NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12 : Perempatan Margonda

RUMAH MAKAN DERMAWAN MARGONDA. MESS KARYAWAN LANTAI 3. JAM 04.01 SUBUH.

Tas sudah di punggung. Napas Rifki berat, ini adalah keputusannya.

"Mang... gue pamit. Zuan.." Rifki pamit dengan wajah yakin.

Agus mengangguk. Pelan. Tanpa suara.

Rifki mendekat, salim ke tangan Agus yang dingin.

"Ki, kalau lu sampai Bogor... kabarin." Ujar Agus, meski Agus tak yakin.

"Gue janji, Mang." Rifki jawab seolah ada secercah harapan.

Zuan maju. Memeluk Rifki, "Maafin gue, Ki." Zuan bisik.

Rifki menepuk punggung Zuan,"Maafin gue juga kalau gue ada salah selama kita temenan di sini." Rifki bilang.

Pelukan itu pun lepas.

"Lu nggak ada salah." Jawab Zuan tersenyum lepas.

Rifki balas tersenyum.

"Ki, saran gue jangan lewat depan. Lewat gang belakang. Lebih cepat ke perempatan, tembusnya ke jalan besar nanti." Zuan ngomong. Senyumnya tipis.

"Tapi sepi. Gue pernah lewat." Rifki jawab.

"Makanya aman. Belum pernah ada kejadian apa-apa di sana." Zuan meyakinkan.

"Oke. Makasih, Bro." Rifki mantap. Dia sudah tau jalan itu.

Rifki mengambil kunci Beat dari meja.

"Kalau gue hidup... gue bakal cari cara buat nyelamatin kalian." Rifki bilang.

Agus tertawa hambar, "Lu hidup aja udah mukjizat, Ki. Sekarang pergi. Keburu subuh." Agus nyahut.

Rifki menoleh sekali lagi. Pukul 04.14. Baterai 100%.

Pintu ditutup pelan.

Di kamar, Agus merebahkan badan.

"Lu yakin dia selamat?" Agus nanya.

Zuan duduk di tepi tempat tidur, jempolnya bergerak cepat di layar HP.

"Gue ke dapur dulu, Mang. Haus." Zuan jawab. Dia keluar.

Agus tentu saja merasa heran namun dia tidak bertanya, "Gue pengecut... Istri gue hamil, tapi gue nggak bisa di samping dia." Agus gumam mengingat istrinya yang sudah hamil besar di rumah orang tuanya.

_

Rifki menuruni tangga. Lampu merah CCTV berkedip. Dia tidak peduli.

Di luar, Beat hitam sudah siap. Helm dipasang.

Ia menoleh ke rumah makan untuk terakhir kali. Ada rasa lega dalam dirinya karna akan lepas dari tempat ini.

Gas ditarik pelan. Rifki masuk gang belakang. Belok kanan. Lurus.

Namun tak lama.

Lampu mobil menyorot dari depan. Avanza hitam. Menutup jalan.

Rifki mengerem mendadak.

Pintu depan terbuka.

Alangkah terkejutnya Rifki saat Pak Dermawan keluar dari mobil.

Dari pintu kemudi, Hendri. Kemeja putih, rambut klimis. Ia membuka pintu belakang, menarik seorang wanita. Mulut dan tangannya dilakban.

Hendri mengangkat tangan, santai. Seolah sedang menyapa, "Lho... Rifki? Jam segini mau ke mana?" Hendri nanya dengan wajah pura-pura polos.

Rifki memundurkan motor, "S-saya... mau ke apotek, Mang. Mang Agus butuh obat." Rifki gugup.

Pak Dermawan menggeleng pelan.

"Apotek tutup jam sembilan malam, Rifki. Yang buka dua puluh empat jam setiap hari cuma satu di Margonda." Pak Dermawan bilang.

Rifki merinding.

"Apotek Nyawa. Dan nyawa kamu terlalu berharga untuk saya biarkan pergi." Pak Dermawan lanjut.

Hendri mendekat. Meremas bahu Rifki, "Tau cewek itu buat apa? Darahnya untuk ritual cabang BSD bulan depan." Hendri bisik sambil nunjuk cwe itu.

