cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
konflik
Setelah sampai di kost dan memasuki ruang makan yang sudah sedikit ramai, Rohita langsung mengambil piring dan menuangkan makanan yang ada di meja saji. Dia duduk di sudut paling jauh, mencoba menyembunyikan wajahnya yang masih tampak lesu. Tangan nya hanya mengaduk-aduk makanan di piring tanpa benar-benar mau memakannya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang akrab membuatnya sedikit terkejut. Devi dan Dewi berjalan dengan ceria menuju mejanya, membawa piring masing-masing.
“Kok kamu makan sendirian di sini, Roh?” ujar Dewi dengan senyum lebar, lalu langsung duduk di sebelahnya. Devi mengangguk dan duduk di sisi lain.
Rohita hanya mengangguk pelan, tidak berani melihat wajah kedua temannya. Dia khawatir mereka akan melihat bagaimana kondisinya setelah malam sebelumnya.
“Kita sudah cari kamu tadi pagi lho! Mau ajak kamu belanja sama-sama,” ujar Devi dengan nada khawatir. “Kamu kok terlihat tidak enak badan ya? Wajahmu pucat banget.”
Rohita menggeleng perlahan. “Gak apa-apa, cuma kurang tidur aja.”
Namun Dewi tidak mudah tertipu. Dia meraih tangan Rohita yang ada di atas meja. “Jangan bohong dong, kita kan temen baik. Ada apa ya? Kamu kan biasanya selalu ceria dan suka ngomong banyak.”
Rasa sakit yang sudah mulai mereda kembali muncul di dada Rohita. Bibirnya sedikit bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca lagi. Tanpa bisa menahan diri, dia mulai menceritakan semua yang dilihatnya malam sebelumnya—dari mengikuti Arga sampai melihatnya bersama wanita itu di taman.
Kedua temannya mendengarkan dengan penuh perhatian, ekspresi wajah mereka berubah dari khawatir menjadi marah. “Itu sungguh tidak baik dari Arga! Padahal baru saja mulai menunjukkan perhatian sama kamu,” ujar Devi dengan nada kesal.
“Tapi mungkin kamu salah paham saja, Roh?” ujar Dewi dengan suara lebih lembut. “Arga bukan orang sembarangan kok. Mungkin ada alasan tertentu dia ada di situ sama wanita itu.”
Rohita menggeleng lagi. “Saya lihat sendiri, Dewi. Mereka hampir mencium dan saling menyentuh. Bukankah itu sudah jelas?”
Setelah makan dan membersihkan meja bersama, mereka berjalan ke kamar Dewi yang lebih luas. Tanpa perlu banyak kata, mereka menggulung kasur di lantai, menyebarkan selimut hangat, dan berbaring bergandengan pelukan. Rohita berada di tengah, dengan Devi di sebelah kanan dan Dewi di sebelah kiri.
"Kamu tahu nggak, Roh," ujar Dewi sambil mengelus-elus rambut teman itu, "kita selalu ada untukmu. Tidak peduli apa yang terjadi, kita kan keluarga kecil di kost ini." Devi mengangguk dan menambahkan, "Betul! Kalau Arga benar-benar salah, kita akan membela kamu. Tapi kalau memang ada kesalahpahaman, kita juga bisa bantu kamu berbicara dengannya dengan tenang."
Rohita merespons dengan erat menggenggam tangan kedua temannya. Air mata yang sudah mulai surut kembali mengalir perlahan, tapi kali ini bukan karena kesedihan semata—melainkan karena rasa syukur memiliki teman seperti mereka. Tak lama kemudian, kelelahan datang menghampiri mereka bertiga, dan mereka tertidur nyenyak dalam pelukan hangat satu sama lain.
Esok paginya, sinar matahari yang lembut menerobos celah tirai jendela kamar Dewi. Rohita terbangun terlebih dahulu, melihat wajah Devi dan Dewi yang masih tertidur dengan damai di sisinya. Perasaan hangat masih menyelimuti hatinya, meskipun pikirannya terkadang masih terbang ke arah Arga.
Setelah bergegas bersiap dan sarapan cepat, ketiganya memutuskan untuk pergi ke pantai seperti yang direncanakan Rohita kemarin. Mereka naik ojek bersama, dan suasana di jalan cukup ceria dengan candaan Dewi yang berusaha membuat Rohita lebih rileks.
