Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: RAHASIA DI BALIK BRANKAS HITAM
BAB 14: RAHASIA DI BALIK BRANKAS HITAM
Pasca kejadian berdarah di tebing itu, Mansion Raisinghania diselimuti kesunyian yang mencekam. Deep mengira Tara telah lenyap selamanya, ditelan oleh kegelapan jurang Shimla. Luka di lengannya mulai mengering, namun luka di jiwanya semakin menganga. Ia menjadi lebih protektif, bahkan posesif terhadap Anjali. Baginya, Anjali adalah satu-satunya hal suci yang tersisa di hidupnya yang kotor.
Aarohi tahu ini adalah kesempatan emas. Di tahun 2026 yang penuh dengan pengawasan digital ini, Deep tetaplah orang yang konservatif dalam menyimpan rahasia paling berbahayanya. Ia tidak memercayai cloud atau server internet. Ia menyimpan segalanya secara fisik.
Malam itu, Deep sedang berada di luar kota untuk mengurus izin pemakaman (palsu) Tara dan membersihkan jejak kepolisian. Aarohi berdiri di depan pintu ruang kerja Deep. Dengan tangan yang dibungkus sarung tangan lateks tipis, ia memasukkan kode akses yang diam-diam ia rekam menggunakan kamera mikro minggu lalu.
Klik.
Pintu terbuka tanpa suara. Aarohi melangkah masuk, aroma cerutu dan kayu jati langsung menyergap indra penciumannya. Ia menuju ke balik lukisan besar potret diri Deep. Di sana, tertanam sebuah brankas baja hitam dengan sistem pengaman biometrik. Namun, Aarohi sudah menyiapkan segalanya. Ia mengeluarkan sebuah alat pengganda sidik jari yang telah ia siapkan dari bekas gelas minum Deep tadi pagi.
Bzzzt... Klik.
Pintu brankas terbuka perlahan, memperlihatkan tumpukan dokumen, paspor palsu, dan sebuah kotak beludru hitam yang sudah berdebu. Aarohi mengabaikan uang tunai dan perhiasan di dalamnya. Matanya tertuju pada sebuah map cokelat tua bertuliskan "Proyek 2012: Pembersihan Lahan".
Jantung Aarohi berdetak kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di seluruh ruangan. Ia membuka map itu. Di dalamnya terdapat foto-foto lama sebuah rumah yang sangat ia kenali. Itu adalah rumah masa kecilnya. Rumah di mana orang tuanya tewas dalam sebuah "kecelakaan" kebakaran yang tragis.
Selama ini, Aarohi mengira Deep hanya menjebaknya karena wajahnya yang mirip Tara. Namun, dokumen di depannya mengungkap kebenaran yang jauh lebih mengerikan. Ayah Aarohi ternyata adalah seorang jaksa yang sedang menyelidiki korupsi besar dalam pembangunan bendungan milik keluarga Raisinghania. Deep tidak hanya menjebak Aarohi; Deep adalah orang yang memerintahkan pembakaran rumahnya empat belas tahun yang lalu.
"Kau membunuh mereka..." bisik Aarohi, suaranya parau karena amarah yang memuncak. "Kau tidak hanya mencuri masa depanku, Deep. Kau menghancurkan duniaku sejak awal."
Aarohi menemukan sebuah rekaman suara di dalam flashdisk tua yang terselip di map itu. Ia menyambungkannya ke laptop kecil yang ia bawa. Suara Deep muda terdengar dari pengeras suara, dingin dan tanpa ampun.
"Pastikan tidak ada saksi yang tersisa di rumah itu. Jaksa itu terlalu banyak tahu. Bakar semuanya. Dan anak perempuannya... biarkan dia hidup jika dia tidak melihat apa-apa. Dia bisa berguna suatu hari nanti."
Aarohi menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak. Air mata kemarahan mengalir di pipinya. Jadi, selama ini Deep sudah tahu siapa dia. Deep membawanya ke mansion bukan hanya karena Tara, tapi untuk menjaga agar "saksi hidup" terakhir berada di bawah pengawasannya. Cinta yang ditunjukkan Deep selama ini adalah bentuk manipulasi paling kejam di dunia.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Tap... Tap... Tap...
Deep sudah kembali. Lebih cepat dari yang diperkirakan.
Aarohi dengan sigap mencabut flashdisk, menutup brankas, dan mengembalikan lukisan ke posisi semula. Ia tidak punya waktu untuk keluar dari ruangan itu. Ia segera bersembunyi di balik tirai beludru berat yang menutupi jendela besar ruang kerja.
Pintu terbuka. Deep masuk, ia tampak kelelahan. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke kursi. Ia berjalan langsung menuju brankas hitam itu. Tampaknya ia ingin memeriksa sesuatu.
Aarohi menahan napas. Jika Deep membuka brankas dan menyadari dokumennya bergeser sedikit saja, semuanya berakhir. Ia meraba pistol kecil di saku gaunnya. Jika harus berakhir malam ini, ia bersumpah akan membawa Deep bersamanya ke neraka.
Deep berdiri di depan brankas, tangannya hampir menyentuh panel sensor. Namun, ponselnya berdering.
"Ya? Apa?! Bagaimana bisa dia hilang?!" teriak Deep ke teleponnya. "Aku sudah membayarmu untuk memastikan mayatnya tidak ditemukan! Cari dia di sepanjang aliran sungai! Jika Tara masih hidup, kita semua akan tamat!"
Deep membatalkan niatnya membuka brankas dan langsung berbalik keluar ruangan dengan terburu-buru.
Setelah suara pintu tertutup dan langkah kaki Deep menjauh, Aarohi keluar dari balik tirai. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena takut, tapi karena kebencian yang kini telah mencapai puncaknya. Ia memegang flashdisk itu dengan sangat erat hingga ujungnya menusuk telapak tangannya.
"Kau mencari Tara, Deep?" gumam Aarohi dengan tatapan yang sangat gelap. "Tara aman bersamaku. Dan besok, di hari pernikahan kita, aku tidak hanya akan menunjukkan pada dunia siapa kau sebenarnya, tapi aku akan membuatmu melihat wajah orang-orang yang kau bunuh di setiap sudut rumah ini."
Aarohi keluar dari ruang kerja dengan tenang. Di wajahnya kini terpasang senyum yang jauh lebih mengerikan daripada senyum Tara. Ia tidak lagi hanya ingin balas dendam untuk dirinya sendiri. Ia membawa beban nyawa orang tuanya.
Malam itu, di tahun 2026 yang dingin, rencana besar Aarohi memasuki tahap eksekusi terakhir. Pernikahan maut yang telah disiapkannya bukan lagi sekadar skandal bisnis, melainkan sebuah pengadilan berdarah di mana hakim, jaksa, dan algojonya adalah wanita yang paling dicintai oleh sang terdakwa.