NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pangeran Tang Min

Sementara itu, jauh dari hutan sunyi tempat Wu Zetian tinggal, sebuah kediaman besar berdiri megah di pusat kota kekaisaran. Pilar-pilar marmer menjulang tinggi, tirai sutra berwarna emas pucat terayun pelan tertiup angin, dan lantai aula utama berkilau memantulkan cahaya lentera.

Di dalam ruangan itu, Li Hua tengah duduk anggun di kursi kayu berukir naga. Wajahnya terawat sempurna, meski usia telah meninggalkan jejak samar di sudut matanya. Di hadapannya, seorang gadis muda berdiri dengan dagu terangkat tinggi.

Wu Fanghua.

“Kau harus mulai mempersiapkan dirimu dari sekarang,” ujar Li Hua sambil menyesap teh hangatnya. Nada suaranya tenang, namun sarat tekanan.

“Seminggu lagi akan diadakan pesta perayaan ulang tahun putra mahkota. Seluruh bangsawan akan hadir. Kau harus tampil menjadi yang terbaik di sana.”

Wu Fanghua tersenyum congkak. Ia mengangkat rambut panjangnya dengan satu tangan.

“Tentu saja, Ibu,” jawabnya percaya diri. “Tidak ada seorang pun di seluruh kekaisaran ini yang bisa mengalahkan kecantikanku.”

Li Hua terkekeh kecil, jelas puas mendengar jawaban itu.

Namun tiba-tiba, senyum Li Hua berubah menjadi seringai tipis. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menyipit.

“Ngomong-ngomong, aku jadi penasaran.”

Wu Fanghua mengangkat alis.

“Penasaran apa Ibu?”

“Bagaimana kabar Wu Zetian sekarang,” ucap Li Hua santai, seolah sedang membicarakan cuaca.

“Apakah dia sudah mati kelaparan di hutan itu, ataukah menderita karena racun di tubuhnya.”

Sejenak, ruangan itu sunyi.

Lalu,

“Hahaha!”

Wu Fanghua tertawa sumbang, tawa yang dipenuhi ejekan dan kepuasan.

“Aku rasa dia sudah lama mati dimakan hewan buas, Ibu,” katanya sambil menutup mulut dengan kipas sutranya.

“Dan kalau pun belum mati, dia pasti sudah gila sendirian di sana.”

Li Hua ikut tertawa, nada tawanya dingin.

“Kau benar, putriku. Dengan menghilangnya Wu Zetian, tidak akan ada lagi yang bisa menyaingimu di kekaisaran ini.”

Ia menatap Wu Fanghua penuh ambisi.

“Dan itu berarti peluangmu menjadi istri putra mahkota akan semakin besar.”

Wu Fanghua tersenyum puas, matanya berkilat penuh keserakahan.

“Itu sudah seharusnya menjadi milikku.”

---

Sejak dulu, Selir Pertama dan Selir Ketiga memang dikenal haus akan kekuasaan. Segala cara mereka tempuh demi memastikan jalan mereka tetap bersih dari hambatan.

Wu Zetian adalah hambatan terbesar.

Ia bukan hanya cantik, bahkan lebih cantik dari Wu Fanghua. Karena itulah Selir Ketiga membencinya dengan sepenuh hati. Setiap kali Wu Zetian muncul di hadapan orang banyak, sorot mata selalu tertuju padanya, bukan pada Wu Fanghua.

Sedangkan bagi Selir Pertama, alasan kebenciannya jauh lebih dalam. Wu Zetian adalah anak sah dari Perdana Menteri Wu Zheng. Artinya, ia adalah pewaris sah kediaman itu.

Selama Wu Zetian masih hidup, posisi mereka tidak akan pernah benar-benar aman. Lebih parah lagi, Selir Zhen Zu selalu berdiri di sisi Wu Zetian. Selama wanita itu masih melindungi gadis tersebut, mustahil bagi mereka untuk menjatuhkannya.

Karena hal itu, selir pertama dan selir kedua bekerja sama menyingkirkan Wu Zetian. Setelah Selir Zhen Zu berhasil mereka tumbangkan, mereka dengan licik meracuni dan memfitnahnya. Mereka mempengaruhi perdana menteri dengan mengatakan bahwa Wu Zetian hanyalah sampah bagi keluarga. Bodoh dan tidak memiliki sihir. Sehingga perdana menteri terpengaruh dan menganggap Wu Zetian sebagai aib dari keluarganya.

---

Di sisi lain kekaisaran, di dalam kediaman kerajaan yang megah dan sunyi, Pangeran Tang Ming duduk diam di kursi besarnya. Jubah hitam berbordir emas membalut tubuhnya, namun wajah tampannya tampak murung.

Di benaknya, bayangan makanan itu kembali muncul.

Nasi putih mengepul, ayam krispi keemasan, dan aroma tumisan sayur yang sederhana namun menggoda.

