kampung, Vika. Bapakmu harus jalan lebih pagi hari ini. Ada penumpang langganan yang mau ke bandara jam lima tepat. Kamu cepat mandi, nanti telat sekolah. Kakakmu, Gara, juga ada penerbangan pagi ke Shanghai."
Mendengar nama kakak sulungnya disebut, kantuk Davika mendadak menguap. Sagara Langit Pradipta adalah sosok yang menguasai hierarki ketakutan sekaligus ketergantungan di rumah ini. Sebagai pilot maskapai komersial internasional, Mas Gara jarang berada di rumah, namun kehadirannya selalu membawa aura yang dominan dingin, berjarak, namun protektif dengan cara yang sering kali menyebalkan.
Tepat saat pikiran itu melintas, sebuah langkah kaki yang berat dan konstan terdengar turun dari tangga lantai dua. Sagara muncul dengan seragam pilotnya yang putih bersih, lengkap dengan tanda pangkat di pundak. Setrikaan celana kain hitamnya begitu tajam hingga tampak seolah bisa menyayat kertas. Tubuhnya yang tinggi tegap, dengan otot-otot yang tercetak jelas di balik kain kemeja yang pas di badan, membuat dapur yang sempit itu terasa makin sesak. Wajahnya yang kaku dan jarang tersenyum langsung tertuju pada Davika yang masih mengenakan piyama bermotif beruang yang kekecilan.
"Jam berapa ini, Jerry?" suara Gara terdengar berat, memecah kesunyian subuh dengan intonasi dingin yang familier. "Anak perawan belum mandi, muka penuh minyak. Mau jadi apa?"
Davika mendengus, langsung memasang wajah defensif. "Ini estetika bangun tidur, Mas Tom. Lagian ini baru jam empat lewat lima belas. Mas Gara sendiri kenapa sudah rapi begini? Mau pamer baju baru ke pramugari?"
"Mulutmu," sahut Gara pendek. Ia berjalan melewati adiknya tanpa menyentuh, namun tangan kanannya yang kekar bergerak cepat menjentik dahi Davika hingga gadis itu mengaduh kesakitan. Sebelum Davika sempat membalas dengan amukan khasnya, Gara sudah meletakkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah di atas meja makan kecil di dekat mereka. "Beli kuota internetmu yang habis itu. Jangan pakai tethering HP-ku terus kalau malam. Mengganggu."
Meskipun kesal setengah mati karena dahinya memerah, mata Davika langsung berbinar melihat uang tersebut. Dinamika hubungan mereka selalu seperti itu: friksi tiada henti yang diselesaikan dengan transaksi tanpa batas dari dompet sang pilot.
Sementara itu, dari arah kamar utama, muncul Nara Rifky Agista Mwohan. Anak kedua keluarga itu melangkah dengan keanggunan yang kontras dengan kedegilan Davika. Sebagai dosen muda jurusan Bahasa Arab, Mbak Nara adalah personifikasi dari ketenangan. Kulit sawo matangnya yang manis tampak bersih, rambut hitam tipisnya yang sepanjang pinggang diikat rapi ke belakang. Ia mengenakan gamis rumahan yang longgar, namun pembawaannya yang tegas tetap terpancar dari sorot matanya.
"Bisa tidak, satu pagi saja, kalian berdua tidak merusak ketenangan rumah?" tanya Nara sembari mengambil gelas untuk menuangkan air hangat. "Bapak sudah mau berangkat, jangan ditambahi suara ribut."
"Davik yang mulai, dek Nara ," cetus Gara pelan, duduk di kursi makan sembari memeriksa ponselnya yang terus bergetar menerima pembaruan jadwal penerbangan dan kondisi cuaca di jalur udara menuju Shanghai.
"Mas Gara yang duluan sentil jidat Davik! Ini aset bangsa tahu!" protes Davika sembari mengelus dahinya yang jenong.
