Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Namun entah mengapa, melihat wajah tenang Arumi justru meruntuhkan seluruh ego dan amarahnya. Amarah yang membara sejak dari Prancis, rasa cemburu akibat ulah Mike, dan kekesalannya karena panggilan telepon yang terputus, seketika membeku saat ia melihat sosok di atas ranjang. Brian tidak ingin merusak kedamaian itu.
Dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut memecah keheningan, Brian mulai menanggalkan pakaiannya. Ia melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan tubuh yang lebih segar namun tetap terasa lelah. Brian merangkak naik ke atas ranjang dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan guncangan. Ia menatap wajah Arumi dari dekat, mengagumi setiap inci paras yang sudah mengambil hatinya itu.
Brian mendekat, mendaratkan sebuah kecupan lembut yang lama di kening Arumi, lalu beralih memberikan ciuman tipis di bibir wanita itu, sebuah kecupan penuh kerinduan yang teramat dalam. Perlahan, ia mengulurkan lengannya, menarik tubuh Arumi masuk ke dalam dekapannya yang hangat.
Brian memejamkan mata, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arumi, menghirup aroma tubuh istrinya yang wangi. Malam itu, ia memilih untuk mengalah pada rasa sayangnya, membiarkan Arumi tetap terjaga dalam mimpinya, asalkan wanita itu tetap berada di pelukannya.
...***...
Keesokan paginya, sisi ranjang di sebelah Arumi sudah mendingin. Brian telah berangkat ke perusahaan sejak fajar untuk menyelesaikan berkas-berkas penting yang tertunda. Arumi terbangun dengan gerakan malas, matanya melirik jam dinding sebelum beranjak ke kamar mandi. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sudah pulang dan sempat memeluknya sepanjang malam.
Suasana begitu tenang karena Brian telah memberi perintah kepada semua pelayan agar tidak ada yang membocorkan kepulangannya.
Setelah mandi dan sarapan dengan tenang. Arumi menghabiskan waktu di taman belakang. Ia memetik beberapa tangkai bunga segar untuk menghias kamar. Dengan langkah ringan, ia kembali ke dalam mansion, membawa kesegaran bunga-bunga itu ke ruang tamu.
Arumi sedang asik menata bunga di dalam vas dibantu oleh seorang pelayan, ketika tiba-tiba pintu besar terbuka. Sosok tegap Brian muncul di sana. Arumi tersentak, jantungnya seakan melompat dari tempatnya.
"Brian? K- kau sudah pulang?" tanya Arumi terbata-bata.
Sekali pandang pada wajah dingin Brian. Arumi teringat sesuatu yang membuatnya gelagapan. Ponselnya mati sejak kemarin sore dan ia belum sempat mengisinya. Napas Arumi tercekat saat melihat Brian berjalan ke arahnya dengan langkah tegap yang mengintimidasi. Brian tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya menjentikkan jarinya ke udara, sebuah isyarat dingin yang langsung membuat seluruh pelayan tertunduk dan bergegas keluar dari mansion.
Dalam sekejap, ruang tamu itu menjadi sunyi. Brian menyambar pinggang Arumi, mendorongnya mundur hingga Arumi terpaksa duduk di atas meja kayu di tengah ruangan.
"Brian, apa yang kau lakukan?" seru Arumi terkesiap, tangannya menahan dada bidang Brian yang keras.
Brian mengunci pergerakan Arumi dengan kedua lengannya, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Tatapannya tajam, menguliti wajah Arumi tanpa ampun.
"Di mana ponselmu?" tanya Brian dengan suara rendah, penuh amarah yang tertahan.
Arumi menelan ludah dengan susah payah. Jarak mereka terlalu intim, hingga ia bisa merasakan deru napas Brian yang hangat namun memburu di kulit wajahnya.
"P- ponselku... mati. Aku lupa mengisi dayanya kemarin," jawab Arumi dengan suara yang hampir tenggelam dalam kesunyian ruangan itu.
Brian tertawa hambar, sebuah suara yang lebih terdengar seperti geraman. Ia semakin merapatkan tubuhnya, membuat Arumi terdesak di tepian meja. "Lupa? Atau kau sengaja mematikannya agar bisa menerima tamu dengan leluasa tanpa gangguan dariku?"
