Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Ayah
🦋
Malam di desa kecil itu jatuh perlahan, seperti kain tipis hitam yang disampirkan pelan-pelan di bahu bumi. Angin lembut lewat membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi.
Lampu teras rumah Laura memancarkan cahaya kuning pucat, cukup untuk menerangi dua gadis yang duduk di depan rumah, satu bersender pada tiang, satu lagi duduk memeluk lutut dengan wajah letih.
Nadira menatap kosong ke arah jalanan kecil di depan rumah. Ada suara motor, ada suara angin menggoyang dedaunan jambu, tapi di dadanya hanya ada riuh yang tak bisa padam.
Laura melirik sahabatnya itu, memperhatikan lingkar hitam di bawah mata Nadira yang semakin jelas dari hari ke hari.
"Dira…" Laura memanggil pelan, suaranya seperti bisikan takut menyakiti. "Apa kamu betah tinggal di rumah kakek?"
Nadira tidak langsung menjawab. Ia menggerakkan sendal jepitnya di tanah, membuat garis-garis kecil tak beraturan. Lalu ia menghela napas pendek, tapi berat.
"Jujur…," suaranya pecah sedikit, "aku nggak betah, Ra."
Laura benar-benar sudah menduganya, tapi mendengar langsung itu seperti ada yang menusuk dadanya.
"Aku tahu," katanya hati-hati. "Aku lihat kamu makin kurus, makin pucat, selalu tegang kalau Fero lewat. Kamu sendiri kayak nggak pernah bernapas lega di rumah itu."
Nadira menunduk. Tangannya meremas ujung celana panjang yang mulai memudar warnanya.
"Ayah pasti bakal marah kalau aku minta pindah," bisiknya. "Aku nggak mau bikin dia sedih."
Laura langsung menegakkan badan. "Dira… kamu berhak nentuin di mana kamu akan tinggal. Kamu bukan barang yang bisa ditaruh di mana saja."
"Aku tahu," Nadira berucap lirih. "Tapi aku… nggak punya hak buat semua itu."
"Kenapa kamu selalu merasa nggak punya hak apa pun itu?" Laura memandangnya, nyaris frustasi. "Ini hidup kamu, Nadira. Cuma kamu yang berhak nentuin kemana bakal melangkah."
Gadis itu menelan ludah. Pandangannya kabur, seolah tiap kalimat Laura menusuk tempat paling lembut dalam dirinya.
"Karena…," suaranya goyah, "aku cuma mau ayah bangga. Dia udah cukup capek kerja, aku nggak mau nambah beban. Kalau aku minta pindah, dia pasti anggap aku nggak kuat. Padahal dia percaya aku bisa."
Laura menghela napas panjang. "Kuat bukan berarti kamu harus menderita."
"Tapi aku rela," Nadira menatapnya dengan mata yang dalam dan basah. "Demi ayah, aku rela, Ra."
Keheningan menggantung. Hanya ada detak jantung Nadira yang makin cepat, seolah tubuhnya tahu ia sudah terlalu lama menahan segalanya.
***
Laura menatap sahabat kecilnya itu lama. Mereka tumbuh bersama walaupun sejak usia nadira 3 tahun dibawa merantau oleh orang tuanya tapi Nadira tetaplah sahabat kecilnya.
Dan sekarang, Laura melihat Nadira berubah... bukan tumbuh, tapi terkikis sedikit demi sedikit.
"Aku sama Erwin satu sekolah, tapi kamu tahu kan aku nggak deket-deket amat sama dia," kata Laura, mencoba terdengar selembut mungkin. "Tapi dari cerita dia… aku tahu Fero sering banget cari ribut sama kamu. Kamu nggak salah, Dira. Kenapa kamu harus tahan semua itu sendirian?"
Nadira menggigit bibir bawahnya. "Karena nggak ada yang bakal belain aku di rumah itu, Ra. Kalau Fero yang mulai marah, aku yang disalahin. Kalau Erwin yang memprovokasi, aku yang disuruh ngalah. Kalau aku diem aja, aku juga tetap salah."
Laura mengepalkan tangan. "Aku benci banget dengernya. Kamu cuma anak SMP, Dira. Kamu seharusnya belajar, main, ketawa. Bukan berjuang buat dapat sedikit kasih sayang yang bisa jadi bom waktu kapanpun itu."
Nadira memaksakan senyum tipis. "Aku cuma… mau kakek lihat aku. Sedikit saja. Meski cuma bilang 'bagus', atau 'kamu hebat:. Itu cukup buatku."
"Itu nggak cukup," Laura membalas cepat. "Itu cuma secuil remah dari sesuatu yang seharusnya kamu dapat lebih besar."
"Aku gak seberuntung itu." Nadira melirik ke langit gelap di atas mereka. "Aku bukan cucu kesayangan."
Angin bertiup pelan, membuat rambut Nadira yang diikat setengah naik turun lembut. Ada sesuatu di wajahnya, lelah yang terlalu dewasa, yang seharusnya tidak dimiliki anak seusianya.
"Ra…" Nadira membuka suara lagi. "Aku takut ayah kecewa."
"Kecewa karena apa?" Laura menunduk sedikit agar bisa melihat mata sahabatnya.
"Karena aku nggak sekuat yang dia bayangin."
Laura tersenyum getir. "Dira, justru kamu udah terlalu kuat. Kuat banget sampai kamu lupa caranya minta tolong."
Nadira memalingkan wajahnya, menahan air mata yang menumpuk. Ia tidak mau terlihat lemah kepada sahabat terdekatnya. Tapi lengan Laura bergerak, pelan namun pasti, meraih tangan Nadira dan menggenggamnya.