Di luar rumah, suara mesin mobil Bapak Handoko terdengar menderu halus. Bapak masuk sebentar ke dalam rumah, mengenakan jaket konvensionalnya, wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis penuaan tampak lelah namun tetap menyunggingkan senyum saat melihat anak-anaknya berkumpul. Hobinya memelihara ikan hias adalah satu-satunya pelarian dari kepenatan jalanan ibu kota yang makin tidak ramah.
"Ibu, Bapak jalan dulu. Uang belanja sudah Bapak transfer tadi malam, tidak banyak, tapi cukup untuk minggu ini," kata Bapak Handoko sembari mencium kening Ibu Rahayu.
"Hati-hati di jalan, Pak. Jangan lupa sarapan di warung nanti," pesan Ibu Rahayu lembut.
Nara mendekat, mencium tangan bapaknya dengan takzim, diikuti oleh Davika yang, sekocak apa pun tabiatnya, tetap memiliki rasa hormat yang besar pada sang kepala keluarga. Gara hanya mengangguk hormat, sebuah bentuk komunikasi antar lelaki dewasa yang saling memahami beban masing-masing.
Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Saat Bapak Handoko membuka pintu depan lebih lebar, sebuah mobil sedan hitam mewah dengan pelat nomor khusus tampak berhenti tepat di depan pagar rumah mereka yang berkarat. Lampu hazard mobil itu berkedip lambat di tengah kabut fajar yang mulai turun, memberikan kesan intimidatif sekaligus asing bagi lingkungan gang sempit tersebut.
Gara langsung berdiri dari kursinya, matanya menyipit tajam menembus jendela kaca depan. Nara, yang sedang meneguk air hangatnya, mendadak menghentikan gerakannya. Ia tahu persis siapa pemilik kendaraan tersebut, atau setidaknya, perwakilan dari siapa yang datang sepagi ini tanpa pemberitahuan.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian batik rapi turun dari kursi penumpang depan sedan tersebut, membawa sebuah map tebal berwarna hijau tua dengan lambang emas khas sebuah institusi besar. Itu adalah lambang Pesantren Al-Anwar, namun kedatangan yang begitu formal di jam seperti ini menandakan ada sesuatu yang tidak beres terkait rencana pernikahan Nara dengan Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari, sang putra mahkota sekaligus CEO muda yang dingin.
"Ada tamu, Ra?" tanya Ibu Rahayu dengan nada cemas yang tiba-tiba merayap di suaranya. Matanya memandang Nara, mencari jawaban.
Nara tidak menjawab segera. Ia memandang ke luar, ke arah kabut fajar yang perlahan menyelimuti mobil mewah tersebut. Suasana hangat di dapur yang dipenuhi wangi nasi goreng kampung mendadak menguap, digantikan oleh ketegangan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Dan di sudut ruangan, Davika hanya bisa terdiam, merasakan bahwa ritme kehidupan sehari-hari mereka yang biasa, mulai hari ini, akan mengalami keretakan yang hebat.
Pria berbatik sutra gelap itu melangkah melewati pagar besi yang berderit nyaring, memutus keheningan subuh dengan ketukan sepatu pantofel yang tegas di atas ubin teras yang agak retak. Di kanan kirinya, deretan akuarium mini tempat ikan-ikan cupang hias milik Bapak Handoko berenang tenang, seolah menjadi saksi kontrasnya dua dunia yang sedang bertabrakan di beranda rumah itu. Kabut tipis yang turun pagi ini membuat udara terasa lebih lembap dan menusuk, membawa aroma tanah basah dari tanaman hidroponik yang dirawat Ibu Rahayu di sudut halaman.
Bapak Handoko menahan langkahnya di ambang pintu, urung mengambil kunci mobil di saku jaketnya. Matanya yang menyipit menatap map hijau tua berlogo emas yang didekap pria asing itu. Sebagai sopir taksi daring yang terbiasa membaca gerak-gerik ratusan penumpang setiap minggu, Bapak langsung tahu: kedatangan ini tidak membawa kabar baik.