Jantung Arumi berdegup kencang. Jadi Brian sudah tahu. "Mike datang hanya untuk berbincang soal bisnis Kakakmu, Brian. Tidak lebih."
"Bisnis?" Brian mencengkram dagu Arumi, memaksanya untuk terus menatap matanya yang berkilat marah. "Pria itu menyebutku 'adik ipar' di rumahku sendiri, Arumi! Dia menganggap ku hanya penjaga janda kakakku. Berani-beraninya kau membiarkan dia menginjakkan kaki di sini saat aku tidak ada!"
"Aku tidak bisa mengusirnya begitu saja, dia rekan Adrian!" bela Arumi, meski suaranya bergetar.
"Dia mantan kekasihmu!" bentak Brian. Suaranya menggelegar, membuat vas bunga yang baru saja ditata Arumi sedikit bergetar. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku buta?!"
Brian melepaskan cengkeramannya di dagu Arumi, namun tangannya kini beralih menekan meja di sisi tubuh Arumi, mengurungnya sepenuhnya. "Lalu aroma di dapur itu... banana cake? Kau bahkan tidak pernah membuatkan kue untukku, tapi kau rela menghabiskan waktu di dapur demi mengenang pria yang sudah mati?"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Arumi. "Kau keterlaluan, Brian. Adrian adalah kakakmu!"
"Dia sudah mati, Arumi! Dan aku adalah suamimu sekarang!" Brian meraup tengkuk Arumi, menariknya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. Suaranya kini merendah parau namun penuh ancaman.
"Jika aku melihat pria itu atau pria mana pun mendekatimu lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan mereka. Dan kau... kau akan belajar bagaimana cara menjadi istri yang patuh."
Brian menatap bibir Arumi dengan lapar, kemarahannya mulai bercampur dengan gairah posesif yang tidak terkendali.
"Kau keterlaluan, Brian!" Arumi berteriak dengan suara lantang. Karena tak tahan lagi dengan hinaan Brian terhadap mendiang suaminya, tangan Arumi melayang secepat kilat.
PLAK!
Suara tamparan itu bergema keras diruang tamu yang sunyi. Wajah Brian terlempar ke samping. Keheningan yang mencekam menyusul kemudian. Arumi gemetar, menatap telapak tangannya sendiri yang terasa panas.
Bukannya marah, Brian justru perlahan menoleh kembali ke arah Arumi. Ia menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang membuat bulu kuduk Arumi berdiri. Tanpa sepatah kata pun. Brian menyambar tubuh Arumi, mengangkatnya dengan mudah seolah wanita itu tidak memiliki berat. Lalu membaringkannya secara paksa di atas sofa besar di ruangan itu.
"Brian, hentikan! Apa yang kau lakukan?!" Arumi meronta, namun Brian jauh lebih kuat.
Dalam satu gerakan kasar, Brian merobek gaun yang dikenakan Arumi hingga kainnya terbelah, mengekspos kulit halus istrinya ke udara dingin ruangan. Tanpa aba-aba dan tanpa kelembutan sedikit pun. Brian membuka pakaiannya sendiri dan menyatukan tubuh mereka dengan kasar.
Arumi memekik kesakitan. Air matanya luruh seketika saat Brian mulai menggaulinya dengan penuh tuntutan dan amarah yang belum padam. Brian mencium Arumi dengan kasar, seolah ingin menghapus setiap jejak kenangan pria lain dari tubuh wanitanya.
Ia melakukannya berkali-kali, tidak mempedulikan isak tangis atau rintihan istrinya, hingga Arumi hampir pingsan di bawah kungkungan Brian.
Sementara itu, di ruang kendali keamanan, Hendra tangan kanan kepercayaan keluarga Aditama berdiri terpaku. Matanya menatap deretan layar di depannya sebelum jemarinya bergerak cepat mematikan semua akses CCTV di mansion megah itu. Ia menarik napas panjang dan membuang muka. Baginya, menjaga harkat dan martabat majikannya adalah tugas utama, meski matanya sering kali ternoda melihat perbuatan gila Brian yang sudah sering ia saksikan sejak dulu.