Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Mengabdi untuk negri
Hanya rehat sejenak, Ivy dan yang lain sudah harus kembali bersiap datang ke balai dusun, bertemu warga dan memaparkan proyek kerja mereka sekaligus berkenalan langsung dengan desa Tanjung komodo, sebab...sejak kedatangan mereka semalam, mereka belum sempat bertegur sapa lebih jauh selain dari beberapa warga yang sempat bertemu tadi pagi atau semalam.
Masih ada para tentara yang akan mengawal jalannya acara termasuk menjadi perwakilan dari lanal timur.
"Arsa gue mau mandi!" teriak Gege dengan wajah kusutnya pada Arsa yang masih duduk dengan Raudhah. Sementara Ivy baru saja cuci muka, "hemat air Ge, mandi sehari sekali..."
"Yang bener aja gila! Di ibukota aja gue mandi dua sampe tiga kali. Ntar warga ngga bisa bedain yang mana komodo yang mana gue..."
Salah Ivy, karena Bumi sudah tertawa, "kaya lo tadi yang bilang kadal tuh komodo ya? Tuh kadal jarang mandi jadi Lo ngga bisa bedain yang mana kadal yang mana komodo?"
Nanda tertawa bersama Tami, "jleb banget !"
Wajah Ivy kaku menatap Bumi, tak berkata apapun tapi kemudian ia melempar botol yang masih berisi air milik Gege ke arah cowok itu.
"Sudah semua, truk reo kosong...semuanya benar kan?" tanya kapten Raimond pada Arsa dan Raudhah mengangguk, sementara di dalam sana begitu ricuh sekali dengan Ivy dan Gege versus Bumi--Gabriel.
Panji menatap ke arah dalam, tanpa sadar gerak gerik Ivy ia perhatikan sejak tadi.
Ema Flo bersama mama Yani justru hadir dengan satu teko air nira segar dan kue lontar di beranda.
Mama Yani, adalah salah satu warga di dekat basecamp KKN 78 ini, "diminum dulu om, Kaka...kebetulan baru turun dari hasil sadap."
Tentu saja, selain dari tentara, anak mahasiswa yang semula ribut ini langsung berebut.
"Wah, ngga usah repot-repot mama." Ucap Gabriel.
"Ya udah Lo kalo ngga mau ngga usah ikutan minum." Usir Ivy, berebut duduk, tapi kemudian Panji bergeser sedikit memberikan spacenya.
"Ini air apa mama?" tanya Ivy.
"Air nira." Jawab Panji, "jangan bilang ngga pernah coba?"
"Emang belum, pak." jawab Gege. Bara melipat bibirnya mendengar panggilan Gege untuk Panji.
Ivy mendelik judes, "tau. Pernah..."
"Terus kenapa tanya?" tanya Panji dicebiki Ivy yang memilih minum, rasanya ringan, manis yang lembut dengan aroma khas yang menenangkan.
"Ini tuh disadap dari bunga pohon aren kan, pohon lontar?" tanya Ivy meneliti gelas bening dimana airnya sedikit keruh tak sebening air putih biasa.
"Betul kak." angguk mama Yani.
"Setau aku, ini bisa difermentasi jadi tuak kan ya?" masih saja ocehnya bertanya.
"Ngapa Vy, mau jualan tuak di ibukota?"
"Di kampus gue jual!" sarkasnya membuat Gege yang ingin meneguk air nira tak jadi lagi, "duhhh bisa ngga sih kalian dua diem. Ini gue mau neguk ngga jadi-jadi."
"Benar kak. Ini kalau didiamkan rasanya akan menjadi asam dan pahit, orang sini sering buat disebut tuak." Jawab Ema Flo diangguki Ivy, "tuak cap Pravita..."
Imel tergelak, benar-benar temannya ini! "kebayang banget calon guru jualan tuak."
"Lah, daripada jualin aset negara." Jawabnya lagi, "gaji guru di Nusantara miris...gue bakalan butuh saku lebih, dan prospek kerja jualan tuak cukup menjanjikan..." Ucap Ivy yang mengundang tawa Gabriel, "saravv boga temen."
Gokil! Memang gokil!
"Ngga usah nyerempet-nyerempet Vy."
"Canda pak..." Ivy melihat ke arah pak Drajat dan pak Firman.
