NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sore itu Arif dan Nuri sudah kembali ke rumah. Suasana terasa lengang, sunyi tak seperti biasanya. Di ruang tengah hanya terlihat Dian yang duduk menemani Naya, si kecil asyik memainkan mainannya.

“Mbak, ibu sama Bang Andi ke mana?” tanya Nuri sambil melangkah ke dapur dan meletakkan belanjaan di atas meja.

Dian ikut berdiri, menoleh sekilas ke arah Nuri. “Mbak nggak tahu,” jawabnya singkat, datar, tanpa ekspresi.

Nuri menatap Dian sesaat, seolah ingin bertanya lebih jauh, namun memilih diam.

Sementara itu Arif langsung menghampiri Naya. “Sini sama om,” ujarnya ceria. Naya tertawa kecil, lalu berlari ke arah Arif. Tawa anak itu memecah keheningan, kontras dengan perasaan Dian yang sejak tadi terasa kosong dan berat.

“Mbak, tadi aku sudah belanja. Terserah mbak mau dimasak kapan,” ucap Nuri dengan nada lebih hati-hati dari biasanya.

Dian menoleh, senyumnya tipis namun tetap hangat. “Iya, Nur. Nanti mbak buatkan. Kamu istirahat dulu saja, pasti capek,” jawabnya tenang.

“Iya, mbak,” sahut Nuri pelan.

Nuri melangkah pergi, tapi hatinya terasa ganjil. Entah kenapa, kakak iparnya yang satu ini terasa berbeda—lebih tenang, lebih dingin, seolah menyimpan sesuatu yang tak terucap.

Arif mendekat sambil tersenyum kecil. “Mbak, aku ajak Naya ke atas ya,” pintanya sopan.

Dian mengangguk pelan. “Boleh, Rif. Kebetulan mbak mau mulai masak,” jawabnya lembut, lalu kembali melangkah ke dapur.

Dian meneliti isi dapur, mencari menu yang bisa ia olah untuk makan malam. Pandangannya berhenti pada daging slice di dalam kulkas. Masak yang sederhana saja, batinnya. Ia memutuskan menumis daging dan membuat satu menu sayur tumis—setidaknya semua tetap bisa makan dengan layak. Meski hatinya sedang kosong dan tubuhnya kehilangan semangat, Dian tetap bergerak. Demi Naya, ia tak boleh menyerah.

Saat ia sibuk di dapur, suara pintu depan terbuka terdengar jelas. Tak lama kemudian, langkah kaki yang begitu dikenalnya menyusul—Andi dan ibu mertuanya telah pulang. Dian mengetahuinya, namun ia memilih pura-pura tak peduli. Tangannya tetap lincah mengaduk masakan, seolah dunia di luar dapur tak lagi berpengaruh padanya.

Nuri melangkah turun menghampiri Dian yang masih sibuk di dapur.

“Mbak, Naya minta susu. Biar aku saja yang buat, ya,” ucapnya sambil tersenyum tulus.

Belum sempat Dian menjawab, Bu Minah langsung menyela dengan nada tinggi.

“Kamu ini gimana, Dian! Masa Nuri yang disuruh ngurus anakmu? Dasar ibu nggak becus! Anak sendiri aja nggak bisa diurus!” hardiknya penuh amarah.

Nuri yang sejak tadi menahan kesal akhirnya angkat suara.

“Ibu bisa diam nggak? Pusing dengarnya. Aku sendiri yang mau jaga Naya. Ibu mau apa?” tanyanya tegas.

Dian yang tak ingin suasana makin panas segera menengahi.

“Sudah, sudah… maaf ya, Nur, mbak malah jadi ngerepotin,” ucapnya pelan.

Sementara itu, Andi hanya memperhatikan sekilas tanpa berkata apa pun, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.

Dian sempat melirik suaminya sekilas. Jujur saja, hatinya terasa perih. Bukan karena dimarahi mertuanya—itu sudah biasa—melainkan karena Andi sama sekali tak membelanya. Justru Nuri, iparnya sendiri, yang berdiri di hadapannya menghadapi Bu Minah. Ada luka kecil yang mengendap, tapi Dian memilih diam dan menelannya sendiri.

Usai salat Isya, mereka akhirnya makan malam bersama. Suasana terasa canggung, obrolan pun seperlunya saja. Dian lebih banyak menunduk, menyuap makanan tanpa selera, sementara Bu Minah sesekali menghela napas kesal.

Naya sudah lebih dulu terlelap di kamar Nuri. Bocah kecil itu tertidur pulas setelah seharian bermain, tak menyadari badai perasaan yang sedang dihadapi ibunya.

Nuri ikut membantu Dian di dapur, mencuci piring sementara Dian sibuk menyiapkan adonan cilok. Tangannya cekatan mengaduk tepung, sesekali menyiapkan bumbu untuk saus kacang. Sejak tadi Dian lebih banyak diam, pikirannya jelas melayang entah ke mana.

Nuri beberapa kali melirik kakak iparnya itu, merasa ada yang berbeda. Akhirnya ia membuka suara,

“Mbak, baik-baik saja?” tanyanya pelan, hampir berbisik.

