Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Sisi Lain
Senin pagi di SMA Pelita Bangsa selalu punya aroma yang sama: aroma kepanikan.
Siswa yang belum mengerjakan PR menyalin jawaban temannya dengan kecepatan cahaya di koridor. Siswa yang atribut seragamnya tidak lengkap sibuk meminjam topi atau dasi ke adik kelas. Dan di tengah kekacauan itu, Julian Pradana berjalan membelah kerumunan seperti Musa membelah Laut Merah.
Alea, yang sedang duduk santai di pinggir lapangan sambil mengunyah permen karet, memperhatikan pemandangan itu.
"Tuh liat," tunjuk Alea dengan dagunya. "Si Robot Patroli mulai beraksi."
Raka, yang duduk di sebelahnya sambil memutar-mutar stik drum, terkekeh. "Ciye, yang abis nge-date berkedok belajar Sabtu kemaren. Gimana? Lo nggak disetrum kan?"
"Sialan lo," Alea menoyor kepala Raka. "Gue cuma belajar Fisika. Dan ternyata... not bad. Dia ngajarnya lumayan masuk otak. Minimal gue sekarang tau kenapa gitar lo suaranya fals mulu."
"Ye, sembarangan! Gitar gue fals karena estetik, bukan karena gue nggak bisa nyetem!" protes Raka.
Bel masuk berbunyi nyaring.
Alea bangkit berdiri, menepuk roknya. "Dah ah, gue masuk dulu. Jam pertama Bu Ratna. Gue harus siapin mental pura-pura ngerti."
Alea berjalan menuju gedung kelas. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat sesuatu di dekat gudang belakang laboratorium Biologi. Area itu sepi, jarang dilewati siswa karena konon katanya angker (padahal cuma bau formalin).
Alea melihat sosok jangkung yang sangat familiar sedang berjongkok di dekat semak-semak.
Itu Julian.
Ngapain dia jongkok di situ? batin Alea curiga. Jangan-jangan dia lagi nimbun mayat siswa yang ngelanggar aturan?
Penasaran, Alea mengendap-endap mendekat. Ia bersembunyi di balik pilar koridor, mengintip.
Apa yang dilihatnya membuat permen karet di mulutnya nyaris tertelan.
Julian Pradana, Ketua OSIS yang haram hukumnya terlihat kotor, sedang berjongkok di tanah becek. Jas almamaternya dilepas dan disampirkan di bahu. Lengan kemeja putihnya digulung. Di tangannya, ia memegang sebungkus sosis siap makan yang sudah dipotong kecil-kecil.
Di hadapannya, seekor anak kucing liar yang kurus, dekil, dan kakinya pincang, sedang melahap sosis itu dengan lahap.
"Pelan-pelan," suara Julian terdengar lembut. Sangat lembut. Jauh berbeda dari suara "robot"-nya saat memimpin rapat. "Nggak ada yang minta kok. Habisin aja."
Julian mengulurkan tangannya, mengelus kepala anak kucing yang kotor itu dengan jari telunjuknya. Ia tidak jijik. Ia justru tersenyum.
Alea menahan napas. Julian... tersenyum?
Senyum itu tulus. Matanya menyipit membentuk bulan sabit. Lesung pipi tipis—yang selama ini tidak pernah Alea ketahui keberadaannya—muncul di pipi kirinya.
"Kamu harus makan biar kuat," gumam Julian lagi pada kucing itu. "Nanti kalau sudah kuat, jangan main di jalan raya lagi ya. Bahaya."
Kucing itu mengeong pelan, meong, lalu menggesekkan kepalanya ke tangan Julian yang bersih.
Julian tertawa kecil. "Dasar manja. Sana lari, sebelum Pak Ujang liat. Dia nggak suka kucing."
Julian berdiri, membersihkan tangannya dengan tisu basah yang ia ambil dari saku, lalu memakai kembali jas almamaternya. Dalam sekejap, sosok "Penyayang Kucing" itu lenyap, berganti kembali menjadi Julian Si Ketua OSIS yang dingin dan berwibawa.
Alea buru-buru membalikkan badan dan berjalan cepat menjauh sebelum Julian melihatnya. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan.
Pemandangan tadi... benar-benar merusak citra Julian di kepala Alea.
"Ternyata dia punya hati," gumam Alea pada dirinya sendiri. "Dan dia punya lesung pipi. Sial. Kenapa gue jadi mikirin lesung pipinya?"
Alea menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan senyum Julian, dan berlari menuju kelasnya.
Jam istirahat kedua.
Julian sedang melakukan inspeksi rutin ke area kantin dan toilet. Tugas yang membosankan, tapi perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada siswa yang merokok atau membolos.
Saat ia melewati lorong sepi menuju toilet pria di lantai dua, telinganya menangkap suara keributan.
