NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:281
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

BIP

Dokter Yi: Rei, terima kasih sebelumnya. Tapi maaf, aku sudah dalam perjalanan menuju—

“Alin…”

Alin tersentak.

Rei sudah berdiri di depannya, di lobi wisma. Padahal ia baru saja hendak turun ke parkiran basement.

Pesan itu terkirim setengah jalan.

Saat Alin sedang mengetik penolakan untuk pergi bersama Rei.

Rei mengeluarkan ponsel dari saku mantel. Layarnya masih menyala, menampilkan pesan dari Alin yang belum selesai.

Alin langsung salah tingkah. Pipinya memanas.

“Ah… itu…”

“Apa itu bawaanmu?” Rei memotong, menunjuk koper di samping kaki Alin. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menarik gagangnya.

“Kita berangkat sekarang.”

“Rei… Kau sejak kapan datang?” Tanya Alin dalam perjalan mereka.

......................

Sebelumnya, pukul 11 malam.

“Kenapa tidak memberitahuku? Kau tahu aku segila apa mengarang cerita pada ayahmu. Kau pergi tanpa meninggalkan pesan tanpa pengawalan. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Bagaimana aku menjelaskan pada Yang mulia Raja? Pada Negara?” Kesal Yuchen.

“Aku sudah katakan akan menemuinya. Kau yang tidak dengar.” Jawab santai Rei.

Yuchen menghela napas. Benar, Rei bilang mau menemui Alin. Tapi tidak pernah bilang malam ini, sendiri, tanpa pengawal.

“Yang Mulia, apa dia tahu siapa kau?” Suara Yuchen turun satu oktaf. “Kau masih ingin bermain dengannya? Dia disini hanya…”

Kalimat itu menggantung. Rei menatapnya. Tajam. Dingin. Tatapan yang bisa membuat orang lupa cara bernapas.

Yuchen menelan ludah. “Kau… sungguh menyukainya?”

“Aku sudah mencoba terang-terangan untuk mendekatinya, tapi dia seakan tidak mengerti tindakan ku. Bahkan dia menyuruhku untuk berhenti menemuinya.”

“Sungguh dia mengatakan hal itu?” Ujar Yuchen tak percaya, “Bagaimana bisa dia tidak menyukaimu. Secara visual kau sangat tampan, apa wanita itu ada kelainan? Penyuka sesama jenis?” Gumam Yuchen yang terdengar Rei.

Rei tidak membalas. Ia hanya menghabiskan minumannya, lalu bersandar di sofa, “Aku rasa dia hanya tidak ingin terlibat dalam soal perasaan. Kau sudah cari tahu soal dia?”

“Aku rasa dia bukan wanita sembarangan. Kau tahu sejak kecil dia menerima banyak penghargaan bahkan kau saja kalah jauh darinya.” Celetuk Yuchen menyerahkan tablet pada Rei berisi data lengkap Alin.

Zhang Yi Lin, dikenal sebagai dokter Yi. Hidup sejak kecil bersama kakaknya yang terpaut 9 tahun, Zhang Yuhan. Kedua orang tuanya sudah meninggal akibat kecelakaan. Keluarga besar Zhang tinggal di negara Mugung, kota Echelon.

Alin sendiri tidak pernah lagi mengunjungi keluarga besar Zhang. Sejak kecil sekolahnya tinggal di asrama atas perintah kakaknya. Saat kuliah di kota Lunara, ia mengambil jurusan kedokteran. Kehidupannya sejak kecil sudah disibukkan berbagai kegiatan, membuat keluarga Zhang memaklumi Alin yang jarang hadir dalam pertemuan keluarganya.

“Dia tidak pernah berpacaran?”

“Tidak. Tapi banyak yang menyukainya. Wanita itu kurasa benar menyukai sejenisnya, atau kemungkinan lainnya dia berhati dingin. Kau tahu direkturnya…”

Rei melihat data nama Lu Minghan. Pria itu menyukai Alin sudah lama, mengajaknya berpacaran dan menjalin hubungan serius. Tapi Alin menolaknya berulang kali hingga Lu Minghan mendepaknya ke negara Xing. Menempatkannya dirumah sakit cabang Linggu.

“Jadi ini alasan dia sangat membenci Lu Minghan?!”

“Kau mengenalnya?” Tanya Yunchen terheran.

“Tidak. Tapi aku ingin dia sengsara. Kau yang atur.” Hukum Rei.

“Jadi jam berapa seminarnya besok di mulai?” Tanya Rei, dengan tenang.

“Pukul 09.00.”

“Jam 9? Kau yakin?” Rei mengernyit, “Dia menyuruhku untuk mengantarnya jam 8 pagi.”

“Hahahaha dia memang menghindar dari mu.” Tawa gelak Yuchen, “Baru ini ada yang menolak mu tuan Yan.” Puasnya lagi.

Rei melempar tabletnya dengan kasar. Ia bingung dengan isi pikiran Alin. Disaat wanita lain akan pingsan pergi bersama pangeran, namun Alin memilih menghindar.

