Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari kamar yang terasa jauh lebih luas dan dingin dari biasanya.
Liana membuka matanya dengan perasaan hampa yang masih sama, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya: sebuah ketegasan yang dipaksakan.
Tanpa suara, ia bangkit dari tempat tidur. Angela yang masih tertidur pulas di sofa kamar tidak menyadari saat Liana melangkah ke kamar mandi.
Di bawah kucuran air dingin, Liana mencoba membasuh sisa-sisa duka yang membekas di wajahnya.
Ia harus berdiri tegak dan tidak ingin terlihat hancur di depan orang-orang yang telah mengatur hidupnya.
Angela mengerjap, terbangun karena suara pintu lemari yang digeser.
Ia mengucek matanya dan tertegun melihat Liana sudah rapi.
"Kamu mau ke mana, Li?" tanya Angela dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Angela memperhatikan sahabatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Liana mengenakan kemeja formal, rok span gelap, dan blazer yang senada.
Wajahnya dipulas riasan tipis, cukup untuk menutupi sembab di matanya yang masih tersisa.
"Mau kerja, Ang. Kamu nggak kerja?" tanya Liana datar, sambil merapikan jam tangan di pergelangannya.
Angela langsung terduduk tegak, rasa kantuknya hilang seketika.
"Kerja? Li, ini baru hari kedua setelah pemakaman. Kamu bahkan belum seminggu jadi istri di rumah ini. Apa kamu sudah gila? Kamu butuh istirahat, bukan malah ke kantor."
Liana menoleh, menatap Angela melalui pantulan cermin.
"Kalau aku diam di rumah ini, aku akan benar-benar gila, Ang. Aku butuh udara yang tidak beraroma rasa bersalah atau belas kasihan. Aku butuh duniaku kembali, dunia di mana aku adalah Liana, bukan 'istri kedua' atau 'anak yatim'."
"Tapi Abi, dia pasti nggak akan kasih izin, Li," sahut Angela cemas.
Liana menarik napas panjang, lalu menyambar tas kerjanya dengan gerakan mantap.
"Aku tidak butuh izin dari siapa pun untuk menentukan hidupku sendiri. Aku berangkat sekarang."
Liana melangkah keluar kamar dengan kepala tegak, meski jantungnya berdegup kencang.
Ia tahu di lantai bawah, Abi dan Genata pasti sudah menunggunya di meja makan.
Suasana meja makan yang semula hanya diisi oleh suara denting sendok seketika membeku saat Liana muncul di undakan tangga terakhir.
Langkah kakinya yang tegas dengan sepatu hak tinggi bergema di lantai marmer, menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
Mama Prameswari langsung bangkit dari duduknya.
Matanya yang sembab menatap putrinya dengan campuran antara cemas dan tidak percaya.
"Liana, kamu sudah bangun? Mari sarapan dulu, Nak," ucap Mama lembut, mencoba meredam ketegangan. Namun, saat menyadari pakaian yang dikenakan Liana, keningnya berkerut.
"Kamu mau ke mana, Nak? Kenapa sudah rapi seperti ini?"
Liana berhenti tepat di ujung meja makan, tangannya mencengkeram erat tali tas kerjanya.
Ia menatap lurus ke depan, menghindari kontak mata dengan Abi yang duduk di kepala meja.
"Kerja, Ma. Mama nggak lihat Liana pakai pakaian apa?" jawab Liana dengan nada sinis yang menyengat, sengaja menekankan setiap kata.
Tante Rani dan Genata saling berpandangan dengan wajah pucat.
Jawaban Liana bukan sekadar jawaban, melainkan sebuah konfrontasi terbuka bagi siapa pun yang merasa memiliki hak atas dirinya sekarang.
BRAKK!
Suara gebrakan meja itu cukup keras hingga membuat piring-piring bergetar.
Abi berdiri, wajahnya mengeras, dan sorot matanya yang biasanya teduh kini memancarkan amarah yang tertahan.
"Liana! Jaga bicaramu pada Mamamu!" suara Abi berat dan dalam, memenuhi ruangan.
