Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isi Hati Cinderella
"Ini ada hubungannya sama papa kamu Ell...
"APA!?
Tentu saja Ella merasa kaget dengan apa yang di katakan Wulan. Temannya itu tiba-tiba saja menghubunginya lalu berkata bahwa semua ini ada hubungannya dengan Papanya.
"Lan? Maksud kamu apa?" Tanya Ella dengan lirih, Dia masih belum mengerti dengan apa yang di katakan Wulan.
"Gak enak kalau kita bicara di sini.. Kita ketemu aja ya, Di cafe biasanya.."
"Ya udah, Kalo gitu aku siap-siap dulu.." Ella segera mematikan ponselnya. Ia pergi ke kamar mandi hanya untuk sekedar membersihkan diri terlebih dulu.
Setelah selesai, Ella bersiap hendak pergi. Namun sebelum itu, Ella pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tenggorokannya mendadak kering mungkin karena terlalu lama ia menangis.
Sekarang dia sudah memutuskan untuk tak peduli lagi dengan Araka dan Lentera. Mau seperti apa mereka, Keduanya adalah seorang pengkhianat. Dan Ella akan buat mereka menyesal karena telah dengan tega melakukan semua ini terhadapnya.
Ella meraih gelas kemudian mengisinya dengan air putih. Ia menegak air tersebut hingga tandas. Saat berbalik badan.
"K.. Ka.. Kak? Kakak sedang apa di.. disini?" Lentera, Gadis itu mendadak gugup setelah melihat Ella berada di dapur.
Mata Ella tertuju pada cangkir yang gadis itu pegang. Sepertinya tadi Araka meminta gadis itu untuk membuatkan kopi. Karena Araka adalah pria yang pecinta kopi.
"Kenapa? Kau terlihat gugup sekali setelah melihat ku? Kau juga bertanya kenapa aku ada disini? Aneh sekali pertanyaanmu.." Lentera seketika terkejut dengan ucapan Kakaknya itu. Tidak biasanya Ella bicara dengan nada seperti itu.
"E..Enggak.. Aku cuma kaget aja lihat kakak ada disini.. Soalnya perasaan tadi kakak belum pulang dan tiba-tiba saja ada di dapur. Mana udah rapi lagi.." Ella tersenyum, Wajahnya begitu tenang.
"Aku sudah pulang sejak tadi.. Kau saja yang tidak tahu.. Bahkan aku melihat dan mendengar semuanya.."Lanjut Ella membatin.
"Kalau Ella sudah pulang sejak tadi, Apakah dia tahu sesuatu tentang aku dan Araka?" Lentera membatin. Dia mulai ketar ketir sekarang, Bagaimana kalau kakaknya itu sampai tahu tentang hubungan ini dan mendengar pembicaraannya Dengan pria itu. Bisa-bisa gagal rencana Kak Araka untuk mendapatkan warisan dari neneknya.
"Ee.. Kak..
Praankk!
"Aaawww... Kak Ella? Apa yang kau lakukan!!" Pekik Lentera sembari mengeluarkan air matanya. Untuk kali ini Ella benar-benar melihat sifat asli adiknya itu. Sekarang Ella sadar kalau Lentera memang tak suka atau lebih tepatnya membencinya.
Lihat, Cangkir yang gadis itu pegang jatuh sendiri tapi Lentera justru menyebut namanya. Kita lihat saja drama apalagi yang akan terjadi setelah ini.
"LENTERA!!
Sudah Ella duga, Semua orang panik melihat kaki Lentera yang terluka. Tak hanya Araka tapi juga Mama dan Ayahnya yang mungkin baru saja pulang.
"Ella!? Apalagi yang telah kau lakukan pada Lentera hah!!" Bentak Araka pada Ella. Pria itu tidak tahu apapun, Hanya dengan melihat saja langsung menyalahkan Ella.
Sayangnya Ella hanya diam. Biasanya dia akan membela diri, Tapi sekarang dia cukup diam saja.
"Ya Ampun nak.. Kok bisa sih.." Dewi, Wanita itu dengan penuh perhatian memeriksa kaki Lentera yang tangisnya semakin menjadi. Coba saja kalau Ella yang terluka, Pasti dia di marahi tidak boleh manja, Lebay atau alasan apalah itu.
"Kamu itu bisa gak sih? Jangan buat ulah? Gak puas kamu sakiti adik kamu!" Lihat? Pria yang bukan ayah kandungnya itu langsung saja menuduhnya tanpa mencari tahu lebih dulu.
"Kamu itu iri kan sama Lentera, Karena Araka lebih dekat dengan Lentera di banding kamu iya kan? Makanya kamu banting cangkir kaca ini ke kakinya. Lihat! Kakinya terluka.." Ucap Hendra dengan mata nyalang. Namun saat ini tak ada tatapan takut lagi dari anak tirinya itu. Dewi juta ikut menatap sang putri.
"Ella.. Lentera itu adik kamu.. Gak seharusnya kamu..
