Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Sejak kehadirannya sebagai dosen, di Sekolah Tinggi Agama Islam B seolah memiliki magnet baru. Muhammad Fadhlan Ganendra, dikenal sebagai dosen killer dan "Kulkas Dua Puluh Pintu" yang bisa membekukan nyali mahasiswa dengan satu tatapan, pesonanya tetap membuat para kaum hawa rela mengantri demi sekadar melihatnya turun dari mobil mewah di parkiran kampus.
Hari ini Fadhlan datang ke kampus untuk menghadiri rapat bersama rektor, wakil rektor juga rekan dosen yang lain. Mobil mewahnya memasuki parkiran kampus, membuat mahasiswa maupun mahasiswi yang melihatnya berdecak kagum.
Ya, selain tampan, berwibawa dan mempesona, Fadhlan selalu terlihat gagah dengan pakaian yang rapih, maskulin, dan gaya coolnya.
"Ya Allah... gantengnya ciptaan-Mu. Bagi satu untuk Jihan, Ya Allah," racau Jihan saat melihat Fadhlan keluar dari sedan hitam mengkilapnya dengan setelan jas yang pas di tubuh tegapnya.
"Betul kata Naya, seprtinya dia bukan sembarang dosen. Mobilnya aja beda lagi dari sebelumnya, udah gitu mobil mewah semua lagi" ujar Adiba menggelengkan kepala.
'kata kakek keluarganya jelas dari keluarga terpandang dan ternama. Hal wajar baginya jika banyak yang mengagumi dan segan padanya bukan? Bagaimana kalau mereka semua tau, calon istrinya hanya mahasiswi biasa dari kampung? ' Syifa bermonolog di dalam hati.
"Mungkin itu mobil rental," celetuk Syifa asal, meski jauh di lubuk hatinya, ia pun berdecak kagum.
"Aduh kamu Syif, sejak kapan mobil mewah jadi mobil rental? Tapi jujur, aku heran. Kenapa dia mau jadi dosen di kampus ini yang gajinya ngga seberapa ya?" Jihan menaruh curiga tentang latar belakang dosen barunya itu.
"Aku dengar juga pak Fadhlan sebelum pindah ke sini, dia seorang dosen di Universitas yang cukup terkenal di kota P loh" imbuh Adiba yang setuju dengan perkataan Jihan.
"Nah iya kan, apalagi dia juga lulusan universitas dari luar negeri gais. Aku curiga kalau dia bukan hanya seorang dosen" ujar Jihan yang semakin penasaran.
"Hei sudah, nanti orangnya denger" Syifa menegur kedua sahabatnya.
Fadhlan berjalan melewati mereka. Untuk beberapa detik, netranya bertemu dengan calon istrinya. Fadhlan mengulas senyum tipis, sangat tipis hingga hanya Syifa yang bisa merasakannya.
'menggemaskan sekali calon istriku' gumam Fadhlan dalam hati.
'Innalillahi..jaga hati dan pandangan hamba-Mu ini Ya Allah, sebelum sah menjadi suami istri ' batinnya, detik itu juga, jantung Syifa berdegup lebih kencang, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton.
"Eh barusan pak Fadhlan senyum ngga sih? Jarang-jarang loh dia senyum, makin ganteng ya Diba kalau pak Fadhlan senyum, ya walaupun sedikit" tutur Jihan yang menangkap momen tadi.
"Mau bilang sok ganteng, tapi ngga munafik sih, beliau memang ganteng" ucap Adiba mengakui.
"Boleh mengkhayal jadi pacarnya engga ya?" tanya Jihan mulai berandai-andai.
"Terserah kamu deh Jihan, yuk buruan ke kelas" ajak Adiba menggandeng Syifa.
"Eh Syifa, kenapa pipimu merah gitu? Jangan-jangan..kamu juga naksir ya sama pak Fadhlan?" tanya Jihan yang melihat pipi Syifa merona.
"Apaan sih Jihan! Maaf ya, aku bukan circle fans fanatik dia" berusaha mengelak.
"Hayo, ngaku dehh" ledek Jihan lagi.
"Inget Syif, udah ada calon suami" ujar Adiba berbisik di telinga Syifa.
'huft, calon suamiku yang tadi lewat, Adiba' jawab Syifa dalam hati.
