Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan
Ryan menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia segera keluar dan berjalan cepat menghampiri Lusi yang berada di seberang jalan.
"Kok kamu di sini? Di mana Dahlia?."
"Kamu yang satu rumah dengannya kenapa tanya aku?."
"Bukannya Dahlia pergi denganmu, Rini dan Dwi?."
"Nggak, kita nggak ada yang pergi dengan Dahlia. Memangnya pergi ke mana Dahlia?."
"Dia bilang padaku jalan-jalan sama kalian tapi nggak bilang jalan ke mana."
"Dia nggak masuk kerja."
"Terus ke mana perginya? Sama siapa?."
"Aku nggak tahu."
Setelah mengatakan itu Lusi pergi, Ryan masih berdiri di sana dengan pikiran yang sangat berisik.
Apa yang terjadi kepada istrinya?.
Sayangnya pikiran itu kembali normal saat ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari Liana, atasan sekaligus perempuan teman kencannya. Ryan kembali ke mobil dan mulai melaju menuju tempat yang akan digunakan menghabiskan waktu bersama.
Ryan pun tidak dapat menghubungi istrinya, pikirannya sempat kalut dan begitu mengkhawatirkan Dahlia. Tapi saat bertemu Liana semuanya berbeda.
"Kamu lama sekali, beb."
"Tadi ketemu temen, nggak enak kalau nggak ngobrol dulu."
"Nggak apa-apa sih, beb."
Liana sangat agresif, sangat berbeda dengan Dahlia yang harus dipancing dulu. Ryan begitu bergairah dan berhasrat saat bersama Liana.
Lanjut pada Dahlia yang sedang berenang di air kolam yang sangat dingin. Cukup pandai dia berada di kolam dengan kedalaman dua meter lebih. Dia tidak merasa takut karena sepasang mata yang selalu mengawasinya walau sedang bekerja.
Siapa lagi kalau bukan Pak Adnan, dia selalu berada di dekat Dahlia guna memastikan keamanannya.
"Pak!."
Teriak Dahlia sambil tersenyum.
"Nggak mau berenang?."
Pak Adnan hanya menggeleng sambil menatap Dahlia lalu kembali pada laptop yang di atas pangkuannya.
"Takut khilaf."
Dahlia tertawa terkekeh.
"Yah, nggak seru berenang sendiri."
Dahlia menepi, memegangi pinggiran kolam sambil menaruh dagunya di sana.
"Nanti kamu kewalahan kalau aku ikut nyebur."
"Nggak, makanya jangan deket-deket. Yang penting jaga jarak aman tubuh anda."
Pak Adnan menatap Dahlia sambil tersenyum, dia tergoda dengan bayangan tubuh Dahlia dari dalam air. Dia pun menaruh laptopnya, melepaskan t-shirt dan langsung menyebur ke dekat Dahlia.
Dahlia berteriak kegirangan, melangkah mundur dari Pak Adnan namun di bawah sana kaki Pak Adnan berhasil menahan kaki Dahlia supaya tetap berada di tempatnya.
"Mau ke mana? Tadi kamu yang minta aku turun terus sekarang kamu mau menjauh."
Dahlia tertawa.
"Menjaga jarak supaya tetap aman, Pak."
Pak Adnan mengusap wajah yang dipenuhi cipratan air.
"Semua jarak nggak akan ada yang aman untuk kita, Ia. Pasti kalau nggak aku kamu yang mendekat."
"Nggak, Pak."
Dahlia tertawa sambil menggelengkan.
"Mau bukti?."
"Nggak."
Dahlia menolak untuk membuktikannya, sadar betul dia perempuan normal yang sudah merasakan bagaimana nikmatnya saat di atas ranjang.
Cinta memang belum ada untuk Pak Adnan namun ada sesuatu yang lain yang tak kalah dari cinta, yaitu sebuah kenyamanan. Dia takut akan melewati batas karena nyaman berada di dekat Pak Adnan.
Seolah tuli dengan penolakan Dahlia, di bawah sana kaki Pak Adnan mulai bergerak perlahan membelai halus betis Dahlia.
"Pak..."
Dahlia berusaha mundur tapi tangan Pak Adnan sudah meraih pinggangnya untuk tetap berada pada posisinya.
Tangan yang dengan lembut membelai pinggangnya hingga Dahlia harus menahan napas. Semakin dekat saja jarak di antara mereka, kedua tangan Dahlia sudah menempel pada dada Pak Adnan yang terbuka.
"Pak..."
Dahlia merasakan sesuatu yang menonjol keras mengenai perut bawahnya.