"Papamu baru saja dimakamkan kemarin. Tidak ada yang pergi bekerja hari ini. Masuk ke kamarmu dan ganti pakaianmu sekarang."
Liana tidak mundur selangkah pun dan justru membalas tatapan Abi dengan keberanian yang lahir dari rasa sakit.
"Papaku memang sudah tidak ada, Paman. Dan itulah alasannya aku harus bekerja. Aku tidak mau menggantungkan hidupku pada 'balas budi' atau pada pria yang membeli hidupku dengan janji masa lalu," ucap Liana tajam.
"Liana, cukup!" Mama Prameswari memegang lengan putrinya, suaranya gemetar.
"Jangan seperti ini, Nak. Abi suamimu sekarang, dengarkan dia."
"Suami?" Liana tertawa getir, matanya mulai memanas namun ia menolak untuk menangis.
"Dia suami Mbak Genata, Ma. Aku di sini hanya karena terpaksa. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengunci langkahku, bahkan pria ini sekalipun."
Abi mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Ia melihat Liana bukan lagi sebagai gadis kecil yang manis, melainkan seorang wanita yang sedang membangun benteng pertahanan dari luka-lukanya.
"Selama kamu berada di bawah atapku, kamu harus mengikuti aturanku, Liana Az Zahra," ucap Abi dingin.
Abi tidak mempedulikan teriakan maupun pukulan Liana yang mendarat bertubi-tubi di dadanya.
Kekuatannya jauh melampaui Liana yang masih lemas pasca kehilangan.
Dengan satu gerakan mantap, ia memanggul Liana di bahunya, mengabaikan tatapan kaget dari Mama Prameswari dan Tante Rani yang masih mematung di ruang makan.
Angela yang baru saja keluar dari kamar tamu terbelalak melihat pemandangan itu.
"Om! Lepaskan Liana!" teriaknya, namun Abi terus melangkah lebar menaiki tangga.
"Ini urusan rumah tangga kami, Angela. Tolong jangan ikut campur dulu," ucap Abi dengan nada yang mutlak dan tak terbantahkan.
Sesampainya di dalam kamar, Abi menurunkan Liana dengan hati-hati namun tegas di atas tempat tidur besar itu.
Liana segera bangkit, hendak berlari menuju pintu, namun Abi lebih cepat.
CEKLEK!
Bunyi kunci pintu yang diputar bergema di ruangan yang mendadak terasa sempit itu.
Abi mencabut kunci dari lubangnya dan memasukkannya ke dalam saku celana.
"Buka pintunya, Paman! Aku bilang buka!" Liana berteriak, suaranya parau karena amarah dan tangis yang bercampur jadi satu.
Ia memukul pintu kayu itu dengan kedua tangannya yang gemetar.
Abi berdiri diam di belakang Liana, napasnya memburu.
"Kamu tidak akan pergi ke mana pun dalam keadaan kacau seperti ini, Liana. Kamu tidak sedang ingin bekerja, kamu hanya sedang ingin melarikan diri dari kenyataan bahwa Papamu sudah tiada."
Liana berbalik, menatap Abi dengan mata yang menyala.
"Dan kamu senang, kan? Dengan mengunciku di sini, kamu merasa sudah menang? Kamu merasa sudah memiliki hak penuh atas hidupku karena Papa memberikan aku padamu seperti barang rongsokan?"
"Liana, jaga bicaramu!"
"Kenapa? Takut dengar kenyataan? Kamu dan Mbak Genata sama saja! Kalian memanfaatkan kondisi Papa untuk memuaskan ego kalian! Yang satu ingin jadi pahlawan, yang satu ingin jadi martir dengan berbagi suami! Kalian menjijikkan!"
PLAK!
Tamparan itu tidak keras, namun cukup untuk membuat wajah Liana tertoleh ke samping dan seketika membuat suasana menjadi sunyi senyap.
Abi terpaku melihat tangannya sendiri yang gemetar.
Ini pertama kalinya ia bersikap kasar, dan itu pada gadis yang seharusnya ia lindungi.