Tang Ming menghela napas pelan.

Aku benar-benar kehilangan akal

Ia teringat perkataan Hao, prajurit bayangannya, beberapa waktu lalu. Usulan konyol untuk berpura-pura tersesat di hutan dan meminta makanan pada Wu Zetian.

Memalukan.

Seorang pangeran kekaisaran mengemis makanan?

Di mana aku akan menaruh wajahku jika kabar itu tersebar?

Tang Ming mengepalkan tangannya.

Kenapa aku begitu penasaran?

Setelah beratus-ratus pertimbangan, Tang Ming akhirnya berdiri.

"Aku akan pergi sendiri."

Ia menghela napas panjang. Ia berpikir kalau sendirian tidak akan ada yang tahu apa yang akan ia lakukan.

---

Hari itu, cuaca di hutan terasa sangat bersahabat. Langit biru membentang luas, angin berembus lembut, dan dedaunan berkilau terkena cahaya matahari.

Setelah menjual sebagian hasil kebunnya di pasar, Wu Zetian menyisihkan sebagian kecil dari koin yang ia peroleh untuk membeli udang dan cumi segar berukuran besar sebagai lauk hari itu. Di dapur sederhana kediamannya, ia dengan telaten mengolah udang menjadi masakan yang sangat nikmat. Ia memasak udang asam manis yang mengilap dan membakar cumi hingga harum, lalu menambahkan perasan jeruk nipis agar rasanya semakin segar dan menggugah selera. Karena porsinya yang cukup banyak, Zetian menyimpan lauk tersebut untuk di jadikan lauk di siang hari.

____________

Wu Zetian membawa tas kain kecil di pundaknya, berjalan menyusuri hutan sambil memetik tanaman obat. Wajahnya kini tampak jauh lebih cerah dibandingkan beberapa hari lalu. Tubuhnya ringan, langkahnya mantap.

Saat ia berjongkok untuk memetik sejenis akar, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di balik semak-semak.

“Hm?”

Rasa penasaran membuatnya menyingkirkan dedaunan itu.

Sebuah liontin.

Permatanya berwarna lilac, berkilau lembut meski tertutup lumpur dan tanah. Ukirannya halus, jelas bukan milik orang biasa.

Siapa pemiliknya?

Wu Zetian memiringkan kepala.

Sepertinya sudah lama di sini…

Setelah mempertimbangkan sebentar, ia memasukkan liontin itu ke dalam tas kainnya.

Ia pun melanjutkan kegiatannya.

---

Tak jauh dari sana, Tang Ming akhirnya tiba di hutan dengan pakaian yang sangat sederhana seperti warga biasa.

Begitu melihat sosok Wu Zetian sedang memetik obat, refleks ia bersembunyi di balik pohon besar. Jantungnya berdetak cepat.

Itu dia…

Ia memperhatikan gadis itu dengan saksama. Otaknya bekerja cepat.

"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

"Daripada berpura-pura tersesat, lebih baik cara lain."

Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan sebilah badik dari balik pakaiannya. Tanpa ragu, ia menyayat permukaan kulit lengan kanannya. Darah segar segera mengalir.

Ia mengerang pelan, lalu sengaja membuat kegaduhan dan menjatuhkan diri di samping pohon.

“Uh!”

Suara itu menggema cukup keras.

Wu Zetian yang sedang memetik obat langsung menegang. Jantungnya berdebar.

"Apakah itu binatang buas?"

Ia menoleh cepat, matanya menyapu sekitar.

Namun yang ia lihat adalah seorang pria tergeletak di samping pohon, lengannya berdarah.

Wu Zetian tanpa pikir panjang berlari mendekat.

“Heii!” serunya cemas. “Apa yang terjadi padamu?”

Tang Ming membuka matanya perlahan, berpura-pura lemah.

“Tadi saya sempat bertemu binatang buas dan terkena cakarannya” katanya terengah.

Wu Zetian merasa iba.

“Lukamu cukup dalam. Ikut aku ke kediamanku. Aku bisa mengobatinya.”

Tang Ming mengangguk lemah.

“Terima kasih"

Dibalik itu, Tang Ming menyeringai puas dengan aktingnya barusan.

---

Sesampainya di rumah, Tang Ming langsung membeku. Di depan rumah itu, berdiri seorang pria tua.

Kakek Zhou.

Kenapa dia ada di sini…?

Kenangan masa kecilnya menyeruak. Saat ia latihan berkuda dan pedang. Sosok pria ini yang dulu selalu berdiri di sisinya.

Di saat yang sama, Kakek Zhou juga terdiam.

Ia sangat mengenal wajah itu.

Pangeran Tang Ming.

Pangeran kedua Kekaisaran Tang.

_________________

Yuhuuu~🌹

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author

See youu~💖

1
Murni Dewita
double up thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!