Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *7
Merlin menundukkan kepalanya perlahan. Pandangannya jatuh kembali ke meja makan, tepat ke arah sup dan ayam goreng yang kini sudah dingin sepenuhnya. Uapnya sudah hilang sepenuhnya. Rasanya, keberadaannya di sini pun sama saja. Dingin dan tak diperlukan.
“Iya,” jawab Merlin akhirnya, suaranya datar namun tetap berusaha lembut. “Kamu temenin aja dulu. Urus dia sampai benar-benar aman.”
Di seberang sana, Reyno diam beberapa detik. Ada napas lega yang terdengar samar. Seolah-olah, jawaban Merlin itu adalah beban berat yang terangkat dari pundaknya.
“Makasih, Mer. Kamu emang paling ngerti aku. Nanti kalau sempat aku kabarin lagi,” ucapnya cepat sebelum sambungan telepon terputus.
Suara sambungan mati terdengar tit-tit-tit pendek, dan seketika itu juga, keheningan kembali menyelimuti apartemen itu. Lebih sunyi dari sebelumnya. Lebih dingin dari sebelumnya.
Merlin meletakkan ponselnya perlahan di atas meja, tepat di sebelah piringnya. Matanya menatap kursi kosong di hadapannya. Kursi milik Reyno.
Dulu, belum lama ini sebenarnya, kursi itu selalu terisi setiap malam. Selalu ada suara tawa, selalu ada cerita tentang hari mereka, selalu ada tangan yang saling menyentuh di atas meja makan.
Sekarang? Mulai sering kosong. Dan kekosongan itu terasa makin melebar, makin dalam, makin sulit diisi kembali.
Merlin tersenyum kecil. Senyum yang begitu tipis, begitu pucat, dan terasa sangat pahit di sudut bibirnya. Ia kembali mengambil sendoknya, berusaha melanjutkan makannya sendirian, meski rasa makanan itu sudah hilang sama sekali. Rasanya tawar. Rasanya hambar. Sama seperti hidupnya belakangan ini.
Malam semakin larut. Hujan di luar semakin deras, seolah tak ada hentinya. Dan seperti yang dikatakan Reyno, pria itu benar-benar tidak pulang malam itu.
Pukul satu dini hari, Merlin masih belum bisa memejamkan matanya. Ia sudah berbaring di tempat tidur sejak pukul sepuluh, tapi matanya tetap terjaga, menatap langit-langit kamar yang remang. Akhirnya ia bangkit, melangkah keluar kamar menuju ruang tamu.
Lampu-lampu apartemen sengaja tidak dimatikan. Itu kebiasaan kecil yang sudah mereka miliki sejak dulu. Karena Reyno selalu tidak suka pulang ke rumah yang gelap dan sunyi. Ia selalu bilang, cahaya lampu yang menyala adalah tanda bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya pulang. Padahal sekarang, cahaya itu menyala sia-sia.
Merlin duduk melipat kakinya di atas sofa, memeluk lututnya sendiri erat-erat. Pandangannya kosong menatap layar televisi yang menyala tanpa suara, hanya menampilkan bayang-bayang gambar yang bergerak-gerak.
Belum lama ia duduk, ponselnya di meja samping sofa kembali bergetar. Satu pesan masuk. Merlin mengambilnya dengan tangan yang berat. Masih dari kontak yang sama. Dari Reyno.
*Aku tidur di rumah sakit malam ini. Keadaan dia masih belum stabil, nggak berani aku tinggal.*
Tidak ada emoji. Tidak ada kata sayang. Tidak ada penjelasan panjang lebar. Singkat, padat, dan seolah hal itu adalah hal yang biasa saja.
Merlin membaca pesan itu lama sekali. Sangat lama. Matanya meneliti setiap kata, setiap huruf, berharap ada kata tambahan yang terselip. Tapi tidak ada.
Lalu ia mengetik balasan pelan-pelan, jemarinya terasa berat dan kaku.
*Iya. Hati-hati di sana. Jangan khawatirin aku.*
Setelah pesan terkirim, ia langsung mematikan layar ponselnya, meletakkannya agar menjauh, lalu menundukkan kepalanya di antara kedua lututnya.
Dadanya terasa begitu sesak, seolah ada beban berat yang menindih dada dan paru-parunya, membuat napasnya terasa sulit.
Bukan karena marah. Bukan juga karena cemburu buta. Bukan karena ia benci pada Yara. Ia hanya … merasa sangat sendirian.
Dan perasaan kesepian yang mendalam itu ternyata jauh lebih menyakitkan dari apa pun yang ia kira sebelumnya. Jauh lebih perih daripada sekadar rasa cemburu.
***
Keesokan paginya, Reyno baru pulang ke rumah sekitar pukul delapan pagi. Matahari sudah cukup tinggi, menembus celah-celah tirai jendela.
Penampilan Reyno jauh dari kata rapi. Wajahnya terlihat sangat lelah dan kusut. Kemeja yang dipakainya kemarin sore kini terlihat kusut dan berkerut di sana-sini, rambutnya berantakan, dan matanya merah serta bengkak karena hampir tidak tidur semalaman.
Begitu melangkah masuk dan menutup pintu, ia langsung mencari sosok istrinya. Matanya menyapu ruang tamu, dapur, hingga akhirnya menemukan Merlin di balkon belakang. Wanita itu sedang berdiri menyiram tanaman-tanaman kecil yang tertata di sana, gerakannya tenang dan lambat.
“Mer …” panggil Reyno pelan sambil berjalan mendekat dengan langkah yang berat.
Merlin menoleh. Wajahnya terlihat tenang, tidak ada kemarahan, tidak ada kekecewaan.
“Oh. Kamu sudah pulang,” ucapnya datar, lalu kembali melanjutkan kegiatannya menyiram bunga.
Senyum kecil dan lembut masih terlukis di bibirnya, persis seperti biasanya. Persis seperti istri pengertian yang selalu ia kenal. Namun entah kenapa, di detik itu, Reyno merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada jarak yang tercipta. Ada dinding tipis yang perlahan meninggi di antara mereka.
“Aku minta maaf banget soal semalam ya,” kata Reyno cepat, merasa bersalah. Ia berdiri di ambang pintu balkon, menatap punggung istrinya. “Bener-bener nggak bisa aku tinggalin. Dia nangis histeris kalau aku mau melangkah pergi sedikit aja. Aku bingung banget, Mer.”
Merlin menggeleng kecil, tangannya terus bergerak menyiram daun mawar yang tumbuh subur di sana. “Gak apa-apa. Aku ngerti kok.”
“Aku bener-bener gak bermaksud ninggalin kamu sendirian di sini,” lanjut Reyno lagi, mencoba menjelaskan berulang kali. “Aku cuma mikir, Lucas udah nggak ada. Aku harus gantiin posisi dia sebisa mungkin, kan? Demi ngabulin permintaan terakhir sahabat aku.”
“Iya. Aku tahu,” jawab Merlin singkat.
Jawaban itu terdengar begitu normal. Terlalu normal. Seolah-olah hal-hal seperti ini memang sudah seharusnya terjadi, seolah-olah ditinggalkan dan menunggu sendirian sudah menjadi takdirnya.
Reyno melangkah mendekat, berdiri tepat di samping istrinya. Ia menatap wajah Merlin dari samping. “Aku takut kamu kepikiran atau merasa tersisih, Mer. Aku takut kamu salah paham sama semua ini.”
Merlin tersenyum kecil, masih menatap tanamannya, tangannya bergerak memindahkan satu pot ke tempat yang lebih terkena sinar matahari. “Yara lebih penting sekarang, Rey. Dia lagi butuh kamu banget. Aku kan sehat, aku kuat, aku nggak apa-apa di sini.”
Kalimat itu terlontar begitu saja, tenang dan lembut. Tapi bagi Reyno, kalimat itu terdengar tajam. Sangat tajam. Ia langsung mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang janggal.
“Apa maksudnya kalimat itu? Apa maksudnya dia lebih penting? Kamu kan istri aku, Mer. Kamu yang paling penting,” tanyanya bingung, sedikit khawatir.
Merlin berhenti bergerak sejenak. Hening.
Lalu ia menggeleng pelan, masih dengan senyum yang sama. “Bukan apa-apa. Cuma ngomong kenyataan aja,” jawabnya pelan.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, jauh di tempat yang paling tersembunyi, untuk pertama kalinya, Merlin mulai menyadari satu hal yang menyakitkan itu. Ia sedang perlahan kehilangan tempatnya sendiri. Ia sedang perlahan tergeser dari posisinya sebagai prioritas utama. Ia sedang perlahan kehilangan suaminya, bukan karena ada wanita lain yang merebut dengan niat buruk, tapi karena rasa kasihan, rasa tanggung jawab, dan rasa kewajiban yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari sekadar rasa cinta suami istri.
🥹🥹