"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembagian kelompok
Di dalam kamar perempuan bagian depan, suasana mulai ramai dengan suara riuh sleting tas dan tumpukan baju yang dikeluarkan dari koper. Kanaya tidak sendirian; ia berbagi kamar dengan dua teman wanita barunya, Mely dan Lisa.
Sambil melipat baju-baju mereka untuk dimasukkan ke dalam lemari kayu yang tersedia, ketiganya mulai mengobrol santai untuk mencairkan suasana.
"Aduh, akhirnya bisa selonjoran!" seru Mely sambil menepuk-nepuk kasur kapuknya. Mely adalah mahasiswi Jurusan Ekonomi. Karakternya yang ceriwis dan ceplas-ceplos langsung membuat suasana kamar yang semula kaku menjadi lebih hidup. "Kalian jurusan apa aja? Biar nanti kalau pusing mikirin proker, aku tahu harus minta tolong ke siapa."
Lisa, yang sedang sibuk menata botol skincare dan sebuah peta cetak kecil di atas meja rias, menoleh sambil tersenyum. "Aku Lisa, dari Geografi. Salam kenal ya, Mely, Kanaya."
"Wah, anak Geografi! Pas banget, pantesan tadi pas di bus kamu sibuk ngeliatin rute jalan," sahut Mely kagum. "Kalau kamu, Nay?"
Kanaya yang sedang menyusun camilan dari Alfamart tadi di samping tempat tidurnya, menoleh dan tersenyum ramah. "Aku Kanaya, dari PGSD."
"Wah, calon Ibu Guru! Mantap banget kelompok kita," kata Mely antusias. "Berarti di kamar ini kita lengkap ya. Ada anak Ekonomi yang bakal ngatur keuangan kamaran, anak Geografi yang tahu medan desa, sama Ibu Guru yang bakal nenangin kalau kita stres."
Candaan Mely sukses membuat Kanaya dan Lisa tertawa kecil. Kehadiran Mely dan Lisa yang asyif entah bagaimana membuat perasaan gundah Kanaya akibat kejadian dengan Arman di minimarket tadi perlahan-lahan terkikis. Memiliki teman sekamar dari jurusan Ekonomi dan Geografi yang suportif membuat Kanaya merasa jauh lebih siap menghadapi satu bulan penuh pengabdian di Desa Sukamukti ini.
Sementara mereka bertiga sibuk merapikan perlengkapan wanita dan sesekali tertawa bersama, suara tawa mereka lamat-lamat terdengar sampai ke ruang tengah, menandakan bahwa posko KKN yang terpencil di tengah enam petak sawah itu mulai terasa hangat.
Sore yang asri perlahan berganti menjadi malam yang sunyi. Sesuai perkiraan Kanaya, letak posko yang berjarak sekitar enam petak sawah dari rumah warga membuat suasana di luar benar-benar gelap gulita, hanya menyisakan suara jangkrik yang saling bersahutan dan angin malam yang berembus dingin.
Sekitar pukul setengah tujuh malam, setelah semua anggota selesai bersih-bersih diri, Wisnu mengomandoi enam anggota laki-laki dan enam perempuan untuk melaksanakan salat Magrib berjamaah. Ruang tengah yang cukup luas beralaskan karpet panjang disulap menjadi musala darurat. Wisnu bertindak sebagai imam, sementara Arman dan anggota laki-laki lainnya mengisi shaf depan, dan Kanaya bersama Mely, Lisa, serta mahasiswi lainnya mengisi shaf belakang.
Suara lantunan ayat suci yang dibacakan Wisnu terdengar bergema tenang, membawa kedamaian di tengah keheningan malam desa. Setelah salat Magrib selesai dan dilanjutkan hingga Isya, mereka tidak langsung kembali ke kamar.
"Teman-teman, yuk kumpul sebentar di ruang tengah. Kita bahas pembagian kelompok memasak dan piket posko dulu ya, biar besok jadwalnya sudah teratur," seru Wisnu yang masih mengenakan sarung dan peci, sambil melipat sajadahnya.
Dua belas mahasiswa itu pun duduk melingkar di atas karpet. Suasana terasa hangat berkat lampu neon ruang tengah yang terang benderang.
"Oke, karena total kita ada dua belas orang—enam laki-laki dan enam perempuan—dan KKN ini berlangsung selama tiga puluh hari, mending kita bagi jadi beberapa tim kecil saja," usul Mely selaku anak Ekonomi, otaknya langsung bekerja cepat masalah efisiensi. "Biar adil, satu tim isinya harus ada yang laki-laki buat bagian yang berat-berat kayak angkat air atau beli gas, dan yang perempuan buat bagian masak."
"Setuju!" sahut Lisa dari Geografi. "Kita bagi jadi tiga kelompok saja gimana? Jadi satu kelompok isinya empat orang: dua laki-laki dan dua perempuan. Tugasnya bergiliran setiap hari."
Wisnu mengangguk-angguk setuju sambil mencatat di buku agendanya. "Usul yang bagus. Berarti satu kelompok bertugas masak dan piket bersih-bersih posko seharian penuh, dari sarapan sampai makan malam. Yuk, kita bagi namanya sekarang."
Kanaya memperhatikan jalannya diskusi dengan tenang, sesekali merapatkan jaketnya karena hawa malam semakin menusuk. Di seberang lingkaran, Arman duduk bersandar ke dinding, menatap ke arah lantai namun telinganya tetap fokus mendengarkan. Tanpa diduga, saat Wisnu mulai mengacak dan membagi nama-nama anggota ke dalam tiga kelompok tersebut, seisi ruangan mendadak hening menunggu hasil pembagiannya.