Rifki mencoba menarik gas, tapi badannya kaku.

Hendri tersenyum. Melepas tangannya. Lalu...

Suara lonceng menghantam kepalanya.

TENG!

"ARGH!" Rifki jatuh dari motor. Helm menghantam aspal. Motor menimpa pahanya.

Pak Dermawan tertawa, "Kamu pikir kamu akan bisa bebas seperti Naya bebas? Apa kamu tidak tau kalau Naya sudah meninggal terkena serangan jantung tadi siang?"

Rifki yang mendengar itu kaget bukan main, "PEMBOHONG!"

"Namun itu kenyataannya, siapapun yang kabur dari rumah makan Dermawan akan terkena imbas. Orang yang tau apapun tentang rumah makan Dermawan pantas di bunuh." Tegas Pak Dermawan tanpa pikir dua kali.

Rifki menangis pilu, Naya benar-benar meninggal.

Hendri berjongkok.

"Dengar apa yang di katakan bos kita? Tak ada jalan keluar untuk selamat. Daripada mati sia-sia mending lu jadi tumbal buat cabang BSD. Cabang BSD butuh tumbal bulan depan. Lu mau jalan sendiri ke mobil, atau gue gendong?" Hendri nanya. Terdengar santai.

Rifki merangkak. Ingin rasanya dia menghajar semua orang yang ada disini jika saja beat s1alan ini tidak menimpa pahanya yang membuatnya terasa akan patah.

"AGHHH...!" Ia berhasil menarik kakinya dari bawah motor.

Tapi seseorang sudah berdiri di depannya. Sepatu yang ia kenal.

Rifki mendongak. Mata mereka bertemu.

"Maafin gue, Ki." Zuan bilang. Datar.

"BANGS4T LU, ZUAN!" Rifki teriak saat menyadari jika Zuan lah yang pasti mengadukan semuanya kepada Pak Dermawan. Dan bodohnya Rifki baru ingat jika rute ini adalah jebakan Zuan untuk menjadikannya tumbal.

"ZUAN BODOH, APA GARA-GARA LU JEBAK JUGA NAYA KABUR?!" Teriak Rifki yang sangat tidak terima dengan berita kematian Naya.

Zuan kaget bukan main,"Naya?"

"NAYA MENINGGAL!" Teriak Rifki memukul-mukul aspal dengan marah.

Zuan terdiam. Naya meninggal?

Pak Dermawan menepuk pundak Zuan dengan bangga, "Anak pintar. Kamu tahu caranya bertahan di sini." Pak Dermawan bilang.

Rifki yang mendengar itu masih berteriak dengan marah, "PENYEMBAH SETAN!! KALIAN SEMUA PERGI KE NERAKA!!"

"Merasa terkhianati? Di sini tidak ada teman, Rifki. Yang ada hanya pilihan. Zuan memilih hidup. Kamu memilih jadi tumbal." Pak Dermawan bilang ke Rifki.

"Angkut dia. Lakban mulutnya." Perintah Pak Dermawan pada Hendri yang dengan sigap melakukannya.

Hendri membekap mulut Rifki dengan lakban, mengikat tangannya, "Sst... Cabang BSD sudah menunggu, baby." Hendri bisik.

Hendri mengangkat Rifki ke dalam mobil. Lalu mengangkat wanita itu juga. Dengan mudah dia melakukannya.

Pak Dermawan menatap Zuan, "Kamu yakin tidak ingin menandatangani surat kontrak dengan Iblis?"

Zuan tak menjawab.

"Gian, Hendri, Pak Harto, Bu Siti bahkan Rosa melakukannya." Ujar Pak Dermawan, "Jika kamu melakukannya juga, cabang baru akan jatuh ke tanganmu, Zuan."

Zuan ragu.

"Zuan..." Pak Dermawan bisik. Dekat. Kelewat dekat.

