Sahara adalah anak kandung yang terusir bersama dengan ibunya karena Fit-nahan yang di buat oleh wanita lain di hati ayahnya.
Mampukah Sahara memperjuangkan dan membersihkan nama ibunya dari fit-nah keji wanita yang tak lain adalah sahabat ibunya itu?
Akankah ayahnya percaya? baca terus kisah Perjuangan Sahara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahara 16
"Nak, bagaimana menurutmu kalau Mama membuat catering? Apa kamu bisa membantu membuatkan iklannya? Karena jika Mama kembali memulai usaha seperti yang biasanya. Di usaha yang sesuai dengan kemampuan Mama, pada akhirnya Ayahmu akan kembali mengacaukan dan membuat Mama merugi lagi,"ucap Mama Rianty setelah memikirkan semuanya semalaman.
"Ide yang bagus Ma, nanti akan Sahara buatkan. Dan Sahara jug mau izin untuk besok melamar kerja part time di perusahaan Bimantara. semoga saja ada rezekinya, dan aku bisa di terima bekerja di sana. Yang penting ada uang tambahan untuk kita. Dan Mama juga tidak perlu capek-capek lagi. Biar Sahara saja yang mencari uang. Mama di rumah dan istirahat,"Sahara juga mengatakan niatnya untuk bekerja.
"Doa mama selalu menyertaimu nak... Maafkan Mama yang malah tidak bisa memberikan semua kebutuhan kamu nak,"Mama Rianty merasa bersalah.
Karena semenjak sekolah menengah atas, Sahara sudah membantu keuangan mereka. Banyak cobaan dan rintangan yang dia hadapi. Bekerja di tempat orang lain, malah dia juga di fitnah menggoda atasan. Usaha sendiri selalu ada saja yang membuat usahanya hancur. Kadang Rianty merasa lelah dengan semuanya. Tapi dia memiliki keyakinan dan juga semangat untuk bisa membahagiakan anaknya dengan tangannya sendiri. Hasil sendiri.
Pagi ini Sahara sudah bersiap untuk pergi ke kantor Bimantara untuk melamar pekerjaan. Dia sedikit terlambat sehingga mengebut membawa motor besarnya dan hampir saja menyerempet mobil mewah yang juga bersamaan masuk ke dalam kantor Bimantara.
"Syukurlah, aku tidak terlambat,"ujar Sahara saat tiba di parkiran dan melihat beberapa orang juga mulai berdatangan untuk melamar pekerjaan. Dia membuka jaket dan helm yang digunakan. Kemudian ikut bergabung bersama dengan yang lainnya untuk mengantri.
"Aku kira kamu adalah karyawan disini dan laki-laki, karena menggunakan motor besar. Ternyata malah melamar kerja juga? Apa kamu tidak malu, punya motor mahal tapi melamar pekerjaan disini, apalagi kan yang di buka adalah lowongan untuk cleaning service,"ujar salah satu wanita yang juga melamar pekerjaan disana.
"Lah emangnya salah? Kerja mah apa aja yang penting halal. Jadi ngapain mesti malu juga?"jawab Sahara santai.
"Kere aja belagu! Jangan-jangan motornya juga hasil curian! Atu malah minjem buat gaya-gayaan aja,"celetuk yang lainnya.
"Serah lu pada lah. Suka-suka mulut kalian semua!"jawab Sahara enggan memperpanjang perdebatan tidak penting mereka.
"Silahkan masuk dan tunggu giliran untuk di panggil oleh HRD,"ujar salah satu karyawan Bimantara.
Semua orang menurut dan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Menunggu nama mereka di panggil satu persatu. Termasuk Sahara, dia terlihat sedikit gugup saat yang lain sudah di panggil, sedangkan dia masih belum di panggil juga. Hingga urutan terakhir, barulah dia di panggil.
Di dalam ruang interview dengan tenang Sahara menjawab semua pertanyaan yang di berikan. Di terima ya rezeki, kalau tidak ya kembali balapan bersama dengan teman-temannya yang lain.
"Silahkan istirahat dulu, karena hasilnya akan di umumkan satu setengah jam dari sekarang di papan pengumuman. Dari semuanya hanya ada delapan orang yang di terima,"ujar wanita yang tadi.
