Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Rahasia dan Pengakuan Tak Terduga
Pagi itu, suasana SMA Garuda terasa sedikit lebih mendung daripada biasanya—setidaknya bagi Ghea. Setelah kejadian "penyamaran gagal" kemarin, Ghea merasa seperti agen rahasia yang identitasnya sudah terbongkar, tapi masih harus tetap masuk kantor.
"Ghe, lo beneran naruh poin nomor empat di buku Arlan?" Juna bertanya dengan mata melotot sambil mengunyah roti sobek di kantin. "Lo gila ya? Itu kan barang privasi dia! Gimana kalau dia marah terus lo di-reboot jadi kalkulator?"
Ghea menyedot teh kotaknya sampai bunyi sret-sret. "Ya habisnya gue gemas, Jun. Isi bukunya sedih banget, kayak lirik lagu galau yang diputar di minimarket jam dua pagi. Gue cuma mau kasih dia semangat dikit."
"Terus rencana lo sekarang apa? Shinta kayaknya makin gencar tuh mau nge-spill foto-foto kalian ke grup sekolah," bisik Juna sambil celingukan.
Ghea tersenyum misterius. Senyum yang biasanya berarti ada ide gila di balik kepalanya. "Kita butuh serangan balik, Jun. Tapi bukan pakai fitnah, kita pakai... diplomasi seblak."
Sore itu, Ghea masuk ke ruang arsip dengan langkah yang lebih hati-hati. Dia tidak melihat Arlan di mejanya. Ruangan itu kosong, tapi laptop Arlan masih menyala. Ghea mendekat dan melihat layar laptopnya. Arlan sedang mengerjakan draf pidato untuk acara peresmian perpustakaan baru.
"Ar?" panggil Ghea pelan.
Tiba-tiba terdengar suara dari balik tumpukan kardus paling tinggi. Arlan muncul dengan wajah yang... berantakan. Rambutnya yang biasanya klimis sekarang acak-acakan, kacamata miring, dan ada noda debu di pipinya.
"Eh, Robot? Lo habis perang sama kecoak?" tanya Ghea kaget.
Arlan duduk di lantai, bersandar pada kardus. Dia menghela napas panjang. "Ghe, buku catatan gue... lo yang nemuin kan?"
Ghea langsung mematung. Waduh, ketahuan. "Anu... iya, Ar. Sori banget, kemarin jatuh pas lo lari. Gue nggak sengaja baca... dikit."
Arlan terdiam lama. Dia menatap langit-langit ruangan. "Lo beneran nulis poin nomor empat itu?"
Ghea ikut duduk di lantai, di samping Arlan. "Iya. Kenapa? Jelek ya tulisannya? Emang sih, nilai seni rupa gue juga hampir remedial."
Arlan terkekeh pelan. Benar-benar terkekeh, bukan cuma senyum tipis. "Lucu aja. Nggak ada yang pernah berani nyoret-nyoret barang gue, apalagi nambahin daftar hidup gue."
"Ya karena mereka takut sama lo, Ar. Mereka pikir lo itu makhluk dari planet lain yang kalau disentuh bakal ngeluarin setrum. Padahal lo cuma cowok yang butuh libur dan butuh martabak," kata Ghea santai.
"Bokap gue bakal marah besar kalau tahu gue masih di sini," bisik Arlan. Suaranya terdengar sangat rapuh. "Tadi pagi dia nanya, kenapa gue belum ngumpulin surat pengunduran diri dari OSIS. Gue bilang masih proses serah terima."
Ghea menatap Arlan dengan serius. "Ar, lo beneran mau berhenti?"
"Gue nggak tahu, Ghe. Di satu sisi, gue capek dengerin teriakan dia. Di sisi lain, gue merasa hidup di ruang berdebu ini jauh lebih nyaman daripada di rumah gue sendiri yang kinclong tapi dingin."
Ghea menarik napas dalam-dalam. "Gue punya rencana. Dan ini bakal butuh bantuan lo buat sedikit... akting."
