NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Provokasi Rendy Surya

Hawa dingin di dalam kamar utama semakin menggigit, melingkupi Alana yang masih terduduk di tepi ranjang. Di atas kasur, gaun putih gadingnya terasa seperti pemberat yang mengunci tubuhnya agar tidak bisa melarikan diri dari tatapan Devano.

Pria itu telah kembali ke kursi roda elektriknya, namun punggung tegapnya tidak lagi bersandar relaks. Ada ketegangan linier yang sangat kaku pada bahu bidang Devano, tanda bahwa amarahnya sedang ditekan hingga ke titik paling rawan.

Ponsel di tangan Devano berkedip sekali lagi, memantulkan cahaya biru samar pada rahangnya yang mengeras.

"Rendy Surya," Devano mengeja nama itu dengan nada suara yang begitu lambat, seolah sedang mengunyah nama musuhnya sebelum dihancurkan berkeping-keping. "Dia sengaja menggunakan pelabuhan lama sebagai lokasi pengiriman pesan. Dia ingin aku tahu bahwa dia berada di wilayah yang berada di luar jangkauan radar utama hukum komersial kita."

Alana merasakan debar jantungnya berpacu liar, menghasilkan ketukan berongga yang terasa menyakitkan di dadanya. Monolog batinnya didera dilema hebat; ia membenci Rendy yang tiba-tiba muncul dan mengusik ketenangannya yang baru saja stabil, namun di sisi lain, ada rasa takut yang mendalam terhadap apa yang bisa dilakukan Devano pada pria itu—dan pada dirinya sendiri.

Kenapa kau harus kembali sekarang, Rendy? Setelah lima tahun berlalu, kenapa kau memilih untuk menantang iblis yang baru saja meruntuhkan seluruh silsilah keluarga Wijaya? batin Alana menjerit panik.

Devano perlahan memutar kursi rodanya, memotong jarak ke arah Alana hingga bayangan tubuhnya yang besar menutupi separuh tubuh wanita itu dari pendar lampu kamar.

Ia tidak menggunakan kekerasan fisik, melainkan mengulurkan tangan kanannya untuk mencengkeram pergelangan tangan Alana yang bebas. Ibu jarinya menekan titik nadi di pergelangan tangan Alana, menghitung setiap detak cepat yang mengindikasikan ketakutan wanita itu secara presisi.

Sebuah sentuhan psikologis (power-play touch) yang dingin, membuat Alana sadar bahwa kebohongannya sekecil apa pun akan langsung terdeteksi oleh sang tirani.

"Kau mencemaskannya, Alana?" bisik Devano dengan suara serak yang sangat rendah, mengalir tepat di depan wajah Alana hingga mereka bisa merasakan kehangatan napas satu sama lain. "Setiap kali nama pria dari masa lalumu itu disebut, nadimu bergolak seperti ini. Apakah ada janji setia yang belum sempat kalian selesaikan sebelum pernikahan pengganti ini dimulai?"

Alana mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang netra obsidian Devano yang tidak menyisakan ruang bagi kebohongan. Air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat penampilannya terlihat begitu rapuh namun memikat di mata sang penguasa.

"Saya tidak mencemaskannya, Tuan Devano... Saya bersumpah," ucap Alana dengan suara yang bergetar hebat namun tegap. "Saya takut karena saya tahu bagaimana Anda menghancurkan Julian dan Ayah saya. Saya tidak ingin ada lagi pertumpahan darah yang melibatkan nama saya di rumah ini."

Devano menyeringai tipis, seutas senyuman asimetris yang memancarkan kegilaan obsesi yang pekat ekstrem. "Darah adalah harga paling murah untuk sebuah kepemilikan mutlak, Istriku. Jika Keluarga Surya mengira mereka bisa menggunakan sisa tikus mereka untuk merebutmu dari duniaku, mereka salah besar."

Pria itu melepaskan pergelangan tangan Alana, namun beralih menangkup sisi wajah Alana dengan telapak tangannya yang lebar dan hangat. Ia memaksa Alana bersandar pada dadanya yang keras, mengurung ruang gerak wanita itu tanpa memberikan ciuman berulang, melainkan kehangatan posesif yang membuat Alana merasakan efek dilema yang rumit—takut pada kekejamannya, namun merasa paling aman saat berada di dalam dekapannya.

Sementara itu, ketegangan di area pelabuhan lama ibu kota telah mencapai puncaknya di bawah kegelapan malam yang berkabut.

Di dalam sebuah gudang kontainer yang terisolasi, Rendy Surya berdiri di depan meja kayu usang yang diterangi oleh sebatang lilin kecil. Pakaiannya yang serba hitam tampak kontras dengan lembaran dokumen kuno kekuningan yang digenggamnya erat-erat dengan jemari yang kaku.

Wajah tampannya kini dipenuhi gurat kepahitan dan dendam masa lalu yang mendalam terhadap dominasi Adhitama Group yang telah memusnahkan pengaruh bisnis Keluarga Surya lima tahun silam.

"Devano mungkin berpikir dia sudah mengunci seluruh pergerakan hukum di kota ini," desis Rendy, suaranya parau menahan amarah melodrama yang membakar dadanya.

Seorang pria paruh baya dengan pakaian pelaut senior melangkah mendekat dari arah bayangan kontainer. "Tuan Muda Rendy, pengawal Adhitama sudah mulai menyisir sektor pelabuhan utara. Kita tidak punya banyak waktu sebelum Jefri menemukan koordinat server cadangan ini."

Rendy Surya tersenyum licik, sebuah ekspresi manipulatif yang sangat dingin. Ia mengangkat lembaran dokumen di tangannya, memperlihatkan sebuah segel otentik dari rumah sakit bersalin pusat yang bertanggal dua puluh empat tahun lalu.

"Biarkan mereka datang," ucap Rendy dengan nada penuh provokasi sabotase yang kejam. "Devano mengira dia menikahi anak haram dari Herman Wijaya untuk melunasi utang bisnis. Dia tidak pernah tahu... bahwa Alana adalah putri kandung dari satu-satunya wanita yang dicintai oleh ayah Devano sendiri di masa lalu."

Rendy memasukkan dokumen itu ke dalam sebuah amplop hitam tebal berlapis lilin segel, lalu menyerahkannya kepada sang pelaut. "Kirimkan salinan bab pertama dokumen ini langsung ke meja kerja Devano besok pagi. Aku ingin melihat bagaimana sang tirani itu bereaksi saat menyadari bahwa wanita yang ia kurung di ranjangnya... adalah garis keturunan yang paling diharamkan oleh silsilah Adhitama seumur hidupnya!"

Lampu darurat di pelabuhan lama mendadak mati total, menyisakan raungan sirine mobil pengawal Jefri yang mulai memotong jalur pelarian, mengunci malam dalam cliffhanger rahasia besar yang siap meledakkan emosi pembaca di bab berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!