"Selamat pagi, Pak Handoko," sapa pria itu dengan suara bariton yang teratur, terlalu formal untuk ukuran pukul empat lewat tiga puluh pagi di sebuah gang sempit. Ia membungkuk hormat, namun gesturnya memancarkan jarak sosial yang tidak bisa disembunyikan. "Saya Utomo, sekretaris pribadi keluarga besar Pesantren Al-Anwar. Saya diutus langsung oleh Abah Kiai untuk menyampaikan amanat penting sebelum fajar menyingsing."
Mbak Nara melangkah maju, menggeser posisi berdiri bapaknya dengan keanggunan yang tetap terjaga meskipun ketegangan jelas tersirat dari guratan keningnya. Rambut hitam tipisnya yang panjang bergoyang pelan saat ia melangkah. "Pak Utomo, tidak biasanya Anda datang tanpa menghubungi saya terlebih dahulu. Dan... mengapa sepagi ini? Apakah ada masalah dengan Gus Zayyad?"
Mendengar nama calon suaminya disebut, suasana di dalam rumah mendadak senyap. Di ambang pintu dapur, Davika mencondongkan tubuh mungilnya, matanya yang berwarna green-gray langka itu melebar penuh rasa ingin tahu, sementara jemari tangannya masih meremas uang seratus ribu pemberian Mas Gara. Di belakangnya, Mas Gara sendiri berdiri tegak bak menara pengawas. Tubuh kekarnya yang dibalut seragam pilot komersial internasional tampak menegang; rahangnya yang tegas mengeras, memperlihatkan ketidaksukaan yang mendalam atas interupsi di rumah mereka.
Pak Utomo mengalihkan pandangannya pada Nara, lalu memberikan senyum tipis yang terasa dingin. "Gus Zayyad sedang berada di Surabaya sejak malam tadi untuk urusan ekspansi bisnis logistik pesantren, Mbak Nara. Beliau sehat walafiat. Namun, draf kesepakatan pranikah yang diajukan oleh pihak keluarga kami mengalami beberapa pembaruan mendesak berdasarkan hasil istikharah Abah Kyai."
Pria itu menyodorkan map hijau tua tersebut. Nara menerimanya dengan tangan yang sedikit bergetar, namun ia berhasil menguasai diri dengan cepat. Sebagai seorang dosen muda Bahasa Arab, ia terbiasa menghadapi teks-teks rumit, tetapi lembaran di dalam map ini bukan sekadar teks akademis—ini adalah cetak biru masa depannya.
Saat Nara membuka halaman pertama, Mas Gara melangkah mendekat, berdiri tepat di samping adiknya. Aroma parfum maskulin khas Gara yang tajam berbaur dengan udara pagi yang dingin. Matanya yang tajam langsung memindai baris demi baris poin yang tercantum di atas kertas tebal tersebut.
"Apa ini?" suara Gara memecah kesunyian, berat dan mengintimidasi. "Poin nomor tiga... Setelah pernikahan, pihak perempuan wajib melepaskan seluruh kegiatan akademis di luar lingkungan pesantren, termasuk profesi sebagai dosen universitas negeri?" Gara membaca potongan kalimat itu dengan nada sinis yang kental. Ia menatap Pak Utomo dengan tatapan menghunus. "Kalian ingin mengurung adik saya?"
"Mas, tenang dulu," bisik Nara, mencoba menenangkan kakaknya, meskipun wajahnya sendiri kini tampak sedikit pucat di bawah temaram lampu teras. Kulit sawo matangnya yang manis mendadak kehilangan rona hangatnya.
"Ini bukan masalah tenang atau tidak, Mbak," sahut Gara, intonasi suaranya meninggi satu oktav, membuat Ibu Rahayu yang sejak tadi berdiri di dekat meja makan bergegas mendekat dengan wajah cemas. "Dia belajar bertahun-tahun, meraih gelar masternya dengan susah payah, dan sekarang institusi kalian ingin menghapus identitasnya hanya dalam satu malam? Gus Zayyad itu CEO, dia paham modernitas. Mengapa aturannya sekuno ini?"
