Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Yang Tampak Sempurna
Jam 05.30 pagi, sinar matahari menyelinap melalui celah tirai kamar tidur, menyinari wajah Arini yang baru terbangun.
Tangannya menjangkau sisi kanan ranjang yang dingin – Rizky sudah tidak ada di sana. Seperti biasa, suaminya sudah berangkat berolahraga sebelum kerja.
Arini duduk di tepi ranjang, melihat foto keluarga di meja rias – dirinya, Rizky, dan Tara yang tertawa saat berlibur pantai tahun lalu.
Foto itu diambil ketika Tara menemukan kerang besar di pasir putih; wajahnya penuh kagum seperti menemukan harta karun. Rizky menangkap momen itu dengan kamera, lalu mereka duduk bersama menyaksikan matahari terbenam.
"Rumah yang bahagia, keluarga yang utuh – ini semua yang aku inginkan."
Dia mandi dengan air hangat, mengenakan baju rumah nyaman, lalu pergi ke ruang makan. Aroma kopi harum mengisi ruangan.
Rizky berdiri di depan kompor kecil, memutar gelas kopi sambil melihat ponselnya. Rambutnya sedikit berantakan karena olahraga pagi, membuatnya terlihat lebih muda dari usianya yang 35 tahun.
Jas kerja birunya sudah siap ditempatkan di kursi, lengkap dengan dasi yang terikat rapi.
"Sudah bangun, sayang?" Rizky menoleh dengan senyum, membelai pipi Arini yang masih merah. "Kopi sudah siap – tidak terlalu pahit, dengan sedikit gula merah seperti yang kamu suka."
Arini mengambil gelasnya, duduk di kursi yang dilapisi kain renda dengan bordir bunga mawar. "Kamu pergi kerja cepat lagi hari ini?"
Rizky memanggang roti tawar hingga kecoklatan, menaruh mentega yang segera meleleh.
"Proyek gedung baru mulai hari ini. Pak Hadi dari dewan direksi sudah menunggu laporan detail. Kliennya perusahaan besar dari luar negeri, jadi tidak boleh ada kesalahan pun."
Arini tahu betul pentingnya proyek itu. Pratama Buana baru dapat kontrak besar setelah beberapa bulan sepi proyek, bahkan pernah harus memotong karyawan karena anggaran terbatas.
Tekanan terlihat jelas dari wajah Rizky yang semakin kurus dan kantung di bawah matanya yang lebih dalam.
"Jangan terlalu memaksakan diri ya," ujar Arini, menepuk lengannya. "Kalau perlu, bilang pada Pak Hadi kalau kamu butuh bantuan. Kita tidak ingin kamu jatuh sakit."
"Saya tahu, sayang." Rizky mencium dahinya, mengambil tas kerja yang Arini berikan pada ulang tahun kemarin. "Setelah proyek ini selesai, kita liburan bersama ya? Bali atau Lombok saja. Saya sudah menyisihkan uangnya."
Arini merasa hati hangat. Barulah Rizky akan membuka pintu keluar, suara ceria Tara terdengar dari kamar anak.
Anak perempuan mereka yang berusia enam tahun berlari keluar dengan baju tidur kartun kucing, rambut ikalnya berantakan.
"Papa mau pergi kerja lagi?"
Rizky mengangkatnya ke atas lengan. "Ya nak. Kamu tidur nyenyak kan? Mama bilang kamu menangis karena mimpi monster kecil."
Tara tertawa sambil menutupi wajahnya. "Itu cuma mimpi aja! Nanti malam saya tidur sendiri tanpa lampu kecil!"
"Hebatnya anak Papa!" Rizky memutarnya di udara, membuat Tara tertawa riang. "Papa belikan mainan apa ya? Mobil remot atau boneka baru?"
"Gak usah mainan. Cukup aja Papa pulang cepat. Kita nonton kartun bareng Mama, dan Mama akan bikin kue coklat dengan hiasan karakter kesukaan saya!"
Setelah mengucapkan selamat tinggal, Rizky berangkat. Bunyi mesin mobilnya hilang di kejauhan.
