NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Penyesalan di Ambang Danau Roh

"Bahkan kau pun menolakku," gumamnya pedih menatap gagang pedang yang membeku. "Jika aku mati di sini, setidaknya rahasia ini akan ikut tenggelam bersamaku."

Nara menarik napas panjang untuk terakhir kalinya. Ia memejamkan mata, mencoba menghapus bayangan wajah kecewa Han-Seol.

Tanpa aba-aba, ia membiarkan tubuhnya condong ke depan, jatuh melewati tepian tebing.

"Maafkan aku, Han-Seol..."

Hanya itu kata terakhirnya sebelum tubuhnya meluncur bebas. Suara angin menderu di telinganya, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum hantaman air danau yang membeku menyambutnya.

BYUURRR!

Di Kedalaman Danau Roh

Permukaan danau yang dingin merengkuh tubuhnya dengan paksa. Nara tidak berusaha berenang. Ia membiarkan tubuhnya tenggelam ke kedalaman yang gelap dan sunyi, tangannya masih setia mendekap pedangnya di dada. Di dalam air yang pekat, ia melihat cahaya matahari di permukaan perlahan menjauh, seiring dengan kesadarannya yang mulai memudar.

‘Biarlah aku terkubur di sini...’ pikirnya dalam kegelapan.

Namun, di tengah keheningan maut itu, bungkusan kain di pelukannya terlepas. Pedang perak itu mulai berdenyut—sebuah denyut jantung yang seirama dengan detak jantung Nara yang kian melemah.

Wushhh!

Sebuah ledakan cahaya biru safir memancar dari celah sarung pedang. Cahaya itu begitu terang hingga membelah kegelapan air, menciptakan gelembung udara yang berkilauan. Air yang tadinya dingin menusuk, mendadak terasa hangat—sebuah panas dari energi murni yang membara.

Nara terpaksa membuka matanya. Di dalam air, ia melihat pantulan dirinya pada bilah pedang yang bersinar. Namun, yang ia lihat bukan wajah pucat Seol-Ah, melainkan siluet Nara yang agung dengan mata yang menyala biru murni.

‘Kekuatan ini... kau mengenaliku?’ batinnya terkejut.

Tangan Seol-Ah yang gemetar kembali meraih gagang pedang. Kali ini, ia tidak memanggil kekuatan raga Seol-Ah, melainkan memanggil memori otot dan seluruh mana dari jiwanya sebagai sang Pembasmi.

"Jika kau memang bagian dari jiwaku," desisnya dalam batin, "maka TUNDUK-LAH PADAKU!"

SRAAAK!

Suara logam ditarik dari sarungnya terdengar nyaring di bawah air, seolah seluruh roh di Danau Cheon-gi sedang bersorak.

Bilah pedang itu akhirnya terhunus sepenuhnya! Cahaya biru meledak dahsyat, menciptakan pusaran air raksasa. Energi besar merayap dari telapak tangannya, menembus lengan, dan menjebol segala sumbatan di aliran darahnya yang tadinya buntu.

‘Aku belum berakhir,’ pikirnya tajam.

 ‘Han-Seol, lihatlah. Aku bukan beban. Aku adalah badai yang kau lupakan.’

Dengan satu gerakan tangan yang anggun namun mematikan, ia mengayunkan pedangnya ke arah permukaan air.

"HANCURKAN!"

SPLASH!!!

Ledakan air yang masif terjadi. Tebasan energi dari pedang itu membelah permukaan Danau Cheon-gi, menciptakan kolom air setinggi sepuluh meter. Tubuh Seol-Ah terdorong ke atas, meluncur keluar dari kedalaman seperti naga yang naik ke langit.

Ia mendarat dengan gerakan flip yang sempurna. Ujung kakinya menyentuh bebatuan besar di pinggir danau tanpa suara, selembut kapas. Ia berlutut satu kaki, pedangnya terhunus ke samping, memancarkan uap panas saat air yang membasahinya menguap terkena energi pedang.

Seol-Ah menarik napas panjang, menghirup udara malam dengan rakus. Suaranya kini terdengar lebih dalam dan penuh otoritas.

"Kau kembali padaku," bisiknya parau pada pedangnya yang bersinar biru redup.

Ia berdiri tegak, menatap ke arah kediaman keluarga Han di kejauhan dengan tatapan dingin dan tajam.

"Han-Seol," ucapnya perlahan, membiarkan nama itu mengalir di lidahnya. "Kau bilang aku adalah beban yang menarikmu ke lumpur? Maka lihatlah, bagaimana beban ini akan berdiri di atas puncak dunia yang kau puja-puja itu."

****

Keheningan yang mencekik menyelimuti lantai atas Rumah Mawar. Han-Seol masih berdiri mematung, menatap telapak tangannya yang gemetar—tangan yang tadi ia gunakan untuk mendorong Seol-Ah menjauh. Amarahnya telah surut, menyisakan lubang besar yang menyesakkan di dadanya. Bau sisa energi yang meledak dari pedang tadi masih menggantung di udara, dingin dan pahit.

"Apa yang telah kulakukan?" bisiknya pada kegelapan.

Lamunannya pecah saat Nyonya Kim Yeon-Hong muncul di ambang pintu. Tatapannya tajam, langsung menyadari kekacauan di ruangan itu.

"Tuan Muda Han-Seol? Di mana Seol-Ah?" tanya Nyonya Kim, suaranya sarat akan kecemasan.

"Udara di luar mulai membeku, dan dia pergi tanpa membawa jubah tebal. Ke mana kau mengusirnya dalam keadaan seperti itu?"

