NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Dermaga Dan Perpustakaan

Setelah insiden di rumah Tante Mia dan kepulangan Cakra dari perbatasan, Alisa mulai menemukan ritme baru dalam kesendirian yang ia pilih. Cakra menepati janji—ia tidak lagi menitipkan Alisa pada Tante Mia. Bu Rini, si ART pendiam, kini menjadi penunggu rumah saat Cakra pergi bertugas, yang frekuensinya semakin meningkat setelah promosi.

Bu Rini adalah benteng keamanan yang sempurna. Dia tidak ikut campur urusan pribadi Alisa, tidak memeriksa buku harian biru, dan yang terpenting, dia tidak mengkritik kehidupan militer. Dia hanya ada, memastikan Alisa tidak benar-benar sendirian di rumah dinas yang besar itu.

Alisa menghargai Bu Rini, tapi ia juga menghargai kesunyian yang tersisa di rumahnya. Kesunyian itu bukan lagi menakutkan, tapi sudah ia kenal. Ia tahu letak setiap bayangan dan sumber setiap suara derit. Ia lebih nyaman dengan sepi yang ia miliki sendiri, daripada keramaian yang memaksanya berinteraksi.

Sore hari, setelah sekolah online selesai dan tugas rumah tuntas, rumah dinas itu menjadi panggung bagi imajinasinya. Ia sering duduk di teras belakang, memandang ke arah lapangan latihan yang kosong. Di sana, ia bisa melihat Cakra yang sibuk di kantornya, atau membayangkan Ibunya menertawakannya saat ia mencoba menanam mawar.

Namun, hanya bersandar pada memori tidak cukup untuk mengisi jam-jam panjang itu. Alisa butuh pelarian yang lebih nyata. Pelarian yang tidak membuatnya merasa egois karena meninggalkan Ayahnya.

Ia menemukan pelarian itu di tempat yang paling tidak terduga: Perpustakaan Batalyon.

Perpustakaan itu terletak di sayap gedung markas, sebuah ruangan tua dengan rak-rak kayu gelap dan aroma buku-buku yang lembap dan tua. Awalnya, perpustakaan itu didirikan sebagai sumber referensi strategi militer dan sejarah peperangan, sehingga buku-buku yang ada didominasi oleh judul-judul serius. Tidak ada yang pernah mengunjunginya kecuali beberapa perwira senior yang sedang menyusun laporan.

Alisa menemukan perpustakaan itu secara tidak sengaja. Ia sedang menunggu Ayahnya selesai rapat dan bosan di ruang tunggu. Seorang prajurit muda mengarahkannya ke sana.

"Di sana dingin, Dik. Ada banyak buku kalau mau baca," kata prajurit itu ramah.

Saat Alisa membuka pintu, ia langsung merasa menemukan surga. Ruangan itu dingin, tenang, dan sunyi.

Rak-raknya menjulang tinggi. Sebagian besar memang berisi buku tentang taktik pertahanan dan biografi pahlawan perang, yang Alisa hindari. Tapi di sudut terjauh, di rak yang tertutup debu, Alisa menemukan bagian sastra.

Buku-buku itu tebal, kulitnya usang. Ada novel-novel klasik Indonesia, terjemahan penulis besar dunia, dan kumpulan puisi. Itu semua adalah harta karun yang tidak pernah ia temukan di toko buku kecil kota terpencil ini.

Alisa duduk di kursi kayu di dekat jendela, membiarkan cahaya sore jatuh di pangkuannya. Ia membuka sebuah novel tentang seorang wanita yang menunggu kekasihnya pulang dari perang.

Saat ia membaca, dunia di luar—rumah dinas yang sepi, kesibukan Cakra, dan janji ketegarannya—semua lenyap. Ia sepenuhnya tenggelam dalam narasi orang lain, dalam penderitaan orang lain, dan dalam harapan orang lain. Itu terasa melegakan.

"Pelarian," bisik Alisa pada dirinya sendiri.

Sejak hari itu, Perpustakaan Batalyon menjadi pangkalan rahasia Alisa.

Setiap pulang sekolah, setelah memastikan tugas rumah selesai dan Bu Rini sudah datang, Alisa akan berjalan kaki ke markas. Ia akan memberi tahu petugas jaga, "Aku mau ke kantor Ayah," dan mereka akan membiarkannya masuk karena dia anak Komandan. Padahal, tujuannya hanya satu: rak sastra tua itu.

Cakra tidak pernah tahu.

Ketika Cakra berada di rumah, dia sangat sibuk. Ketika dia pergi, Alisa punya waktu luang penuh. Perpustakaan itu adalah tempat ia benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri: seorang gadis yang mencintai kata-kata.

Sore hari di perpustakaan menjadi ritual harian. Alisa akan membawa buku birunya, membaca bab demi bab dari novel yang ia pilih, dan kemudian menuliskan responsnya, atau mencatat teknik penceritaan yang ia kagumi.

Alisa mulai membandingkan kisah Ibunya (yang ia baca dari buku merah marun) dengan kisah-kisah di novel tebal itu.