Liana perlahan memegang pipinya. Ia tidak menangis.
Ia justru tersenyum getir, sebuah senyuman yang penuh dengan kebencian.
"Terima kasih, Paman," bisik Liana tajam.
"Sekarang aku tahu persis di mana tempatku di rumah ini. Bukan sebagai istri, bukan sebagai manusia, tapi sebagai tawanan."
Liana kemudian berjalan menuju sudut ruangan, duduk bersimpuh di lantai dan memeluk lututnya, menolak untuk melihat ke arah Abi lagi.
Sementara itu di luar pintu, Genata bersandar di tembok sambil menutup mulutnya, menahan isak tangis mendengar kehancuran yang terjadi di dalam kamar suaminya sendiri.
Abi keluar dari kamar dan melangkah turun dengan gontai, raut penyesalan terukir jelas di wajahnya.
Tangannya masih terasa panas, namun hatinya jauh lebih perih.
Di ruang tengah, ia mendapati Mama Prameswari yang terduduk lemas di sofa, didampingi oleh Tante Rani dan Angela yang tampak tegang.
Abi berlutut di hadapan mertuanya itu, menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
"Ma, Abi minta maaf. Abi khilaf. Abi tidak bermaksud kasar pada Liana, Abi hanya ingin dia tidak nekat pergi dalam kondisi mental yang tidak stabil."
Mama Prameswari menarik napas panjang, tangannya yang gemetar mengusap bahu Abi.
"Sabar, Bi. Mama tahu ini berat untukmu juga. Liana sedang dalam puncak kemarahannya, dia kehilangan arah. Tolong, jangan menyerah padanya, tapi jangan juga dengan kekerasan."
Mama bangkit berdiri dengan bantuan Tante Rani.
Wajahnya tampak sangat lelah, seolah beban dunia menumpuk di pundaknya.
"Rani, antar Mama pulang sekarang," ucap Mama lirih.
"Bi, lebih baik Mama mengadakan tahlilan di rumah Mama sendiri malam ini. Mama butuh berada di tempat tinggal Papa untuk menenangkan diri. Biar Liana di sini bersamamu, dia tanggung jawabmu sekarang."
Angela ikut berdiri, ia menatap Abi dengan tatapan yang sulit diartikan antara marah dan iba.
"Aku pamit dulu, Om. Aku akan mengantar Mama dan Tante Rani pulang."
Setelah mobil Angela menjauh, rumah besar itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan gema suara tahlilan semalam yang masih terasa di sudut-sudut ruangan.
Abi duduk termenung di meja makan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Genata yang sejak tadi menyaksikan semuanya dari kejauhan, melangkah perlahan menuju dapur.
Ia mengambil segelas air putih dingin dan membawanya ke hadapan suaminya.
"Minumlah dulu, Mas," ucap Genata lembut sambil meletakkan gelas itu di depan Abi.
Abi mendongak, matanya merah. Ia meraih gelas itu namun tidak meminumnya.
"Aku menyakitinya, Gen. Aku baru saja berjanji pada Mas Habibie untuk menjaganya, tapi aku malah menamparnya."
Genata duduk di samping Abi, mengusap punggung suaminya dengan penuh pengertian.
"Mas sedang lelah dan Liana sedang terluka. Dua energi yang sama-sama besar jika bertemu memang akan meledak. Berikan dia waktu, Mas. Jangan dipaksa."
"Dia bilang kita menjijikkan," bisik Abi dengan suara pecah.
Genata terdiam sejenak, hatinya pun perih mendengar kalimat itu, namun ia mencoba tetap tegar.
"Biarkan dia meluapkan semuanya. Aku akan mencoba membuatkan makanan kesukaannya nanti sore, mungkin lewat pintu yang tertutup itu, perlahan hatinya bisa melunak."
Di lantai atas, di balik pintu yang terkunci, Liana masih bersimpuh di lantai.
Ia tidak lagi menangis, namun matanya menatap kosong ke arah jendela, seolah sedang merencanakan sesuatu yang tidak diketahui oleh siapa pun di rumah itu.