NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Setelah perjalanan melelahkan melintasi perbatasan, gerbang putih agung Kerajaan Aethelgard akhirnya terlihat menjulang di kaki cakrawala. Menara-menara emas istana berkilau memantulkan cahaya matahari, tampak seperti permata yang tertanam di bumi. Bagi tujuh pangeran, ini adalah kepulangan yang seharusnya penuh suka cita. Namun, di dalam hati mereka, ada kabut keraguan yang lebih pekat daripada asap peperangan.

Di dalam kereta kencana yang paling mewah, Putri Morena duduk bersandar pada bantalan sutra. Ia memandang ke luar jendela dengan tatapan penuh kemenangan. Ada sesuatu yang berubah dari sikapnya sejak memasuki wilayah Aethelgard; ia tak lagi memakai riasan tebal yang gelap seperti di Noxvallys. Kini, wajahnya tampak lebih bersih, mencoba meniru keanggunan Ratu Elara yang tersohor. Ia membelai Pulpen Cendana Emas yang kini tersemat di pinggangnya dengan jemari yang angkuh, seolah benda itu adalah segel takdir yang tak terbantahkan.

Alistair menatap Morena dari balik kuda perang besarnya. Benar, gadis itu memiliki bukti fisik yang sah, dan bekas luka di pergelangan tangannya persis seperti deskripsi yang diberikan Raja Malakor.

Namun, entah mengapa, Alistair tidak merasakan kehangatan apa pun saat berada di dekatnya. Kehadiran Morena terasa dingin dan penuh tuntutan, seperti permata mati yang tidak memiliki jiwa, sangat jauh dari bayangan adik kecil yang dulu sering ia timang.

Sementara itu, jauh di barisan belakang rombongan, Ara meringkuk di dalam kandang besi yang terbuka. Debu jalanan menempel di kulitnya yang lebam, dan pakaian pelayannya kini nyaris hancur menjadi kain perca. Mata biru Ara menatap sayu ke arah kastil yang mendekat. Bagi siapa pun yang melihat, Morena adalah sang putri yang bersinar, sementara Ara hanyalah bayangan kotor yang pantas dihina sebagai pencuri pusaka kerajaan.

Rombongan akhirnya memasuki pelataran istana. Raja Alaric dan Ratu Elara sudah berdiri di puncak tangga marmer, dikelilingi oleh ratusan pelayan dan pengawal yang bersorak sorai. Kabar bahwa "Putri Aurora telah ditemukan" telah menyebar seperti api di musim kering ke seluruh penjuru negeri.

Ratu Elara hampir jatuh pingsan saat melihat Morena turun dari kereta. Ia berlari menuruni tangga dan memeluk Morena dengan sangat erat. "Aurora... anakku... kau benar-benar kembali!" tangis sang Ratu pecah, membasahi bahu gaun sutra Morena.

Morena berpura-pura terisak, membalas pelukan itu dengan sandiwara yang sempurna. "Bunda... akhirnya aku pulang. Maafkan aku karena terpisah begitu lama di tangan orang-orang jahat."

Raja Alaric mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh bahu Morena. Ia menatap lekat-lekat wajah gadis itu, lalu beralih pada benda yang tergantung di pinggangnya. "Pulpen Cendana Emas itu... benar, ini adalah tanda pengenal putriku yang hilang. Hanya darah Valerius yang bisa membawa pulang benda ini."

Alistair maju dan memberikan hormat. "Kami menemukannya pada Putri Morena, Ayahanda. Meskipun... ada sedikit kekacauan di perjalanan karena ada yang mencoba merebutnya."

Pandangan Raja Alaric kemudian beralih ke arah barisan belakang, di mana sebuah kandang besi sedang diturunkan dari kereta kayu oleh para penjaga. Di dalamnya, Ara tertunduk lemas, berusaha menutupi wajahnya dari pandangan ribuan orang yang mulai mencemoohnya sebagai pelayan pengkhianat.

"Siapa gadis di dalam kandang itu, Alistair?" tanya Raja dengan kening berkerut, merasa pemandangan itu mengotori harinya.

"Dia adalah pelayan yang mencoba mencuri pulpen emas ini dari tangan Putri Morena, Baginda," jawab Morena cepat, memotong pembicaraan dengan suara yang dibuat dramatis. "Dia sangat licik, bahkan berani berbohong di depan para pangeran demi merebut identitasku. Aku membawanya ke sini agar dia bisa diadili dengan hukum Aethelgard yang paling berat."

Ratu Elara menatap ke arah kandang itu. Untuk sekilas, matanya bertemu dengan mata biru Ara yang basah oleh air mata. Jantung sang Ratu berdegup kencang secara tidak wajar. Ada sesuatu yang menarik jiwanya ke arah gadis kotor di dalam kandang itu—sebuah tarikan batin yang tidak ia rasakan saat memeluk Morena, meskipun Morena membawa semua bukti fisik keberadaannya. Namun, logika dan bukti di depan mata sang Ratu berkata lain.

"Bawa pelayan itu ke penjara bawah tanah!" perintah Raja Alaric dengan suara berat. "Jangan biarkan kehadirannya merusak hari bahagia ini."

Ara diseret keluar dari kandang. Kakinya yang lemas terpaksa melangkah di atas marmer dingin istana yang—tanpa ia ketahui—adalah rumahnya sendiri. Saat ia melewati ketujuh pangeran, ia tidak berani mendongak. Ia merasa dikhianati, terutama oleh Benedict yang semalam sempat memberinya sedikit perhatian, namun kini hanya berdiri diam menyaksikan dirinya diseret menuju kegelapan.

