Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 dimusuhi keluarga
Yan Shong berjalan dengan langkah kesal menuju rumah utama. Di dalam kamar, Kakek Yan sedang duduk bersila di atas ranjang kayu bersama istrinya, Nenek Lou.
Melihat anak sulungnya masuk, Kakek Yan hanya memberikan isyarat dagu agar Yan Shong duduk di bangku kosong di dekat mereka.
"Ada apa, Bah? Kenapa memanggilku?" tanya Yan Shong begitu duduk
"Kamu itu bagaimana, sih? Baru juga menginjakkan kaki di rumah sudah membuat keributan. Mau membuat keluarga kita jadi bahan tertawaan orang-orang?" tegur Kakek Yan dengan wajah ketat.
"Bahan tertawaan? Anak sialan di kamar barat itu yang sudah membuat harga diriku hancur di luar sana!" bantah Yan Shong dengan ekspresi penuh kejengkelan.
"Siapa yang tidak tahu kalau aku punya anak perempuan cacat berjari enam? Tahu begitu, pas lahir dulu sudah aku cekik saja sampai mati," gerutu Yan Shong berapi-api.
Nenek Lou yang sedang menjakit kain usang melirik anak sulungnya itu dengan tatapan tidak senang.
"Lalu kenapa tidak kamu lakukan dulu? Kamu cuma melihat ibunya menangis sedikit saja langsung ciut," sindir Nenek Lou.
"Gara-gara anak berjari enam itu, adikmu Yan Ming sampai sekarang susah dapat istri. Si Yan Ling juga jadi kesulitan mencari jodoh yang mapan. Benar-benar sial!" tambah Nenek Lou sambil mendengus.
Yan Shong merasa tersudut dan langsung membela diri. "Bukannya waktu itu Abah yang melarangku? Kalau tidak, sudah lama anak itu habis di tanganku."
Dia diam sejenak sebelum bergumam dengan nada menyalahkan, "Lagipula, kalau Abah tidak memaksaku menikahi Mei Niang dulu, kita tidak akan punya anak pembawa sial seperti dia."
Kakek Yan langsung memelototi Yan Shong dengan tatapan tajam. "Mendiang ayah Mei Niang itu pernah menyelamatkan nyawaku! Dia juga gadis yang baik, jadi itu caraku membalas budi."
"Waktu aku tanyakan kepadamu dulu, kamu juga melihatnya dan langsung setuju. Sekarang kamu malah menyalahkan Abah?" kata Kakek Yan.
Yan Shong seketika terbungkam karena malu. Dia teringat masa sebelum menikah, saat melihat wajah Mei Niang yang cantik dan berkulit bersih.
Siapa yang menyangka kalau wanita secantik itu ternyata malah membawa sial bagi hidupnya? Seasai menikah, silsilah keberuntungannya hancur total, ditambah lagi harus memiliki anak perempuan yang cacat. Yan Shong benar-benar menyesal setengah mati.
Nenek Lou mencibir pelan sambil melanjutkan jahitannya. "Balas budi macam apa yang sampai mengorbankan masa depan seisi rumah?"
"Kemarin itu, anak perempuan keluarga Li dari Desa Tanduk sudah hampir pasti mau menikah dengan Yan Ming. Mas kawinnya bahkan sampai tiga tael perak," keluh Nenek Lou dengan nada dongkol.
"Kita cuma tinggal menunggu kesepakatan saja. Tapi pas orang tua si gadis datang menyelidiki ke desa ini dan mendengar rumah kita punya anak berjari enam, mereka langsung membatalkannya!" lanjut Nenek Lou berapi-api.
Nenek Lou benar-benar sakit hati jika mengingat perjodohan yang gagal itu. Padahal gadis dari Desa Tanduk itu adalah anak tunggal yang sangat disayangi, berwajah manis, dan punya harta yang cukup.
Dia sudah membayangkan betapa enaknya punya menantu sekaya itu, tapi semuanya hancur berantakan gara-gara rumor tentang Nara. Wajar saja kalau seluruh orang di rumah ini sangat membenci gadis itu.
"Berarti gadis itu memang tidak jodoh dan kurang pantas buat Yan Ming, Bu," ucap Yan Shong berusaha meredakan kekesalan ibunya.
"Nanti kalau aku ke kota, aku bakal carikan calon istri yang jauh lebih baik buat dia," lanjut Yan Shong tersenyum penuh arti, meski di dalam hati dia makin mengutuk Nara.
Raut wajah Nenek Lou sedikit melunak, tapi dia tetap mengingatkan dengan tegas. "Yang paling penting itu sekarang kamu bantu awasi jodoh buat Yan Ling. Yan Ming itu laki-laki, jadi masih bisa menunggu. Tapi adik perempuanmu tidak bisa menunda lebih lama lagi."
"Iya, Bu, tenang saja. Keduanya pasti aku bantu awasi," jawab Yan Shong patuh.
Kakek Yan kembali membuka suara dengan nada memperingatkan. "Kamu juga, tolong kontrol emosimu itu. Mau kamu menyesal atau tidak, Mei Niang itu istrimu yang sah."
"Kalau kamu memang sudah tidak suka lagi, ya sudah, abaikan saja dia. Si Nara juga sebentar lagi besar, dua tahun lagi nikahkan saja dia biar keluar dari rumah ini," tambah Kakek Yan.
"Yan Ming dan Yan Ling sekarang lagi mencari jodoh. Kalau orang luar sampai dengar kamu suka memukuli istri di rumah, siapa yang mau jadi menantu dengan keluarga kita? Pikirkan masa depan adik-adikmu!" tegas Kakek Yan.
Nenek Lou ikut mengangguk setuju dengan wajah serius. "Ayahmu benar. Jangan bikin masalah di saat-saat penting seperti ini yang bisa merugikan Yan Ming dan Yan Ling. Kalau sampai gagal, Ibu tidak akan tinggal diam!"
Yan Shong cuma bisa mengangguk-angguk patuh menerima khotbah kedua orang tuanya itu. Setelah mengobrol sebentar, dia pun pamit untuk kembali ke kamarnya.
Namun, begitu kakinya melangkah masuk ke Kamar Timur, Yan Shong langsung menendang meja kayu di depannya dengan kasar hingga menimbulkan suara keras.
"Orang tua sialan! Mereka berdua memang cuma bisa pilih kasih dan selalu membela adik-adik!" umpat Yan Shong dengan napas memburu menahan dongkol.