Hal baik kedua setelah kebaikan warga disini adalah air nira dan kue lontar, Ivy begitu menikmati, ia tengah meneliti kue yang telah ia gigit itu. Sadar dengan apa yang Ivy lakukan, Panji mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak begitu penting namun cukup menjawab rasa penasaran Ivy, "ini kue lontar namanya."
Ivy menoleh kaku dan ah ya! tidak mengangguk tapi juga tak begitu jutek, sudah luluh? Tentu tidak.
"Hmm," gumamnya.
"Pie susunya orang timur. Enak kan? Saya suka."
Ivy kembali mengangguk, "iya enak. Jadi pengen tau cara bikinnya, eh tapi ini ada dijual di ibukota ngga?"
Panji mengangguk, "ada industri rumahan, harus pre order. Maklum ini kue daerah jadi ngga banyak orang bikin, mungkin beberapa hanya keturunan timur yang rindu rumah atau bawa rumahnya ke ibukota."
Ivy mengangguk, tak sadar jika ia sudah tak sejutek itu pada Panji, potongan kedua ia ambil lagi, lapar? Mungkin...
"Kalau mau, keluarga saya bisa buat. Kebetulan keluarga om, sempat tinggal di tanah timur lama, dinas sekitar puluhan tahun."
Ivy menoleh, kini ia sedikit lebih tertarik, sedikit saja..."oh ya? Hm." Ivy mengangguk-angguk.
"Dapetin lontarnya yang sedikit butuh effort, tapi kalau ada acara di rumah, pasti umi Fara bikin. Termasuk kiriman buah matoa, buah merah yang biasa di olah juga jadi makanan."
Alis Ivy berkedut, oke jika dulu kesannya pada Panji adalah Hanoman, Hulk, maka sekarang yeahhh----samson Betawi lah.
"Lo sama Mayra---sorry, ngga harusnya gue bahas."
Panji mendengus, diantara satu persatu penghuni beranda yang mulai beranjak, masih ada Ivy, Panji, para tentara termasuk Arsa dan beberapa lelaki bersama mama Yani yang mengobrol banyak. Tapi Ivy dan Panji seolah memiliki urusan lain disana.
Panji mendengus, "saya sikat." bangganya.
"Tau...sempet liat juga. Gila ya..." Ivy menggeleng.
"Padahal saya mau nepatin janji. Anggap aja sebagai ucapan terimakasih udah nunjukin kejadian sore itu ..."
Ivy kembali mendengus menatap lurus ke arah jalanan dimana an jing dan kambing peliharaan warga berlalu lalang diantara cuaca yang masih terik.
"Kenapa gue jadi ngerasa bersalah begini ya sama Mayra, gara-gara gue bawa Lo ke kost Zein sore itu..."
Panji mengehkeh, "harus. Kelakuan setan mereka memang harus dihentikan."
Namun dia Ivy, bergidik tak acuh, "ya minimal gue nolongan Lo lah ya...biar ngga dibodoh-bodohin May."
Panji mengangguk menunjuk Ivy membenarkan, "kalau masih berminat, tagih saja. Saya sudah siapkan budget."
Ivy terkekeh renyah, dan menepis udara, "ngga usah dipikirin. Sekarang gue baru tau kalo nyari duit versi---" ia menatap sekeliling seolah menyadari sesuatu, "versi tentara itu susah." Lalu ia beranjak dari duduknya untuk bersiap-siap, "Jam berapa sih kita ke balai dusun?"
"Sejam-an lagi, makanya buat cewek-cewek Yo siap-siap!"
Tidak naik kendaraan dimana Reo sudah diparkirkan dekat rumah Ema Flo, para mahasiswa dan tentara ini berjalan ke arah balai dusun, bangunan sederhana yang jauh dari kata mewah seperti kantor dusun-dusun di daerah kota pulau Java.
Bahkan, hanya terlihat semacam bangunan satu lantai yang tak begitu luas dan beberapa petak ruang kerja dengan lapang yang tak terlalu luas.
Beberapa warga terlihat sudah menunggu, meski tak begitu membludak.
Arsa meminta Tami dan Made serta rekan rekannya membawa serta cemilan yang sengaja dibeli tadi di dekat lanal. Hanya snack kecil mengingat ketersediaan produk tidak beragam seperti di kota, sekali lagi...keterbatasan tak menjadi penghalang untuk berbagi.
...***UNJANA UNTUK NEGRI*** ...
...***Bersama Pemerintah dan Militer Negri***...
.
.
.
.
aaaahhh sok nyesek we kalo ngabayangkeun hal seperti ini th aku mh 😭😭
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati