Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam Tanpa Kata
Satu bulan telah berlalu sejak pertengkaran itu, namun tak ada satu pun yang benar-benar membaik. Rumah besar itu justru terasa semakin sunyi, dipenuhi jarak yang tak terlihat tapi begitu nyata.
Tidak ada lagi percakapan basa-basi, tidak ada sapaan singkat, bahkan tatapan pun menjadi sesuatu yang langka.
Atharv menghilang dari keseharian Zafira.
Setiap pagi, meja makan selalu tersaji rapi. Sarapan hangat disiapkan, dua kursi teratur di sisi meja.
Namun hanya satu yang terisi. Zafira duduk sendirian, menatap kursi kosong di hadapannya, mendengar detak jam dinding yang terasa lebih keras dari biasanya. Atharv sudah pergi sebelum ia keluar kamar—atau mungkin sengaja menghindarinya.
Siang hari pun sama. Makan siang kembali tersaji, kali ini di ruang makan kecil. Sari beberapa kali melirik ke arah pintu, seolah berharap tuannya muncul.
Namun Atharv tak pernah datang. Ia memilih makan di luar, atau di ruang kerjanya, atau mungkin tidak makan sama sekali di rumah. Tidak ada yang tahu pasti—termasuk Zafira.
Malam menjadi waktu paling menyiksa.
Zafira duduk di meja makan dengan punggung tegak, tangannya menggenggam sendok yang tak banyak bergerak.
Lampu gantung menyala terang, tapi kehangatan tak pernah benar-benar hadir. Kursi di seberangnya tetap kosong, seperti simbol jarak yang Atharv ciptakan dengan sengaja. Tidak ada suara langkah, tidak ada suara pintu dibuka, hanya keheningan yang menekan dada.
Atharv benar-benar menjauh.
Ia tidak lagi berbicara dengan Zafira, tidak menegur, tidak menanyakan kabar, bahkan tidak memarahinya. Diamnya jauh lebih menyakitkan daripada bentakan.
Zafira merasa seolah dirinya tak ada hanya bayangan yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Pernikahan ini berubah menjadi ruang hampa: dingin, canggung, dan sunyi. Setiap hari Zafira bertanya pada dirinya sendiri, apakah ini harga yang harus ia bayar untuk sebuah fitnah yang tak pernah ia lakukan.
Dan setiap malam, ia belajar bertahan dalam kesunyian, berharap suatu hari entah kapan diam itu akan pecah, atau setidaknya, tidak lagi melukai sedalam ini.
Hari-hari berlalu begitu saja, tanpa satu pun kata yang terucap di antara mereka. Zafira menjalani rutinitasnya dalam diam, berjalan menyusuri rumah besar itu seperti bayangan yang tak diperhatikan.
Hingga suatu sore, ia memilih keluar ke halaman belakang mansion, mencoba menghirup udara segar untuk meredakan sesak yang tak kunjung pergi.
Langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok yang sangat ia kenali berdiri tak jauh darinya.
Raisa Paramitha.
Perempuan itu berdiri dengan anggun, mengenakan gaun terang yang kontras dengan wajah Zafira yang pucat. Senyum tipis terukir di bibir Raisa—senyum yang sama, yang dulu membawa fitnah ke dalam hidup Zafira.
“Sudah lama tidak bertemu, Zafira,” ujar Raisa santai, seolah mereka hanya dua kenalan lama yang berpapasan tanpa sejarah apa pun.
Zafira membeku. Dadanya langsung mengeras, napasnya tercekat.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya pelan namun waspada.
Raisa melangkah mendekat, matanya menyapu sekeliling halaman mansion dengan penuh kepuasan.
“Aku hanya berkunjung. Tapi melihatmu di sini,” ia tersenyum miring, “sepertinya hidupmu tidak seindah yang orang-orang bayangkan.”
Zafira mengepalkan tangan, menahan gemetar. Pertemuan ini terasa seperti luka lama yang kembali disayat—dan ia tahu, kehadiran Raisa tidak akan membawa apa pun selain masalah.
Raisa terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di depan dada.
“Wah dingin sekali sambutannya. Apa hidup sebagai Nyonya Pranata membuatmu setegang ini?”
Zafira mengangkat wajahnya, menatap Raisa tanpa gentar meski dadanya bergetar.
“Bukan urusanmu, Raisa,” jawabnya ketus dan dingin. “Apa pun yang terjadi dalam hidupku, itu tidak ada hubungannya denganmu.”
Alis Raisa terangkat, seolah terhibur.
“Benarkah? Padahal aku merasa punya andil besar dalam hidupmu sekarang.” Ia melangkah satu langkah lebih dekat. “Tanpa aku, mungkin kau tidak akan berada di mansion ini.”
Zafira mengepalkan tangannya.
“Kalau kau datang hanya untuk mengingatkan fitnahmu, sebaiknya kau pergi. Aku tidak ingin berbicara denganmu.”
“Fitnah?” Raisa tertawa kecil. “Lucu sekali. Kalau memang fitnah, mengapa kau tetap menikah? Mengapa Atharv tidak melepaskanmu?”
Kata-kata itu menusuk. Namun Zafira memaksa dirinya tetap berdiri tegak.
“Sekali lagi, itu bukan urusanmu. Pergilah sebelum aku memanggil orang rumah.”
Raisa mendekatkan wajahnya, suaranya direndahkan, berbisik penuh racun.
“Kau boleh berpura-pura kuat, Zafira. Tapi aku bisa melihatnya kau sendirian. Bahkan suamimu sendiri menghindarimu.”
Zafira menahan napas, menatap Raisa tajam.
“Pergi, Raisa. Aku tidak akan jatuh untuk permainanmu lagi.”
Raisa tersenyum puas, mundur selangkah.
“Kita lihat saja berapa lama kau bisa bertahan.”
Zafira berdiri kaku saat Raisa berbalik pergi.
Kakinya sedikit gemetar, namun ia menolak menunjukkan kelemahannya. Meski hatinya terluka, setidaknya satu hal pasti—kali ini, ia tidak akan membiarkan Raisa melihatnya hancur.