"Kalau ayah kamu sayang sama kamu," kata Laura pelan seperti doa, "dia pasti cuma ingin kamu bahagia, bukan tersiksa seperti ini."
Nadira menggeleng perlahan. "Tapi aku harus bertahan, Ra. Demi ayah. Aku udah janji dalam hati… aku harus bikin beliau bangga."
Laura memejamkan mata sebentar. "Dan kamu pikir cara bikin ayah bangga adalah dengan menyiksa diri sendiri?"
"Kalau itu satu-satunya cara agar aku tetap di dekat keluarga ayah… aku bisa lakuin itu."
Jawaban itu membuat Laura menatap Nadira dengan rasa takut yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Nadira berubah—atau mungkin selama ini ia hanya menutupi luka yang jauh lebih dalam.
"Dira," Laura berkata, suara bergetar, "jangan hilang. Jangan sampai kamu hilang demi orang lain yang bahkan gak ngehargain perjuangan kamu."
Nadira tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke mata. "Aku enggak hilang, Ra. Aku cuma… menjalani."
Lampu rumah Laura berkedip sebentar ketika listrik mulai drop. Malam semakin larut, tapi Nadira tidak bergeser dari tempatnya. Ia memandangi jalanan gelap seolah di sana ada jawaban yang ia cari.
"Kamu bisa tinggal sama aku sementara," tawar Laura dengan suara pelan namun mantap. "Kalau kamu mau."
Nadira tersenyum sedih. "Makasi… tapi aku nggak boleh. Kakek pasti marah. Dan ayah juga pasti marah."
"Kamu bukan tahanan, Dira."
"Tapi rasanya memang seperti itu."
Sisi lain dari Nadira yang paling kelam akhirnya menyeruak keluar, ia merasa hidupnya bukan miliknya sendiri. Lebih mirip seperti dia menjalankan perintah yang tak tertulis hanya agar tidak mengecewakan siapa pun.
"Ra…"
"Hm?"
"Kalau aku pergi… kalau aku benar-benar pergi dari rumah kakek…" Nadira menggigit bibir. "Apa menurut kamu… aku jahat?"
Laura terdiam sejenak, menatap mata penuh luka itu.
"Nggak," jawabnya mantap. "Yang jahat itu… mereka yang bikin kamu merasa begini."
Nadira terhenyak. Kata-kata itu menusuk, tapi sekaligus menghangatkan bagian hatinya yang sudah lama membeku. Ia menarik napas panjang, menahan isak yang hampir pecah.
"Aku cuma mau ayah bahagia," katanya lagi pelan. "Kalau aku pergi… aku takut ayah sedih."
"Dira…" Laura menarik bahunya lembut. "Ayah kamu akan lebih sedih kalau kamu terluka."
Untuk pertama kalinya malam itu, air mata Nadira jatuh. Bukan karena Fero, bukan karena kakek Wiratama, bukan karena nilai atau ranking. Tapi karena seseorang akhirnya berkata padanya bahwa ia layak dilindungi.
Bahunya bergetar kecil. Laura langsung merangkulnya tanpa banyak bicara. "Aku di sini, Dira… aku selalu di sini."
Nadira menutup mata, membiarkan dirinya bersandar pada satu-satunya tempat yang tidak menghakimi: pelukan sahabat masa kecilnya.
"Aku capek, Ra…"
"Aku tahu. Aku juga tahu semua perjuangan kamu."
"Kalau aku berhenti… aku takut ayah kecewa lagi."
Laura mengusap punggungnya. "Gak akan satu pun ayah yang mau anaknya hidup dalam ketakutan."
Nadira memeluk Laura lebih erat.
Di bawah langit malam yang sunyi itu, Nadira menyadari sesuatu, ia telah belajar mencintai ayahnya dengan cara yang terlalu menyakitkan dirinya sendiri. Ia selalu mengira harus jadi sempurna, harus kuat, harus menerima semua perlakuan, hanya agar ayah tidak kecewa.
Tapi malam itu, melalui kata-kata Laura, ia mendengar kenyataan yang tidak pernah ia izinkan masuk:
Menjadi bahagia juga adalah bentuk cinta kepada ayahnya.
Laura melepaskan pelukan perlahan. "Sekarang kamu pulang ke rumah kakek?"
Nadira mengangguk. "Iya."
"Kalau ada apa-apa… kamu lari ke rumahku, ya? Jangan pikir dua kali."
Nadira tersenyum samar, masih basah oleh air mata. "Iya, Ra."
"Kamu janji?"
"Janji."
Mereka berdua duduk diam beberapa saat. Hanya angin yang lewat, hanya malam yang memeluk mereka dengan dingin lembutnya. Nadira menarik napas panjang, seolah mempersiapkan diri kembali ke tempat yang tidak pernah benar-benar menerima kehadirannya.
"Aku bakal bertahan," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Demi ayah… aku bisa, Ra."
Laura menatapnya, hati berdebar cemas. "Kalau suatu saat kamu nggak sanggup lagi, kamu boleh berhenti. Kapan pun."
Nadira memaksakan senyum. "Kapan pun…" ia mengulang pelan. "Iya. Mungkin saja."
Tapi dalam hatinya, ia tahu, ia belum berani.bIa masih gadis kecil yang belajar menjadi kuat dengan cara yang salah.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa bersedih bukanlah kelemahan—bahwa untuk bertahan, ia harus tahu kapan harus berhenti.
Tapi untuk saat itu, Nadira hanya mampu satu hal, kembali besok pagi, bangun lebih cepat, tersenyum seolah semuanya baik-baik saja, dan menanggung sedikit lagi rasa sakit demi seseorang yang sangat ia cintai.
Demi ayah. Dan selalu demi ayah.