"Aku nggak akan melewati batas jika kamu nggak mengizinkannya."
Terima kasih. "
Lalu kemudian Pak Adnan melepaskan tangan dan kakinya dari tubuh Dahlia lalu mereka menyudahi kegiatan berenangnya.
Belum merasa puas tapi sudah lebih dari cukup berada di Villa menikmati beberapa tempat dan momen indah. Dahlia sendiri yang mengajak Pak Adnan untuk pulang.
Hatinya masih tetap sakit atas pengkhianatan cinta yang dilakukan suaminya namun kini dia memiliki ruang bahagia bersama Pak Adnan. Dia pun salah, tidak merasa lebih benar apa lagi sampai membenarkan apa yang dilakukan karena telah menghadirkan orang lain sebelum benar-benar berpisah dari Ryan. Bahkan yang dia sendiri belum tahu kapan akan melakukan itu.
"Pak, aku berhenti di deket kantor aja."
"Nggak ke rumah."
"Suamiku mau jemput."
"Kamu yang minta apa suamimu yang mau jemput?."
"Suamiku yang mau jemput, memaksa lagi."
Pak Adnan tidak mengatakan apa-apa lagi, mobilnya berhenti di tempat yang diminta Dahlia.
"Terima kasih udah menemani perjalananku."
Pak Adnan menoleh Dahlia yang sedang siap-siap mau turun.
"Jutsru aku yang makasih, aku bisa tertawa, makan banyak dan tidur nyenyak."
Pak Adnan tersenyum.
"Apa lagi?."
Dahlia menahan tangannya untuk tidak segera membuka pintu.
"Ada yang ketinggalan."
Sambil tersenyum menatap sesuatu yang diincarnya.
"Apa?."
"Ini."
Lalu Dahlia mengecup sekilas pipi Pak Adnan atas kesadaran dan kemauannya sendiri. Kemudian Dahlia membuka turun dan menutup pintu.
Seharusnya rona bahagia menghiasi wajah Dahlia atas apa yang dilakukannya barusan namun nyatanya wajahnya sangat tegang sekali.
Di hadapannya sudah berdiri suaminya, pasti menyaksikan adegan tadi walau tidak intim namun cukup fatal bagi seorang istri.
Plak
Sebuah tamparan keras menghantam pipi Dahlia yang tertangkap langsung oleh Pak Adnan yang berada di dalam mobil. Pak Adnan segara turun dan berada di samping Dahlia.
Hendak mengecek pipi Dahlia namun Dahlia segera menjauh.
"Kamu lupa statusmu itu sebagai istriku, hah?. Kenapa kamu begitu murahan kepada pria lain?.
"Tolong ceraikan aku sekarang juga."
Lirih Dahlia setelah mengumpulkan banyak keberanian, memikirkan matang-mateng tindakan yang akan diambilnya untuk pernikahannya.
Plak
Tanpa ada yang bisa menduga Ryan kembali melayangkan tamparan yang lebih keras daripada tadi pada wajah Dahlia yang tertunduk. Tubuh Dahlia terhuyung namun bisa ditangkap oleh Pak Adnan.
Tak lagi bisa tinggal diam, Pak Adnan segera kembali memasukkan Dahlia ke dalam mobilnya. Tapi rupanya Ryan tidak terima jika direndahkan oleh istri dan selingkuhannya. Dia menarik tangan Pak Adnan yang akan menutup pintu.
"Kamu mau membawa istriku ke mana, hah?."
Bugh Bugh
Tahu tidak akan mendapatkan jawaban, dia pun membabi buta memukul Pak Adnan. Pukulan pertama mengenai pelipis Pak Adnan, setelahnya Pak Adnan bisa menghindar tapi tidak untuk balik membalas.
"Hanya seorang pengecut yang berani menyakiti perempuan."
"Kamu membuatnya berkhianat."
Pak Adnan tersenyum sinis.
"Seharusnya kamu bercermin sebelum mengatakan itu. Kamu atau Dahlia yang telah berselingkuh lebih dulu."
Ryan terdiam, napasnya memburu dan semakin memburu saat Dahlia berhasil dibawa pergi laki-laki lain.
Tapi apa maksud kata-kata laki-laki itu?. Apa ada yang diketahuinya tentangnya?.
Mobil Pak Adnan sudah berhenti di depan rumah, tapi mereka masih berada di dalam mobil tanpa ada yang bicara.
"Aku yang salah."
Barulah Pak Adnan memaksa melihat luka pada wajah Dahlia dengan menarik dagunya. Tanpa pikir panjang Pak Adnan langsung mencium luka-lukanya.
.