Saat tiba di pantai, pasir putih dan ombak yang menggulung menyambut mereka. Mereka berjalan menyusuri bibir pantai, menikmati hembusan angin laut yang segar. Tak lama kemudian, Rohita melihat sosok lelaki yang sedang berdiri di dekat dermaga kecil—Arga, dengan seikat bunga mawar merah di tangannya yang terlihat sangat mencolok.
Arga segera mendekat ketika melihat mereka, wajahnya penuh dengan harapan. Dia berdiri tepat di depan Rohita, mengulurkan tangan yang membawa bunga. "Rohita... ini untukmu. Aku sudah mencari kamu sejak pagi.Rohita, aku suka kamu. Mau tidak kamu pergi kencan denganku?"
Sebelum Rohita bisa memberikan jawaban, Devi yang sudah tidak tahan melangkah ke depan dengan wajah kemerahan karena kesal. "Sudah cukup, Arga! Kamu membuat Rohita menangis semalaman karena apa yang dilihatnya "seru Devi dengan nada tinggi, membuat beberapa pengunjung di sekitar mereka menoleh.
Tanpa memberi kesempatan Arga untuk menjawab, Devi terus melanjutkan, "Kamu mungkin punya alasan, tapi kamu tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Rohita kan? Sekarang kamu datang dengan bunga dan mengajak kencan seperti tidak ada apa-apa? Tidak bisa begitu saja!"
Arga yang merasa tertekan dan sedikit malu hanya bisa menunduk, menggenggam bunga mawar dengan erat. Dia melihat Rohita yang tampak bingung dan tidak bisa berkata apa-apa, lalu menghela napas dalam-dalam. "Baiklah... maafkan aku mengganggumu, Rohita. Aku akan pergi dulu dan memberi kamu waktu untuk berpikir. Aku akan menunggu jawabanmu kapan saja," ucapnya dengan suara pelan sebelum berbalik dan pergi meninggalkan pantai.
Dewi segera menarik tangan Devi dan Rohita ke sisi lain, sambil menoleh melihat Arga yang semakin jauh. "Devi, kamu terlalu keras padanya lho," ujar Dewi dengan nada khawatir. Namun Devi hanya menggeleng, "Aku hanya ingin membela Rohita!"
Rohita hanya berdiri diam, masih menatap arah tempat Arga pergi, dengan tangannya yang masih menggenggam bunga mawar.
Dewi mengelus pundaknya dengan lembut. "Yuk, kita lupakan dulu ya, Roh. Aku tahu ada penjual es krim enak di dekat sini—rasanya dingin dan manis pasti bikin hatimu lebih ringan!"
Devi yang tadinya masih menunjukkan wajah kesal, perlahan melembut dan mengangguk menyetujui. "Iya dong, kita sudah jauh-jauh datang ke pantai, kan harus nikmati aja. Es krimnya ada rasa coklat yang super lezat lho!"
Tanpa menunggu jawaban, Dewi menarik tangan Rohita dan Devi berjalan menuju arah penjual es krim yang terletak di pinggir jalan raya dekat pantai. Mereka duduk di bangku kecil yang ada di sana, masing-masing memilih rasa favorit mereka—Rohita mengambil rasa stroberi, Dewi memilih vanila dengan topping coklat, dan Devi mengambil rasa coklat murni.
Saat mereka menikmati es krim yang dingin dan menyegarkan, Dewi mulai bercerita tentang kejadian lucu saat dia dan Devi salah jalan waktu mau pergi ke pasar kemarin. Ceritanya membuat Devi tertawa terbahak-bahak, dan perlahan-lahan senyum juga muncul di wajah Rohita.
"Kamu tahu nggak Roh," ujar Devi dengan suara lebih lembut, "aku memang terlalu kasar sama Arga tadi. Tapi aku cuma nggak tega lihat kamu menangis karena dia. Kalau kamu benar-benar punya perasaan sama dia, kamu harus bicara langsung dengannya ya. Jangan sampe kesalahpahaman lagi membuat kamu sedih."
Rohita mengangguk pelan sambil menggigit es krimnya. Dia melihat bunga mawar yang masih dia pegang, lalu menatap ke arah laut yang mulai berubah warna karena matahari yang perlahan mulai bergeser ke barat.
Setelah es krim habis dan mereka sudah merasa cukup rileks, mereka memutuskan untuk pulang. Matahari sudah mulai merona di ufuk barat, memberikan warna jingga yang indah pada langit dan permukaan air laut. Mereka lalu kembali ke kost dengan suasana yang jauh lebih hangat