NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Pertolongan dari tangan tak terduga

Pertolongan dari tangan tak terduga ini menjadi awal dari babak baru perjuangan hidupnya sebagai seorang pelarian yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Anindira meringkuk di sudut kursi mobil bak terbuka yang terasa sangat keras dan dingin di bawah sapuan angin pagi.

Ia mencoba menutupi tubuhnya yang basah kuyup dengan selembar kain sisa pembungkus sayur yang dipinjamkan oleh sang kakek tua tadi.

Guncangan mobil yang melewati jalanan berbatu membuat perutnya kembali terasa mual dan kepalanya berdenyut sangat hebat. Meskipun tubuhnya sudah mencapai batas kelelahan, matanya tetap terjaga untuk mengawasi setiap kendaraan yang menyalip mereka dari arah belakang.

Ia merasa setiap suara mesin motor yang mendekat adalah ancaman dari orang-orang suruhan ayahnya yang mungkin masih berkeliaran di sekitar sana.

"Minumlah air hangat ini, Nak, wajahmu terlihat sudah seperti kertas putih yang tidak memiliki nyawa," ujar pria tua itu sambil mengangsurkan sebuah botol kaleng.

Anindira menerima botol itu dengan jari-jari yang masih kaku dan meminumnya perlahan hingga rasa hangat mulai menjalar di kerongkongannya. Rasa hangat itu sedikit memberikan kekuatan bagi jiwanya yang nyaris hancur setelah melewati malam yang sangat panjang dan penuh teror.

Ia menatap wajah pria tua yang penuh dengan kerutan itu dan menemukan sebuah ketulusan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari anggota keluarganya sendiri.

"Terima kasih banyak, Kek, saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika Kakek tidak berhenti di jalan tadi," jawab Anindira dengan suara yang masih terdengar serak.

"Nama saya Kakek mamat, panggil saja begitu agar kamu merasa lebih nyaman selama perjalanan ini," sahut pria itu dengan senyum yang sangat menenangkan hati.

Kakek Mamat mulai bercerita tentang kebun sayurnya yang berada di lembah pegunungan untuk mengalihkan pikiran Anindira dari ketakutan yang mendalam. Ia menjelaskan bahwa ia harus mengantarkan hasil panennya ke pasar induk yang berada di pusat kota seberang sebelum matahari naik tinggi.

Anindira mendengarkan setiap perkataan itu sambil terus mendekap kotak kayu pemberian ibunya di dalam tas yang kini sudah sangat kotor.

Mobil terus melaju menembus kabut yang mulai menipis dan menyingkap pemandangan jurang yang sangat dalam di sisi kiri jalan raya. Anindira merasa hidupnya saat ini tidak berbeda jauh dengan jurang itu, gelap dan penuh dengan ketidakpastian yang sangat menakutkan.

Namun, setiap kali ia merasa ingin menyerah, bayangan calon bayinya kembali memberinya semangat untuk tetap bernapas dan berjuang keras.

"Apakah kamu memiliki sanak saudara di kota yang sedang kita tuju ini?" tanya Kakek Mamat tanpa bermaksud ingin ikut campur dalam urusan pribadi.

"Saya memiliki sebuah alamat yang harus saya datangi, namun saya sendiri belum pernah berkunjung ke sana sebelumnya," jelas Anindira dengan nada bicara yang sangat hati-hati.

"Jika kamu merasa tersesat, datanglah ke lapak sayur Kakek di pasar induk, semua orang di sana mengenal Kakek dengan baik," ujar pria tua itu memberikan tawaran perlindungan.

Anindira merasa sangat terharu dengan kebaikan pria yang baru saja ia kenal di tengah situasi hidup dan matinya tersebut. Ia mengangguk pelan sebagai tanda setuju sekaligus rasa syukur yang mendalam atas keberadaan sosok malaikat tanpa sayap ini.

Di kejauhan, pintu gerbang kota seberang mulai terlihat dan itu berarti ia sudah selangkah lebih jauh dari jangkauan kekuasaan ayahnya yang kejam.

Namun, ketenangan itu seketika sirna saat mobil bak terbuka tersebut harus berhenti di sebuah pos pemeriksaan yang dijaga oleh aparat dan beberapa pria berjas hitam. Anindira merasakan jantungnya kembali berdegup kencang dan seluruh tubuhnya mendadak menjadi sangat dingin karena rasa panik.

Ia melihat para pria berjas itu sedang memeriksa setiap kendaraan yang masuk dengan memegang foto dirinya yang sangat jelas.

"Kek, tolong sembunyikan saya di bawah tumpukan sayur itu, sekarang juga!" bisik Anindira dengan nada suara yang penuh dengan tekanan rasa takut.

Kakek Mamat terkejut namun segera mengerti situasi genting yang sedang dihadapi oleh wanita muda yang malang di sampingnya tersebut. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tenang, ia membantu Anindira berpindah ke bagian belakang mobil dan menutupinya dengan tumpukan kubis serta karung-karung kentang.

Anindira menahan napasnya dalam-dalam di bawah tumpukan sayur yang dingin dan berbau tanah yang sangat menyengat hidungnya.

"Selamat pagi, Pak, ada pemeriksaan rutin untuk keamanan wilayah perbatasan pagi ini," suara seorang petugas terdengar sangat dekat di telinga Anindira.

Anindira memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas jemarinya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri agar tetap sadar. Ia bisa merasakan mobil bak terbuka itu bergoyang pelan saat seseorang mulai memeriksa tumpukan karung di bagian belakang dengan sebuah tongkat besi.

Suasana menjadi sangat sunyi hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman drum yang sangat keras di dalam kegelapan.

"Hanya berisi sayuran segar hasil panen semalam, Pak, silakan diperiksa jika Bapak merasa ada yang mencurigakan," ujar Kakek Mamat dengan nada bicara yang sangat tenang dan tidak mencurigakan.

Petugas itu mendengus lalu mengetuk bak mobil berkali-kali sebelum akhirnya memberikan isyarat agar kendaraan tersebut segera melanjutkan perjalanan. Mobil mulai bergerak perlahan dan menjauh dari pos pemeriksaan yang sangat mencekam tersebut hingga Anindira bisa sedikit mengembuskan napas lega.

Namun, ia tidak berani keluar dari tumpukan sayur itu sampai mobil benar-benar masuk ke dalam keramaian pasar induk yang sangat bising.

Kakek Mamat menghentikan mobilnya di sebuah gang sempit yang berada di belakang pasar agar Anindira bisa turun tanpa terlihat oleh banyak orang. Ia membantu Anindira keluar dari tumpukan sayur dan membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel pada pakaian wanita itu dengan tangan tuanya.

Anindira menatap pria tua itu dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa terima kasih yang sudah tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.

"Pergilah ke alamat itu dan jangan pernah menoleh ke belakang lagi jika kamu ingin hidup dengan tenang," pesan Kakek Mamat sambil memberikan sebuah bungkusan nasi timbel untuk bekal.

Anindira melangkah pergi menyusuri gang-gang sempit di kota yang sangat asing baginya dengan tekad yang sudah bulat seperti baja. Ia harus menemukan alamat yang tertulis di surat ibunya dan segera mencari tempat untuk bersembunyi secara permanen dari kejaran dunia luar.

Memulai hidup dari nol di tempat yang baru merupakan tantangan terbesar yang harus ia hadapi demi menjaga nyawa kecil yang kini tumbuh di dalam rahimnya.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!