NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21; Cabang Ketiga dan Cemburu

Enam bulan setelah Senja kecil lahir, kafe Senja udah punya tiga cabang.

Cabang pertama di Sagan tetap jadi pusat.

Cabang kedua di Seturan khusus buat mahasiswa.

Cabang ketiga… baru buka di Kaliurang, viewnya langsung ke Merapi.

Alya yang namain: _Senja di Atas Awan_.

Revan cuma ketawa, “Lebay banget namanya.”

Tapi pas grand opening, antriannya panjang banget. Namanya beneran cocok.

Masalahnya muncul dua minggu setelah grand opening.

Alya bolak-balik Sagan-Kaliurang tiap hari. Bangun jam 5 pagi, pulang jam 10 malam.

Senja dititipin ke Mama Revan.

Revan nggak ngomong apa-apa, tapi tiap malam dia cuma bisa ketemu Alya 10 menit sebelum tidur. Itu pun Alya udah ketiduran duluan.

Suatu malam, Alya pulang jam 11.

Revan masih nunggu di meja 7, udah ganti baju tidur, rambutnya berantakan.

Di depannya ada dua gelas susu panas yang udah dingin.

“Kamu marah?” tanya Alya pelan sambil duduk di sebelahnya.

Revan geleng. “Nggak marah. Cemburu.”

Alya kaget. “Cemburu sama apa?”

“Sama Kaliurang,” jawab Revan datar.

“Kaliurang ngambil kamu dari gue. Dari Senja. Tiap hari.”

Alya diem. Dia baru sadar, selama ini dia terlalu fokus biar cabang ketiga jalan lancar, sampai lupa pulang.

“Van… maaf ya,” bisiknya.

Revan ngelus punggung tangannya. “Gue nggak minta kamu berhenti kerja. Gue cuma kangen kamu yang suka nyelonong ke dapur jam 8 malam, bawa coretan novel, terus minta gue jadi pembaca pertama.”

Alya ketawa kecil.

“Jadi kangen aku yang berantakan ya?”

“Gue kangen kamu. Titik.”

Malam itu mereka ngobrol lama.

Alya cerita, cabang Kaliurang itu targetnya anak-anak hiking dan turis.

Tapi yang bikin capek itu bukan kerjaannya, tapi rasanya kayak dia gagal jadi istri dan ibu yang “ada”.

Revan dengar semua. Nggak nyela. Nggak ngasih solusi instan.

Pas Alya selesai, dia cuma bilang,

“Kamu nggak gagal. Kamu cuma capek. Dan capek itu boleh bilang ke gue.”

Alya peluk dia erat.

“Terus kalau aku bilang capek sekarang, kamu mau apa?”

Revan senyum miring.

“Besok gue tutup cabang Kaliurang satu hari. Kita libur. Bertiga. Nggak ada laptop, nggak ada HP kerja. Cuma aku, kamu, Senja, sama mie instan di vila Kaliurang.”

Alya ketawa. “Mie instan? Romantis banget sih.”

“Romantis itu bukan tempatnya, Al. Tapi orangnya.”

---

Besoknya beneran terjadi.

Senja Senja Senja — cabang ketiga tutup satu hari.

Alya awalnya panik, takut omzet turun, takut tim kecewa.

Tapi pas lihat Revan udah siapin carrier buat bawa Senja hiking santai di jalur Kaliurang, dia luluh.

Mereka naik sedikit ke pos 1. Nggak tinggi-tinggi, biar aman buat Senja.

Di tengah jalan, Senja ketiduran di gendongan.

Alya dan Revan duduk di batu besar, bawa bekal mie instan, telur rebus, sama kopi termos kecil.

Anginnya dingin. Merapi kelihatan jelas.

Alya makan mie sambil nyender ke bahu Revan.

“Gue baru sadar,” katanya pelan.

“Hmm?”

“Yang bikin gue capek itu bukan kerjanya. Tapi rasanya kayak gue jalan sendirian.”

Revan nyuapin mie ke mulut Alya.

“Sekarang nggak sendirian lagi. Gue di sini. Selalu.”

Alya diem. Terus kecup pipi Revan cepat.

“Cheesy banget sih kamu.”

Revan ketawa. “Cheesy biar kamu inget, kamu punya suami yang nggak kabur.”

Mereka nggak ngomong banyak lagi setelah itu.

Cuma duduk, makan mie dingin, denger suara angin dan napas Senja yang pelan.

Pas turun, Alya ngerasa ringan lagi.

Nggak semua masalah harus diselesain dengan rapat 3 jam dan presentasi.

Kadang cukup dengan mie instan dan suami yang mau nunggu.

---

Malamnya, pas udah nyampe rumah, Alya buka laptop.

Tapi bukan buat kerja.

Dia buka file novel yang udah 4 bulan nggak disentuh.

Judulnya: _“Senja yang Tinggal”_.

Bab 21.

Dia nulis satu paragraf aja:

_“Kadang orang yang paling kamu sayang itu bukan yang jauh. Tapi yang tiap malam nunggu kamu pulang dengan susu panas yang udah dingin. Dan dia nggak marah. Dia cuma cemburu.”_

Revan ngintip dari belakang.

“Nulis tentang gue ya?”

Alya ketawa. “Iya. Tapi jangan GR.”

Revan peluk dia dari belakang.

“GR boleh kan? Gue suaminya.”

Mereka diem lagi.

Di luar hujan gerimis.

Di dalam, meja 7 di rumah mereka kosong, tapi rasanya penuh.

Alya tutup laptop.

“Besok kita rapat bareng tim Kaliurang. Aku mau bikin jadwal baru. Aku nggak mau bolak-balik tiap hari lagi.”

Revan ngangguk.

“Bagus. Keluarga dulu. Kafe bisa nunggu.”

Alya nyandar ke dada Revan.

“Makasih ya, Van. Udah ngingetin gue kenapa gue mulai semua ini.”

Revan kecup keningnya.

“Karena kamu pengen punya tempat di mana orang nggak perlu kabur. Termasuk kamu sendiri.”

*[Bersambung: ]*

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Febriana Hanifah: huaaa maaf ya qhaqha ceritanya melow 🥺
total 1 replies
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!