Kisah Ibu dan Ayah itu mirip seperti novel yang kubaca hari ini. Selalu ada perpisahan yang didramatisir, selalu ada penantian yang menyakitkan. Bedanya, kisah Ibu punya akhir yang terlalu cepat dan tidak adil.

Aku tidak mau kisahku seperti itu. Aku mau belajar dari cerita-cerita ini. Aku harus menuliskan penantianku, tapi aku akan pastikan aku menuliskan akhir yang kuat, di mana aku tidak hanya menunggu, tapi melakukan sesuatu.

Menulis di sana terasa berbeda. Dikelilingi oleh buku-buku sejarah militer, ironisnya, Alisa merasa paling jauh dari tekanan militer. Tembok-tembok tebal itu melindungi ia dari dunia luar.

Suatu sore, seorang perwira muda masuk. Alisa buru-buru menutup bukunya. Perwira itu, Kapten Bima, tampak terkejut melihat seorang anak duduk di sudut itu.

"Siapa kamu, Nak? Ini perpustakaan khusus perwira," ujar Kapten Bima, nadanya formal.

"Saya Alisa, Pak. Putri Mayor Cakra," jawab Alisa sopan.

Kapten Bima langsung melunak. "Oh, Alisa. Saya Kapten Bima. Maaf. Saya tidak tahu Komandan mengizinkan."

"Ayah tahu saya suka membaca," Alisa berbohong sedikit.

Kapten Bima mengangguk. Dia datang untuk mencari referensi tentang sejarah konflik regional. Dia melihat buku yang dibaca Alisa—novel terjemahan Rusia yang tebal.

"Kamu baca yang seperti ini? Berat sekali," komentar Kapten Bima.

"Aku suka alur ceritanya, Pak. Tentang pengorbanan," jawab Alisa.

Kapten Bima tersenyum tipis. "Ya, pengorbanan. Itu memang tema utama di sini, Nak. Baik di buku sastra, maupun di buku strategi."

Dialog singkat itu membuat Alisa terkesan. Ia menyadari bahwa di balik seragam dan ketegasan, para perwira ini juga manusia yang merenungkan hal-hal mendalam. Kapten Bima tidak mengkritik hobinya, malah menghubungkannya dengan dunia militer. Itu adalah validasi kecil yang sangat ia butuhkan.

Setelah itu, Alisa merasa lebih berani. Ia mulai menghabiskan waktu lebih lama di perpustakaan.

Namun, perpustakaan itu juga memperburuk ketakutan senyapnya.

Saat Cakra sedang pergi bertugas ke luar pulau lagi, Alisa menemukan sebuah buku di rak yang tersembunyi. Buku itu adalah panduan untuk keluarga prajurit yang isinya membahas protokol saat terjadi insiden di medan tugas.

Alisa membukanya dengan tangan gemetar. Di sana tertulis langkah-langkah yang harus dilakukan oleh keluarga yang menerima berita buruk: siapa yang harus dihubungi, bagaimana menangani media, dan yang paling menyakitkan, protokol pemakaman militer.

Melihat diagram yang menjelaskan tentang pengibaran bendera di peti mati membuat napas Alisa tercekat. Itu persis seperti yang ia lihat dalam mimpi buruknya.

Ketakutan itu, yang selama ini ia tuliskan secara abstrak di buku biru, kini menjadi prosedur formal, dicetak dengan huruf tebal, seolah sudah ditakdirkan.

Alisa buru-buru menutup buku itu, mengembalikannya ke tempat semula, dan bergegas keluar dari perpustakaan. Ia tidak peduli lagi dengan sopan santun, ia hanya ingin lari dari ruangan sunyi itu.

Ia pulang ke rumah dinas. Ia memeluk Bu Rini yang sedang menonton televisi.

"Ada apa, Nak?" tanya Bu Rini terkejut.

"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya kangen Ayah," Alisa berbisik, memeluk Bu Rini erat-erat untuk mencari kehangatan.

Malam itu, Alisa tidak bisa menulis di buku birunya. Ia terlalu takut. Ia hanya menggambar. Ia menggambar sosok Ayahnya yang mengenakan seragam, berdiri tegak di tengah badai. Di bawahnya, ia menggambar dirinya, Alisa, yang menggenggam pena, seolah pena itu adalah satu-satunya senjata yang ia miliki untuk melindungi Ayahnya dari badai di luar sana.

Alisa tahu, ia tidak bisa menghentikan Ayahnya menjadi prajurit. Ia tidak bisa menghentikan Ayahnya pergi. Tapi ia bisa melakukan satu hal: ia bisa menulis.

Menulis bukan lagi sekadar pelarian. Menulis adalah cara ia bertarung melawan takdir. Ia akan menyerap semua kisah pengorbanan di buku-buku sastra tebal itu, ia akan belajar semua tentang penantian, dan ia akan mempersiapkan dirinya menjadi penulis yang kuat. Penulis yang mampu menciptakan narasi yang lebih baik untuk hidupnya sendiri dan untuk Ayahnya.

Alisa memilih kesendirian karena kesunyian adalah tempat yang paling cocok untuk berpikir dan menyusun strategi. Perpustakaan Batalyon, dengan segala ironinya, telah memberinya bekal untuk menjadi ksatria yang sebenarnya: ksatria yang bertarung dengan kata-kata.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!