Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Di Rumah Sakit
Tasya membuka kedua matanya perlahan. Ia melirik ke samping, memastikan Ivone sudah tidak ada di dalam kamar. Di sofa, Gaudy terlihat sibuk memainkan ponselnya.
“Gue harus cari cara biar bisa keluar dari sini,” gumam Tasya, napasnya tertahan.
Pelan-pelan ia menarik kabel infus yang menempel di punggung tangannya, sengaja menggeser tiang penyangganya.
BRAK!
Tiang infus jatuh menghantam lantai. Kantung cairan robek, air menetes deras ke lantai. Gaudy tersentak, bangkit dengan sigap, lalu mencoba menaikkan kembali tiang itu.
“Astaga…” gumam Gaudy panik.
Ia bergegas keluar kamar untuk memanggil suster jaga.
“Ini kesempatan gue,” bisik Tasya.
Tanpa ragu, ia mencabut jarum infus dari tangannya, menahan perih yang menyengat, lalu segera menyelinap keluar kamar dan masuk ke ruangan sebelah.
“Kamu siapa?” tanya seorang pria tua yang terbaring di ranjang.
“Maaf pak,” Tasya berbisik gemetar, “sa-saya mau diculik orang.”
Pria itu menatapnya terkejut.
“Tolong izinin saya di sini sebentar aja, pak. Sampai kakak saya dateng,” lanjut Tasya.
Tanpa menunggu jawaban, Tasya segera berlari ke kolong ranjang dan meringkuk di sana.
Dari luar, suara gaduh mulai terdengar. Gaudy kembali dengan suster, namun kamar VIP sudah kosong.
“Non Tasya?” panggil Gaudy panik.
Lorong itu hanya punya satu akses keluar. Tapi Tasya tak terlihat sama sekali.
Dengan tangan gemetar, Gaudy mengirim pesan pada Ivone.
Bu… Non Tasya hilang.
Tak lama, Ivone datang tergopoh-gopoh.
“Gimana caranya dia bisa kabur?!” bentaknya tajam.
“Ta-tadi tiang infusan jatuh dan bocor, bu,” jawab Gaudy terbata.
“Ja-jadi saya keluar buat manggil suster.”
“Bodoh!” hardik Ivone.
“Ini ruang VIP! Ada tombol panggil suster di atas kasur. Kamu tinggal tekan itu!”
Ia langsung meraih ponselnya.
“Pi, Tasya kabur dari rumah sakit,” ucap Ivone dengan suara dingin.
“Kayaknya dia ke kostan anak berandal itu.”
Ivone berjalan menyusuri lorong, sementara dua anak buah Andreas mulai menyisir area rumah sakit.
Hampir dua jam Tasya bersembunyi di kolong ranjang. Tubuhnya pegal, napasnya ditahan berkali-kali setiap kali suara langkah mendekat.
“Mampus… gimana caranya gue keluar dari sini,” gumamnya lirih.
Saat ruangan kembali sepi, Tasya perlahan merangkak keluar. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada sebuah ponsel yang tergeletak di meja samping ranjang.
“Maaf pak, saya pinjem bentar,” bisiknya.
Ia segera menekan nomor Nina. Tak tersambung—tak ada pulsa.
Dengan cepat, Tasya menyimpan nomornya lalu mengirim pesan.
"Na, tolong bantu gue keluar dari sini. Gue di kamar VIP 3."
Ia kembali bersembunyi di bawah ranjang. Centang pesan belum berubah warna.
“Ayo dong Na…” gumam Tasya gelisah.
Pintu kamar berderit terbuka.
Tiba-tiba dua orang masuk—seorang wanita muda dan seorang pria paruh baya.
“Sial,” desah Tasya pelan.
Ia perlahan keluar dari kolong ranjang agar tidak dikira maling.
“Heh! Siapa kamu?” bentak wanita muda itu saat melihat Tasya memegang ponsel.
“Ma-maaf, mbak,” jawab Tasya gugup.
“Gue pasien ruangan sebelah.”
“Jangan bohong!” hardiknya sambil merebut ponsel dari tangan Tasya.
“Nak… sudah,” suara pria tua itu terdengar tegas.
“Dia mau diculik orang. Dari tadi dia sembunyi di sini. Papa yang izinin.”
Wanita itu terdiam, menatap ayahnya tak percaya.
“Tapi pa—”
“Gimana, kakak kamu udah datang?” tanya pria tua itu pada Tasya.
Tasya menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
“Belum, pak… tapi sebentar lagi,” ucapnya lirih.
Di balik genggaman tangan sang pemilik, ponsel itu bergetar pelan.
Pesan masuk dari Nina.
“Mbak, maaf… kayaknya itu dari kakak gue,” ucap Tasya lirih, matanya tertuju pada ponsel di tangan wanita muda itu.
Wanita tersebut melirik layar ponselnya, lalu sedikit memiringkannya ke arah Tasya.
Posisi gue udah di rumah sakit, Na. Tapi di depan bokap sama nyokap lo masih ada.
Pesan itu terpampang jelas.
“Mbak,” Tasya menarik napas, menahan gemetar di suaranya, “bokap sama nyokap gue ada di depan rumah sakit. Mbak bisa bantu gue keluar dari sini?”
Wanita tua yang berdiri di samping ranjang menatap Tasya iba.
“Bantu dia, Nak. Kasihan orang tuanya juga,” bisiknya pelan.
Wanita muda itu mengangguk. Ia mengambil kemeja milik ayahnya, lalu menyodorkan sebuah sweater hoodie.
“Pakai ini. Tutupin wajah lo.”
