Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 7
📍 Rumah Sakit Delfi- aula utama
Besoknya, Lyra dan beberapa mahasiswa/anak magang dari Raven Medika diundang menghadiri rapat besar. Undangan ini bikin dia agak kaget, karena biasanya forum semacam ini hanya dihadiri para dokter senior dan ilmuwan elit. Tapi karena Ratchet salah satu tokoh kunci, otomatis Lyra ikut serta.
Begitu masuk, aula penuh cahaya lampu putih, dengan meja panjang berbentuk oval. Di kursi-kursi depan, para nama besar sudah duduk rapi.
✨ Daftar tokoh penting yang hadir:
Pharma → Ketua rapat, kepala rumah sakit Delfi. Gayanya arogan, tapi pas Lyra masuk langsung melirik lebih lama daripada yang seharusnya.
Ratchet → Senior keras kepala, mewakili Raven Medika.
Kenzo → Dokter muda lain, dikenal supel tapi ambisius.
Loen Watson & Iva Resna → duduk agak belakang, sibuk nyatet dan ngeliatin atasannya.
Aidil Revta → ikut dari pihak Raven Medika, mukanya tegang banget.
Revan (Trevania Candra) → Senator medis, duduk sejajar dengan Pharma tapi auranya jauh lebih berwibawa.
Sho Wayne → Senator ilmuwan medis. Tatapannya kosong, kaku, seakan meneliti semua orang di ruangan sebagai subjek eksperimen. Emotionless.
Aira Arania → Ilmuwan spesialis riset eksperimental. Aura licik, sering senyum samar kayak nyimpan rencana sendiri.
Ceptor Rakha→ Ilmuwan muda yang juga dokter. Umurnya nggak jauh dari Lyra, kelihatan kalem dan serius, tapi matanya nyorot penuh rasa ingin tahu.
Velorie Resta → Dokter 1 yang energik, ramah, dan punya reputasi “berlari” cepat saat tangani pasien emergensi.
---
📖 Jalannya rapat
Pharma membuka dengan gaya flamboyan, menjelaskan proyek baru di Delfi Hospital yang akan menghubungkan jaringan antara rumah sakit besar dengan Raven Medika sebagai akademi kedokteran. Semua orang menyimak serius, kecuali Veronica yang jelas-jelas lebih fokus ngelihatin Pharma.
Sho Wayne akhirnya buka suara:
“Koneksi akademik dan rumah sakit besar berisiko. Data pasien bukan sekadar angka. Jika salah kelola, kalian hanya akan menciptakan kekacauan administratif dan medis.”
Suara dinginnya bikin beberapa orang merinding.
Aira menyahut dengan senyum samar:
“Tapi bukankah kita juga butuh uji coba nyata? Dunia medis tidak berkembang tanpa keberanian. Atau… kalian semua terlalu takut?”
Ruangan sempat tegang. Ratchet langsung ngegebrak meja:
“Kami bukan ilmuwan yang hanya lihat angka. Di sini ada nyawa manusia!”
Ceptor Rakha yang duduk nggak jauh dari Lyra, ikut bersuara, lebih tenang tapi menohok:
“Sebenarnya integrasi penelitian dan praktek klinis memang penting. Tapi… harus ada keseimbangan. Kalau hanya mementingkan efisiensi tanpa etika, kita yang hancur duluan.”
Tatapannya sempat melirik Lyra, seakan menguji reaksi gadis itu.
Velorie, si dokter muda yang ceria, berusaha mencairkan suasana:
“Intinya… kalau proyek ini jalan, kita semua harus kerja sama, kan? Baik senior maupun junior. Aku yakin ada banyak dokter muda yang bisa buktikan kemampuan mereka.”
Kalimat itu bikin mata beberapa orang otomatis mengarah ke Lyra gadis muda yang semalam sudah terbukti mampu nolong korban kecelakaan.
---
📍 Suasana ke Lyra
Saat jeda rapat, Lyra mendadak dikerubungi beberapa orang:
Velorie ngajak ngobrol dengan ramah, nanya-nanya soal magang Lyra.
Ceptor diam-diam muncul, bantuin Lyra ngumpulin berkas yang jatuh dari map, lalu kasih senyum kecil, agak kaku tapi tulus.