"Akting apa lagi? Gue nggak mau nyamar jadi burung gereja lagi ya," protes Arlan.
"Bukan! Besok kan ada rapat pleno OSIS sama guru-guru. Shinta pasti bakal coba jatuhin lo di depan umum pakai isu kita di ruang arsip. Nah, daripada lo defensif, gimana kalau kita... attack balik pakai prestasi?"
Arlan mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Kita selesaikan arsip sepuluh tahun terakhir ini MALAM INI JUGA. Besok pas rapat, lo tunjukkin kalau progres yang gue dan lo lakuin itu luar biasa. Kalau Pak Broto dan Kepala Sekolah puas, bokap lo nggak akan punya alasan buat nyuruh lo mundur, karena lo dianggap 'aset paling berharga' sekolah."
Arlan menatap tumpukan kardus yang masih menggunung. "Selesai malam ini? Lo waras, Ghe? Ini ada ribuan kertas!"
"Gue bawa pasukan! Juna dan beberapa anak kelas kita yang berhutang budi karena gue sering kasih contekan (padahal jawaban gue salah semua) udah stand-by di parkiran. Kita bakal bikin Arsip Party!"
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah SMA Garuda, ruang arsip di lantai tiga menyala terang sampai jam sembilan malam. Ghea, Arlan, Juna, dan tiga teman lainnya bekerja seperti tim SAR.
Juna bertugas memilah kertas sambil sesekali stand-up comedy biar nggak ngantuk. Ghea bertugas memberi label, dan Arlan yang memasukkan data ke sistem digital.
"Woy, ini ada foto Pak Broto pas masih muda! Rambutnya kribo, coy!" seru Juna sambil menunjukkan sebuah foto usang.
Semua orang tertawa meledak, termasuk Arlan. Untuk pertama kalinya, Arlan tidak peduli soal efisiensi waktu. Dia menikmati setiap detik tawa yang ada di ruangan itu.
Di tengah kesibukan, Ghea mendekat ke arah Arlan yang sedang serius mengetik. "Gimana, Ar? Capek?"
Arlan menatap Ghea, keringat menetes di pelipisnya. "Capek. Tapi anehnya... gue nggak merasa sesak."
"Itu namanya hidup, Robot," Ghea menyodorkan satu botol air mineral. "Oya, soal Shinta. Lo nggak perlu khawatir. Gue udah denger kabar kalau dia mau bawa foto 'suap-suapan seblak' itu ke rapat besok."
Arlan menegang. "Terus?"
"Biarkan aja. Karena gue punya kejutan buat dia," Ghea mengedipkan sebelah matanya.
Keesokan harinya, ruang rapat guru penuh sesak. Shinta duduk di barisan depan dengan senyum sombong, memegang sebuah flashdisk yang dia pikir bakal jadi akhir dari karier Arlan dan keberadaan Ghea.
Kepala Sekolah membuka rapat. "Baik, agenda pertama adalah laporan progres administrasi OSIS. Arlan, silakan."
Arlan berdiri. Dia terlihat sangat tampan dengan seragam yang rapi, tapi kali ini ada aura kepercayaan diri yang berbeda. Dia mempresentasikan hasil kerja "lembur" mereka semalam. Semua guru terpukau melihat data yang begitu rapi dan terorganisir.
"Luar biasa, Arlan. Dalam waktu singkat, kamu dan asistenmu, Ghea, bisa membereskan arsip yang terbengkalai selama lima tahun," puji Pak Broto.
Tiba-tiba, Shinta mengangkat tangan. "Maaf Pak, saya punya interupsi. Saya rasa kinerja mereka harus dipertanyakan karena ada indikasi penyalahgunaan fasilitas ruang arsip untuk hal-hal yang tidak pantas."
Suasana rapat mendadak tegang. Shinta maju ke depan dan menyambungkan flashdisk-nya ke proyektor.
"Lihat ini, Pak. Ini adalah foto Arlan dan Ghea yang... sangat tidak edukatif di ruang arsip."
Layar proyektor menyala. Muncul foto Ghea yang sedang menyodorkan sendok seblak ke mulut Arlan. Seluruh ruangan hening.