"Astaga dari Tiga puluh lima pelamar yang di terima hanya delapan orang aja? Bahkan ini untuk seorang cleaning service. Kita harus menjalani banyak tes seperti ini? zaman sekarang nyari kerja menang sebegitu sulitnya,"omel salah satu dari mereka.
Sahara lebih memilih untuk beristirahat di tangga darurat. Karena dia malas sekali untuk bertemu dengan banyak orang yang pada akhirnya malah nyinyir. Dia sedang menghemat energinya. Sahara mengambil laptop yang ada di tas ransel miliknya, kemudian membuat desain yang di inginkan oleh ibunya
"Ngapain kamu disitu?"suara bariton seorang pria mengagetkan Sahara.
"Lagi tiduran,"jawab Sahara.
"Udah tau lagi ngerjain kerjaan malah nanya, lagian kamu juga ngapain ada di sana? Bolos kerja? Astaga, nggak di mana-mana ada aja yang korupsi waktu!"tambah Sahara sedikit kesal.
"Ealah, kamu ternyata anak yang baru ngelamar kerja?"tanyanya lagi.
"Eh dah iya, aku sampe lupa. Bentar lagi pengumumannya. Lain kali jangan korupsi waktu! Bye..."ujar Sahara.
"No. 35..."serunya pelan saat melihat nomor yang terterap pada Shara.
Sahara melihat jam masih ada lebih dari setengah jam akhinya dia hanya duduk di kursi sambil memainkan ponselnya dan bermain game. Karena dia tidak terlalu suka bermain media sosial.
"Masih berharap?"tanya wanita yang tadi menyindir Sahara di parkiran.
"Anak begajulan seperti kamu mending pulang aja sana! Main di jalanan, bukan kerja disini,"ujar yang lainnya.
"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain? Selain dari suka menggibah? Perasaan dari tadi aku diem kenapa kalian yang ribet? Takut saingan? Nggak keterima kerja?"kesal Sahara kepada mereka berdua.
"Siapa yang takut? Kami bahkan lebih berpengalaman. Kami sudah berkerja di perusahaan Dirgantara sebelumnya. Hanya saja kontrak kami tidak di perpanjang. Makanya kami lebih berpengalaman dari kalian semua. Apalagi kamu yang petantang-petenteng seperti itu,"ujarnya.
Entah kenapa dia merasa kesal saja saat melihat Sahara yang turun dari atas motor besar dan mahal tapi malah melamar pekerjaan disana. Apa mungkin benar takut tersaingi? Apalagi Sahara cantik? Bahkan sangat cantik di banding dengan mereka semua yang melamar pekerjaan hari ini.
Walau tidak banyak bertingkah, tapi tetap saja mereka berdua merasa iri kepada Sahara.
"Baiklah, si paling pengalaman. Silahkan duduk dengan tenang menunggu hasilnya. Eh, lupa. Kalian pasti akan langsung di terima. Kan sudah pengalaman,"jawab Sahara membuat mereka berdua kesal bukan main. Saat akan mengajak ribut Sahara, peserta lain mulai berdatangan dan sikap mereka berubah menjadi sangat manis. apalagi di belakang mereka petugas yang tadi menangani mereka datang bersamaan.
"Astaga, dimanapun ada saja para manusia pen-jilat. aish, gara-gara mereka malah jadi kalah kan?,"ujar Sahara pelan kemudian kembali fokus dengan ponselnya.
"Aku deg-degan, semoga saja di terima, aku benar-benar butuh pekerjaan untuk membantu pengobatan ibu dan sekolah adikku,"ujar seorang pelamar di sebelah Sahara.
"amin, semoga ada rezeki kamu disini mbak, perkenalkan aku Sahara,"ujar Sahara mengulurkan tangannya.
"terima kasih doanya. Aku Mila.."jawabnya membalas uluran tangan Sahara sambil tersenyum.
"Maaf apa kamu tidak masalah aku duduk disini? Takutnya kamu risih karena pakaian aku kucel. seperti yang lain merasa tidak nyaman saat aku berada di sebelah mereka,"ujar Mila.
"Apa yang salah. tetaplah tegakkan kepalamu dan jadi diri sendiri. Semakin kamu menundukkan kepalamu semakin orang malah menginjak-injak kamu,"Jawab Sahara membuat Mila tersenyum tipis. Rasanya dia belum bisa menjadi seperti yang di katakan oleh Sahara.
salam sehat selalu outhor syantik ku 🫶🫶🫶🫶