"Gian nggak nyesel. Hendri? Dia sekarang bisa beli apartemen mewah bahkan mobil mewah buat dirinya sendiri. Pak Harto? Bu Siti? Anaknya kuliah di Jerman. Rosa..." Pak Dermawan senyum, "Rosa gak akan pernah tua, Zuan. Kecantikannya abadi, mau dia di usia berapa pun, lelaki mana pun akan tetap banyak mengejarnya."

"Saya nggak maksa. Cuma nawarin masa depan yang lebih menjamin buat kehidupan miskin kamu." Pak Dermawan dengan senyuman lebar berkata.

Zuan menelan ludahnya kasar.

"Gak ada lagi kemiskinan. Semuanya emas." Tegas Pak Dermawan.

Zuan belum menjawab.

Pak Dermawan menepuk bahu Zuan dengan wajah puas, lalu masuk ke mobil meninggalkan Zuan bergelut dengan pikirannya sendiri.

Zuan tetap berdiri di tempat. Menatap Avanza hitam itu menjauh. Tanpa kata.

Zuan menundukkan wajah melihat kedua tangannya. Dengan sadar dia tahu jika dia sudah membunuh Rifki dengan cara menjebak temannya itu.

"Ini satu-satunya cara bertahankan." Ujar Zuan mencoba menghilangkan rasa bersalahnya, "Ini satu-satunya cara agar Rosa sudi melihatku juga."

"Bukan dengan tatapan sebagai tumbal, tapi sebagai seorang lelaki." Zuan meremas kedua tangannya.

_

12/09

RSUD Kota Depok, Ruang ICU Melati Lantai 2.

Mata Naya perlahan terbuka. Putih. Bukan tembok — lampu ICU.

Dingin. Bau obat + karbol + sesuatu yang anyir.

Tit... tit... tit...

Mesin di samping ranjang bunyi lambat. Kayak jantungnya males hidup.Selang oksigen di hidung. Selang infus di tangan kiri. Naya melirik perlahan ke pintu kaca. Di luar, suster mondar-mandir.

'Rumah sakit.' Pikirnya.

Pintu geser kebuka. Cewek hijab biru dongker masuk. Nggak pake APD lengkap, cuma masker. Bawa tas kresek isi buah.

"Ya Allah... Akhirnya bangun?"

Wanita itu melihat monitor, liat infus, liat muka Naya pucat kayak mayat hidup.

"Aku Ranti. Temen kakak kamu, Salsa. Tadi kakakmu nelpon, histeris. Katanya kamu pingsan depan Polsek, terus kritis. Dokter bilang asam lambung, dehidrasi parah, syok. Nyawa kamu hampir terancam, Naya." Jelas Ranti.

Ranti duduk di kursi. Nggak berani sentuh Naya.

"Kamu ngigau mulu dari UGD. Nyebut Eyang... Eyang.. Ngigau pengen balik ke rumah makan..." Ranti nggak lanjut. Dia noleh ke mesin EKG.

Naya mau ngomong. Pas bibirnya buka, cairan infusnya terasa mendidih di darahnya.

Ting... ting... ting...

Urat tangannya kebakar.

Mesin EKG juga bunyi kencang.

Tit tit tit tit

Detak jantungnya naik gila.

"Ahh!" Teriak Naya kejang merasakan jantungnya sakit. Ingin lepas.

Suster di luar nengok. Ranti langsung berdiri panik. Suster berlari ke Naya dan langsung melihat kondisinya. Naya nangis. Air mata doang yang bisa keluar.

Di monitor, detak jantungnya turun lagi.

Tit... tit... tit...

Tapi di telinga Naya, ada suara lain yang numpang lewat.

TENG!

Suara lonceng dari dalem selang infus yang menghantam suara kepalanya.