Mereka berjalan perlahan melewati meja resepsionis. Setiap langkah terasa berat bagi Tasya. Matanya bergerak cepat, mengamati sekitar dengan waspada, jantungnya berdegup tak karuan.
Akhirnya mereka tiba di lift utama, lalu turun menuju lobi.
“Mbak, sampai sini aja,” bisik Tasya.
“Besok gue balikin bajunya. Orang tua gue ada di sana.”
Ia menunjuk ke arah Ivone yang berdiri membelakangi lobi.
Tanpa menunggu lebih lama, Tasya menyelinap pelan, membelokkan langkahnya menuju tangga darurat. Harapannya hanya satu—bertemu Nina sebelum semuanya terlambat.
Namun tiba-tiba, sebuah tangan menariknya kuat dari belakang. Tubuh Tasya terseret masuk ke dalam ruang IGD.
“Tenang,” bisik suara rendah di dekat telinganya.
“Ini gue, Dimas.”
Dimas menutup mulut Tasya sebentar, memastikan tak ada suara keluar.
Begitu menyadari siapa yang ada di depannya, Tasya langsung memeluknya erat.
“Ayo, Sya. Nina udah nunggu di bawah,” ujar Dimas cepat.
Mereka keluar lewat pintu lain, berjalan menunduk, menyusuri jalur yang lebih sepi, menghindari pandangan Ivone dan Andreas yang masih sibuk mencari.
“Tasya! Ayo naik!” teriak Nina pelan tapi tegas saat mereka tiba di basement.
Tanpa ragu, Tasya dan Dimas masuk ke dalam mobil. Nina langsung menginjak pedal gas, membawa mereka menuju Kampung R-17—tempat yang sudah Dimas rencanakan sebagai persembunyian sementara.
Sesampainya di sana, Raka dan beberapa anak buahnya sudah menunggu.
“Bang, gue titip mereka,” ucap Dimas.
“Kali ini gue harus hadapin keparat itu sendirian.”
Ia mengambil motor tuanya yang terparkir di depan taman, lalu melaju pergi.
Sesampainya di depan kostan, dugaan Dimas terbukti.
Dua anak buah Andreas berdiri di depan gerbang, sementara Andreas sendiri melangkah maju dengan senyum tipis.
“Akhirnya kamu datang juga, Dimas.”
“Kembalikan anak saya,” lanjut Andreas dingin, “atau kamu bakal membusuk di penjara seperti—”
“—papa?” potong Dimas cepat.
Andreas terdiam sesaat.
“Anda pikir saya takut masuk penjara?” Dimas turun dari motornya dengan santai.
“Rupanya nyalimu besar juga,” kelakar Andreas, memberi isyarat pada dua pria bertubuh tegap di belakangnya.
“Pengacara hebat seperti anda pasti tahu,” lanjut Dimas, memutar kunci motor di jarinya, “anda nggak bisa masukin saya ke penjara cuma dari tuduhan yang belum tentu bener.”
Dua anak buah Andreas maju, mendorong tubuh Dimas agar menjaga jarak.
“kamu pikir saya tidak tahu Tasya kamu bawa ke mana?” Andreas menatapnya tajam.
“Anda punya buktinya?” balas Dimas tenang, meski jantungnya berdegup keras. Kekhawatiran akan pengkhianatan anak buah Raka terus mengusiknya.
“Soal bukti bisa dicari,” ucap Andreas pelan.
“Sama kayak waktu saya masukin bapakmu ke penjara. Dengan hukuman Dua puluh tahun.”
Wajah Dimas mengeras.
“Bajingan itu emang pantas,” pekiknya.
“Dia udah ngebunuh ibu gue!”
“Oh?” Andreas tersenyum tipis.
“Jadi sekarang kamu menantang saya?”
“lo jual, gue beli,” sahut Dimas dingin.
“Sama kayak waktu lo minta gue ngabisin rival anda yang bernama—”
“Reynald Geraldi,” potong sebuah suara dari belakang.
“Pengusaha yang ngerebut proyek pembangunan gedung itu.”
Reza muncul, diikuti empat anak buahnya.
Suasana memanas seketika.
“Apa anda lupa sama saya, Tuan Andreas Adibrata?” ucap Reza santai sambil membuka topinya. Lalu ia merangkul bahu Dimas.
Andreas terkesiap. Wajahnya mengeras saat menyadari siapa yang berdiri di depannya.
“Adik saya bikin masalah sama anda?” tanya Reza, melirik Dimas sekilas.
Andreas terdiam. Ia menatap anak buahnya, lalu tanpa sepatah kata pun, berbalik pergi.
“Pengecut,” dengus Reza sambil tertawa kecil.
“Selalu kabur kalau udah kepepet.”
Dimas diam. Ia paham betul arti semua ini.
“Sejak kapan lo berurusan sama dia?” tanya Reza sambil menyodorkan rokok.
“Ini urusan gue,” jawab Dimas singkat, kemudian membuka gerbang kostannya.
“Dim,” Reza mendekat.
“Gue tahu lo udah nggak minat balik ke perusahaan. Tapi duit gede masih bisa lo dapet, asal lo berdiri lagi di samping gue.”
“Gue pikirin dulu, Bang,” ucap Dimas lelah.
“Hari ini gue bener-bener capek karena—”
“—habis bawa anak semata wayang Adibrata ke Kampung R-17,” potong Reza cepat.
Dimas menoleh tajam.
Reza hanya tertawa. Ia menggerakkan tangannya di depan mulut, seolah menutup resleting, lalu pergi meninggalkan halaman dengan tawa menggelegar.