Pak Utomo tetap tenang, menunjukkan profesionalisme yang terlatih menghadapi penolakan. "Ini bukan keputusan Gus Zayyad secara pribadi, Kapten Sagara. Ini adalah keputusan dewan pengasuh pesantren. Sebagai calon istri dari putra mahkota yang kelak memimpin ribuan santri, Mbak Nara diharapkan fokus penuh pada manajemen internal komite putri. Keberadaan beliau di universitas umum dianggap kurang selaras dengan muruah keluarga besar Al-Anwar."
"Muruah atau kendali mutlak?" cibir Gara, melangkah satu kali lagi ke depan hingga tubuh tingginya yang tegap hampir mengintimidasi sekretaris paruh baya itu. "Jika calon suaminya bahkan tidak bisa membela hak profesi istrinya sendiri, untuk apa pernikahan ini diteruskan?"
"Gara, cukup," potong Bapak Handoko dengan suara rendah namun sarat wibawa. Sang kepala keluarga melangkah di antara anak sulungnya dan tamu mereka. Tangan Bapak yang kasar karena bertahun-tahun memegang kemudi taksi menyentuh lengan kekar Gara, memintanya mundur. Bapak kemudian menatap Pak Utomo. "Pak Utomo, kami menghormati Abah Kiai dan seluruh keluarga pesantren. Namun, anak saya Nara bukan barang dagangan yang syaratnya bisa diubah di tengah jalan saat semua persiapan sudah berjalan lima puluh persen. Tolong sampaikan pada Gus Zayyad, saya ingin berbicara langsung dengannya, sebagai sesama lelaki, bukan lewat perantara kertas seperti ini."
Di ambang pintu, Davika menahan napas. Suasana yang biasanya dipenuhi candaan random dan kejahilannya kini berubah menjadi medan laga emosional yang pekat. Ia memandang Mbak Nara yang hanya menunduk, meremas ujung gamis rumahannya dengan sangat kuat hingga kukunya memutih. Davika tahu betul betapa Mbak Nara mencintai pekerjaannya sebagai dosen; mengajar adalah napas hidupnya.
"Baik, Pak Handoko. Saya akan menyampaikan pesan Anda kepada Gus Zayyad sekembalinya beliau dari Surabaya sore nanti," ucap Pak Utomo sembari membungkuk formal, menandakan bahwa tugasnya pagi itu telah selesai. "Namun perlu diingat, waktu kita tidak banyak. Hari pernikahan tinggal dua bulan lagi, dan draf ini harus sudah ditandatangani sebelum pertemuan keluarga besar minggu depan."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Pak Utomo berbalik, berjalan menembus kabut fajar yang kian tebal, lalu masuk ke dalam sedan hitam mewah yang segera meluncur pergi meninggalkan gang sempit itu, menyisakan kepulan asap tipis yang dingin.
Suasana teras rumah mendadak hening, hanya menyisakan suara kecipak air dari akuarium cupang milik Bapak. Udara pagi terasa makin membekukan. Gara mengembuskan napas kasar, memutar tubuhnya dengan gusar. "Aku harus ke bandara sekarang. Penerbangan ke Shanghai tidak bisa ditunda. Tapi ingat, Mbak Nara... kalau laki-laki itu tidak bisa menghargai otakmu, dia tidak layak mendapatkan hatimu."
Dengan langkah lebar dan rahang yang masih mengatup rapat, Gara menarik koper hitam besarnya, melewati Davika tanpa sepatah kata pun, lalu menghilang di balik kelokan gang untuk mencari taksi yang akan membawanya ke Cengkareng.
Tinggallah mereka berempat di teras. Ibu Rahayu langsung memeluk pundak Nara yang bergetar pelan. Di tengah kekacauan emosi itu, Davika melangkah mendekati kakaknya, kehilangan seluruh sifat jenakanya untuk sementara waktu. Ia menggenggam jemari tangan Nara yang dingin.
"Mbak Nara..." gumam Davika lirih, matanya yang seindah boneka menatap lurus ke dalam mata sang kakak, menawarkan kehangatan kecil di tengah fajar yang terasa begitu kelabu dan mengancam.
selalu bilangnya kitab😄😄😄