Revan nggak ngomong banyak, tapi berdiri di dekat Lyra kayak bodyguard tak resmi, tatapannya jelas: jangan ada yang macam-macam sama dia.
Pharma keliatan nggak suka, pandangannya gelap, terutama waktu Ceptor dan Revan terlalu deket.
Lyra jadi pusat perhatian tanpa dia rencanakan. Veronica? Udah mulai panas dingin lagi, jelas nggak terima kalau spotlight pindah ke Lyra.
---
Rapat udah bubar. Para dokter besar mulai berhamburan keluar dari ruang konferensi Delfi Central, suara hak sepatu dan bunyi berkas yang ditutup jadi musik penutup sore itu. Lampu-lampu di langit-langit mulai diredupkan, menyisakan suasana setengah senja di ruangan besar yang kini hampir kosong.
Pharma baru aja keluar, jas putihnya masih rapi banget—kayak selalu sengaja tampil sempurna, padahal matanya kelihatan cape. Di tangan kirinya ada berkas hasil laporan, di tangan kanan… ya, gelas kopi yang udah dingin.
> “Pharma.”
Suara datar, tenang, tapi berat.
Langkahnya berhenti. Ia menoleh—dan mendapati Sho Wayne, berdiri di ambang pintu samping. Dingin, tegak, ekspresi seolah lagi mengukur denyut nadi dunia.
Pharma menaikkan sebelah alisnya.
> “Profesor Sho. Tumben, anda yang nyapa duluan.”
Sho jalan mendekat, langkahnya pelan tapi mantap. Nggak banyak ekspresi, tapi sorot matanya tuh… kayak laser scanner ngamatin sampai ke dalam.
> “Kita perlu bicara. Empat mata.”
Pharma diem sebentar, lalu narik sudut bibirnya sedikit.
> “Tentang pasien, atau… eksperimen?”
> “Tentang keduanya.”
Seketika suasana di koridor itu beku. Para staf lewat buru-buru, ngerasa hawa tegang yang susah dijelasin.
Pharma akhirnya ngedumel pelan, tapi tetap ngikut.
> “Baiklah. Awas aja kalo ini tentang proyek lama yang udah aku tolak.”
Sho nggak jawab. Cuma melirik sekilas, matanya refleks menatap layar kecil di tangan,seolah lagi baca data yang cuma dia sendiri ngerti.
Mereka berdua kemudian masuk ke ruang kaca di pojok, ruangan rapat kecil dengan lampu putih redup dan jendela tinggi yang ngarah ke taman belakang rumah sakit. Pintu tertutup klik pelan.
---
Ruangan kaca itu sunyi banget. Hanya ada suara pendingin ruangan dan detak jam digital di dinding. Lampu putih redup memantulkan siluet dua sosok itu di permukaan kaca
Pharma yang nyender santai di meja, dan Sho yang masih berdiri tegak, tangannya terlipat di belakang.
Pharma nyeruput sisa kopinya.
> “Jadi?” katanya datar. “Kau bilang mau bicara empat mata, aku udah nyempetin waktu. Sekarang katakan,apa yang sebenarnya kau mau, Sho.”
Sho menatapnya lama, tanpa kedip. Cahaya layar datapad nya mantul di kacamata hitam tipis yang dia pakai.
> “Ada pihak yang meminta untuk bertemu denganmu. Secara pribadi.”
Pharma menaikkan alisnya.
> “Pihak…?”
> “Mereka menyebut diri sebagai organisasi.”
Udara di ruangan itu seketika terasa berubah.
Pharma menurunkan gelasnya pelan, tatapannya mulai tajam.
> “Organisasi?” ulangnya, suaranya turun satu oktaf. “Nama yang terlalu generik buat sesuatu yang biasanya berbahaya.”
Sho masih tetap dengan nada tenangnya.
> “Mereka tahu siapa kau. Dan apa yang pernah kau lakukan di bawah proyek Delphi Genesis.”
Pharma langsung ngerasain tekanan darahnya naik sedikit. Ia berdiri lurus, wajahnya mulai kehilangan ekspresi santainya.
> “Aku udah nutup proyek itu bertahun-tahun lalu. Semua file dikunci di bawah izin Ratchet dan dewan medis. Kalau mereka bisa tahu, berarti ada yang bocorin.”