Arini memegang tangan Tara, mengusap rambutnya yang berantakan. "Ayo sarapan dulu baru mandi. Mama ajarin kamu bikin kue coklat, tapi harus janji membantu bersihin alat ya?"
"Tentu saja Mama!" Tara berlari ke meja makan, mengambil sendoknya dengan penuh semangat.
Saat memasak, musik cinta tahun 90-an dari radio membuat Arini tersenyum.
Dia melihat sekeliling rumahnya – dinding cream muda dengan aksen biru muda, furnitur kayu jati yang sudah digunakan sejak menikah, patung keramik dan lukisan tangan Tara yang terpampang di dinding.
Semua terlihat begitu sempurna, hasil kerja keras mereka berdua selama bertahun-tahun.
Namun ada sesuatu yang mengganggunya. Sejak tiga minggu terakhir, Rizky pulang lebih larut.
Kadang bilang ada rapat malam, kadang bilang harus mengecek lokasi proyek. Beberapa kali teleponnya tidak terjawab, kemudian dia bilang sinyal buruk di lokasi.
Arini mencoba tidak berpikir negatif – dia tahu betul betapa sulitnya pekerjaan suaminya.
"Tara mau tambah telur, Mama!"
Arini mengambil telur ayam kampung dari lemari pendingin, memasaknya dan menaruhnya di piring kuning kesayangan Tara. "Semoga segalanya tetap baik seperti ini," ujarnya dalam hati.
Di kantor Pratama Buana lantai 15 gedung perkantoran tinggi, Rizky berdiri di depan papan putih besar yang penuh sketsa gedung baru.
Dinding kantornya dipenuhi foto proyek besar yang pernah diselesaikan – gedung perkantoran, rumah sakit, kompleks perumahan.
Seorang wanita muda dengan rambut pirang panjang yang diikat rapi datang mendekatnya, membawa berkas kertas dan tablet.
Baju kerja putihnya dengan rok lilit biru tua membuatnya tampak profesional namun menarik.
"Pak Rizky, ini revisi desain fasad gedung seperti yang Anda minta." Wanita itu menunjuk bagian sketsa. "Saya tambah ide sistem pencahayaan alami agar hemat energi. Estimasi biayanya tidak akan menambah beban anggaran yang signifikan."
Rizky melihat berkasnya dengan cermat. Matanya yang biasanya lelah kini bersinar semangat.
"Bagus sekali, Lina. Ide ini sangat kreatif dan tepat sasaran. Klien kita memang mengutamakan keberlanjutan. Kita usulkan ini nanti, pasti mereka suka."
Lina Saraswati – arsitek muda yang baru bergabung tiga bulan lalu setelah studi magang luar negeri – tersenyum bangga. Wajahnya cantik bersinar saat mendapatkan pujian dari bos yang dikenal ketat.
"Terima kasih Pak Rizky. Saya riset mendalam tentang kebutuhan klien dan tren arsitektur hijau. Kalau ada yang perlu direvisi, saya siap kapan saja – bahkan lembur juga tidak masalah."
Rizky mengangguk dengan kagum. Wanita muda ini memang berbakat luar biasa, lulus dengan predikat terbaik dan punya beberapa penghargaan bergengsi.
Kerja kerasnya juga tidak diragukan – seringkali dia yang terakhir pulang dan selalu siap membantu rekan kerja.
"Baik, Lina. Kita bahas lagi sore ini ya? Bisa aja kita kerjakan di kedai kopi dekat sini – ruangannya lebih nyaman dan tenang dari kantor. Kita perlu siap untuk presentasi dengan klien minggu depan."
"Baiklah Pak Rizky. Saya tunggu panggilan Anda setelah rapat pagi." Lina mengambil berkas yang tidak diperlukan dan keluar dari kantor.
Rizky melihat ke arah pintu yang baru ditutup, kemudian kembali fokus pada desain di depannya.
Dia tidak menyadari bahwa langkah kecil yang dia ambil dengan mengajak Lina bekerja di luar kantor akan menjadi awal dari kesalahan, kebohongan, dan rasa sakit yang akan mengubah hidupnya dan keluarga yang dicintainya selamanya.