NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIKUS KECIL

Farid mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Langkahnya mondar-mandir di ruang tamu rumah sang ibu sejak sore tadi.

Ia sudah bersiap dengan rencana berpura-pura jual mahal, menunggu Maira datang untuk membujuknya pulang. Tapi hingga jarum jam menunjuk pukul sembilan malam, sosok istrinya tak juga muncul.

Ia menoleh ke arah pintu, lalu ke ponselnya yang sunyi tanpa notifikasi. Matanya berkedip cemas.

“Apa Maira nggak datang ya, Rid? Atau dia masih di restorannya?" Tanya Bu Neni yang baru saja keluar dari kamarnya dan langsung duduk di sofa.

Desahan kasar terdengar dari arah Farid. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa. “Nggak tahu aku, Bu. Biasanya sore paling lambat dia datang. Tapi ini udah malam… kok nggak ada tanda-tandanya ya?.”

Tangannya kembali memainkan ponsel, berharap ada pesan yang terlambat masuk. Tapi tetap kosong.

Saat itu juga ketukan dari arah pintu terdengar pelan.

Farid dan Bu Neni saling pandang. Bu Neni tersenyum percaya diri, “Nah, itu pasti dia!”

Ia berdiri, melangkah ke arah pintu sambil berseru sinis, “Begini jadinya punya menantu sok wanita karier. Baru jam segini pulang, sementara suaminya entah ke mana dan tak pernah diurus!"

Namun begitu pintu terbuka, senyumnya langsung menipis. Yang muncul bukan Maira melainkan Vina.

“Eh, Vina…” Ucap Bu Neni, sedikit kikuk, tapi berusaha menutupinya. “Ibu kira tadi… Maira.”

Farid langsung berdiri, wajahnya berubah kaku. Ia tak menyangka yang datang justru Vina bukan istri yang sudah ditunggunya seharian. Dan entah kenapa, justru rasa kecewa yang pertama kali menghantam dadanya.

Vina tersenyum ringan. “Maaf ganggu malam-malam, Bu. Mau numpang mandi di sini lagi, boleh tidak Bu? Air di rumah mati lagi soalnya."

“Ya, nggak apa-apa…” Jawab Bu Neni pelan, tapi sorot matanya melirik Farid sekilas—mencoba membaca perubahan ekspresi anaknya. Dan Farid sendiri hanya membalas dengan senyum kaku, sedikit bingung sekaligus canggung.

Beberapa saat kemudian, saat suara air dari kamar mandi mulai terdengar, Bu Neni duduk di sebelah Farid di ruang tengah.

Ia menyesap pelan teh yang baru saja dibuatnya sebelum membuka suara. “Rid… menurut kamu, Vina itu gimana orangnya?”

Pandangan Farid yang semula menatap ke arah layar ponselnya, segera beralih ke ibunya. “Hah? Maksud Ibu?”

“Ya menurut kamu, anaknya gimana?” Ulang Bu Neni sambil menatap wajah anaknya lekat-lekat.

Farid menarik napas pendek, sedikit canggung. “Baik, Bu. Orangnya sopan…”

“Cantik, nggak?”

Pertanyaan itu membuat Farid refleks menoleh. Bola matanya membulat. “Bu, jangan ngawur!”

“Ibu nggak ngawur, Ibu serius nanya." Sahut Bu Neni santai, bahkan tersenyum kecil. “Kamu lihat sendiri kan, Maira semakin hari semakin tidak bisa di atur. Udah gitu, sampai sekarang belum juga ngasih anak ke kamu. Apa kamu nggak pernah kepikiran untuk menikah lagi?” Ucapnya tiba-tiba.

Helaan nafas Farid terdengar. “Bu… jangan bicara seperti itu. Maira kemarin sudah ke dokter, dan hasil pemeriksaan tak ada masalah hanya disuruh istirahat dan jangan terlalu kecapekan…”

“Alah!” Potong Bu Neni cepat. “Itu pasti cuma alesan, dia pasti udah bohongin kamu. Bisa jadi dia yang bermasalah, makanya nggak bisa hamil! Ibu tuh pengen punya cucu dari kamu, Rid.”

Farid tak langsung menjawab, pikirannya mulai kacau. Ucapan ibunya barusan,meskipun terdengar tidak pantas namun entah mengapa menimbulkan ganjalan dalam hatinya.

Ada sesuatu yang bergerak perlahan di dalam pikirannya, yang tak seharusnya ia pikirkan… tapi kini mulai menyusup diam-diam.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, Vina yang baru saja selesai mandi dan berdiri di balik tembok dapur mendengar jelas semua percakapan antara Farid dan Bu Neni.

Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya. Ada harapan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya… kini terasa mungkin.

Jika Bu Neni sendiri yang membuka jalan, maka ia hanya tinggal melangkah sedikit lebih berani.

