Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Bus itu berhenti dengan suara pelan. seperti orang yang kelelahan setelah perjalanan jauh. Nara turun perlahan, menjejakkan kaki di tanah yang belum ia kenal, tapi entah kenapa terasa tidak asing, seperti ia pernah ada di tempat ini sebelumnya.
Udara di desa itu lebih dingin. Lebih bersih. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada orang yang berjalan tergesa-gesa. Hanya jalanan sempit, pepohonan yang berjejer tegak, dan setiap halaman rumah warganya dihiasi dengan bunga-bungan segar yang memanjakan mata.
Sejenak Nara menarik napas. Untuk pertama kalinya sejak lama, dadanya tidak sesak, tempat ini seperti pernah ia jumpai, namun ia lupa dengan waktunya.
"Bunga-bunga bermekaran, seperti tidak asing," ujarnya sendiri penuh heran.
Dan seketika puing-puing ingatan mulai melintas di dalam pikirannya perlahan. "Astaga!" Nara terkejut seketika. "Tempat ini yang ada di mimpiku kemarin-kemarin." Nara membekap mulutnya dengan tangan seolah tidak percaya, jika kakinya akan berpijak, ke tempat yang ada di dalam mimpinya.
"Ini bukan hanya kebetulan semata," ucapnya pelan. "Mungkin Tuhan sudah merencanakan semuanya."
Nara menatap jajaran rumah kayu yang sangat rapi dan terlihat estetik dengan pepohonan dan bunga-bunga cantik di depannya. Ia melangkah pelan, mengikuti petunjuk alamat yang tertulis di ponselnya, rumah nenek dari sahabat lamanya, Albi.
Sudah lama sekali sejak terakhir mereka bertemu. Bertahun-tahun. Bahkan sebelum Nara menikah. Ia ragu saat menghubungi Albi beberapa hari lalu. Ragu karena masa lalu selalu rumit. Tapi jawaban Albi singkat, tanpa banyak tanya.
Datang saja. Kamarnya masih ada.
Itu saja. Tidak ada pertanyaan kenapa. Tidak ada kamu kenapa.
Rumah itu berdiri sederhana di tepi kebun kecil. Dindingnya kayu, catnya mulai pudar, tapi halamannya rapi, cukup luas, dan ditumbuhi beberapa pohon buah dan bunga-bunga seperti rumah-rumah lainnya.
Seorang perempuan tua menyapu di teras. Saat melihat Nara, ia tersenyum hangat, seolah sudah tahu jika sore ini tamu jauh akan singgah di rumahnya.
“Kamu Nara, ya?” tanyanya, dengan logat Jawa yang begitu kental.
Nara mengangguk. “Iya, Nek.”
“Masuk, masuk. Albi lagi ke belakang,” kata nenek itu ramah, seolah Nara adalah cucu yang lama pergi dan baru pulang.
Nara melangkah masuk. Ruangannya sederhana, tapi bersih. Ada aroma teh hangat. Tidak ada barang mewah, tidak ada foto keluarga yang berlebihan. Hanya ketenangan.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah dapur.
“Mbah, aku—”
Suara itu terhenti. Albi berdiri di ambang pintu. Lebih tinggi dari yang Nara ingat. Lebih kurus. Tapi tatapan matanya masih sama tenang, seperti seseorang yang tidak terburu-buru menilai dunia.
“Nara,” katanya pelan.
“Albi,” sahut Nara. Senyum kecil muncul di wajahnya, gugup.
Mereka berdiri canggung beberapa detik. Lalu Albi tersenyum tipis. “Kamu sampai juga.”
“Iya,” jawab Nara. “Makasih… udah nerima aku.”
Albi mengangguk. Tidak ada tatapan menyelidik. Tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan, ia hanya menyediakan tempat baru untuk sang sahabat, meskipun bukan bangunan gedongan tapi tempat ini bersih dan layak huni.
“Kamar belakang masih kosong,” katanya. “Kamu bisa istirahat. Perjalanan jauh.”
Itu saja.
Nara menahan napas. Kalimat sederhana itu membuat dadanya menghangat. Ia mengangguk cepat, takut kalau ia bicara lebih banyak, air matanya akan jatuh.
Di kamar itu, Nara duduk di tepi ranjang kayu. Jendela menghadap kebun kecil. Angin masuk membawa suara dedaunan. Sunyi yang berbeda. Sunyi yang tidak menuntut.
Ia meletakkan tangan di perutnya. “Di sini aman,” bisiknya. Entah pada dirinya, entah pada benih kecil yang belum ia pahami sepenuhnya.