Han-Seol tidak menjawab. Ia menoleh ke arah jendela, menatap langit yang kini berubah warna menjadi biru legam.

Bayangan sorot mata Seol-Ah yang hancur terus menghantuinya.

 ‘Apa aku baru saja mendorongnya ke tepi jurang?’

Tanpa sepatah kata pun, Han-Seol menyambar jubahnya dan berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

Langkah kakinya membawanya menembus hutan pinus menuju Danau Cheon-gi. Firasatnya memburuk saat ia merasakan getaran energi yang tidak stabil berguncang dari arah danau.

Tebasan di Tengah Pusaran

Saat tiba di tepi tebing, napas Han-Seol tersangkut di tenggorokan. Di bawah sana, permukaan danau yang biasanya tenang kini bergejolak hebat. Airnya meledak-ledak, dan di tengah pusaran energi itu, ia melihatnya.

Seol-Ah berdiri di atas bebatuan, mengayunkan pedang perak yang tadi membeku. Setiap tebasannya memancarkan cahaya biru murni yang membelah air danau, menciptakan kolom air setinggi sepuluh meter.

"Dia... berhasil menghunusnya?" bisik Han-Seol, terpaku di tempat.

Rasa bersalah menghantamnya lebih keras dari gelombang danau. Ia berlari menuruni jalan setapak curam, mengabaikan duri yang menggores wajahnya.

"Seol-Ah!" teriaknya saat jarak mereka semakin dekat.

Seol-Ah berbalik perlahan. Gerakannya anggun, namun sorot matanya... itu bukan lagi milik pelayan yang buta. Matanya bersinar biru redup, dan aura pembunuh yang dingin menguar dari tubuhnya yang basah kuyup.

SRET!

Dengan satu gerakan kilat, Seol-Ah menodongkan ujung pedangnya tepat di tenggorokan Han-Seol.

"Bagaimana? Apa sekarang kau masih ingin menyebutku beban, Han-Seol?" suara Seol-Ah bergetar antara kemenangan dan luka yang mendalam.

"Lihat pedang ini. Dia mengakuiku saat kau membuangku seperti sampah."

Han-Seol tidak bergerak sedikit pun, meskipun ujung logam tajam itu menyentuh kulitnya. "Seol-Ah, maafkan aku... aku tidak bermaksud—"

Namun, kata-kata Han-Seol terputus. Cahaya biru di mata Seol-Ah mendadak padam. Pedang perak itu jatuh berdentang ke atas batu.

Tubuh Seol-Ah lunglai, kekuatannya terkuras habis dalam sekejap. Sebelum ia menghantam tanah, Han-Seol dengan sigap menangkapnya.

"Seol-Ah! Bangun!" Han-Seol panik. Ia menepuk pipi gadis itu, namun tidak ada respons.

Wajah Seol-Ah seputih kertas, bibirnya membiru karena kedinginan yang ekstrem. Han-Seol bisa merasakan betapa lemahnya detak jantung gadis itu—jiwanya seolah-olah sedang mencoba melepaskan diri dari raga yang sudah tidak mampu menampung ledakan energi tadi.

"Jangan mati... kumohon, sadarlah!" Han-Seol mendekap tubuh dingin itu erat-erat, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya sendiri.

Ia menyadari kesalahannya. Seol-Ah memaksakan mana melewati batas raga manusia biasa demi membuktikan diri padanya.

Tanpa membuang waktu, Han-Seol menggendong Seol-Ah di punggungnya. Ia berlari secepat kilat menembus kegelapan hutan.

"Tahan sebentar lagi, Seol-Ah. Kita akan ke Seojukwon."

Tujuannya jelas: Pusat Pengobatan Cheon-gi Won. Namun, ia tahu risikonya. Jika para tabib di sana melihat pendar sihir di dalam tubuh Seol-Ah yang tidak stabil, rahasia bahwa dia adalah seorang Hwanhon (Pemindah Jiwa) akan terbongkar.

Han-Seol terus berlari, air mata penyesalan mengalir di pipinya. "Jangan berani-berani mati sebelum kau benar-benar membalas dendam padaku, Guru."

****

Kelopak mata Seol-Ah bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka. Hal pertama yang menyerang indranya adalah aroma tajam tanaman herbal yang pahit dan wangi kayu cendana yang terbakar. Ia tersentak duduk di atas ranjang kayu, matanya yang tajam menyisir ruangan asing dengan pilar-pilar batu tinggi yang dingin. Seojukwon.

Di sudut ruangan yang temaram, Han-Seol duduk di kursi kayu dengan tangan menopang dagu. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia terjaga sepanjang malam hanya untuk menunggu detak jantung gadis itu kembali stabil.

"Kau sudah sadar?" suara Han-Seol terdengar berat, penuh kelegaan yang ia bungkus dengan nada datar.

Seol-Ah tidak menjawab. Ia merasakan aliran panas yang tipis namun nyata di nadinya. Ia merasa kuat. Ia merasa seperti Nara kembali. Dengan gerakan gesit yang penuh gaya, ia turun dari ranjang dan menyambar pedang peraknya yang tergeletak di meja.

Ia berdiri tegak di depan Han-Seol, dagunya terangkat tinggi dengan aura yang sangat mengintimidasi.

"Han-Seol, kau lihat ini?" Seol-Ah mengulas senyum kemenangan yang sangat sombong.

"Napas dunia kembali padaku. Raga ini akhirnya tunduk pada jiwaku. Sekarang, berlutut-lah. Aku akan menunjukkan padamu bagaimana seorang guru membuka paksa segel sampah yang dipasang ayahmu itu."

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!