NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Tiga hari tanpa kabar

Sementara itu di Jerman, Daniel semakin gelisah. Sudah berkali-kali ia menghubungi Julian dan Vivienne sejak dua hari lalu, tetapi teleponnya tidak pernah diangkat. Pesan-pesannya hanya centang satu. Awalnya ia pikir Vivienne sibuk dengan Julian sampai akhirnya ia mencoba menghubungi pihak hotel tempat Julian menginap di Indonesia.

Percakapannya dengan pihak hotel langsung membuat tubuhnya lemas.

“Tuan, tamu atas nama Julian Jae Hartmann sudah tiga hari tidak kembali ke hotel. Semua barang beliau masih ada di kamar. Tidak ada catatan check-out.”

Daniel meremas rambutnya, napasnya memburu.

“Bagaimana bisa tidak ada laporan? Tiga hari?!”

Petugas hanya bisa meminta maaf—tetapi itu tidak meredakan amarah dan ketakutannya sedikit pun.

Daniel kemudian menghubungi asisten Vivienne. Nada dering panjang, hingga akhirnya tersambung—namun suara di seberang terdengar panik.

“Tuan Daniel…maaf saya sedang sibuk mencari nona Vivienne. Terakhir ia berada di Singapura. Saya sudah mencarinya sejak kemarin, tapi belum ada jejaknya.”

Daniel membeku.

“Menghilang? Kenapa kau tidak memberi tahu dari awal?!”

Ia berseru sambil berjalan cepat menuju lift, setengah berlari.

Asisten itu gagap meminta maaf, menjelaskan bahwa ia baru saja mendapatkan informasi kepastian dari bandara.

Daniel tidak peduli. Pintu lift terbuka, ia melangkah masuk.

“Kabari aku segera bila sudah menemukan nona Vivienne "

Begitu pintu lift terbuka di parkiran, ia langsung menuju mobil dengan langkah panjang dan gemetar. Tanpa pikir panjang, ia menyalakan mesin dan memacu mobil menuju bandara—dengan satu tekad: menemukan Julian sebelum semuanya semakin kacau.

Penerbangan panjang dari Berlin Jerman ke Jakarta membuat tubuh Daniel terasa berat, namun pikirannya justru semakin waspada. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, ia segera menyalakan ponselnya, berharap ada satu saja pesan dari Julian, Vivienne atau asisten Vivienne

Tidak ada apa pun.

"Bagaimana bisa Julian dan Vivienne menghilang secara bersamaan di tempat berbeda." Batin Daniel bingung.

Sesampainya di hotel tempat Julian menginap, Daniel langsung menuju resepsionis sambil menunjukkan identitasnya.

“Ada apa, Pak?” tanya petugas.

“Aku asisten pribadi Mr Julian Jae Hartmann. Aku harus masuk ke kamarnya sekarang,” kata Daniel cepat, suaranya tajam namun masih tertahan.

Petugas hotel langsung menggeleng. “Maaf, Pak. Aturan hotel tidak memperbolehkan siapa pun memasuki kamar tamu tanpa izin atau dokumen resmi.”

Daniel mendengus, napasnya panas. “Dia sudah tiga hari menghilang. Semua barangnya ada di kamar kalian! Apa kalian masih mau bicara soal aturan?!”

Petugas itu menelan ludah, tersudut. “Saya mengerti, Pak, tapi—”

“Tidak. Kau tidak mengerti.” Daniel mendekat, matanya memerah karena kurang tidur. “Jika terjadi sesuatu pada bosku dan kalian menghalang-halangi, hotel ini akan berurusan langsung dengan kantor pusat kami di Berlin.”

Nada ancamannya membuat dua petugas lain saling pandang. Manajer yang sejak tadi memperhatikan akhirnya mendekat.

“Baik, kami akan membuka kamar tersebut,” katanya pelan. “Tapi dengan catatan, kami mendampingi Anda.”

Daniel hanya mengangguk, tidak punya tenaga untuk berdebat lebih jauh.

---

Pintu kamar terbuka. Aroma khas ruangan yang dibiarkan kosong beberapa hari langsung menyergap. Segala sesuatu tampak utuh—koper Julian masih di sudut ruangan, laptopnya tertutup rapi, paspor di atas meja. Seolah pemiliknya hanya turun sebentar dan akan kembali kapan saja.

Namun Julian tidak pernah kembali.

Daniel segera bergerak. Ia membuka koper, memeriksa laptop, membongkar laci-laci kecil, bahkan melihat ke kamar mandi dan balkon.

“Tidak ada… sama sekali tidak ada petunjuk,” gumamnya frustasi.

Ia menjatuhkan diri ke tempat tidur, memejamkan mata sejenak sambil meremas pangkal hidung. “Julian… apa yang terjadi denganmu?”

Segala informasi yang ia dapatkan hanya membuat misteri semakin besar. Hilangnya Julian, hilangnya Vivienne, tiga hari tanpa kabar—semuanya tidak masuk akal.

“Pak Daniel…?” manajer hotel memanggil hati-hati.

Daniel berdiri lagi, tekadnya mengeras. “Kirimkan rekaman CCTV tiga hari terakhir ke email saya. Semuanya.”

“Baik, Pak.”

Daniel keluar dari kamar sambil melihat sekali lagi ke dalam, seolah berharap Julian tiba-tiba muncul di ambang pintu.

Tapi tetap hening.

"Pak mungkin anda juga bisa tanyakan ke polisi terdekat,"karena beberapa hari yang lalu tak jauh dari hotel ada kecelakaan"Ucapan salah seorang resepsionis.

"Kau tau plat mobil yang di kendarai pak Julian?"

" Tunggu sebentar "

Lalu setelah mendapatkan no plat mobil yang Julian kenakan, Daniel langsung menuju ke kantor polisi terdekat dengan bantuan jps.

--

Sementara itu, Raina menjalani hari-hari yang melelahkan. Sudah dua hari ia bolak-balik dari rumah sakit, kembali ke kostan, lalu warung makan sederhananya. Setiap pulang dari rumah sakit, ia menyempatkan diri memeriksa jualan online-nya, membuat konten affiliate seadanya, dan mencatat stok bahan untuk warung.

Semua itu membuatnya hampir tidak punya waktu untuk menarik napas. Namun setiap malam sebelum menutup warung, wajah laki laki itu di ruang ICU selalu kembali terbayang.

Raina tidak mengenalnya, namun entah mengapa hatinya selalu tertarik kembali ke rumah sakit. Ada rasa tanggung jawab, ada juga sesuatu yang sulit ia jelaskan.

Perjalanan antara kosan—warung—rumah sakit menjadi rutinitas baru yang melelahkan, namun Raina tidak mengeluh. Ia hanya berharap satu hal: kabar baik. Meskipun untuk saat ini, kabar baik terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk digapai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!