Bugh!
"Mana duit lo? Jangan pelit-pelit napa jadi orang!"
Suara tawa mengejek terdengar. Julian mengerutkan kening. Itu suara geng anak kelas 12 yang terkenal nakal. Julian mempercepat langkahnya. Ia siap mengeluarkan buku poin dan menegakkan keadilan.
Namun, sebelum ia sempat berbelok di tikungan lorong, suara lain terdengar. Suara perempuan yang berat dan mengintimidasi.
"Woi! Banci amat lo beraninya keroyokan."
Julian berhenti. Ia mengintip dari balik tembok.
Di sana, tiga siswa kelas 12 yang berbadan besar sedang memojokkan seorang siswa kelas 10 yang bertubuh kecil dan berkacamata tebal—sepertinya anggota klub Karya Ilmiah Remaja. Siswa itu memeluk tasnya ketakutan.
Dan di antara mereka, berdiri Alea.
Gadis itu berdiri santai, bersandar di tembok dengan tangan bersedekap. Tapi tatapan matanya tajam, setajam silet.
"Eh, Alea," sapa salah satu senior itu, namanya Doni. "Ngapain lo di sini? Mau gabung malak si cupu ini?"
Alea terkekeh sinis. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan adik kelas yang gemetaran itu, menjadi tameng hidup baginya.
"Gabung sama lo? Sorry, selera gue nggak serendah itu," ejek Alea. "Minta duit sama anak yang uang jajannya cuma cukup buat naik angkot? Miskin amat mental lo, Bang."
Wajah Doni memerah. "Jaga mulut lo ya, Le. Mentang-mentang lo cewek, gue nggak berani pukul?"
"Coba aja," tantang Alea. Ia memajukan wajahnya, tidak gentar sedikit pun. "Lo sentuh dia, atau lo sentuh gue, gue pastiin besok motor Ninja kesayangan lo itu ban-nya ilang dua-duanya. Lo tau gue bisa ngelakuin itu."
Doni terdiam. Ia tahu reputasi Alea. Gadis ini nekat. Teman-temannya di bengkel tongkrongan belakang sekolah juga banyak. Mencari masalah dengan Alea berarti mencari masalah dengan separuh populasi preman sekolah.
"Cih," Doni meludah ke lantai. "Cabut, guys. Males gue ngeladenin cewek gila."
Geng senior itu pergi sambil menyenggol bahu Alea kasar. Alea hanya bergeming, kokoh seperti karang.
Setelah para pengganggu itu pergi, tubuh Alea yang tadi tegang langsung rileks. Ia berbalik menghadap adik kelas yang masih ketakutan itu.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Alea. Suaranya berubah, tidak lagi mengancam, tapi... peduli.
Adik kelas itu mengangguk patah-patah. "M-makasih, Kak Alea."
Alea menepuk bahu anak itu. "Lain kali kalau lewat sini jangan sendirian. Kalau mereka ganggu lagi, bilang aja lo adeknya Alea. Paham?"
"Paham, Kak."
"Yaudah sana balik ke kelas. Cuci muka dulu biar nggak keliatan abis nangis. Cowok harus kuat."
Anak itu berlari pergi sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Alea menghela napas panjang, menyugar rambutnya ke belakang. "Hadeh, jadi pahlawan kesiangan lagi gue. Kapan sih sekolah ini damai?"
Saat Alea berbalik hendak pergi, ia terlonjak kaget.
Julian berdiri di ujung lorong, menatapnya.
Alea langsung pasang kuda-kuda defensif. "Apa lo liat-liat? Mau nyatet gue karena ngancem kakak kelas? Atau karena baju gue dikeluarin?"
Julian berjalan mendekat. Wajahnya datar seperti biasa, tapi matanya memancarkan sesuatu yang berbeda. Rasa hormat.
"Tidak," jawab Julian.
Ia berhenti dua langkah di depan Alea.
"Saya tadi mau melerai mereka. Tapi sepertinya kamu menanganinya lebih efektif daripada saya," aku Julian jujur. "Kalau saya yang maju, mereka mungkin akan berhenti sebentar, tapi besoknya mereka akan dendam dan mem-bully anak itu lagi di luar sekolah."
"Ya iyalah," cibir Alea. "Bahasa mereka itu bahasa jalanan, Jul. Nggak mempan pake pasal tata tertib."
"Kamu melindunginya," kata Julian.
"Gue cuma nggak suka liat orang lemah ditindas. Gue tau rasanya," gumam Alea, kalimat terakhirnya nyaris tak terdengar.
Hening sejenak di antara mereka. Suasana koridor yang sepi terasa canggung tapi tidak bermusuhan.
"Baju kamu," Julian menunjuk kemeja seragam Alea yang keluar berantakan.