Dian menoleh, memaksakan senyum di wajahnya. “Enggak kok,” jawabnya ringan. Lalu cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, “Eh itu, pelanggan pada nanyain, kapan cilok ready,” ucap Dian berbohong, seolah semuanya baik-baik saja.

“Jadi nggak sabar nih mau cobain, Mbak,” jawab Nuri antusias, matanya berbinar sambil melirik adonan cilok di tangan Dian.

Sekitar pukul sepuluh malam, semua pekerjaan akhirnya rampung. Dian merapikan dapur hingga tuntas, bahkan sempat mengepel lantai sebelum benar-benar berhenti.

“Nuri, besok sepertinya Mbak mau pulang ke Pinang,” ucap Dian pelan.

Nuri menoleh kaget. “Kok cepat banget, Mbak? Aku baru kenal Mbak sama Naya. Bahkan rencananya pas hari libur nanti aku mau ngajak Mbak jalan,” katanya spontan.

Dian tersenyum tipis. “Mbak juga penginnya begitu, Nur. Tapi Mbak merasa Bang Andi sebenarnya enggak menginginkan kami lama-lama di sini.”

Ucapan itu membuat Nuri terdiam. Dadanya terasa tidak nyaman. Ia paham betul perasaan dan firasat seorang istri, namun di sisi lain posisinya serba salah—seperti buah simalakama, maju salah, mundur pun tak mudah.

Dian tahu, Nuri pun sebenarnya tak ingin terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangganya. Kesadaran itu membuat Dian memilih diam, bukan karena tak ada yang ingin ia katakan, melainkan karena ia memahami posisi Nuri yang serba sulit.

Pandangan Dian beralih ke arah jendela dapur. Dari balik kaca, lampu-lampu malam tampak redup dan sunyi. Ia menghela napas pelan, menahan segala rasa yang bergemuruh di dadanya, lalu kembali menunduk—belajar menerima bahwa tidak semua luka perlu disuarakan, dan tidak semua orang sanggup ikut menanggungnya.

“Mbak, boleh ya malam ini aku tidur sama Naya?” pinta Nuri lirih, nadanya penuh harap.

Dian menoleh, lalu tersenyum lembut. “Boleh, Nur. Mbak gantiin dulu pampers-nya Naya, ya.”

“Biar aku aja, Mbak,” sahut Nuri cepat, matanya berbinar. “Sekalian belajar jadi ibu,” ujarnya tulus.

Dian terdiam sesaat, hatinya terasa hangat. Entah mengapa, sejak tadi Nuri terlihat begitu menyayangi Naya—bukan sekadar karena Naya menggemaskan, tapi ada kasih yang jujur di setiap sentuhannya. Dian pun mengangguk pelan, menyerahkan Naya ke pelukan Nuri, dengan perasaan campur aduk antara haru dan syukur.

“Terima kasih ya, Nur,” ucap Dian lirih, suaranya sarat rasa. “Sudah menerima Naya. Kamu baik… sama baiknya dengan Arif.”

Nuri menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Mbak, Naya itu anak kecil. Mana bisa aku enggak sayang,” jawabnya jujur. “Lagipula… aku memang suka sama anak kecil.”

Dian mengangguk pelan. Dadanya terasa hangat. Di tengah luka yang belum sembuh, setidaknya ada satu hal yang membuatnya yakin—Naya dikelilingi orang-orang yang tulus menyayanginya.

Dian masuk ke kamar, berniat membersihkan diri dan mengganti pakaian. Pandangannya langsung tertuju pada Andi yang sudah terlelap pulas. Ia berdiri sejenak, menatap wajah suaminya dengan saksama, seolah mencari jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

“Apa salahku, Bang?” lirihnya nyaris tak bersuara. Air mata jatuh tanpa bisa ia bendung. “Kenapa kamu tega mengkhianatiku? Kamu bahkan sudah berbagi tubuh dan rasa dengan wanita lain… sampai berani berselingkuh ke luar negeri.”

Tangannya gemetar menutup mulut, menahan isak yang kian sesak. Namun di balik luka yang menggerogoti hatinya, bayangan Naya kembali hadir, menahan langkahnya untuk menyerah.

“Tapi di sisi lain,” bisiknya di sela tangis, “aku juga harus memikirkan kebahagiaan anak kita…”

Dian menunduk, membiarkan air mata jatuh dalam diam—antara perih sebagai istri, dan ikhlas yang dipaksakan demi seorang anak.

Ia akhirnya mengambil keputusan—kembali ke Pinang. Dengan hati yang berat, Dian mulai merapikan barang-barangnya. Satu per satu pakaian dilipat rapi, disusunnya ke dalam koper kecil. Sesekali tangannya terhenti saat memegang baju milik Naya, ada rasa sesak yang menekan dadanya.

Baju-baju Naya yang mungil ia lipat dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang menyiapkan bekal untuk perjalanan yang bukan sekadar jarak, melainkan juga perpisahan sementara. Di setiap lipatan, ada doa yang diselipkan—agar langkahnya kali ini adalah langkah yang tepat, bukan lari, melainkan cara untuk menguatkan diri.

Tanpa suara, Dian menghela napas panjang. Keputusan ini bukan karena ia kalah, tetapi karena ia perlu menenangkan hati, demi dirinya sendiri dan demi Naya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!