1
Sarah
Ambillah gift bunga dariku~🌹 (Tenang aja, koin ku masih banyak kok)
Sarah
Yang bener aja Si Rifki mati sekarang...
Ayangnya selamat meski tinggal nunggu waktu buat nyusul (tapi sekarang setidaknya masih hidup) tapi lah dianya masa malah mati?! 😩
Sarah
Sadis.
Sarah
Oalah, gak heran sih. Aku dari awal udah gak suka sama Si Zuan itu. Sejak dia nyindir Si Naya padahal Naya kan jelas-jelas gak tau apa-apa. Dia kesel karena Naya polos terus dan gak cepet nangkep kayak Abel. Dipikir semua orang sama apa? 😕
Sarah
Tau ah. Kerennya. Sejak monolog dia ini... kekesalanku padanya melebihi kekesalanku pada Rosa padahal jelas-jelas kelakuan siapa yang paling parah. Tapi sebel lah, aneh dia mah malah nyalahin kan Naya gak tau. Padahal awalnya dia kelihatan dewasa banget makanya aku suka dan peran “Teteh”-nya kerasa. Tapi rupanya... gak sedewasa itu yah? Si Teh Intan. Enggak, tapi Si T̶e̶h̶ Intan. Si Intan. Lupakan panggilan hormat itu. Karena aku udah no respect sama Si Intan.
Sarah
Aduh, sepanjang guna-guna Si Teh Intan aku teriak “Aduh, aduh! Jangan! jajang! jangan!” tapi end the end balik juga ke tempat kerjanya. 😂😩
Sarah
Ada hubungannya sama rumah makan juga yah?
Aduh, Si Teh Ranti baru aja muncul bab sebelumnya... udah mati lagi aja.
Sarah
Campuran ngakak sama kesel sih. 😂
Ini kalimat mewakilkan aku sebagai pembaca, Yuni, Wulan, Sari, Abel dan juga Naya... cuma bedanya sekarang ditujukan ke Rosa sendiri.

Lagian Rosa nih lawak, dia bilang gitu pas bunuh Dinda... tapi dia sendiri jadi mandor buat gantiin. 😂
Sarah
Arghhh... kenapa ketenangannya tidak bertahan lama sih??😩
Sarah
Kalau gak dilakban pasti itu Abel udah teriak, “NAJIS!”
Karena aku pun sebel baca bagian ini. 😃
Sarah
Nah, kan bener. Dia tuh sebenarnya gituuu.
Sarah
Kalau misalnya mau dibilang iya, Rosa emang cuma kerja meskipun kalau di orang baik dia pasti gak milih jalan itu. Tapi yasudahlah, dia juga survive meskipun ya salah dan bikin kesel. Tapi bagian utama yang paling bikin aku kesel sama Rosa bukan sebagai mandor tumbalnya. Tapi dia tuh, tau yang dia lakuin salah, tapi pas dinyinyirin sama yang lain dia tetep ngebolak-balikin. Ngejawab mulu. 😃

Jujur menurutku yah... karena ngelihat Rosa di bab 7 yang sebenarnya dia benci kelakuan dia sendiri juga, tapi kayaknya dia tuh sengaja ngejawab gini terus tuh biar dia gak kena mental juga meski dia tahu semua yang orang bilang itu jelas-jelas bener gak sih? Makanya dia milih balik manas-manasin biar nguatin diri juga.
Sarah
Ini yang kata Abel “Kakaknya aja gak peduli” yah? 😂
Sarah
Yah... ketangkep-nya kecepetan. Padahal kalau sampai ke Bogor 'kan, bisa aku sambut. 😩
Sarah
Ihhh, Geliiii. Hendri tuh cowok kan?! Kok ngomongnya gitu ke Si Rifki. Astagfirullah geliiii. 😫
Sarah
WOAHH.
Gak expect beneran suka. Kukira pas nyapa Naya di hari pertama kerja tuh cuma alay-alayan sok akrab aja. 🤣
Sarah
Kenapa gak Rif ajasih? Denger panggilannya “Ki” sebagai orang Sunda jadi kayak denger “Aki” di Sunda yang artinya “Kakek” 😭
Dan sama aja kayak “Kakek” di Bahasa Indonesia disingkat jadi “Kek”.
“Aki” di bahasa Sunda disingkat jadi, “Ki” Jadi ngakak. 😭
Sarah
sedih lihatnya...
Sarah
Aduh, campuran nyesek karena sama ngakak juga dengernya.😭
Sarah
Aduhh, ini mah relasi toxic friendship sejati. 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!