Di dapur, suara Albi dan neneknya terdengar samar. Tidak membicarakan dirinya. Tidak bertanya dari mana ia datang. Tidak bertanya mengapa ia sendiri.
Untuk pertama kalinya, Nara berada di tempat yang tidak ingin tahu masa lalunya. Dan di tempat inilah, perlahan, ia mulai percaya, bahwa hidup bisa berjalan tanpa harus selalu menjelaskan luka.
☘️☘️☘️☘️
Malam mulai turun, semenjak datang tadi Nara langsung tidur, dan baru kali ini, ia benar-benar merasakan tidur yang cukup nyenyak dan lama.
Wanita cantik itu beranjak dari ranjang kecilnya, kaki telanjangnya mulai menapaki lantai semen dengan pelan, ia membuka pintu kamar, dan menengok ke arah kanan, khususnya ruang tengah, di situ ada Albi yang fokus dengan laptopnya.
"Bi ....," panggilnya pelan.
Albi terkesiap. "Eh, baru bangun?"
Nara mengangguk dengan senyum kecil. "Iya."
"Mungkin karena perjalanan jauh," kata Albi singkat.
Selang berapa detik, tiba-tiba saja suara Nenek dari ruang depan terdengar. “Le, koncomu kuwi kok durung diajak maem? Mesakno, nganti sore wetenge durung kelebu opo-opo.” ujar Mbah Narsih.
"Oh nggih Mbah," sahut Albi.
Albi pun langsung menoleh ke arah Nara, ia memperhatikan sahabatnya itu sedang memegangi perutnya. "Kamu kenapa?" tanya Albi.
"Aku mau buang air kecil, kamar mandi mana?" tanya Nara pelan.
Kamu lulus ke belakang saja, di situ letak kamar mandinya," sahut Albi. "Setelah itu kita langsung makan ya, si Mbah sudah nyuruh kamu makan, katanya dari sore tadi perutmu belum keisi apa-apa," ujar Albi.
Nara mengangguk, kecil entah kenapa perhatian kecil itu membuat dadanya menghangat.
Nara segera melangkah, bukan hanya ingin buang air kecil saja, namun mual yang ada di dalam tubuhnya mulai menyergap, mendesak perutnya untuk segera mengeluarkan isinya.
"Ueeegh ...," seluruh isi perutnya keluar semua.
Nara segera membasuh wajah, sebelum akhirnya ia kembali lagi ke Albi yang sedang menunggunya di ruang tengah.
"Bi, kau masih sibuk?" tanya Nara.
"Enggak juga, aku tunggu kamu," sahutnya.
"Untuk apa?" tanya Nara.
"Kan kamu belum makan, apa iya, kamu mau membiarkan perutmu itu keroncongan," sahut Albi.
Nara tertegun, tiba-tiba saja bayangan kelabu itu menyergap pikirannya, tentang ia yang selalu menawarkan makan tapi selalu ditolak, dan kali ini, di tempat ini. Ia mendapatkan perhatian kecil, yang tidak ia dapatkan sebelumnya.
"Baiklah aku lupa," ujar Nara dengan senyum yang kikuk.
Albi langsung mengajak Nara ke dapur neneknya yang cukup sederhana, di sini mereka berdua duduk di lantai yang sudah dialasi karpet.
Dengan cepat tangan Albi mengantar beberapa lauk sederhana dihadapan Nara. "Ayo dimakan, meskipun cuma menu sederhana khas desa," ujar Albi.
"Gak apa-apa," sahut Nara.
Kemudian ia melirik ke menu yang belum pernah ia makan sejak dulu, yaitu bunga pepaya yang dicampur dengan ikan asin kecil.
Nara segera mengambil sayur itu, dan meletakkan ke piringnya, setelah itu ia mencicipi sedikit. Enak, meskipun ada rasa getir, tapi sudah ketutup dengan bumbu-bumbunya.
"Enak Bi," ucap Nara.
"Ya sudah kalau gitu tambah nasi di jamin tambah mantap," ujar Albi.
Seketika Nara terdiam, di dalam kehamilannya ini, ia seolah alergi dengan aroma nasi apalagi menyentuhnya.
"Aku gak makan nasi, ini aja boleh?" tanya Nara.
"Ya gak apa-apa, ambil saja menu mana yang kau suka," kata Albi akhirnya.
Ia tidak bertanya banyak, meskipun ia mendengar, di kamar mandi tadi Nara mual, dan satu tanda ini tadi membuatnya semakin tahu, tapi lagi-lagi ia berusaha diam, bukan karena tidak peduli, melainkan ingin menjaga hati wanita yang terlihat sedang tidak baik-baik saja itu.
Bersambung. ...
Siang ... semoga suka ya!