Setelah dua malam menunggu Maira datang menyusul, menunggu pesan atau sekadar panggilan singkat, Farid akhirnya kembali ke rumahnya seorang diri sepulang kantor. Langkahnya terasa berat, bukan karena lelah tapi karena hatinya masih dipenuhi tanda tanya.

Biasanya… kalau mereka bertengkar, Maira akan datang ke rumah ibunya dan membujuknya untuk pulang tapi kini berbeda.

Dua malam, Maira tak mencarinya. Tak ada basa-basi menanyakan di mana ia berada dan tak menuntutnya pulang seperti biasanya.

Di balik rasa kesal dan gengsi, Farid diam-diam menunggu. Tapi karena yang ditunggu tak kunjung datang, justru ibunya yang memberi saran: “Ambil saja uangnya diam-diam. Toh kamu juga suaminya, uang istri ya uang suami juga.”

Awalnya Farid ragu, tapi pikirannya mulai goyah. Ia teringat saat Maira memasukkan tumpukan uang ke dalam brankas kecil mereka usai menerima tebusan dari Dini.

Dengan langkah hati-hati, ia masuk ke kamar. Langsung menuju meja rias tempat brankas kecil biasa disimpan. Namun saat membungkuk, matanya menangkap sesuatu—selembar kertas tergeletak setengah tersembunyi di bawah tempat tidur.

Alis Farid mengernyit. Ia mengambilnya perlahan, membacanya… dan hatinya tercekat.

Surat keterangan hasil pemeriksaan Maira itu kini tergenggam erat di tangan Farid. Ucapan ibunya semalam kembali terngiang di kepalanya—‘Maira itu pasti ada masalah, makanya susah hamil.

Dan kini Farid mulai percaya.

Ia menggenggam kertas itu erat, lalu melipatnya kembali dan memasukkannya ke dalam saku celana. Napasnya berat, tapi ia tak melupakan niatnya yang sebelumnya. Tangannya mulai memutar angka-angka yang dulu pernah mereka sepakati bersama.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Gagal.

Farid mengumpat pelan. “Apa Maira udah ganti passwordnya ya?”

Tangannya kembali mencoba angka lain, namun tetap gagal. Keningnya mulai berkeringat. Ia merunduk, hendak mencobanya sekali lagi, saat tiba-tiba sebuah suara dari belakang menyentaknya:

“Kamu ngapain, Mas?”

Sontak Farid tersentak, berdiri terburu-buru dan membalikkan tubuh. Di ambang pintu, Maira berdiri dengan mata tajam menusuk. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menuntut jawaban.

Farid tergagap, mencoba mencari kata. Tapi lidahnya kelu. Ia tak menyangka Maira akan pulang di saat seperti ini.

“Ka… kamu udah pulang?” Tanyanya gugup, seolah tertangkap basah.

Maira tidak langsung menjawab. Alisnya sedikit mengernyit. Ia memandangi Farid yang berdiri di depan brankas kecil, jelas terlihat gelagapan.

“Kamu mau buka brankas itu?” Tanyanya langsung, nadanya datar tapi menohok.

“I… iya. Kamu udah ganti password-nya, Maira?” Farid berusaha terdengar tenang, meski suaranya terdengar patah-patah.

Kedua tangan Maira bersedekap di depan dada. “Iya. Takut ada tikus kecil yang suka ngambil uang diam-diam." Jawabnya ringan namun sarat sindiran.

Farid menelan ludah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Maira melangkah masuk, tubuhnya tegak. Ia tidak meladeni lebih jauh, hanya berjalan menuju nakas kecil di samping ranjang dan membuka laci.

“Aku cuma mau ambil handphone." Ucapnya singkat, lalu membalikkan badan. “Aku pergi dulu, Mas.”

Langkahnya sudah hampir mencapai pintu, tapi suara Farid kembali menghentikannya. “Maira! Tunggu!”

Maira menoleh setengah, tak sepenuhnya membalikkan tubuh. “Apa lagi?”

“Password-nya apa?” Tanya Farid, berharap masih punya sedikit kuasa atas kepercayaan yang pernah ia miliki.

Maira tersenyum tipis, sinis. “Cukup aku yang tahu, Mas.”

Langkahnya kembali melanjut. Namun sekali lagi Farid bersuara, kali ini nadanya lebih keras, lebih butuh jawaban.

“Maira! Kenapa kamu nggak nyusul Mas ke rumah Ibu? Kamu biasanya… selalu datang!”

Maira berhenti, diam sejenak. Lalu menghela napas perlahan, dalam. “Aku sibuk." Jawabnya pelan tanpa menoleh.

Tanpa menunggu reaksi, ia melangkah keluar dan membanting pintu pelan tapi tegas. Suara mesin mobil beberapa detik kemudian terdengar, menandakan jika mobil Maira sudah menjauh dari rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!