"CUKUUUUP!!!
PRAANKK!!
Bentak Ella di ruangan tersebut. Ella juga membanting gelas yang ia pegang itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping
Hendra, Dewi, Lentera bahkan Araka pun terkejut dengan Ella yang sikapnya tiba-tiba berubah.
Ella tersenyum, Di tengah rasa sakitnya Ella melangkah mendekati empat orang itu lalu berdiri di depannya.
"Bisa ga sih? Tanya lebih dulu sebelum menuduh?" Tanya Ella dingin. Matanya memerah hendak mengeluarkan air mata, Akan tetapi Ella tidak akan menangis lagi. Dia akan kuat untuk melawan mereka. Ella tidak mau mengeluarkan air matanya yang berharga itu untuk mereka.
"Sebelum menuduh itu tanya lebih dulu.. Siapa yang salah dan siapa yang benar.. Aku gak mau terus-terusan di salahi dan di jadikan tersangka oleh kalian. Setiap kalian lihat dia nangis kalian selalu salahin aku. Aku juga capek di tuduh mulu.. Bukan aku yang salah tapi aku yang di paksa untuk minta maaf.. " Tatapan Ella berubah nyalang ke arah Araka.
"Kamu! Mata kamu udah buta? Kamu lihat pecahan kaca di kaki gadis kesayangan kamu ini.." Ella menunjuk Araka sebelum menunjuk pecahan kaca yang ada di sekitar kaki Lentera.
"Kamu bisa lihat kan? Kaca yang pecah itu cangkir bekas kopi. BUKA MATANYA YANG LEBAR DOONG!!" Suara Ella meninggi di akhir kalimatnya.
"Kopi itu kamu yang minta kan? Tapi kenapa kamu malah nuduh aku yang ngelempar cangkir itu ke kaki Lentera. Sementara gelas yang aku pegang baru saja aku banting .." Araka melihat pecahan kaca itu, Dan benar pecahan tersebut adalah cangkir bekas kopi.
Tatapan Ella kini beralih pada Dewi. Dewi yang di tatap pun tak menyangka kalau putrinya akan berani menatapnya dingin seperti itu.
"Dan Mama, Aku ini juga anak Mama lo.. Aku juga lahir dari rahim dimana Lentera lahir Ma.. Tapi kenapa sebagai seorang Ibu Mama pilih kasih. Lentera luka dikit,, Mama langsung panik. Dan akulah yang selalu di sangka pelaku.. Coba kalau aku yang luka, Jangankan luka kecil, Parah pun Mama selalu bilang.. Obatin aja sendiri, Gak usah manja, Gak usah lebay. Sekarang aku tanya Ma.. Memangnya kapan aku manja sama mama? Kapan? Jangankan minta manja Ma.. Di manja aja aku juga pengen rasanya gimana?" Tak ada jawaban dari wanita yang notabene nya adalah ibu kandung Ella itu. Karena yang di katakan Ella adalah kebenaran bukan?
Tatapan Ella kini beralih pada Hendra. Ella tersenyum, Senyum getir yang siapapun orang tahu kalau dia tengah terluka.
"Yah.. Sebelum ayah menikahi Mama, Ayah udah tahu kan kalau Mama punya putri dari suami yang sebelumnya.. Pastinya Ayah bilang ke Mama dan berjanji kalau ayah akan menerima Mama apa adanya dan juga aku sebagai putrinya. Tapi mana? Ayah gak pernah sayang sama aku.. Apa yang aku punya, Lentera selalu punya. Dan apa yang Lentera punya aku gak pernah punya.. Bukannya Ayah selalu adil ya? Tapi mana?
"Kak.. Kakak jangan nyalahin Papa.. Mau bagaimana pun Papa yang selama ini udah merawat Kak Ella di saat ayah kandung Kak Ella gak peduli lagi sama kakak.." Ella tertawa sumbang mendengar ucapan Lentera.
"Maka dari itu Tera.. Maka dari itu. Seharusnya Ayah juga kasih aku perhatian dan kasih sayang yang sama di saat ayah kandung aku gak peduli. Bukannya malah selalu marah-marah dan pukulin aku.. Dan kamu!.." Ella menunjuk Lentera tepat di hadapan matanya.
"Aku salut sama kamu.. Kamu menang, Selamat ya.. Selamat bahagia.." Ucap Ella, Sebelah tangan Ella terangkat mengusap kepala adik tirinya itu. Ella kembali menatap Araka, Tak ada senyum disana. Tanpa mengatakan apapun lagi, Cinderella pergi dari sana.
Kakinya pincang setelah terkena pecahan gelas tadi. Akan tetapi semua itu tak membuat langkah Ella berhenti. Langkah itu semakin mantap seiring dengan lukanya yang semakin mendalam.
•
•
•
TBC
..... Kemaren Othor gak bisa up karena sodara nenek meninggal.. Tapi hari ini Othor bakal Crazy up atau 3x update...Di tunggu ya..❤️