Pipinya merona hebat, membuat Jihan terus menggodanya sepanjang jalan menuju kelas.
...----------------...
Sore harinya, Syifa berhenti di sebuah kedai bubur ayam langganan untuk membelikan pesanan kakeknya. Di tengah antrean, seorang pria memanggil namanya.
"Asyifa, ya?"
Syifa menoleh. "Iya, betul. Siapa?"
"Saya Hasbi. Temannya Jihan, yang waktu itu bertemu di kantin." Pria itu tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana canggung.
Obrolan singkat terjadi, namun perhatian Syifa teralih ke seberang jalan. Sebuah mobil yang sangat ia kenali, mobil yang tadi pagi ia lihat di kampus, memasuki halaman sebuah bangunan bertuliskan "Panti Asuhan An-Nur".
Fadhlan turun dari sana. Namun, yang membuat napas Syifa mendadak sesak adalah pemandangan selanjutnya. Seorang wanita muda berhijab menyambut Fadhlan dengan senyum paling sumringah yang pernah Syifa lihat. Mereka tampak begitu akrab, apalagi saat anak-anak kecil mengerumuni mereka, menciptakan gambaran sebuah keluarga yang sempurna.
"Bukannya itu dosen baru kita? Pak Fadhlan?" Hasbi ikut memperhatikan. "Masya Allah, ternyata beliau bukan hanya tampan, tapi juga dermawan. Lihat betapa dekatnya beliau dengan anak-anak panti."
Dada Syifa berdenyut nyeri. Siapa wanita itu? Kenapa mereka terlihat akrab sekali? Apa wanita itu orang spesial baginya? Apakah dia bagian dari masa lalu pak Fadhlan yang belum selesai? Apakah aku hanya pengantin pengganti untuk menutupi perasaan yang sebenarnya?
Netra Syifa mulai memanas. Ia segera menyeka sudut matanya, berpura-pura terkena debu jalanan saat Hasbi menyadari perubahan raut wajahnya. Begitu pesanannya selesai, Syifa segera berpamitan dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Hasbi yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
...----------------...
Di tempat lain, Hasbi kembali ke teman-temannya dengan senyum yang sulit disembunyikan.
"Lama yah pak, beli buburnya di Arab?" sindir Adit, salah satu temannya.
"Maaf, tadi ada urusan sedikit"
"Urusan apakah yang membuat dikau lama kembali?" pertanyaan dari Miftah berhasil membuat Yusuf menaruh curiga pada Hasbi.
Sebenarnya Hasbi tidak ingin memberitahu, karena ada Yusuf disana. Tapi karena sudah terlanjur dan jika tidak di jawab akan semakin banyak pertanyaan dari teman-temannya.
"Tadi ngga sengaja ketemu temannya Jihan" jawabnya santai.
"Oh, gue tahu. Syifa ya?" tebak Adit.
Dengan senyum mengembang, Hasbi mengangguk malu.
"PDKT dong!" goda Yusuf saat Hasbi menceritakan pertemuannya dengan Syifa.
"Astaghfirullah, tidak begitu kawan. Hanya sekedar mengobrol, sambil menunggu antrian yang ramai," jawab Hasbi tenang, meski di dalam hati ia mulai menyusun rencana. Namun, peringatan Yusuf tentang adiknya, Arumi, yang akan kembali dari pondok, sempat membuatnya tertegun.
"Ekhem! Pucuk di cinta ulam pun tiba" bisik Adit pada Hasbi.
"Gas lah bro, nanti keduluan sama orang" lirih Miftah menyenggol lengan Hasbi.
"Arumi bentar lagi balik mondok loh, Bi. Kemarin juga minta nomor lu, gue udah kasih ke dia" pungkas Yusuf mengalihkan topik pembicaraan.
"Alhamdulillah, ikut senang mendengarnya. Eh? Buat apa?"
"Ngga tahu gue, kangen sama lu mungkin" jawab Yusuf enteng, sembari berjalan mengambil sendok di meja makan.
Hasbi meraih ponselnya. Ia mulai mengetik pesan pada Jihan, menanyakan segala hal tentang Syifa. Ia tidak tahu bahwa saat ini, "mahasiswi idamannya" itu sedang menangis dalam diam, meragukan kesungguhan seorang pria yang akan menikahinya dua minggu lagi.
...****************...