Sho tidak bereaksi.
> “Mungkin begitu,” ujarnya pelan. “Tapi mereka tidak datang dengan ancaman. Mereka datang dengan… tawaran.”
> “Tawaran?” Pharma menyipitkan mata. “Tawaran seperti apa yang butuh utusan sekaku kau buat nyampein?”
Sho menatap balik, kali ini lebih lama, suaranya hampir seperti bisikan logam.
> “Mereka ingin pengetahuanmu, Pharma. Tentang rekonstruksi neural biologis tentang bagaimana seseorang bisa hidup lagi setelah kematian otak klinis.”
Pharma langsung diam. Pandangannya membeku.
Seketika, kilasan wajah Lyra jatuh dari lantai dua puluh, tubuhnya di bawah cahaya lampu malam—melintas di kepalanya.
> “…kenapa sekarang?” gumamnya pelan.
“Karena subjek mereka,” jawab Sho dingin, “baru saja kembali hidup.”
Pharma perlahan memalingkan wajahnya ke jendela, matanya redup tapi berputar cepat. Ia udah tahu: ini bukan sekadar tawaran. Ini ancaman halus yang dibungkus formalitas ilmiah.
Sho menambahkan kalimat terakhir sebelum keluar, suaranya datar tapi menghantam:
Apartemen casa domain 1- lantai 47 - malam
> “Kalau aku jadi kau, aku akan datang. Mereka nggak suka
Langit Jakarta kelabu, hujan deras nyapu kaca jendela tinggi. Gedung gedung di luar cuma jadi bayangan buram di balik genangan cahaya lampu jalan.
Di dalam, Pharma berdiri di depan jendela besar itu, masih pakai kemeja rapih dari rapat tadi. Kancing atas kebuka, dasi menggantung asal di leher.
Tangannya pegang gelas berisi sisa whiskey dingin.
Di meja, datapad-nya masih nyalapesan terenkripsi dari Sho masih nongol di layar:
> “Pertemuan. Lokasi akan dikirim setelah kau setuju.”
Pharma mendengus pelan.
> “Pertemuan, ya…”
Dia nyender di kursi, menatap langit-langit. Hujan makin deras, bunyinya seperti beradu dengan pikiran di kepalanya sendiri.
Di sudut ruangan, meja kerja penuh dengan file medis dan skema anatomi digital manusia. Salah satunya terbuka judulnya:
> ‘Delphi Genesis – Phase 03: Neural Reconstruction Post-Death.’
Pharma menatap file itu. Tangannya gemetar tipis.
> “Aku udah ngubur semua ini…” gumamnya. “Semua hasil, semua subjek, semua… dosa.”
Dia ngerasa suara hujan makin nyaring. Seolah ngetawain.
> “Dan sekarang, mereka nyari aku lagi. Karena seseorang bisa hidup setelah mati?”
Dia ngerogoh saku, ngeluarin satu foto lama kertas yang udah mulai kusut.
Foto itu isinya dirinya sama Lyra di upacara kelulusan magang.
Lyra senyum canggung, Pharma waktu itu malah ngelirik ke arah lain tapi jelas kelihatan matanya lembut.
> “Jangan sampe kau kejebak di kegelapan yang sama, Lyra…” katanya pelan.
Dia narik napas dalam, nyalain rokok, dan buang asap ke arah jendela berembun.
> “Tapi kalau mereka nyentuh dia—”
Nada suaranya berubah, lebih berat, lebih dingin.
“—aku bakal dateng. Dan bukan buat negosiasi.”
Pharma bangkit, langkahnya tenang tapi jelas penuh tekad. Dia matiin datapad nya, tapi sebelum lampu layar padam, jarinya sempat ngeklik tombol ACCEPT.
Pesan terakhir di layar muncul sebentar sebelum menghilang:
> “Koordinat dikirim. Bawa tidak lebih dari satu jam. Kami menunggu.”
Pharma mandangin bayangan dirinya di kaca.
Hujan masih jatuh, tapi di matanya ada refleksi api kecil dari rokok.
> “Game’s back on,” gumamnya. “Dan aku nggak akan kalah lagi.”