Malam harinya, istana mengadakan perjamuan penyambutan yang sangat megah. Musik berdendang dan tawa memenuhi aula. Namun, di ruang perpustakaan rahasia, ketujuh pangeran berkumpul dengan wajah yang sangat muram.

"Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri," Caspian membuka suara sambil melempar sebuah gulungan peta ke atas meja. "Secara fisik, Morena memiliki segalanya. Dia punya Pulpen Cendana Emas dan pengetahuan tentang malam penculikan itu. Secara realistis, tidak ada hakim di dunia ini yang akan meragukan bahwa dia adalah Aurora."

"Tapi sifatnya, Caspian!" seru Gideon dengan emosi. "Dia memperlakukan pelayan istana kita seperti sampah sejak dia menginjakkan kaki di sini. Dia sangat sombong. Apakah darah Valerius bisa berubah menjadi sedingin itu hanya karena dibesarkan di Noxvallys?"

"Itu mungkin saja, Gideon," sahut Darian dengan nada getir. "Tapi perhatikan pelayan bernama Ara itu. Dia juga memiliki mata biru yang identik dengan keluarga kita. Mengapa ada dua gadis dengan mata biru yang sama muncul bersamaan dalam kasus ini?"

"Itulah yang membingungkan," Benedict menyela. Sejak tiba di istana, ia adalah yang paling banyak terdiam. "Raja Malakor dari Noxvallys dikenal sebagai penyihir yang licik. Bukan hal yang mustahil bagi dia untuk melatih seseorang untuk menjadi bonekanya. Namun, pertanyaannya adalah siapa di antara mereka yang memiliki jiwa Aurora?"

Alistair menghela napas panjang. "Jika Morena adalah adik kita, maka kita harus menerimanya. Tapi jika kita salah... jika kita justru memuja seorang penipu dan membiarkan adik kandung kita membusuk di penjara bawah tanah, maka kita adalah ksatria yang paling gagal di dunia ini."

"Kita butuh bukti yang tidak bisa dimanipulasi," ucap Evander lembut. "Pulpen itu... Bukankah pulpen itu memiliki mekanisme rahasia? Aku ingat Ayahanda pernah bilang bahwa pulpen itu bukan hanya alat tulis, melainkan kunci."

Alistair mengangguk. "Benar. Tapi hanya Raja yang tahu rahasianya. Dan saat ini, Ayahanda terlalu bahagia hingga ia tidak mau meragukan apa pun."

Di saat para pangeran berdebat, jauh di bawah tanah istana, Ara duduk di atas lantai jerami yang lembap. Penjara bawah tanah Aethelgard sangat sunyi, hanya ada suara tetesan air dari dinding batu. Ia menatap ke arah jeruji besi yang tinggi, merasa dunianya telah berakhir.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu dari masa kecilnya yang samar. Saat ia merasa sangat sedih atau kesakitan di Noxvallys, ia selalu menggambar sebuah simbol di atas debu untuk menenangkan dirinya. Dengan jari yang gemetar dan terluka, Ara mulai menggerakkan jemarinya di atas lantai penjara yang berdebu.

Ia menggambar simbol burung phoenix yang sayapnya melingkar membentuk hati—lambang kuno keluarga Valerius yang bahkan sudah jarang digunakan.

Ia tidak tahu dari mana ia mempelajari simbol itu, namun gerakan jemarinya terasa begitu alami. Tanpa ia sadari, air matanya jatuh tepat di tengah-tengah gambar tersebut, membuat debu itu sedikit berlumpur.

Di lantai atas, perjamuan masih berlangsung.

Morena sedang berdansa dengan sangat anggun, mencoba menarik perhatian Alistair untuk membuktikan kekuasaannya.

Namun, kecerobohan Morena mulai terlihat saat emosinya tak terkendali. Ketika seorang pelayan istana tidak sengaja menyenggol lengan bajunya saat menuangkan anggur, Morena seketika menjerit dan memaki pelayan itu dengan kata-kata yang sangat kasar.

Ratu Elara yang melihat hal itu mengerutkan kening. "Aurora, tenanglah sayang. Dia hanya tidak sengaja," ucap Ratu mencoba menenangkan dengan lembut.

"Dia bodoh, Bunda! Pelayan tidak berguna seperti ini harus dihukum cambuk!" Morena membentak, sesaat lupa bahwa ia sedang di depan Ratu Aethelgard yang dikenal sangat penyayang.

Ratu Elara terdiam. Ia menatap Morena dengan perasaan asing. Mata biru Morena yang sedang melotot penuh amarah itu tidak memancarkan kedamaian yang ia harapkan. Sang Ratu teringat pada mata pelayan yang diseret ke penjara tadi—mata yang meskipun penuh penderitaan, memiliki kejernihan yang sama dengan mendiang ibunya.

Malam itu ditutup dengan penuh tanda tanya. Realitas fisik menunjukkan Morena adalah sang putri, namun insting mereka merasakan ada kehadiran lain yang lebih benar. Di dalam gelapnya penjara, Ara terus menggambar phoenix di debu, tidak menyadari bahwa di atas sana, tujuh pasang mata pangeran mulai meragukan sang putri palsu dan mulai mencari kembali cahaya yang sebenarnya hilang.

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!