Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ijin
Selama perjalanan pulang Maura hanya diam melihat ke arah jalanan dan Radit fokus pada kemudi nya. Sesekali Maura mengarahkan Radit arah menuju rumah orang tuanya. Sesampainya di depan rumah Maura dan Radit melihat Pak Budi dan Bu Tias tengah mengunci warung nya.
"Itu..."
"Itu Ayah sama Ibu aku. Mereka berjualan Bakmi." Ucap Maura memotong ucapan Radit.
Kemudian tanpa aba-aba Radit keluar dari mobil yang membuat Maura mengernyitkan dahi nya heran.
"Selamat malam Om Tante.. Perkenalkan saya Radit." Ucap Radit segera menyapa orang tua Maura yang tampak heran melihatnya datang.
"Selamat malam." Jawab Pak Budi dan Bu Tias bersamaan.
Melihat kedua orang tuanya bingung Maura pun segera menjelaskan siapa Radit. Kemudian Pak Budi meminta Radit untuk singgah sejenak sebagai tanda terima kasih karena telah mengantarkan putrinya pulang. Pak Budi meminta Maura untuk membuatkan kopi untuk Radit dan Maura menurutinya.
"Kak,, siapa?" Tanya Maulida saat melihat sang Kakak memasuki rumah.
"Cucu nya Oma Mia." Jawab Maura.
"Ish keren Kak. Kalo yang ini Lida setuju." Maulida.
"Jangan ngada-ngada kamu. Udah ah kakak mau buat kopi." Maura.
"Iih,, sayang untuk di lewatkan Kak yang ini sih.." Maulida.
"Ngga Da, dia bos kakak di kantor." Maura.
"Apa? Jadi, kalo gitu Oma Mia?" Tanya Maulida.
"Yaah,, Kakak juga baru tau tadi dan kakak malu banget Da. Kakak ampe pingsan di depan mereka saking kagetnya." Keluh Maura.
"Eh,, tapi jangan khawatir. Lida melihat mereka bukan seperti yang dulu. Mereka lebih high kualiti." Maulida.
"Tau ah..." Kilah Maura kembali berjalan menuju dapur.
"Kali ini pake perasaan kakak ya. Lida rasa mereka baik. Terbukti dari Oma Mia yang selalu ingat kakak bahkan tak memandang siapa kakak. Cucu nya saja yang notabene bos kakak mau repot-repot antar kakak bahkan turun menyapa Ayah sama Ibu." Jelas Maulida seraya menemani sang Kakak menyiapkan kopi.
Sementara di luar Pak Budi, Bu Tias dan Radit berbincang-bincang.
"Maaf Om tante sebelumnya jika saya sedikit lancang. Saya meminta ijin untuk dekat dengan putri Om. Walau akan sedikit sulit tapi saya akan berjuang Om Tante." Ijin Radit.
"Nak Radit. Bukan kami tidak memberi ijin, asal nak Radit tau jika Lala sudah pernah menikah sebelumnya dan pernikahannya terdahulu menorehkan sedikit bahkan mungkin banyak trauma bagi Lala." Pak Budi.
"Saya tau Om. Karena itu saya ingin menghapus masa lalu buruk nya dan menciptakan masa indah kedepannya. Saya tidak akan berjanji Om, tapi saya akan berusaha. Jika Om dan Tante mengijinkan maka saya akan berjuang untuk Lala. Saya mengenal Lala sebelum pertemuan kami tadi bersama Oma." Radit.
"Maksudnya?" Ibu Tias.
"Lala dan saya bekerja di perusahaan yang sama Tante. Dan jujur saya sempat terkejut saat Lala datang ke rumah karena beberapa waktu terakhir saya memang selalu mencuri perhatian Lala hanya saja Lala begitu menutup rapat pintunya. Dan saya semakin di buat terkejut ketika ternyata perempuan yang selalu Oma banggakan adalah Lala. Dan saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih dekat lagi dengan Lala." Jelas Radit panjang lebar.
"Lalu orang tua nak Radit?" Pak Budi.
"Mereka sangat menyukai Lala Om. Bahkan Ayah dan Bunda meminta Lala memanggilnya Ayah dan Bunda juga sama seperti saya memanggil mereka." Radit.
"Apa kamu tau jika Lala berpisah karena Lala tidak..." Ucapan Pak Budi menggantung karena merasa nyeri di dadanya ketika mengingat tuduhan keluarga Priawan pada putrinya.
"Saya tau itu tidak benar Om. Om jangan khawatir. Kami cukup tau bagaimana perangai keluarga Priawan." Radit.
"Kalo begitu Om ijinkan kamu berjuang untuk putri Om. Tapi, Om ingatkan lagi. Jangan pernah sakiti Lala meskipun dia hanya putri dari seorang penjual Bakmi." Pak Budi.
Tarik nafaaasss... Sabar kita lanjut....