Ghea berdiri dari kursinya di pojok ruangan. "Maaf Pak, boleh saya jelaskan?"
"Silakan, Ghea," ucap Kepala Sekolah.
"Foto itu diambil saat jam istirahat, saat Arlan sedang mengerjakan laporan akreditasi tanpa henti. Saya sebagai asisten hanya memastikan Ketua OSIS kita tidak pingsan karena kelaparan. Dan kalau Bapak perhatikan foto selanjutnya di folder itu..."
Ghea memberi kode pada Juna yang entah bagaimana sudah ada di operator komputer. Juna menekan tombol next.
Muncul foto-foto lain: foto Arlan, Ghea, Juna, dan teman-teman lain yang sedang bekerja keras membersihkan debu, menyusun kertas, sampai tertidur di lantai karena kelelahan semalam. Ada juga foto bukti nota pembelian alat-alat kebersihan yang mereka beli pakai uang saku sendiri.
"Kami tidak hanya makan seblak, Pak. Kami bekerja. Dan alasan kami menutup pintu adalah karena debu di sana sangat membahayakan kesehatan kalau menyebar ke koridor. Apakah makan seblak sambil menyelamatkan arsip negara—eh, arsip sekolah—adalah sebuah kejahatan?" tanya Ghea dengan nada paling dramatis sedunia.
Para guru mulai berbisik-bisik, tapi kali ini nadanya positif. Mereka justru terharu melihat dedikasi murid-muridnya.
"Shinta," ucap Kepala Sekolah tegas. "Saya rasa kamu terlalu berlebihan. Foto-foto ini justru menunjukkan kerja sama tim yang baik. Terima kasih Arlan, dan terutama Ghea, atas kerja keras kalian."
Shinta mematung di depan kelas. Wajahnya yang tadinya merah karena bangga sekarang merah karena malu luar biasa. Dia segera mencabut flashdisk-nya dan lari keluar ruangan.
Setelah rapat selesai, Arlan menunggu Ghea di depan ruang rapat. Saat Ghea keluar, Arlan langsung menariknya ke pojokan koridor yang sepi.
"Ghe," panggil Arlan.
"Gimana? Keren kan akting gue tadi?" Ghea nyengir bangga.
Tanpa diduga, Arlan mengacak-acak rambut Ghea pelan. "Lo bukan cuma asisten yang memalukan, Ghe. Lo itu asisten paling ajaib yang pernah gue punya."
Ghea membeku. "Eh... rambut gue jangan diacak-acak! Ini tadi udah gue sisir pakai penggaris!"
Arlan tertawa lepas. "Gue baru dapet SMS dari bokap. Katanya Pak Kepsek telepon dia dan puji-puji kinerja gue. Bokap bilang... dia bangga. Dan dia izinin gue lanjut di ruang arsip sampai akreditasi selesai."
Ghea ikut senang, tapi ada sedikit rasa sesak yang tiba-tiba muncul. "Berarti... kalau akreditasi selesai, tugas gue selesai juga?"
Arlan menatap Ghea dalam-dalam. "Tugas asisten mungkin selesai. Tapi daftar di buku catatan gue tadi... masih banyak poin yang harus kita tambahin bareng-bareng."
Ghea merasakan pipinya memanas. "Dasar Robot Gombal! Udah ah, gue mau ke kantin, mau makan bakso sepuasnya karena menang lawan Shinta!"
"Gue ikut," kata Arlan singkat.
"Eh? Lo nggak ada rapat lagi?"
"Nggak ada. Hari ini gue mau jadi manusia biasa yang makan bakso bareng temennya yang paling berisik."
Mereka berdua berjalan menuju kantin, meninggalkan drama ruang rapat dan bayang-bayang Ayah Arlan. Tapi di kejauhan, Shinta sedang menelepon seseorang dengan air mata di pipinya. "Halo, Tante? Iya, ini Shinta. Aku mau kasih tahu soal Arlan..."
Konflik baru sedang mengintai dari sisi keluarga yang lain.