......................

“Kau berencana berangkat sendiri?” Tanya Rei tanpa basa-basi membuat Alin kembali merasa canggung.

“Aku tidak bermaksud…” Ujar Alin memilah alasan yang tepat, “Aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Kita baru saling kenal, tapi aku merasa…”

Rei tertunduk dalam senyumannya, “Apa aku terlihat terburu-buru?” Tanya Rei yang membuat Alin menatapnya dalam sorot bingung.

“Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Apa aku bisa melakukannya?” Tanya Rei spontan saat mobilnya ia tepikan dengan segera.

Sebuah pernyataan yang ingin pria itu sampaikan di moment romantis. Namun belum sempat moment itu tercipta, wanita disampingnya seakan ingin menjauh dari Rei, terlebih wanita itu memiliki segudang pria hebat yang menantikannya. Rei tidak ingin membuang waktu selama ada kesempatan.

“Kau sepertinya tipe wanita yang tidak memahami niat seorang pria. Jadi aku tidak akan berbelit. Aku ingin lebih dekat denganmu? Apa kau mengizinkan ku?”

Alin terdiam menatap Rei yang duduk disampingnya. Jalanan saat itu terlihat sunyi dengan beberapa mobil yang melintas. Sorot lampu jalanan masih menyala, samar meredup seiring terbitnya matahari.

“Aku tidak pernah mendengar kalimat penolakan. Segala ucapan ku seharusnya bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.”

“Apa kau…”

“Menyukaimu.” Sela Rei langsung pada pertanyaan Alin yang seakan ia menjawabnya dengan lugas, “Jadi jangan menghindar dari ku. Apa kau mengerti maksud ku?” Lanjutnya mempertegas semua kebingungan Alin.

Alin masih terdiam dengan ungkapan spontan dari Rei. Banyak pertanyaan dalam benaknya, mengenai apa dan kenapa. Namun satu hal yang pasti, Rei menyukai Alin dan tidak ingin wanita itu menjauh darinya.

“Terimakasih sudah mengantarku.” Ucap Alin sesaat setelah turun dari mobil Rei.

“Alin tunggu…” Rei menahan lengan wanita itu, “Jawab panggilan dariku, jangan mengabaikannya.” Pintanya.

Bahkan Rei memberi peringatan tersebut sebelum terjadi, seakan ia tahu Alin pasti akan melakukan hak tersebut.

Alin menarik tangannya, “Kembalilah Rei. Aku akan menghubungimu kembali nanti.” Sahut Alin dan bergegas memasuki gedung pertemuan.

...****************...

“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Mei pada Alin setelah usai menghadiri seminar tersebut.

“Hah?! Tidak.” Jawab Alin tak bersemangat.

“Aku melihatmu tadi pagi diantar seseorang, siapa dia? Apa karena orang itu kau jadi muram seharian ini.”

“Apa aku terlihat begitu?”

“Ya… kau menarik nafas berulang kali, aku takut kau asma mendadak.” Ucapnya terdengar serius.

“Ck-.” Decak kesal Alin.

“Jadi siapa dia?”

Alin dengan terpaksa menceritakan sosok pria yang mengejarnya, Rei. Dimulai dari awal pertemuan mereka di dalam kapal. Wanita itu menceritakan semuanya dengan sangat detail tanpa ada yang terlewatkan.

“Hmm… terdengar dominan. Tapi sikapnya begitu hangat pada mu. Aku rasa dia memang menyukaimu. Mau aku bantu cari tahu tentang latar belakangnya? Aku memiliki kenalan orang lama disini.”

“Tidak perlu. Aku tidak berminat untuk…”

“Dia tampan Alin. Kau ini banyak yang mendekati, tapi hanya dia yang berani terang-terangan padamu.”

“Jangan lupakan bos mu itu.” Kesal Alin mengingat direkturnya.

“Ah ya dia… Aku juga muak menyebut namanya.” Kesal Mei juga, “Lalu apa kau akan pulang bersamanya hari ini?” 

“Tidak. Aku akan pulang bersama mu.”

“Mm… itu… maaf Alin. Aku mengajukan cuti. Jadi hari ini aku belum dapat kembali ke Linggu.”

“A-apa?!”

“Aah begini saja, kau bawa mobil ku. Aku lusa bisa…”

“Sudahlah. Aku naik kendaraan umum saja.” Keluh Alin.

“Kau tidak pernah menaiki kendaraan umum. Seingat ku kau dulu justru nyasar hingga keperbatasan kota.”

“Mana kunci mobil mu.” Kesal Alin meraih kunci mobil Mei begitu saja.

Kedua sahabat itu sudah saling kenal sejak lama. Beruntung direktur brengsek itu mengirim Alin bersama seseorang yang ia kenal. Jika tidak, mati sudah riwayatnya di negara orang.

BIP BIP BIP

“Apa itu nomornya? Dia menghubungimu?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!