Alea memutar bola mata. "Iya, iya, gue masukin. Bawel."
Alea merapikan bajunya dengan asal-asalan.
"Terima kasih," ucap Julian tiba-tiba.
Alea berhenti bergerak. "Hah? Buat apaan?"
"Karena sudah membantu tugas OSIS menjaga keamanan. Walaupun caranya agak... barbar."
Alea tertawa pendek. "Sama-sama, Pak Ketos. Anggap aja amal jariyah gue biar nilai Fisika gue naik."
Julian tersenyum tipis. "Nilai Fisika naik karena belajar, bukan karena amal. Nanti sore, jam 4. Perpustakaan."
"Siap. Btw, Jul..." Alea menatap Julian jahil.
"Apa?"
"Kucing di belakang lab biologi tadi... kayaknya dia suka sama lo."
Mata Julian membelalak. Wajahnya yang putih mendadak bersemu merah padam. Topeng wibawanya runtuh total.
"Ka-kamu lihat?" gagap Julian.
Alea menyeringai kemenangan. "Liat dong. 'Makan yang banyak ya, Pus'. Uwu banget sih lo. Sumpah, kalau anak-anak tau Ketua OSIS mereka yang galak ternyata cat lover yang imut, kelar idup lo."
Julian berdehem keras, berusaha mengembalikan kewibawaannya yang tercecer. Ia membetulkan kacamatanya dengan gugup.
"Itu... itu bentuk kepedulian terhadap makhluk hidup. Sesuai dengan nilai Pancasila."
"Halah, alesan!" Alea tertawa lepas. Tawa yang renyah dan menular. "Tenang aja, rahasia lo aman. Gue simpen buat bahan blackmail kalau lo jahat sama gue pas bimbel nanti."
Alea menepuk bahu Julian sekilas—kontak fisik yang bersahabat—lalu berjalan melewatinya sambil bersiul.
Julian berdiri terpaku di tempatnya. Bahunya masih terasa hangat bekas tepukan tangan Alea. Wajahnya masih terasa panas.
Sial, batin Julian. Kenapa tawa dia terdengar... menyenangkan?
Hari itu, dua insiden kecil—kucing dan perundungan—telah mengubah peta perasaan mereka.
Alea melihat bahwa di balik kemeja kaku itu ada hati yang lembut.
Julian melihat bahwa di balik penampilan urakan itu ada jiwa pelindung yang berani.
Mereka bukan lagi dua garis sejajar yang tak akan pernah bertemu. Mereka adalah dua garis yang mulai melengkung, perlahan tapi pasti, menuju satu titik temu.
Sore harinya, di perpustakaan.
Suasananya berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekam. Alea duduk sambil memutar-mutar pulpen, sementara Julian memeriksa hasil latihan soal Alea.
"Nomor 4 benar. Nomor 5 benar. Nomor 6..." Julian berhenti.
"Salah ya?" tanya Alea was-was.
"Benar," kata Julian, menatap Alea tak percaya. "Kamu benar semua di sesi latihan vektor ini."
"Serius?!" Alea melompat dari kursinya, membuat Bu Ratmi si pustakawan melotot lagi. "Yes! Gue jenius! Einstein lewat!"
"Jangan sombong dulu. Ini baru soal dasar," Julian mencoba menahan senyumnya, tapi gagal. Sudut bibirnya terangkat.
Alea duduk kembali, menatap Julian dengan mata berbinar. "Gue bisa karena lo ngejelasinnya pake analogi arah angin pas gue naik motor. Itu masuk akal banget di otak gue."
"Baguslah kalau begitu. Berarti metode kontekstual bekerja untukmu."
Julian menutup buku itu. Ia mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya. Kotak susu cokelat.
"Ini," Julian menyodorkan kotak susu itu ke Alea.
"Buat gue?"
"Hadiah. Karena nilai latihan kamu 100 hari ini. Glukosa bagus untuk otak."
Alea mengambil susu kotak itu, menatapnya seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. Susu kotak rasa cokelat. Sederhana, tapi manis.
"Makasih, Jul," ucap Alea tulus. Ia menusuk sedotannya dan meminumnya. "Enak."
Julian kembali membuka bukunya, pura-pura sibuk membaca, padahal matanya tidak fokus pada tulisan. Jantungnya berdetak dengan irama yang aneh, irama yang tidak ada rumusnya di buku Fisika mana pun.
Rumus baru ditemukan, tulis Julian dalam hatinya. Senyum Alea + Susu Cokelat \= Akselerasi detak jantung.
Dan untuk pertama kalinya, Julian tidak ingin mencari solusi atau penyelesaian dari rumus itu. Ia hanya ingin menikmatinya.
...****************...
BERSAMBUNG.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️