Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memberikan kesempatan
...Happy reading everyone...
... I hope you like it and enjoy it....
Cklek.
Pintu ruang pemeriksaan itu terbuka.
Raviel yang sejak tadi berdiri gelisah langsung menoleh. Tatapannya tajam, penuh kecemasan yang tak biasa.
“Bagaimana dengan keadaan Ara?” tanya Raviel, suaranya rendah namun jelas mengandung kekhawatiran.
Dokter itu menatap Raviel sejenak, ragu. Raut herannya tak bisa disembunyikan.
“Tuan Raviel… apakah Anda mengenal wanita tersebut?” tanya dokter itu hati-hati. “Terus terang, ini cukup mengejutkan. Seorang CEO seperti Anda—”
“Iya saya kenal dengannya,” potong Raviel dingin.
“Apakah Anda memiliki hubungan dengannya?” lanjut dokter, masih penasaran.
“Pekerjaanmu hanya menyampaikan kondisi gadisku,” ujar Raviel dengan nada datar namun mengintimidasi. “Bukan mengurusi kehidupan pribadiku.”
Dokter itu menelan ludah.
“Maaf, Tuan. Saya terlalu lancang.”
Raviel menarik napas dalam.
“Sekarang katakan. Bagaimana keadaannya?”
Dokter membuka berkas di tangannya.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi Nona Nara dan janinnya stabil. Tidak ada pendarahan serius, hanya kontraksi ringan akibat benturan dan stres emosional.”
Raviel mengernyit.
“Jadi tidak ada masalah serius?”
“Untuk saat ini tidak, Tuan,” jawab dokter jujur. “Namun, usia kehamilan masih sangat rentan. Nona Nara tidak boleh kelelahan, tidak boleh stres berlebihan, dan harus benar-benar dijaga dari benturan apa pun.”
Dokter menatap Raviel lebih dalam.
“Emosi dan tekanan mental bisa berbahaya. Lingkungan sekitar Nona Nara harus aman. Ia membutuhkan ketenangan, perhatian, dan rasa terlindungi.”
Raviel mengangguk pelan.
“Saya akan memberikan vitamin serta jadwal kontrol rutin. Tolong pastikan beliau mematuhinya.”
“Baik,” jawab Raviel singkat.
“Saya permisi,” ucap dokter itu, lalu pergi.
Raviel mendorong pintu kamar perawatan.
Di dalam, Nara terlihat membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut, membelakangi pintu.
“Baby,” panggil Raviel lembut. “Buka selimutnya.”
Tak ada jawaban.
“Nanti kamu sesak,” tambahnya.
Perlahan, Nara membuka selimut itu. Wajahnya tampak kesal, matanya masih bengkak, namun tetap terlihat rapuh—dan itu justru membuat Raviel semakin terikat.
“Keluar,” ucap Nara tegas.
“Bab—”
“Aku bilang keluar!” bentaknya, lalu bangkit dari ranjang tanpa memperdulikan darah yang mengalir karena infus yang ditarik paksa.
“Aku tidak mau bertemu pria brengsek sepertimu!”
Namun belum sempat melangkah jauh, Nara meringis. Tangannya refleks memegang perutnya yang terasa nyeri.
Raviel langsung maju.
“Baby, tenangkan dirimu.”
Ia mencoba meraih tangan Nara, tetapi ditepis kasar.
“Jangan sentuh aku.”
“Bisakah kamu menurut?” ucap Raviel menahan emosi. “Aku hanya mengkhawatirkanmu dan bayi kita.”
“ini hanya bayiku, bukan bayimu,” balas Nara dingin.
“ARA!” bentak Raviel.
Tubuh Nara bergetar. Ia menunduk, menahan air mata.
“Apakah kamu tidak bisa menerima kenyataan ini?” lanjut Raviel tegas. “Anak itu membutuhkan figur ayah.”
“Aku tidak butuh pria brengsek yang memaksaku dan merenggut kesucianku!” teriak Nara.
Raviel terdiam sejenak.
“Baby… aku sudah meminta maaf. Kejadian itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dijebak Minuman itu-”
“Dijebak?” Nara terkekeh sinis. “Benarkah?”
“ayolah sayang~ berikan aku satu kesempatan lagi,” ucap Raviel pelan.
“Aku tidak ingin hidup dengan pria yang tidak kucintai.”
“Aku tidak peduli,” jawab Raviel datar. “Yang penting kamu tetap di sisiku. Soal cinta, itu bisa menyusul.”
“Jadi selain brengsek, kamu juga pemaksa,” sindir Nara.
“Benar,” ucap Raviel tanpa ragu. “Aku brengsek. Aku pemaksa. Tapi aku mencintaimu.”
Nara terdiam.
“Mencintaiku?” gumamnya. “Bahkan kita tak pernah bertemu sebelumnya selain kejadian si*lan itu”
“Apa kamu melupakan kejadian dulu?” tanya Raviel lirih.
“Kejadian apa?” Nara menatapnya bingung.
Raviel menghela napas.
“Nanti akan kuceritakan.”
Nara menatap Raviel lebih dalam. Ia melihat keteduhan—namun juga kilatan obsesi yang membuat dadanya sesak.
Sebagai mahasiswa psikologi, ia tahu… tatapan itu tidak normal.
Namun ia lelah.
“Baik,” ucap Nara akhirnya. “Aku akan memberimu kesempatan untuk bertanggung jawab.”
Raviel tersenyum. Ia langsung memeluk Nara erat, terlalu erat. Bibirnya mengecup puncak kepala gadis itu.
“Sebentar lagi kita menikah.”
Nara membeku.
“E-Em… Raviel—”
“Apa kamu tidak ingin menikah denganku?” tanyanya, nada suaranya mengeras tanpa sadar.
“Bukan begitu,” jawab Nara gugup. “Aku hanya berpikir… kita tidak perlu terburu-buru. Kita butuh pendekatan.”
“Tidak ada penolakan,” potong Raviel. “Pernikahan kita dua minggu lagi.”
“APA?!” Nara terkejut.
“Jangan teriak,” ujar Raviel lembut. “Nanti tenggorokanmu sakit.”
Nara terdiam.
“Baiklah,” ucapnya akhirnya lirih.
Raviel tersenyum puas.
Di kepalanya, satu pikiran menguasai segalanya:
Ia telah menaklukkan Nara. Dengan cara apa pun.